
Di perjalanan.
“Ketua, maksud dari pertarungan terakhir itu...” (Selvi)
“Hmm. Begini saja, anggap saja lawan yang akan kita hadapi saat ini adalah lawan terakhir. Jika kita bisa mengalahkan mereka, maka permainan ini akan selesai.”
“Begitu. Berarti, jika kita berhasil mengalahkan mereka maka kita akan menang.”
“Ya, seperti itulah.”
“Tunggu ketua.”
“Huh? Hiroaki, ada apa?”
“Ini baru beberapa hari sejak kau bilang kalau pemain yang ada didunia ini tersisa 50 juta orang lagi, dan hari ini kau bilang ini adalah pertempuran terakhir.” Itu sangat aneh, hanya dalam beberapa hari 50 juta orang pemain yang ada didunia ini gugur, dan ketua bilang kalau ini adalah pertempuran terakhir. Bukannya itu sangat aneh.
“Ha, Ersen, kau pasti sudah menyadarinya. Bisa kau memberitahukan hal itu padanya.”
“Ersen?”
“Baik, ketua.” (Ersen) Ersen yang berada agak jauh perlahan mendekatiku. “Hiroaki, dengarkan baik-baik.”
“Huh? Ada apa?”
“Beberapa hari lalu bukannya kau merasakan pergerakan aneh.”
“Ah, iya.” 30 pemain yang melewati pembatas milikku beberapa hari lalu.
“Mereka berniat untuk melakukan pertarungan penghabisan.”
“Pertarungan penghabisan?”
“Ya, dimana beberapa kelompok dengan anggota lengkap akan bertarung di satu tempat.”
“Bukannya itu sangat ceroboh.”
“Ya, pemikiranmu itu tidak salah. Tapi, apa kau pernah berfikir kalau pemain yang ada didunia ini mulai merasa bosan terus bertempur.”
“Huh?” Aku sama sekali tidak pernah memikirkannya.
“Mungkin beberapa bulan atau tahun bertempur didunia ini terasa begitu menyenangkan, tapi apa kau pernah berfikir jika ada orang yang sudah ada didunia ini selama puluhan atau bahkan ratusan tahun didunia ini, dan yang mereka lakukan hanyalah bertempur setiap harinya.”
“Aku… Tidak pernah berfikir seperti itu.” Ya, awalnya aku juga berfikir kalau dunia ini adalah dunia yang menyenangkan karena aku bisa dengan lepas menggunakan kekuatanku. Tapi, tak bisa dipungkiri kalau saat ini aku sepertinya juga merasakannya. Rasa bosan dengan pertempuran yang tiada akhir ini.
__ADS_1
“Jika kau masih belum percaya, kau bisa tanyakan orang yang sudah berada lama sekali didunia ini.”
“Huh? Siapa?”
“Siapa lagi kalau bukan dia.” Ersen melirik ke arah ketua yang berada cukup jauh didepan.
“Eh? Ketua?!”
“Ya, kami memang baru bertemu beberapa bulan lalu. Tapi, sepertinya dia sudah seperti hidup didunia ini sangat lama.”
“Oh ya, kalau kau sejak kapan berada didunia ini?”
“Aku? Mungkin sudah 8 tahun aku berada didunia ini.”
“D-Delapan tahun.”
“Karen, dia sudah berada disini selama 3 tahun, dan Selvi, dia 6 tahun, dan Iras 10 tahun.”
“A-Apa.” Bisa dibilang kalau aku adalah yang paling sebentar tinggal didunia ini. “Lalu, apa kau tau berapa tahun ketua sudah berada didunia ini?”
“Untuk itu, ketua tidak pernah membicarakannya. Tapi, aku sangat yakin kalau dia sudah berada cukup lama didunia ini.”
“Apa kau pernah bertanya tentang hal itu padanya?”
“Begitu.” Jangan sampai membuat ketua marah, saat Ersen berkata seperti itu kata ini yang pertama kali aku ingat. Dan aku mengerti alasannya. Dan lagipula, aku sudah pernah melihat ketua merasa sangat lelah dengan apa yang sudah terjadi disini, dan sepertinya ia ingin secepatnya mengakhiri ini.
Beberapa jam kemudian.
“Haa, kita sudah sampai.” (Itsuki)
“Ketua, apa ini?” (Shiren)
“Tempat pertarungan terakhir akan dilakukan.”
“Disini?” Sebuah lubang raksasa ada didepan kami.
