
"Ja-jangan mendekat, TIDAAAKKK!!!!!"
-------- {Dream End} --------
Aku seketika membuka mataku dan bangun. "Ha, ha, ha, ha.. Ternyata cuma mimpi. Tapi, mimpi apa itu?" aku baru pertama kali bermimpi seperti itu, dan saat ini tubuhku berkeringat seperti seseorang yang habis bermimpi buruk, atau dalam kasusku ini bukan mimpi buruk, melainkan mimpi yang cukup indah.
Dan aku merasakan tubuhku terasa berat seperti kemarin, dan juga selimut yang aku pakai mengembang seperti ada seseorang yang masuk ke dalam selimut yang aku gunakan. "Mungkin ini Inori." pikirku. Ya, mungkin saja, karena Inori yang pertama kali melakukan ini padaku.
"Inori, ayo bangun, sekarang sudah pagi." aku perlahan membuka selimut yang aku gunakan, tapi saat aku berusaha untuk bangkit dari posisi tidurku, tubuhku bertambah berat. "Ada apa ini?"
Aku seketika membuka selimut yang aku gunakan ini, dan betapa terkejutnya aku..
Inori dan Lia berada di balik selimut yang aku gunakan, dan saat ini aku sedang berada di posisi yang sangat gawat. "Tenang, tenangkan pikiranmu, hikari. Pasti ada alasan di balik semua ini, jadi tenang saja. Sebaiknya aku segera bangun dari kasur ini." akupun perlahan-lahan mulai berusaha untuk keluar dari situasi ini tanpa membangunkan mereka berdua.
Saat aku berusaha untuk keluar dari situasi ini, kedua kakiku di pegang cukup erat oleh mereka berdua. "Woy woy. Ayolah, sepertinya memang tak ada cara lain selainkan membangunkan mereka berdua." pikirku.
Akupun berusaha untuk membangunkan mereka. "Inori, Lia, bangun.." aku mencoba menggerakkan tubuh mereka berdua agar bangun.
Inori mulai membuka matanya. "Pagi, papa. (Mengucek kedua matanya)"
Lia pun juga ikut bangun. "Pagi, Hikari-sama."
"Ehem, bisa kalian lepaskan pegangan kalian."
Saat aku berkata seperti itu, Lia langsung bangun dan melepaskan kakiku. "M-maafkan aku, Hiroaki-sama."
"Tidak apa-apa. Inori, bisa kau lepaskan kaki..."
"Tu-tunggu sebentar, pa." Inori masih memengang kakiku dengan erat.
"Baiklah..." akupun membiarkannya untuk semantara.
-------- Beberapa menit kemudian --------
Inoripun melepaskan pegangannya. "Haaa... Baiklah, kalian berdua boleh keluar, aku ingin mandi dulu pagi ini." sebenarnya aku ingin menanyakan, 'kenapa mereka berdua bisa ada di kamarku' tapi, entah kenapa aku malas untuk menanyakannya pada mereka dan lebih memilih untuk mengabaikan apa yang mereka lakukan padaku hari ini.
"Papa, aku mau mandi bareng papa."
"Ehh?!!"
"Kalau boleh, saya ingin-.."
"Stop, jangan dilanjutkan." aku tau apa yang Lia ingin katakan. "Biarkan aku menikmati pagiku yang menyenangkan ini, sendirian."
"T-tapi, pa..."
"Inori, apa kau sudah bilang pada mamamu kalau kau tidur di sini."
"Ehh, kalau itu.."
"Hmmm, sepertinya ia tak bilang apa-apa pada Rin kalau ia akan tidur di kamarku." pikirku. "Sebaiknya kau kembali ke kamar mamamu, nanti mama Emilia dan mama Rin bisa khawatir karena kau tidak ada di kamarnya."
"B-baiklah, pa." Inori pun pergi keluar dari kamarku.
"Hmm. Lia, apa yang kau tunggu?"
"Ehh. Hiroaki-sama, apa aku boleh-..."
