Watashi No Hanayome

Watashi No Hanayome
30


__ADS_3

“P-Perkenalkan, namaku Rui Schnen. Kekuatanku, tidak bukan.. kemampuanku..”


“Huh? Ada apa?”


“M-Maaf, a-aku.”


“Haa, dia Rui, dia adalah seorang legendaris penyihir didunianya.” (Itsuki)


“B-Begitu.” Dikelompok ini sudah memiliki 2 penyihir, meskipun Ersen menyebut dirinya sebagai ahli sihir.


“Penyihir, ya. Sayang sekali, levelmu berbeda denganku yang merupakan seorang ahli sihir.” (Ersen)


“Haa, sudahlah. Lalu dia adalah July D. Noer. Salah satu tuan putri yang memiliki kekuatan, ehem, maksudku kemampuannya adalah penciptaan. Mungkin, hampir sama seperti milik Iras.”


“Hmmm, begitu.”


“Btw, mereka berdua ini jomlo lo. Jika ada yang ingin berkenalan atau ingin dekat dengan mereka, silahkan saja. Kalau begitu, aku pergi dulu. Ada hal lain yang ingin aku kerjakan. Sampai jumpa.” Ketua Itsuki pergi.


‘Ehh? Kenapa dia harus mengatakan hal itu kepada kami.’ Di saat yang sama aku melihat kearah yang lain. ‘Ahhh, sudahlah.’ 2 orang bersiap-siap melancarkan rencananya. “Aku akan pergi keluar dulu.” Aku tak ingin melihat ataupun medengar apa yang akan terjadi disini. ‘Dasar, Ersen dan Iras.’ Mereka memulai pergerakan karena mendengar hal itu dari ketua.


Di luar markas.


‘Itu kan ketua.’ Aku melihat ketua yang berjalan, dan karena penasaran akuputuskan untuk mengikutinya.


Beberapa saat kemudian.


Ketua berhenti. ‘Danau?’ Ketua berhenti di dekat danau, aku baru tau kalau di sekitar markas ada danau sebesar ini.


Ketua duduk di pinggi danau itu. “Haa, ini sangat melelahkan.” Ini pertama kalinya aku melihat ketua terlihat kelelahan seperti itu.


‘Hal apa yang sebenarnya sudah ketua alami?’


“Aku ingin semua ini segera berakhir, aku sudah sangat lelah.”


Ia begitu kuat dan sangat hebat, tapi saat ini aku melihat dia seakan sudah merasa bosan dengan apa yang sudah terjadi padanya.


Beberapa minggu setelah itu.


“Haa, mereka kuat.”


“Iya, untung saja kelompok kita sudah lengkap. Jika tidak, mungkin kita akan kalah melawan mereka.” (Ersen) Ini pertempuran pertama kali dengan kelompok lengkap, dan hasil akhir tidak sesuai dengan rencana. Meskipun begitu, kami berhasil menang.

__ADS_1


“Ketua, ada apa?” (Selvi)


“Pertarungan kita yang selanjutnya, kemungkinan besar akan jadi pertarungan terkhir kita.”


“Ketua, apa itu maksudnya…”


“Ya, pertarungan terakhir.”


“T-Tunggu ketua, bukannya beberapa minggu lalu kau bilang kalau masih ada 500 juta pemain yang masih ada didunia ini. Jika kau bilang seperti itu, bukannya itu berarti.”


“Kemungkinan para pemain yang ada didunia ini hanya tersisa 50 ribu saja.”


“50 Ribu.” Jumlahnya menurun drastis, aku bukannya tidak senang dengan penunrunan sebesar itu tapi hal seperti itu tidak mungkin terjadi secepat itu. “Ketua, apa yang sebenarnya terjadi?”


“Para pemain saat ini tengah bertarung, tidak… Tapi seluruh pemain yang membuat kelompok didunia ini saat ini sedang bertarung, dan itu terjadi setiap hari.”


“Begitu.” Jika memang benar seperti itu, aku tidak heran penurunan pemain menjadi secepat itu. Tapi, musuh yang kita hadapi selama beberapa minggu terakhir ini, hanya mereka barusan yang menjadi lawan kami dan sudah jelas itu ada yang aneh. Jika ketua bilang kalau ada pemain yang bertarung setiap hari, maka tidak heran setiap hari akan ada setidaknya 1 kelompok yang menyerang kami, dan itu tidak terjadi. “Ketua, apa kau yang...”


