Watashi No Hanayome

Watashi No Hanayome
8


__ADS_3

“Dimana aku...” Sebuah tempat yang seluruhnya berwarna putih, dan aku merasa tidak asing dengan tempat ini.


“Haa, kau melakukannya.”


Suara yang juga tak asing bagiku. “Dewa Sha. A-apa yang sebenarnya. Awwww...” Tiba-tiba saja dewa Sha memukul kepalaku dengan keras.


“Coba ingat apa yang terjadi.”


Aku mencoba mengingatnya, dan air mataku menetes. “Emilia, dan Ai…”


“Haam meskipun begitu, melepaskan 50% kekuatan yang aku berikan secara bersamaan seperti itu. Apa yang sebenarya kau pikirkan.”


“Maafkan aku dewa Sha, tapi…”


“Sudahlah, setidaknya aku tau apa yang kau rasakan. Tapi, sampai menghancurkan duniaku seperti itu. Apa kau tidak punya pekerjaan lain.”


“Maaf.”


“Haa, aku akan membuat ulang duniaku, kau tunggu saja disini. Saat aku sudah selesai, aku akan mengembalikanmu.”


“D...” Aku belum sempat bertanya dan dewa Sha pergi. ‘Apa aku, sudah mati?’ Tak ada yang bisa aku lakukan disini, dan aku hanya bisa menunggu.


Beberapa lama setelah itu.


“Sudah selesai, aku akan mengirimmu kembali.”


“Terimakasih dewa Sha.”


------------


Sesuatu yang membuatku senang, lebih senang dari apapun.


“Baik.”


“Sayang, ada apa denganmu? Kenapa kau menangis?”


“T-Tidak ada apa-apa.” Aku menghapus air mataku. “Aku hanya merasa sangat senang.”


“Membunuh orang bisa membuatmu senang seperti itu, apa yang sebenarnya kau pikir’kan.”


“H-Hiroaki, a-ada apa kenapa kau tiba-tiba…” Aku memeluk Emilia.


“Aku mohon, sebentar saja. Aku mohon…”


“(tersenyum) Baiklah...” Emilia mengelus kepalaku dan rasanya sangat nyaman, dan itu membuatku tenang.


Beberapa saat kemudian, aku melepaskan pelukanku.


“Sayang, yang sebenarnya terjadi?”


“Tidak ada apa-apa. Ayo kita kembali.” Tak akan aku biarkan kejadian itu terulang kembali, dan oleh karena itu…


“Eh?”


“H-Hiroaki...”


Aku menggenggam dengan erat tangan mereka. ‘Tak akan aku lepaskan.’ Jika ada orang yang berani melakukam hal seperti itu, akan aku siksa, lalu akan aku habisi.


“Hiroaki, wajahmu seram, ada apa denganmu?”


“Eh? T-tidak ada apa-apa.” Akan aku lindungi mereka, keluargaku.


Gerbang kerajaan Drenan.


“Ai, Emi, bisa kalian kembali duluan ke penginapan.”


“Eh? Ada apa?”


“Ada sesuatu yang harus aku lakukan, oleh karena itu aku mohon.”


“Baiklah.”


“Oh ya, langsung kembali ke penginapan, ya. Jangan mampir kemana-mana.”


“Baik-baik.” Mereka berdua pergi


“Baiklah.” Hal pertama yang harus aku lakukan, membereskan para penjahat itu.


Cukup lama setelah itu.


“Kalau tidak salah disini, ya. Ahh, benar.” Sebuah gua memang ada disini, dan itu berarti. “Shirame..” Menggunakan Ryuga cukup berbahaya, jika hanya membereskan mereka Shirame saja sudah lebih dari cukup. Aku perlahan masuk ke dalam gua itu


“Aaaggghhh.”


Settt


Saatttt


Beberapa lama setelah itu.


Aku keluar dari gua ini. “Dengan begini, hal seperti itu tidak akan terulang kembali. Oh, ya.”