"Tidak, terima kasih, kutolak tawaranmu itu."
"Tapi, aku belum selesai..."
"Aku sudah tau apa yang ingin kau katakan, jadi, Lia, bisa kau keluar dari kamarku, aku ingin menjalani kehidupanku yang nyaman untuk saat ini."
"B-baiklah, Hiroaki-sama." Lia pun keluar dari kamarku.
Di kamar, sekarang hanya tinggal aku sendiri, dan rasanya sangat tenang, persis seperti apa yang aku idamkan. "Sebaiknya aku segera mandi, lagipula pagi ini aku sudah cukup berkeringat." Akupun bangun dari tempat tidur dan bergegas ke kamar mandi.
--------- 10-15 menit kemudian ---------
"Aku sudah selesai mandi, dan sekarang saatnya aku sarapan." Aku berganti pakaian dan dengan segera pergi ke ruang makan.
------- Beberapa saat kemudian --------
Aku sampai di ruang makan, dan di sana aku melihat yang lainnya sudah terlebih dahulu makan. "Hiroaki, kenapa kau lama? Apa yang kau lakukan?"
"Aku baru selesai mandi."
"Oh, begitu."
Aku kemudian duduk di kursi yang kosong, lalu makan.
---------- 10 menit kemudian --------
Akupun selesai makan, dan yang lainnya kelihatannya sudah selesai. " Aku mau kembali ke kamar."
"Tunggu, Hi-chan." tidak biasanya Rin memanggilku setelah selesai makan. "Ada apa Rin?"
"Apa kau dengar kabar, kalau ratusan monster tengah berkumpul di hutan bagian utara kerajaan ini?"
"Aku tidak tau, dan aku juga tidak peduli. (aku berjalan meninggalkan ruang makan)" Aku berencana untuk bermalas-malasan hari ini, karena ritual pemanggilan akan dimulai 2 hari lagi.
"Hi-chan, coba dengarkan aku dulu!!"
Langkah kakiku terhenti. "Haaa... Baiklah-baiklah, aku akan dengarkan."
"Katanya, akan ada misi pembasmian di kerajaan ini, akibat dari berkumpulnya ratusan monster di hutan utara."
"Misi pembasmian, ya. Jadi maksudmu, kita akan ikut serta dalam pembasmian itu?"
"Bukannya itu ide yang bagus, daripada kau berdiam diri dikamar dan tak melakukan kegiatan apapun, lagipula kau pasti hanya akan bersantai di kamarmu, benar'kan."
"Cih, ternyata sudah ketahuan." pikirku. "Ha, baiklah, aku akan ikut quest itu."
"Kalau begitu, sebaiknya kita segera bersiap-siap sekarang." (Emilia)
"Aku akan kembali ke kamar untuk mengambil pedangku."
"Hiroaki-sama, aku ikut." Lia berdiri dan menghampiriku.
"Papa, aku juga ikut." Inori juga ikut denganku.
"Baiklah. Kalau begitu, kami akan menunggu kalian di luar penginapan."
"Baiklah, Hi-chan."
Akupun pergi ke kamarku bersama dengan Lia dan juga Inori.
-------- Beberapa menit kemudian ----------
Saat ini aku sudah berada di luar penginapan, dan aku juga sudah mengambil semua pedangku yang aku taruh di kamar. Dan saat ini, aku sedang menunggu Rin dan Emilia.
Entah kenapa, mulai tadi aku melihat beberapa pasangan petualang yang melihatku atau lebih tepatnya Lia dengan tatapan yang tak nyaman, dan hal itu membuat Lia menundukkan wajahnya. "Apa ada yang salah dengan Lia?.." pikirku.
--------- Beberapa saat kemudian --------
"Maaf membuat kalian menunggu." (Emilia)
"Apa saja yang kalian lakukan?"
"Ada apa Hi-chan?"
