Watashi No Hanayome

Watashi No Hanayome
7


__ADS_3

Semua prajurit mengacungkan pedang mereka ke arah dewa Sha. "Kerajaan ini sudah rusak." (Dewa Sha)


"Siapa sebenarnya kau?! Bagaimana caranya kau bisa masuk kedalam kerajaan ini, padahal aku sudah memerintahkan seluruh prajurit untuk memperketat penjagaan kerajaan hari ini." (Raja)


"Itu mudah saja..." Dewa Sha berjalan perlahan dengan tenang. Ia sama sekali tidak terlihat takut, tapi itu wajar karena ia adalah dewa.


"Yang mulia, orang itu yang sudah membasmi para monster itu kemarin dengan sangat mudah." (Entahlah siapa, males mau kasih nama)


"Jadi kau orangnya." Raja itu tersenyum setelah melihat dewa Sha. "Hahahaha... Menarik, bahkan bisa melewati penjagaan yang sangat ketat. Aku sangat kagum padamu. Bisa beritahu aku namamu." Raja itu berbicara dengan dewa Sha dengan nada yang terlihat meremehkan.


"Hahaha... Aku tidak berniat untuk memberitahukan namaku pada kalian."


"Kalau begitu... Perkuat efek penyegelan pada orang ini." (Raja)


"Baik." (Penyihir) Para penyihir kemudian memperkuat efek penyegelan kekuatan terhadap dewa Sha.


"Apa kau masih bisa sombong dalam kondisi seperti ini."


"Jadi ini, ya. Sihir yang bisa menyegel kemampuan seseorang." Tapi, efek penyegelan itu sama sekali tidak berefek pada dewa Sha. "Memang benar, sihir ini bisa menyegel kemampuanku, tapi hanya 2% saja." Dewa Sha masih bisa berjalan dengan santai.


"S-Siapa kau sebenarnya." (Komandan)


Mendengar kemampuan dewa Sha yang tersegel sebanyak 2% membuatku menyadari sesuatu. Sihir ini sangat kuat, bahkan bisa menyegel kemampuan dari naga suci. Atau bisa dikatakan kalau, 'Ini adalah sihir yang sangat berbahaya'.


------ Beberapa saat kemudian -------


"Yang mulia, kami sudah tidak kuat lagi." Perlahan-lahan para penyihir itu mulai kehabisan tenaga dan terkapar, efek penyegelan itupun semakin berkurang.


"Menarik, kau sangat menarik. Aku akan menawarkanmu sesuatu yang menarik jika kau mau melayaniku." (Raja)


"Prrff..." Mendengar hal itu membuatku menahan tawaku.


"Dengan kekuatanmu itu, kita bisa menguasai benua bahkan dunia ini."


"Hahahaha!!!" Mendengar kata-kata yang diucapkan oleh raja itu, membuatku tertawa dengan suara yang cukup keras.


"Kau, beraninya kau menertawai ucapan yang mulia raja." (Komandan)


Buggg


Aku dipukul lagi oleh komandan kerajaan ini. "Apa yang bisa kau berikan padaku sebagai bayarannya." (Dewa Sha)


"Huh?" Mendengar dewa Sha berkata seperti itu membuatku cukup terkejut.


"Segalanya, mulai dari kekayaan, istana, wanita, bahkan gelar. Aku bisa memberikan apapun padamu jika kau mau melayaniku."


"Hanya itu?"


"Apa ada yang kau inginkan?"


"Kerajaan ini akan hancur, aku akan menghancurkannya agar para kerajaan lain tidak berani untuk berfikiran seperti itu lagi."

__ADS_1


"Beraninya kau berkata seperti itu pada impian yang mulia raja. Aku akan membunuhmu."


Komandan itu bergerak mendekati dewa sambil menghunuskan pedangnya. Tapi...


Gubrakk


Baru beberapa langkah, komandan itu langsung terkapar jatuh. "Komandan!!" (Prajurit)


"Hiroaki, tugasmu sudah selesai. Sisanya biar aku yang menanganinya."


Dewa Sha kemudian menjeltikkan jarinya dan... "Aku, dimana?" Tiba-tiba saja aku berpindah tempat, dan saat ini aku tengah berada di dalam hutan. "Tugasku sudah selesai, sisanya biar aku yang menanganinya." Kata-kata yang diucapkan olehnya, ini pertama kalinya aku mendengarnya.


Sementara itu...


------


( Istana kerajaan Anvil. )


"Yang mulia, orang itu menghilang." (Prajurit) Karena Hiroaki menghilang, orang yang melihat kejadian itu menjadi kebingungan.


"Sihir apa yang kau barusan gunakan?" (Raja)


"Kau tak perlu tau, karena hari ini... Kekuasaan, kekayaan, semua yang kau miliki hari ini akan aku lenyapkan. Semuanya.."


"Hahaha... Bagaimana caramu melakukannya, meskipun kekuatanmu itu begitu besar, tapi kau tidak akan bisa melakukan hal yang mustahil seperti itu."


Mendengar itu, dewa Sha sedikit tersenyum. "Hah..." Ia kemudian membuka sedikit pedangnya dan kembali masukkannnya.


