Watashi No Hanayome

Watashi No Hanayome
62


__ADS_3

Sore hari, 17,30


“Hoy hoy, apa hanya segini kemampuan kalian. Rencana yang kalian susun begitu buruk, sampai-sampai semut saja bisa menyadari rencana yang kalian buat itu.” Entah kenapa perlawanan mereka kali ini berbeda dengan sebelumnya, di rencana yang mereka buat kali ini mereka terlihat begitu terburu-buru dan pada akhirnya rencana yang mereka gunakan tidak berhasil. “Haa, datanglah lagi padaku saat persiapan kalian sudah matang. Untuk pertemuan kali ini, aku sangat kecewa pada kalian. Aku kira kalian bisa menghiburku lebih baik dari sebelumnya, nyatanya tidak.” Aku kemudian pergi meninggalkan tempat ini.


--------------


“Selamat datang.”


Aku kembali tepat sesaat sebelum matahari tembenam. “Aku pulang.. haruskah aku bilang seperti itu?”


“Tentu saja, kau kan tinggal disini.”


“Haa, benar juga. Kalau begitu, aku pulang.” Setidaknya aku akan tinggal dirumah ini sampai waktunya tiba.


“Selamat datang. (tersenyum)”


Malam hari, 21,02


“Haa.”


“Hiroaki, ada apa?”


“Tidak ada apa-apa.”


“Hiroaki, bisa panggil namaku lagi.”


“Huh, ada apa?”


“Sudahlah, lakukan saja.”


“Amane.”


“(tersenyum) Lagi.”


“Amane.”


“Lagi.”


“Haa, sudahlah.”


“Eh. Ayolah, 1 kali lagi. Aku mohon.”


“Haa, baiklah. Amane...”


“Hehe. Terimakasih. Oh ya, ada yang ingin aku tanyakan.”


“Ada apa?”


“Siapa mereka?”


“Huh, ah... Mereka guardian sama sepertimu.”


“Mereka?”


“Iya, tapi kemampuan mereka jauh diatasmu dan juga anggota guardianmu.”


“Begitu, apa mereka kuat?”


“Setidaknya level kemampuanmu saat ini masih bisa mengejar mereka.”


“Begitu, lalu bagaimana dengan...”


“Aku rasa itu mustahil. Dalam anggota guardianmu, mereka sudah bagus dalam segala hal, baik dalam hal kerjasama maupun kekuatan, tapi sangat disayangkan. Ada 1 hal yang kurang dan itu membuat kemampuan mereka tidak berkembang.”


“Tidak percaya satu-sama lain.”


“Ya, seandainya mereka bisa melakukannya. Kemungkinan kemampuan mereka setidaknya bisa aku setarakan dengan 4 guardian itu.”


“Kenapa kau tidak melatih mereka juga, seperti yang kau lakukan padaku?”


“Sedari awal, mereka sudah menganggapku sebagai seorang penjahat. Jadi, aku hanya memenuhi peran itu saja, tidak lebih.”


“Penjahat?”


“Kau pasti pernah mendengar mereka berdiskusi tentang bagaimana cara untuk mengalahkanku.”


“I-itu... Y-ya.”

__ADS_1


“Bisa berlatih denganku saja, aku bisa menganggapmu sebagai seseorang yang beruntung.”


“Beruntung? Memangnya kenapa?”


“Kau adalah murid pertamaku, sebelumnya aku belum pernah melatih seseorang. Oleh karena itu aku sedikit bingung bagaimana cara untuk melatihmu.”


“Begitu, hehe...”


“Huh, ada apa? Kenapa kau tersenyum?”


“Tidak ada, aku hanya senang karena aku adalah murid pertamamu.”


“Oh ya, bagaimana dengan pelatihanku selama ini? Apa latihanku terlalu keras atau bagaimana?”


“Tidak, tidak sama sekali. Awalnya aku pikir juga begitu, tapi setelah beberapa kali latihan aku jadi terbiasa.”


“Begitu...” Aku cukup lega mendengarnya. “Besok dan beberapa hari kedepan, kita libur dulu latihan.”


“Huh, libur? Kenapa?”


“Tubuh juga butuh istirahat, dan lagipula sebaiknya kita ganti suasana dulu.” Bisa dibilang kalau aku masih belum menemukan metode latihan baru untuknya. “Lagipula, besok libur.”


“Begitu.”


“Untuk besok, apa ada tempat yang ingin kau datangi?”


“Kalau begitu...”


Besoknya pagi hari, 09,22 di taman bermain.


“Haa, taman bermain, ya.”


“Ada apa, apa kau tidak menyukainya.”


“Tidak ada apa-apa, aku kira kita akan pergi kemana ternyata ke taman.”


“Sudah lama aku tidak datang kemari, dan saat kau mengajakku aku sangat ingin mengunjungi tempat ini.”