Ctrasss


Aku membelah pintu gua itu, dan membuat jalan masuknya tertutup oleh batu. Itu agar tidak ada yang bisa masuk ataupun keluar dari gua ini. “Baiklah, waktunya kembali.”


---------------


Di penginapan.


“Mereka, dimana?” Ai dan Emilia tidak ada di penginapan. “Dimana mereka?! Padahal aku sudah menyuruh mereka untuk langsung kembali ke penginapan. Sial!!” Ini membuatku sangat panik, aku takut kejadian yang sama terulang kembali. Aku bergegas mencari mereka.


Beberapa lama setelah itu.


“Dimana? Dimana mereka?” Aku sudah mencari ke seluruh tempat, tapi aku sama sekali tidak menemukan mereka. “Sial!!” Ini membuatku sangat kebingungan. “Kemana aku harus mencari mereka.”


“Ahh. Hiroaki, apa yang kau lakukan disini? Apa urusanmu sudah selesai?”


Suara yang tak asing bagiku. “Emi..,” Aku berbalik dan melihat Ai dan Emilia. “Haa, syukurlah.”


“Huh? Sayang, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kau terlihat panik seperti itu.”


“Kenapa kalian tidak langsung kembali ke penginapan?”


“Kami belum makan apapun dari pagi, jadi kami putuskan untuk membeli sesuatu. Oh ya, ini aku juga membelikannya untukmu.”


“Terimakasih.”


“Oh ya. Hiroaki, malam ini adalah malam terakhir rapat. Raja Drenan mengundang kita untuk mengikuti pesta dansa yang diadakan diistana. Bagaimana? Apa kau mau ikut?”


“Ya, aku akan ikut.”

__ADS_1


“Sayang, ada apa denganmu? Kau tidak seperti biasanya.”


“Benar juga.”


“Huh, memangnya ada apa?”


“Sikapmu jadi aneh, kau biasanya tidak akan ikut pesta yang dansa atau apapun itu karena itu tidak berguna. Tapi, tiba-tiba saja kau bilang ingin ikut. Bukankah itu sedikit aneh.”


“Anggap saja aku ingin mencoba sesuatu yang lain.”


“Sudahlah Emilia, bukankah itu adalah hal yang bagus. Jarang sekali dia bersikap seperti ini, bukankan kita harus mendukungnya.”


“Eh. Memangnya aku anak kecil?”


“Sudah-sudah. Sayang, ayo kita membeli baju untuk digunakan di pesta dansa nanti malam.”


“Aku akan menggunakan ini, lagipula ini sudah cukup untukku.”


“Ai, bukannya… (bisik-bisik)”


“Ahh. Benar juga, aku lupa tentang hal itu.”


“Huh? Ada apa?”


“Aha. Tidak ada apa-apa, kalau begitu kami akan membeli baju dulu. Kau bisa tunggu di penginapan.”


“Aku akan ikut menemani kalian.”


“Eh?”


Cukup lama setelah itu, di toko baju.


“(bisik-bisik) Ai, bukannya tingkah Hiroaki hari ini sedikit berbeda dengan biasanya.”


“Iya. Sebenarnya apa yang sudah terjadi padanya?”


“Apa mungkin, karena tadi kita memarahinya?”


“Tapi, bagaimana mungkin sikapnya sampai berubah drastis seperti itu. Bukannya ada yang aneh dengannya, ia tidak seperti biasanya.”


“Bagaimana kalau kita tanyakan saja apa yang terjadi padanya?”


“Palingan dia akan bilang seperti ini. ‘Aku tidak apa-apa, aku baik-baik saja. Tidak ada yang aneh denganku.’ Begitu…”


“Benar juga. Lalu, bagaimana cara kita mencaritahu apa yang terjadi padanya?”


“Aku juga tidak tau.”


“Ai, apa kau percaya dengan apa yang dikatakan oleh Hiroaki?”


“Huh? Ada apa?”


“Dia menghancurkan sebuah kerajaan karena perintah dewa.”


“Ya, aku mempercayainya. Lagipula kau bisa bayangkan, dia bahkan tidak tau kerajaan yang dekat dengan kerajaannya sendiri. Bagaimana mungkin dia bisa tau kerajaan yang jauh dari kerajaanya.”