"Apa yang kau lakukan? Apa kau ketakutan sampai memasukkan pedangmu kembali." (Raja)


"Nasib buruk? Apa yang kau katakan?!"


Beberapa saat setelah itu... "Yang mulia, ada kabar yang sangat buruk." Seorang prajurit tiba-tiba saja masuk ke dalam ruang tahta.


"Ada apa?"


"Yang mulia..." Prajurit itu menundukkan kepalanya pada raja itu. "Seluruh rakyat yang ada di kerajaan ini..." Kata-kata prajurit itu bergetar.


"Ada apa?!"


"Mereka semua tiba-tiba saja mati."


"M-Mati, apa maksudmu?!"


"Beberapa saat lalu, keadaan masih seperti biasa. Tapi, tiba-tiba saja seluruh masyarakat yang ada di kerajaan ini terkapar dan mati."


"Ada apa ini? Ini sangat tidak masuk akal. Apa yang sebenarnya sudah terjadi?"


"Hamba tidak tau yang mulia."


Kemudian, raja itu melihat ke arah dewa Sha. "Apa kau yang sudah melakukan hal ini?!"

__ADS_1


"Aku akan menyelesaikannya ini dengan cepat."


"Siapa? Siapa sebenarnya kau?"


"Sudah aku bilang, aku tidak berniat untuk memberitahukan namaku pada orang seperti kau. Seorang yang sudah menciptakan sihir yang terlarang, dan juga... Kerajaan ini, sudah berbuat sesuatu yang begitu buruk yang bahkan aku sendiri tidak akan bisa memaafkannya."


"Apa yang..."


"Semoga dikehidupan selanjutnya, kau bisa merubah sikapmu ini." Dewa Sha mengeluarkan seluruh pedangnya secara utuh dan...


------


"Cahaya apa itu?" Sebuah cahaya yang terpancar menjulang tinggi ke langit.


Karena penasaran, akupun menghampiri cahaya itu.


-------- Beberapa menit kemudian --------


Cahaya itu mulai redup dan perlahan menghilang.


Mengikuti cahaya itu, aku berhasil keluar dari hutan ini. Dan saat aku sudah diluar hutan. "Cahaya apa itu?" Disini aku sama sekali tidak melihat apapun, hanya ada padang rumput yang sangat luas disini. Dan asal cahaya itupun tidak ada, padahal aku yakin tadi cahaya itu berasal dari sini.


"Hiroaki, apa yang kau lakukan?"


Suara yang tak asing bagiku terdengar dari belakangku. "Dewa Sha... Aku barusan melihat cahaya yang sangat terang, apa kau tau cahaya apa itu?"


"Cahaya? Cahaya apa?"


"Cahaya yang sangat terang, dan itu berasal dari area ini, tapi aku tak tau itu apa karena di area ini tidak ada apa-apa selain hamparan padang rumput."


"Hmm... Kau mungkin hanya berhalusinasi. Sudahlah, apa kau tidak mau kembali?"


"Kembali? Tugasku, bagaimana dengan upacara pemanggilan itu? Dan 1 hal lagi, kenapa kau memindahkanku ke hutan padahal waktu ritual pemanggilannya akan dilaksanakan besok. Dan saat ini aku tak tau aku sedang berada dimana."


"Untuk masalah itu, kau tak perlu khawatir. Seperti kataku tadi, aku sudah membereskannya. Sudahlah, bagaimana? Apa kau belum mau pulang?"


Dan tepat didepanku, gerbang dimensi muncul. "Tentu saja aku ingin kembali, tapi..." Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan pada dewa Sha. "Ada 1 hal yang ingin aku tanyakan padamu dewa."


"Hmm? Apa itu?"


"Kerajaan Anvil, Apa hubunganmu dengan kerajaan itu?" Karena dewa Sha sampai menunjukkan dirinya, itu berarti dewa Sha memiliki hubungan dengan kerajaan Anvil itu. Aku tak tau itu benar atau tidak, tapi aku merasa kalau yang aku pikirkan ini setidaknya memiliki sedikit kebenaran. Bahwa dewa Sha memiliki suatu hubungan dengan kerajaan Anvil mau itu hubungan baik, atau bahkan hubungan yang buruk.


"Aku akan menceritakannya nanti, kau masih ingat tentang janjiku padamu beberapa hari lalu."


"Hmm... Janji... Ah, maksudmu tentang membawaku ke tempat yang belum pernah manusia datangi itu."


"Iya, saat datang kesana, aku akan menceritakannya. Jadi saat ini kau sebaiknya segera kembali."


"Tapi, dewa..." Dewa Sha dengan sengaja mendorongku menyentuh gerbang dimensi itu, dan aku langsung berpindah tempat ke dalam aula istanaku.


"Ahhh!!!" Aku melupakan sesuatu yang sangat penting. "Pedangku!! Aku meninggalkannya." Saat aku dibawa ke istana kerajaan Anvil, aku meninggalkan pedangku di penginapan dan lupa mengambilnya.

__ADS_1


"Papa..."


Bersambung....


__ADS_2