“Begitu, ya.”


“Hiroaki, bagaimana dengan nilai ujianmu di ulangan semester pertama ini?”


“Bukannya ujian semester pertama sudah selesai, dan mulai minggu depan waktunya liburan musim panas.”


“Begitu.” Aku tak menyangkan secepat itu. “Entahlah, aku tak tau.” Sejujurnya, aku tidak begitu memperhatikan kegiatan sekolah, yang aku perhatikan hanyalah tugasku menjaga Sylvi Angelia.


“Eh? Sudahlah, aku tau kau tidak akan memberitahu nilaimu. Oh ya, bagaimana kalau liburan musim panas kita pergi kepantai?”


“Pantai?”


“Iya.”


“Terserah kau saja, aku akan ikut saja.” Lagipula aku tak memiliki rencana saat liburan musim panas dimulai, karena sebenarnya aku memang tidak pernah merencanakannya.


“Kalau begitu, sebaiknya aku beli baju renang baru. Bagaimana kalau kau yang... Aduuh." Aku menjitak dahinya. “Kenapa?”


“Pilihlah sendiri, aku tidak ada waktu untuk mengurusi hal semacam itu.”


“Tapi, bagaimana kalau nanti kau tidak suka?”


“Pakailah apa yang membuatmu nyaman, dan membuat dirimu puas. Itulah hal pertama yang harus kau ingat jika memilih pakaian, bukan pakaian yang disukai oleh orang lain tapi kau tidak nyaman saat memakainya.”


“Haa, vaiklah. Ahh, aku ingin naik itu.” Tiba-tiba saja pembicaraan teralihkan dengan mudah.


Beberapa lama setelah itu.


“Haa, hari ini sangat menyenangkan.”


“Apa kau sudah puas?”


“Tidak masih belum.”


“Huh? Apa ada hal lain lagi yang kau ingin lakukan?”


“Aku ingin pergi kesuatu tempat.”


“Dimana.”

__ADS_1


----------------


Mall


“Haa, seharusnya aku sudah menduga hal ini.” Seorang gadis tidak mungkin lepas dari tempat yang satu ini.


“Wahh.. indah.”


“Hm?” Aku melihatnya sedang memandang kesebuah toko. “Cincin, apa kau mau?”


“Tidak, aku hanya...”


“Haa, baiklah.” Aku putuskan untuk membelikannya, karena ia terlihat menyukainya.


Beberapa saat kemudian.


“Ini untukmu.”


“Eh, bukannya ini cukup mahal.”


“Itu bukan masalah besar.” Jika bukan karena kartu yang dewa Sha berikan padaku, aku tidak mungkin bisa membelikannya barang itu.


Dia langsung memasangnya dijari manisnya, dan kemudian menunjukkannya padaku. “Wah lihat, ini sangat indah.”


“Apalagi yang kau inginkan?”


Kami berpindah ketempat lain.


Beberapa menit setelah itu.


Kami berhenti disebuah tempat. “Amane, ada apa?”


“Itu...”


“Huh?” Ia menunjuk ke sebuah mesin foto.


“Ayo kesana...”


“T-Tung...” Ia langsung menarikku masuk kedalam sana.


Di dalam.


“Hiroaki, ayo senyum.”


Ckrekkkk


Beberapa saat kemudian.


“Hiroaki, kau tidak tersenyum.”


“Wajahku tidak cocok untuk difoto.”


“Sudahlah, yang penting aku sudah mendapatkannya. Sekarang kita cari tempat makan, sebentar lagi waktunya makan siang.”


“Ya.” Aku mengikutinya, berjalan mencari restoran yang ada di mall ini.


Dan setelah beberapa lama.


Waktunya makan siang.


“Selamat makan.” Makanan yang dipesan oleh Amane cukup banyak, dan aku sedikit terkejut melihat ia makan sebanyak ini, padahal dirumahnya biasanya ia hanya makan sedikit. “Hikari, ada apa?”


“Tidak ada apa-apa.”


“Kau makan sedikit, apa itu cukup untukmu?”


“Ya, ini sudah lebih dari cukup. Lagipula, aku tak pernah tau kalau kau punya nafsu makan yang besar.”


“J-Jangan meledekku.”


“Haha, maaf. Aku hanya sedikit terkejut saja.”


“Saat dirumah, ibu melarangku untuk makan yang berlebihan, katanya itu akan berakibat buruk pada tubuhku. Ibu bilang kalau seorang wanita harus memiliki tubuh yang...”


“Sudah, makan saja. Tidak usah berbicara.”


“Hm... Baiklah.” Aku tak tau kalau peraturan yang ada di keluarganya sangat ketat seperti itu, dan aku juga baru mengetahuinya.

__ADS_1


Kamipun makan siang, dan entah selanjutnya kami akan pergi kemana lagi.


__ADS_2