“Itu memang benar, tapi…”


“Waktu itu, aku sempat berbicara pada Felicia tentang tempat kelahiran Hiroaki. Dia bilang kalau Hikari dan Rin berasal dari dunia yang berbeda dengan kita.”


“Eh, benarkah? Aku sama sekali tidak mengetahuinya. Tapi, apa hubungannya?”


“Dia menerima tugas seperti yang Felicia lakukan bersama Shin.”


“Kalau tidak salah. Menghentikan ritual pemanggilan.”


“Ritual pemanggilan, maksudmu ritual pemanggilan yang sakral itu?”


“Iya.”


“Tapi, kenapa? Bukannya ritual itu bersifat sakral, dan barang siapa yang mengganggu ritual itu katanya dewa akan mengutuknya.”


“Itu memang benar, tapi apa kau pernah bertanya-tanya untuk apa ritual pemanggilan itu dilakukan?”


“Eh. Tentu saja, untuk memanggil orang yang kuat kedunia ini.”


“Lalu, darimana orang yang dipanggil ke dunia ini berasal?”


“T-tunggi, j-jangan-jangan…”


“Ya, dunia lain. Karena Hiroaki berasal dari dunia lain, ia mencoba untuk menghentikannya. Lagipula aku dengar ritual pemanggilan sudah banyak sekali dilakukan di berbagai kerajaan.”


“Hey. Kalian, apa sudah belanjanya?”


“Ahh. Maaf, sebentar lagi.”


“Ha, ya sudah.”


“Kita lanjutkan saja pembicaraan ini nanti.”


“Baiklah. Aku juga penasaran dengannya, lagipula aku tak tau banyak tentang dirinya.” Sosok yang menjadi suamiku, meskipun aku tak begitu mengenalnya, entah kenapa aku sangat mencintainya.


Beberapa lama kemudian.


“Sudah selesai?”


“Ya.”


“Aku juga membelikan ini untukmu.” Emilia mengambil sesuatu dari barang belanjaannya.


“Sudah aku bilang, aku akan memakai ini saat pesta nanti malam.”


“Lihat dulu. Aku membelikanmu ini.”


“Syal.” Emilia mengeluarkan sebuah syal, dan ia memasangkannya keleherku.


“(tersenyum) Itu terlihat sangat cocok denganmu.”


“Kenapa?”


“Sebentar lagi musim dingin, jadi mungkin malam ini akan lebih dingin daripada biasanya.”


“Musim dingin, ya. Pantas saja.” Ternyata yang aku rasakan waktu itu adalah hawa pertanda akan datangnya musim dingin.


“Hiroaki, ada apa?”


“Tidak ada apa-apa. Ayo kembali ke penginapan.”


Penginapan.


“Hiroaki. Aku lupa membeli sesuatu, bisa kau belikan.”

__ADS_1


“Baiklah.”


Beberapa menit kemudian.


“Haa, ini merepotkan.” Ia menulis semua yang dia lupa di sebuah kertas, dan aku sama sekali tidak bisa membacanya. “Sudahlah, selama mereka tidak keluar dari penginapan, itu adalah hal yang bagus.” Aku pergi mencari pesanan Emilia.


Setelah cukup lama setelah itu.


“Haa, akhirnya selesai juga.” Butuh waktu yang lama, lebih lama dari apa yang aku bayangkan. Aku terus bertanya pada orang-orang dan akhirnya menemukan apa yang lupa di beli oleh Emi. “Ini, ya. Aku tak tau kalau di dunia ini ada hal semacam ini.” Peralatan kosmetik, itulah hal yang dilupakan oleh Emilia. Karena sudah selesai, aku putuskan untuk kembali.


Sore hari.


Penginapan.


Tok tok tok


“Emi, Ai, aku kembali.”


Emilia membuka pintu. “Ahh… Hiroaki, barang yang aku pesan mana?”


“Ini.” Aku memberikannya.