"Tidak ada apa-apa." sebenarnya aku ingin bilang kalau mulai tadi, banyak orang yang memerhatikan Lia dengan tatapan yang tak nyaman. Dan sepertinya aku tak perlu memberitaukan hal sepele seperti itu pada mereka.
"Ayo kita berangkat sekarang." (Emilia)
__ADS_1
Kami berangkat ke guild.
--------- Beberapa menit kemudian --------
Pagi hari, jam - -.- -
Kami sampai di depan guild, dan banyak sekali orang yang berkumpul. "Sepertinya, kabar tentang banyak monster yang berkeliaran di hutan utara itu benar." pikirku.
Saat aku sampai di guild, entah kenapa hampir semua orang melihat ke arah Lia. "Apa mungkin dia, ras succubus yang membawa masalah ini..." (???)
Semua orang melihat dan membicarakan Lia. "Hadeh, apa mereka sebenci itu dengan ras succubus." pikirku. Ya, dilihat dari cara mereka menatap Lia, seakan mereka sangat-sangat membencinya yang merupakan ras succubus. Karena hal itu, Lia menundukkan kepalanya.
"Hiroaki, ada apa dengan mereka?"
"Entahlah, abaikan saja mereka." aku mencoba untuk mengabaikan mereka dan berusaha untuk menenangkan Lia.
-------- Beberapa saat kemudian --------
Seorang gadis demi-human, tiba-tiba berdiri di depan para petualang yang berkumpul. "Hari ini, karena banyaknya monster yang muncul di hutan utara, maka akan diadakan misi pembasmian. Dan imbalan 50 koin tembaga untuk setiap monster yang dikalahkan." (???) aku tak tau siapa gadis demi-human itu, tapi sepertinya ia seorang resepsionis di kerajaan ini, lagipula aku juga belum bertemu dengan resepsionis dari kerajaan ini. Dan mungkin saja dia itu adalah resepsionisnya.
Sama seperti Alice, ia juga mengumumkan tetang misi pembasmian.
"50 koin tembaga, ya. Berarti, 1 monster di hargai 50.000 koin perak." pikirku.
"Ah.. Aku ingin kembali ke penginapan saja." entah kenapa, setelah mendengar imbalan misi pembasmian ini, membuatku tak bersemangat.
"Hiroaki, kau jangan pergi dulu. Apa kau tak sadar, siapa yang menyebabkan masalah ini. (berbisik padaku)"
"Aahh... Aku, aku tau." Sebenarnya, aku sudah tau kalau yang menyebabkan berkumpulnya banyak monster di hutan utara adalah karena Lia yang ada di kerajaan ini. Lagipula kepala desa itu pernah bilang, kalau Lia adalah penyebab desanya di serang oleh banteng hutan raksasa.
"Kalau begitu, apa kau tak mau bertanggung jawab atas apa yang sudah Lia perbuat."
"Tapi, Lia 'kan tak melakukan apapun, kenapa aku harus bertanggung jawab atas apa yang tidak dia lakukan."
"Itu memang benar. Tapi, apa kau tak merasa kalau seluruh pertualang melihat Lia dengan tatapan benci."
"Kalau itu, aku sudah..."
"Jadi, kau tau harus apa,'kan."
"Ha, baiklah-baiklah." Entah kenapa aku selalu kalah saat berbicara dengan seorang gadis.
----------- Beberapa menit kemudian ---------
Setelah mendengar pengumuman itu, seluruh petualang yang berkumpul di depan guild, bergegas untuk pergi ke hutan bagian utara, tempat berkumpulnya monster, untuk melaksanakan misi pembasmian.
"Hi-chan, ayo kita pergi."
"Baik."
Kamipun berangkat menuju ke hutan utara, dimana para monster berkumpul.
--------- Hampir 1 jam kemudian --------
{ Benua demi-human : Hutan utara kerajaan Chamos }
Kami sampai di hutan utara, tak sampai 1 jam perjalanan, karena jarak antara hutan utara dan kerajaan Chamos cukup dekat.
