
Beberapa hari berlalu.
“Ini sarapanmu.”
“Maaf selalu merepotkanmu.”
“Tidak masalah, bagaimana kondisimu?”
“Aku masih belum bisa menggerakkan tubuhku. Dokter bilang kalau tubuhku mengalami sesuatu yang aneh, jadi dia butuh waktu untuk memastikannya. Dan setidaknya, ia bilang kalau aku tidak akan bisa bergerak selama beberapa hari kedepan.”
“Begitu.” Aku tak menyangka kalau obat bius yang mereka berikan efeknya bisa seperti ini.
“Maaf.”
“Sudah aku bilang, tidak masalah. Aaa... Buka mulutmu.” Aku menyuapinya. Tubuhnya tidak bisa bergerak, dan karena itu aku melakukan ini. “Bagaimana? Enak?”
“Ya.”
“Begitu.” Meskipun ini hanya sebuah bubur, masih bisa terasa enak olehnya. Sedangkan aku, mulai lupa dengan enaknya rasa berbagai makanan karena sudah cukup lama aku tak bisa merasakan rasa apapun. “Untuk latihan rutin, sepertinya akan aku tunda saat tubuhmu sudah lebih baik.” Meskipun aku tau kalau ini beresiko, tapi aku tak bisa memaksa orang yang tidak bisa melakukan apa-apa untuk melakukan latihan.
Beberapa menit kemudian.
Bubur yang ia makan sudah habis. “Jika aku tidak sembuh sebelum musim panas dimulai, jadwal yang aku buat akan berantakan.”
“Haa, jika kau masih bisa mencemaskan hal itu, sebaiknya kau cemaskan juga latihan kita yang tertunda.”
“Maaf.”
“Haa, sudahlah. Aku akan menaruh ini dulu. Jika kau butuh bantuan panggil saja aku.”
“Baik.” Aku pergi.
Di dapur.
“Dewa Sha, apa yang sebenarnya terjadi?”
“Pelemasan otot.”
“Pelemasan otot, apa maksudnya?”
“Seperti namanya, otot yang ada diseluruh tubuhnya melemah dan karena itu ia tidak bisa bergerak.”
“Jika seperti itu, bukannya gawat!!” Bisa jadi otot yang memompa jantung juga ikut melemah, dan itu bisa membuatnya dalam bahaya. “Dewa Sha, apa tidak ada cara untuk menyembuhkannya?”
“Nanti malam, datanglah padanya dan lakukan apa yang aku suruh kau untuk lakukan.”
“Baiklah.” Dewa Sha menutup telepatinya.
Malam hari, setelah selesai makan malam.
“Bagaimana, apa makananya enak?”
“Ya, enak.” Saat ini, aku tengah menunggu perintah lanjutan dari dewa Sha, tapi ia masih belum menghubungiku.
“Aku akan kedapur menaruh ini dulu.”
“Baiklah.”
Di dapur
“Hiroaki, waktunya beraksi.”
“Dewa Sha, baiklah.” Dewa Sha sudah menghubungiku dan karena itu waktunya rencana untuk membuat Amane sembuh, dimulai.
Kamar Amane.
“Hiroaki, ada apa?”
“Shirame.”
“H-Hiroaki, ada apa dengamu?”
“Tenanglah, ini tidak akan lama.”
“A-Apa yang ingin kau lakukan?”
“Tenang saja, ini tidak akan menyakitkan.”
“J-Jangan mendekat!!”
Srahhhh.
'Wah, sudah aku bilang 1 goresan kecil di jari telunjuk saja sudah cukup.'
__ADS_1
“A-Awww..”
“H-Hiroaki?”
“T-Tidak apa-apa.” Ternyata ini lebih menyakitkan dari apa yang aku bayangkan.
'Hey, jangan lemah. Kau dulu menderita luka yang fatal, tapi tidak pernah merasakan sakit. Saat ini, hanya sedikit luka ditelunjukmu kau sudah merengek seperti itu.'
'Memangnya ini perintah siapa?!'
'Sudahlah, lakukan apa yang aku perintahkan selanjutnya.'
'Baik.'
“Hiroaki, apa itu sakit?”
“Tidak, hanya sedikit sakit saja.” Aku perlahan mendekat kearahnya.
“H-Hiroaki, apa yang ingn kau lakukan?”
“Tenanglah, dan jangan bergerak.”
'Pertama, didahi.'
Aku menempelkan darah yang keluar dari telunjukku ke dahi Amane.
'Selanjutnya bibirnya.'
'Eh? B-Bibir, kenapa?'
'Sudah, lakukan saja.'
'Ahhh, baiklah.'
“Amane, aku minta maaf.”
“Huh?” Aku menempelkan telunjukku yang berdarah ke bibirnya.
'Usapkan secara menyeluruh.'
'J-Jangan bercanda!!'
'Sudah, cepat lakukan seperti yang aku perintahkan. Ini untuk kesembuhannya.'
'Masukkan!!'
'Jangan ngawur!!'
'Sudah, CEPAT LAKUKAN SAJA!!'
'AHHHH!!, aku tidak mau tau apa yang akan terjadi selanjutnya!!' Menuruti ucapan dewa, aku memasukkan telunjukku kedalam mulutnya. "Ahh.. Amane, aku minta maaf."
Beberapa saat kemudian.
'Baiklah, sekarang keluarkan.' Aku menarik telunjukku, dan telunjukku yang awalnya terluka, lukanya tertutup.