“Haa. Aku lelah, kalian bisa kembali. Aku akan pergi memeriksan sesuatu. Nanti akan aku berikan perintah jika sesuatu terjadi.” (Itsuki) Ketua pergi.


“Baiklah, ayo kita kembali.” (Ersen) Mereka semua kembali, tapi…


‘Aku penasaran.’


“Hiroaki, ada apa?” (Iras)


“Hiroaki, ada yang ingin aku katakan padamu.”


“Huh?”


“Jika kau berencana untuk mengikuti ketua, sebaiknya kau urungkan saja niatmu. Ini demi kebaikanmu.”


“Hahaha. Apa yang kau katakan, sudah aku katakan kalau akau akan pergi memeriksa penghalang yang aku buat. Mana mungkin melakukan apa yang kau katakan.”


“Kalau begitu, ya sudah dan aku harap kau ingat apa yang aku katakan barusan.” Iras kemudian pergi.


“Haa, baiklah.” Meskipun aku sudah diperingatkan, tapi aku masih penasaran. Dan aku putuskan untuk mengikuti ketua.


Beberapa lama setelah itu.


“Huh? Dimana?” Aku kehilangan jejaknya, ketua pergi begitu cepat sampai-sampai aku tak bisa mengejarnya. “Sudahlah.” Aku tak mungkin bisa menemukannya, dan karena itu aku putuskan untuk kembali. Tapi…

__ADS_1


“Apa ini!!” Aku merasakan sesuatu, sesuatu yang begitu kuat. “10, tidak… 30 orang.” Aku merasakan kalau ada sekitar 30 orang yang sudah merusah pelindung yang aku buat, dan mereka berada di tempat yang berbeda beda. “Mereka kelompok yang berbeda, sepertinya mereka berniat untuk menyerang kelompokku. Aku harus memberitau yang lain tentang hal ini.”


Beberapa saat kemudian.


“Huh? Apa yang terjadi?” 10 orang dari mereka, aku sudah tak bisa merasakan keberadaanya. “Lagi.” Aku tak kembali tak bisa merasakan keberadaan 10 orang lainnya. “Apa mereka sudah kabur, atau mungkin...” Hanya ada 2 kemungkinan, jika melewati pembatas buatanku, aku bisa merasakan keberadaan mereka tapi. Jika diluar pembatas, aku tak bisa merasakannya dan juga jika mereka mati aku juga tak bisa merasakannya. “Sudahlah, aku harus segera memberitahu yang lain tentang hal ini.”


Beberapa lama setelah itu.


“Ha, ha, ha.” Aku sudah sampai di markas, dan aku sudah tak bisa merasakan keberadaan 30 orang itu.


“Hiroaki, ada apa?” (Iras)


“Barusan aku merasakan kalau akan ada yang menyerang.”


“Mungkin itu hanya perasaanmu saja.”


“Tidak, jumlahnya ada 30 orang, dan aku yakin itu.”


“T-Tiga puluh!!” (Miko)


“Lalu, dimana mereka? Sekarang?”


“Entahalah, sepertinya mereka berhasil keluar dari pembatas yang aku buat.”


“Hmm. Jika seperti itu, ya sudah. Lagipula kita tak mungkin mengejar musuh yang banyak seperti itu.”


“Benar juga. Diam adalah pilihan terbaik untuk saat ini, lagipula jika terjadi sesuatu ketua pasti akan langsung memeberitahukannya pada kita. Hiroaki, kau tak perlu khawatir.” (Ersen)


“Meskipun begitu.”


“Hiroaki, sudahlah. Saat ini kita hanya harus menunggu perintah dari ketua. Seperti yang ketua katakan tadi.”


“Tapi…”


“Haa, Hiroaki, sudahlah. Percayakan semua pada ketua, aku yakin saat ini dia sedang melakukan sesuatu.”


“B-baiklah.” Aku menuruti ucapan mereka dan memilih untuk diam.


Beberapa hari setelah itu.


“Hey kalian, sudah saatnya kita pergi.” (Itsuki)

__ADS_1


“Pergi? Kemana?”


“Pertarungan terakhir.”


__ADS_2