Para petualang sudah memulai pembasmiannya. "Hiroaki, bagaimana kalau kita bertanding."
"Bertanding?"
"Iya, siapa yang paling banyak membasmi monster, dialah yang menang."
"Aku tak tertarik."
"Aku tak peduli, tapi siapa yang kalah akan mendapatkan hukuman." setelah mengatakan itu Emilia pergi.
"Ada apa dengan Emilia, ia terlihat bersemangat pagi ini." gumamku. Emilia tidak seperti biasanya, pagi ini ia terlihat berbeda atau mungkin itulah sifat aslinya. Entahlah aku juga tak tau.
"Ada apa Hi-chan?"
"Baik, Hiroaki-sama."
"Papa mau kemana?"
"Papa ada urusan sebentar." Setelah itu, aku berjalan pergi meninggalkan mereka, dan aku rasa itu pilihan yang tepat, membiarkan Lia menjaga Rin dan juga Inori.
-------- Beberapa saat kemudian ------
Aku sudah berada cukup jauh dari yang lainnya, dan lagipula saat ini aku tengah di kepung oleh puluhan atau bahkah ratusan monster yang aku tak tau apa jenis dari monster yang mengepungku. "Ha.. Baiklah, aku rasa ini adalah saatnya untuk olahraga pagi. Dan, untuk kalian para monster yang sudah berani mengganggu pagi indahku yang hampir sempurna. Bersiaplah untuk aku basmi."
Aku mengambil pedang 'Shirame' milikku, dan aku tak berencana untuk menggunakan pedang naga biru, karena pedang itu memiliki efek samping yang cukup menyakitkan jika tenaga yang aku miliki tidak sesuai dengan pedang itu, atau tenagaku masih terlalu lemah untuk bisa leluasa menggunakan pedang buatan dewa itu.
Sat set sat.
Satu persatu monster yang mendekatiku tumbang, dan tubuhku pagi ini terasa lebih ringan dari biasanya, dan itu membuatku cukup bersemangat.
--------- 20-30 menit kemudian ----------
"Ini adalah yang terakhir."
Shaaashh.
Aku memotong kepala monster terakhir yang aku lihat di sekitarku. "Sudah berapa monster yang aku kalahkan, ya?" aku tak mengitung jumlah monster yang aku kalahkan, dan aku rasa aku sudah membunuh cukup banyak monster.
"Sebaiknya aku segera kembali ke tempat Rin dan yang lainnya."
Jduuuaaarrrr.
"Ledakan apa itu? (bingung)" Sebuah ledakan yang cukup besar terdengar tepat di tempat Rin dan yang lainnya berada. "Aku khawatir terjadi apa-apa dengan mereka. Sebaiknya aku segera bergegas ketempat mereka." akupun bergegas pergi ke tempat Rin dan yang lainnya, dan memastikan tidak terjadi apa-apa dengan mereka.
---------- Beberapa saat kemudian ---------
Aku sampai di asal ledakan itu terjadi. "Apa apa'an ini?! (terkejut)" sebuah lubang cukup besar terbentuk di area ini.
Aku melihat sekeliling, dan aku rasa ini akibat dari sihir api tingkat tinggi. "Rin!!! Inori!!! Lia!!!" aku berteriak memanggil nama mereka, dan karena tak ada jawaban, aku putuskan untuk berkeliling mencari mereka di area ini. "Aku harap tak terjadi apa-apa pada mereka.".
-------- Beberapa menit mencari --------
Aku sudah berkeliling mencari mereka, dan aku masih tak menemukan mereka. "RIN!!! LIA!!! INORI!!! Dimana kalian!!!"
"Papa!!"
Aku mendengar suara Inori, tapi aku tak tau dimana dia berada. "Inori!! Kau ada dimana?!!"
"Papa! Aku ada di atas!"
"Di atas?" akupun melihat ke atas. "Ba-bagaimana bisa?" Inori, Lia dan juga Rin melayang di udara.