“Bagaimana bisa?”
“H-Hiroaki... A-A-A-Apa yang kau lakukan!! Dasar mesum!!” Ia mulai melempariku dengan barang yang ada didekatnya.
“A-Aku minta maaf.” Aku keluar dari kamarnya.
“Mesum, apa yang kau lakukan. Kenapa kau melakukan itu!”
“Demi kesembuhanmu. Jika bukan karena itu, untuk apa aku melakukannya.”
“Kesembuhanku?”
“Lihat, tubuhmu sekarang sudah bisa bergerak kan.”
“Eh, kau benar, tubuhku sudah kembali normal. Tapi, tetap saja, melakukan hal seperti itu pada seorang gadis, kau mesum.”
“Ha, sudahlah.” Masalah tentang kesembuhannya sudah beres. Dan waktunya.
Beberapa hari kemudian.
Siang hari.
Pantai.
“Yeey, akhinya musim panas tiba. Hiroaki, bagaimana dengan bikiniku?”
“Cocok.”
__ADS_1
“Hee, apa hanya itu?”
“Memangnya, kau ingin pujian seperti apa?”
“I-Itu...”
“Sudahlah, cepat pergi bermain sana.”
“Eh, bagaimana denganmu?”
“Aku masih memiliki urusan.”
“Dengan mereka, ya.”
“Ya, seperti itulah.” Setelah ke 7 guardian itu terlihat menyerah melawanku, 4 guardian ini masih ngotot mengikutiku. “Sepertinya mereka masih belum kapok setelah apa yang aku lakukan waktu itu pada mereka.” Tapi, aku tak menyangka kalau efek dari ledakan itu bisa sampai menghancurkan seluruh pelabuhan, dan anehnya mereka semua selamat. Tapi, itu sekaligus membuatku bisa bernafas lega. “Setidaknya mereka tidak akan bisa macam-macam dikeramaian seperti ini.”
Beberapa lama kemudian.
“Hiroaki ini...” Amane memberikanku segelas jus.
“Terimakasih.”
“Kau terlihat tidak menikmati ini.”
“Ya, seperti itulah.” Mana mungkin aku bisa menikmati waktu dan disaat bersamaa aku menyadari kalau aku sedang diintai seseorang.
“Apa kau tidak suka dengan pantai?”
“Tidak, bukan begitu. Hanya saja aku tak menyangka akan seramai ini.”
“Itu tentu saja, karena hari ini adalah awal musim panas.”
Mengingat tentang musim panas, tanpa aku sadari waktuku disini hanya tersisa kurang dari 3 minggu lagi dan aku masih belum tau kapan bencana yang dibicarakan oleh dewa Sha dimulai.
'Hiroaki, perubahan jadwal.' Tiba-tiba saja dewa Sha menghubungiku.
'Dewa Sha, ada apa?'
'Kau akan kembali tepat saat liburan musim panas berakhir.'
'Huh?' Jika seperti itu, berarti itu lebih lambat 1 minggu dari jadwal sebelumnya. 'Dewa Sha, sebenarnya apa yang terjadi?'
'Benacana yang aku sebutkan, bencana itu akan muncul 3 hari setelah kepergianmu, dan untuk mengatasi hal itu aku memutuskan untuk memperpanjang masa tinggalmu didunia ini selama 1 minggu.'
'Begitu...' Setidaknya aku sudah tau kapan bencana yang dikatakan oleh dewa Sha akan dimulai. '3 hari setelah kepergianku, ya.' Itu berarti 25 hari lagi.
“Hiroaki, ada apa?”
“Tidak ada, hanya saja aku pikir mungkin sepertinya aku akan menambah waktuku sebelum pergi. Setidaknya sampai liburan musim panas ini selesai.”
“B-Benarkah!”
“Huh, Amane, ada apa?”
“Aku tidak menyangka doaku bisa terkabul.”
“Huh, doa? Begitu.” Jika diingat, waktu itu kami sempat pergi kesebuah kuil dan Amane memanjatkan doa disana, aku tak tau kalau ia meminta agar aku mengundurkan waktu kepergianku. Karena doanya terkabul, ia terlihat begitu bahagia.
“Seharusnya aku meminta agar kau tetap disini.”
“Kalau itu, tidak bisa.”
“Begitu. Tapi, tidak apalah. Kau akan tetap disini selama musim panas, kan.”
“Ya, seperti itulah.”
“Kalau begitu, selama musim panas ini. Ada banyak sekali tempat yang ingin aku kunjungi.”
“Hee.” Ia bilang banyak sekali, tapi aku tak tau dimana saja itu.
“Hiroaki, ayo bermain bola voli bersama.”
“Tidak, aku tidak tertarik.”
“Sudah, ayo...” Ia menarik tanganku.
“Hey, lepas.”
“Ayo, aku ingin membuat kenangan denganmu sebelum kau pergi.”
Mendengar hal itu, aku hanya bisa menghela nafas. Mungkin, setelah ini aku tak akan lagi bertemu dengannya, jadi tidak ada salahnya menuruti apa yang dia inginkan sebelum aku pergi, lagipula sepertinya dia sedikit kesulitan untuk memilih hadiah perpisahan.
Setidaknya aku sudah tau kapan bencana itu akan datang, meskipun aku tidak tau bencana macam apa itu. Tapi, setidaknya aku bisa menyiapkan Amane untuk saat itu.
__ADS_1