“Jurang raksasa ini?” Meskipun begitu, ada sebuah tempat yang luas dibawah sana, dan itu cukup untuk area pertarungan.
“Pertarungan terakhir akan dilakukan disana, dan siapapun kelompok yang berhasil menang dan bertahan dalam pertempuran itu maka dialah pemenangnya."
“Begitu. Jadi, disini kita hanya menunggu sampai akhir, ya.” (Ersen)
“Huh? Ersen, apa maksudmu?”
__ADS_1
“Kelompok yang tersisa akan digiring ke tempat ini dan akan dipaksa bertarung untuk menentukan siapa yang akan menang.”
“Tunggu, itu berarti kita sampai disini duluan. Dan kita berniat untuk menyergap musuh yang datang, seperti itu?”
“Tidak, lebih tepatnya bukan menyergap. Tapi, mengalahkan musuh terakhir yang sudah kelelahan. Itulah rencana kita untuk mencapai kemenangan ini.” (Itsuki)
“Tapi ketua. Apa akan semudah itu, bukannya mereka pasti sudah menyadari keberadaan kita.”
“Ya, tapi saat mereka fokus bertarung mereka akan mengabaikan sekitar dan fokus kedalam pertarungan. Disisi lain, kita bisa menunggu sampai ada 1 kelompok dan dengan begitu kita bisa dengan mudah mengalahkannya.”
“Begitu.” Meskipun ini terlihat seperti rencana yang kotor, tapi dengan rencana ini mungkin kita bisa dengan mudah memenangkan permainan ini. Tapi... “Ketua, bukankah kemungkinan juga akan ada orang yang memikirkan rencana ini?”
“Ya, tidak bisa dipungkiri hal semacam itu bisa terjadi. Tidak, hal yang kau katakan barusan pasti terjadi. Oleh karena itu kita akan menunggu dan sekaligus menyerang musuh yang memikirkan hal yang sama seperti kita.”
“Jadi itu rencananya.”
“Kalau begitu, semuanya. Aku harap kalian semua serius dalam pertempuran terakhir ini. Aku ingin kalian mengeluarkan seluruh kemampuan kalian, ada impian yang harus kalian capai. Dan karena itu, menangkanlah pertempuran ini dengan sekuat tenaga.”
“BAIK.” Dan dengan begini, pertempuran terakhir kami dimulai.
Beberapa lama setelah itu.
Sfx : ledakan & pertempuran.
Pertarungan sudah dimulai, dan itu berasal dari tempat yang dikatakan oleh ketua. “Baiklah, sekarang kita cari kelompok yang memikirkan cara yang sama seperti yang kita lakukan.”
“Ketua, apa kau memiliki ide?”
“Hmmm, mudah saja. Kita akan berpencar dan mencari kelompok yang bersembunyi.”
“Tunggu, itu sangat gegabah.” Disaat terakhir seperti ini, lawan yang akan kita hadapi sangat kuat dan mungkin saja lebih kuat dari lawan kita yang sebelumnya dan karena itu berpisah merupakan pilihan yang buruk.
“Kalau begitu. Kalian bagi menjadi 3 regu dengan masing-masing anggota 3 orang.” Mengikuti apa yang dikatakan ketua, kami memebentuk regu dengan 3 orang anggota.
Regu 1 Shiren, Miko, dan Rui. Regu 2 Karen, July dan Iras, lalu terakhir aku, Selvi, dan juga Ersen. Pemilihan masing-masing anggota dari regu ini bisa dikatakan tidak buruk. “Ketua, bagaimana denganmu?” (Selvi)
“Ahhh. Aku sendirian saja sudah cukup.”
“Ketua, kau terlalu ceroboh.”
“Huh? Sudahlah aku bisa menjaga diriku sendiri, kalau begitu. Baiklah semuanya, dengarkan aku baik baik, jika kalian menemukan musuh kalian bisa memberi tanda. Tapi, jika kalian rasa kalian bisa mengatasinya kalian tidak perlu melakukan itu. Tapi, jika kalian terdesak aku harap kalian mengirimkan sebuah tanda agar yang lain dapat membantu kalian.”
“Baik.”
__ADS_1
“Kalau begitu. Semuanya, berpencar.” Hari ini, mungkin saja permainan panjang ini akan berakhir, itulah yang kami harapkan. Penantian panjang yang kami tunggu, dengan banyaknya darah yang harus ditumpahkan untuk bisa mencapai titik ini.