Mereka perlahan-turun. Dan saat mereka semua sudah mendarat, "Papa!" Inori berlari ke arahku dan memelukku. "Papa, tadi ada monster yang datang kesini..."
"Monster.?"
"Iya, tapi monster itu di kalahkan oleh mama menggunakan api yang besar."
"Api besar?"
"Iya, setelah itu, mama Lia membuat aku dan mama terbang."
"Begitu, syukurlah kalian tidak apa-apa. (tenang)" ternyata keputusanku memang tepat, membiarkan Lia untuk menjaga Rin dan Inori. Dan aku masih penasaran, dari cerita Inori, ia bilang kalau Rin menggunakan sihir element api yang kuat. "Apa mungkin itu-..."
"Ya benar, itu adalah kemampuan dari baju Rin." (telepati dewa Sha)
"**Dewa Sha. Tunggu, baju yang digunakan Rin, jangan bilang kalau kau lupa untuk memberitahukan tentang baju Rin."
__ADS_1
"Hahaha, benar sekali. Aku lupa bilang tentang keunikan baju Rin pada kalian*."
Ternyata dugaanku memang benar, dewa ini pelupa. "*Jadi, hal apa yang lupa kau beritahukan itu?"
"Baju Rin bisa menyerap dan melepaskan sihir sampai 5 kali lipat dari kekuatan asli sihir yang sudah di serap."
"Jadi, sihir yang Rin gunakan barusan itu-..."
"Ya, itu adalah sihir yang aku gunakan pada Rin waktu itu. Ya, meskipun sihir yang aku gunakan padanya belum menyetuh angka 0.01% tapi tak kusangka, efeknya akan seperti itu."
"Woy woy, serius, kekuatan sihir sehebat itu belum menyentuh angka 0.01%?"
"Serius lah. Lagipula, untuk apa aku berbohong padamu. Sudahlah, aku mau melanjutka pekerjaanku."
"Baiklah kalau begitu." Dewa Sha menutup telepatinya.
"Hiroaki, apa yang terjadi di sini?" Emilia tiba-tiba saja berada di sampingku.
"Bagaimana kau bisa ada disini?"
"Aku tadi mendengar suara ledakan yang cukup keras, jadi aku putuskan untuk mendatangi asal suara itu. Dan saat aku sampai, aku melihat kau sudah ada disini bersama dengan yang lainnya. Jadi, apa yang sudah terjadi di sini?"
Akupun menceritakan apa yang aku dengar dari Inori pada Emilia.
--------- Beberapa menit menjelaskan ---------
"Begitulah kejadiaannya."
"Syukurlah, kalian semua baik-baik saja.."
"Kalau begitu, bagaimana kalau sekarang kita kembali. Lagipula, sepertinya pembasmian monsternya sudah selesai." di sekitar sini aku sudah tak melihat satupun monster, dan aku lihat kalau misi pembasmian ini sudah berakhir.
"Baiklah, ayo kita kembali." (Emilia)
Kamipun kembali ke kerajaan.
------ Di tengah perjalanan kembali -----
"Nee Hiroaki, berapa banyak moster yang sudah kau kalahkan?"
"Aku tak tau."
"Jangan bilang, kalau kau tidak membunuh satupun monster."
Tiba-tiba beberapa monster muncul di hadapan kami. "Sepertinya satu tebasan untuk hari ini tidak masalah." aku berniat untuk menebas monster yang ada di depanku menggunakan pedang naga biru, dengan 1 tebasan. Lagipula dengan 1 tebasan, aku yakin dapat membunuh semua monster itu.
Saasshh.
Aku membunuh monster yang ada di hadapanku dengan 1 tebasan. "Lihat, aku sudah membunuh monsternya." lagipula Emilia bilang kalau aku tak membunuh monster satupun.
"Baiklah. Tapi, siapa yang paling banyak membasmi monster dialah yang menang, dan yang kalah akan mendapatkan hukuman. Dan jika seperti ini, yang menang pasti adalah aku." Emilia bergegas pergi ke guild.