“Jangan dulu masuk. Kau tunggu diluar, aku dan Ai ingin bersiap-siap.”


“Haa, baik-baik. Aku akan menunggu di depan.”


Gubrakk


Ia kembali menutup pintu kamar.


Di depan penginapan.


Tak banyak yang bisa aku persiapkan. “Haa, akhirnya selesai juga, ya.” Rapat selama 3 hari akan berakhir hari ini, dan besok adalah waktunya pulang.


Setelah cukup lama setelah itu.


Emilia dan Rin menghampiriku. “Sayang, bagaimana? Apa pakaian ini cocok?”


“Ya, itu sangat cocok degan kalian.” Setidaknya aku tak memiliki komentar lain selain hal itu.


“Kalau begitu, ayo kita berangkat.”


“Jalan kaki?”


“Tentu saja tidak, sebentar lagi ada kereta kuda yang menjemput kita.”


“Begitu.”


Malam hari


Istana kerajaan Drenan


“Wah wah. Raja Riel dan juga para ratunya. Selamat malam.” (???)


“Siapa kau?” Aku sama sekali tak pernah melihatnya.


“(bisik-bisik) Sayang, dia adalah raja Drenan.”


“Raja, ya. Tapi, kenapa aku tidak melihatnya waktu rapat?”


“Dia sering kali memiliki banyak urusan, jadi urusan rapat seperti itu ia selalu menyerahkannya pada sekertarisnya.”


“Begitu.”


“Seluruh raja sudah berkumpul, bagaimana kalau kita mulai saja pesta malam ini.”


Ruang aula.


Disini cukup banyak orang yang berkumpul, dan sebagian besar dari mereka tidak pernah aku lihat dan hanya beberapa saja yang pernah aku lihat saat rapat. “Para hadirin sekalian, untuk memperingati selesainya rapat antar kerajaan. Saya, Tyusan Drenan, raja dari kerajaan Drenan mengucapkan banyak teimakasih karena kerajaan ini sudah dipilih sebagai tempat rapat para raja.”


Setelah cukup lama membacot


“Malam ini, saya harap para hadirin bisa menikmati pesta yang saya adakan ini. Baiklah, untuk mempersingkat waktu. Kita mulai saja pestanya.” Dimulainya alunan musik menjadi pertanda kalau pesta malam ini sudah dimulai.


Seluruh orang yang ada disini mulai berdansa mengikuti alunan musik. “Hiroaki, kau mau ikut berdansa?”


“Aku tidak bisa.”


“Tenang saja, aku akan mengajarimu.”


“Tidak perlu.”


“Sayang, apa yang terjadi denganmu?”


“Aku tidak apa-apa, aku baik-baik saja.”


“Wah wah. Raja Riel, bagaimana kabarmu?” Seseorang yang tak asing menghampiriku.


“Raja dari kerajaan Yunas.”


“Panggil saja aku Sreder.”


“Ada apa?”


“Tidak ada, aku hanya ingin berbicara santai denganmu.”


“Berbicara santai, ya.”


“Raja Riel.”


“Panggil saja Hiroaki.”


“(tersenyum) Baiklah, Hiroaki. Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan padamu.”


“Apa?”


“Pedang yang kau gunakan saat melawanku itu.”


“Maksudmu Shirame dan Ryuga.”


“Iya itu. Kekuatan dari pedang itu sangat besar, apa kau bisa mengendalikannya?”


“Mengendalikannya, ya. Setidaknya aku bisa, meskipun begitu ada batasan kekuatan yang bisa aku gunakan. Jika lebih dari batasan itu tubuhku tidak akan sanggup menahan bebanya.”


“Begitu. Ternyata raja terkuat memiliki kelemahan juga.”


“Kelemahan, ya. Jika itu bisa disebut kelemahan, mungkin kau ada benarnya.”


“Haha.”


“Nona, maukah kau berdansa denganku.” Seseorang secara tiba-tiba mengajak Ai berdansa, dan tepat saat Ai ingin meraih tangannya.

__ADS_1


“Jangan sentuh dia.”


__ADS_2