"Terserah kau saja." Emilia terlihat cukup senang, tapi entah kenapa saat ini aku merasa tak bersemangat lagi. Dan rencanaku untuk besok adalah, bermalas-malasan seharian.
"Rin, bisa kau ambilkan hadiah pembasmian ini ke guild bersama Emilia." Aku memberikan kartu petualang milikku padanya.
"Ada apa denganmu Hi-chan?"
"Aku mau menyiapkan rencana untuk aku gunakan 2 hari lagi, di penginapan." padahal aku hanya ingin bermalas-malasan sebelum ritual pemanggilan itu dimulai 2 hari lagi.
"Baiklah kalau begitu."
"Rencana? Hiroaki-sama, apa yang akan anda lakukan 2 hari yang akan datang?"
"Aku akan senang jika kau tak menanyakan hal itu, Lia." Karena aku sudah diperingati oleh dewa Sha untuk tak memberitahukan tentang tugas ini pada orang lain, dan mungkin saja Lia juga termasuk orang yang tak harus aku beritahu.
"A-aku minta maaf, Hiroaki-sama."
"Tidak apa-apa. Kalau begitu Lia, bisa kau jaga Rin dan Inori lagi. Aku akan kembali ke penginapan."
"Baik, Hiroaki-sama."
Akupun pergi kembali ke penginapan.
--------- 1 jam kemudian --------
Siang hari, jam - -.- -
Saat ini aku tengah berada di kamar, menikmati sisa hari ini dengan bersantai.
"Ahhh.. Senangnya bisa santai seperti ini. Aku berharap besok akan menjadi lebih baik dari hari ini." Besok adalah hari dimana aku akan bersantai seharian penuh.
----------
[3rd person]
Di guild.
"Emilia, bagaimana hasil buruanmu?" (Rin)
"Tidak buruk, berkat busur yang diberikan dewa, aku dapat membunuh 156 monster, dan aku juga sudah mengambil imbalannya."
"Oh begitu."
"Bagaimana denganmu Rin? Apa kau juga ikut melakukan misi pembasmian ini?"
"Sebenarnya, aku hanya membunuh 1 monster saja tadi. Dan aku rasa itu tidak perlu aku tukarkan."
"Begitukah, kau hanya bersama mereka, dimana Hiroaki?"
"Dia sudah pergi ke penginapan duluan. Aku di suruh untuk mengambil imbalan miliknya."
"Oh ya, kira-kira berapa monster yang sudah di bunuh olehnya, ya?"
"Aku tak tau. Tapi, bagaimana kalau kita ambil imbalan milik Hi-chan dulu, nanti resepsionis pasti akan memberitahu jumlah monster yang sudah Hi-chan kalahkan."
"Baiklah, aku juga penasaran, berapa monster yang sudah di kalahkan oleh Hiroaki."
Mereka berjalan menuju ke meja resepsionis.
"Aku ingin mengambil imbalan untuk misi pembasmian." (Rin)
"Bisa anda tunjukkan kartu petualang anda."
"Ini. (memberikan kartu milik Hikari)"
"(menghitung) Semuanya.. 29 koin emas dan 450 koin tembaga, dari total 589 monster."
[ 29 emas dan 450 tembaga \= 29450000 perak ]
"Apa!! (terkejut) 589 monster, apa anda tidak salah menghitung?" (Emilia)
"Tidak ada yang salah, ini semua adalah jumlah monster yang sudah dikalahkan."
"Aku ka-lah.."
"Ini koinnya. (memberi 1 kantung berisi koin imbalan)" (Resepsionis)
"Terima kasih." (Rin)
"Mama, aku lapar.."
"Baiklah, ayo kita kembali ke penginapan. Emilia, ayo kita kembali ke penginapan sekarang."
"Baiklah." Emilia tak bersemangat setelah tau kalau ia sudah kalah bertanding melawan Hiroaki, dan dengan selisih point yang sangat jauh.
__ADS_1
Bersambung.