
“Yang mulia ratu, para pasukan iblis mulai mundur.” (prajurit)
“Mundur?” (Emilia)
“Iya ratu, tapi sesaat sebelum itu terjadi ledakan yang sangat besar. Mungkin saja itu yang menyebabkan para pasukan iblis mundur.”
“Ledakan besar, jangan-jangan...”
------------------
“Hahaha, bagus, ini sangat bagus.”
“Berhentilah tertawa, itu membuatku muak.” Perlahan, aku mulai merasa kehilangan sesuatu.
“Kalau begitu. Aku mulai.” Shima mulai menyerangku, dan setiap serangan yang dilancarkan olehnya padaku. “Hahaha, bagus, itu sangat bagus.” Aku menangkisnya.
Ctinggg
Pedang kami beradu, dan selama beberapa saat tidak ada serangan. “Sebaiknya kau segera mengalahkanku, jika tidak seperti itu mungkin saja salah satu keluargamu akan mati, seperti sebelumnya.” Shima berhasil memprovokasiku.
“Jika itu yang kau inginkan.” Mendengar aku berkata seperti itu, Shima dengan sigap melompat kebelakang. “Aku akan mengabulkannya.”
_____________
“Dewa Yu, tentang misi Hiroaki selanjutnya..”
“Dewa Sha, ada apa? Apa ada masalah?”
“Tidak ada, hanya saja.. apa boleh aku yang memilih sendiri dunia yang akan dia datangi selanjutnya.” Sedari dulu, bukan dewa Sha yang memilihkan dunia yang akan Hiroaki datangi, tapi perkumpulan para dewa yang mengusulkan, dunia mana yang akan Hiroaki datangi dan itu sudah disetujui oleh para dewa. Sedangkan tugas dewa Sha, hanya menyampaikan tentang dunia itu dan apa tugasnya.
“Boleh, boleh saja. Tapi, kenapa tiba-tiba?”
“Tidak ada alasan khusus.”
“Begitu..”
________________
“Grahhh..” Darah mulai keluar dari mulutnya, itu karena pedang Ryuga milikku menusuk perut Shima.
“Dengan begini, berakhir sudah.” Zirah yang digunakan Shima memiliki berlapis-lapin pelindung sihir, dan sangat mustahil untuk merusaknya jika kekuatan yang digunakan tidak besar.
“(tersenyum) K-Kau.. melakukannya zirah terkuat milikku, kau menghancurkannya. Dengan begini, dimasa depan, sudah diputuskan… Baik digenerasi selanjutnya, yang akan menjadi rival sang raja iblis, sudah ditentukan. Graahhh.” Darah kembali keluar dari mulutnya.
Aku kembali menusukkan pedangku lebih dalam ketubuhnya. “Meskipun dimasa depan, kebencian ini tidak akan pernah hilang. Kau yang sudah membunuh seseorang yang berharga bagiku...”
“Hahaha. Itu bagus!! Bencilah diriku, dengan begitu... Grahhh..” Aku menarik keluar Ryuga dari tubuh Shima, dan setelah itu perlahan berjalan menjauh. “Aku tidak akan pernah mati, setiap kebencian yang kau miliki, akan membuatku lebih kuat. Dan suatu hari nanti, kau akan merasakan... Yang namanya kematian.” Setelah itu, Shima berhenti bergerak dan saat aku lihat, para pasukan iblis mulai mundur. Dan ada beberapa prajurit yang menghampiri mayat Shima dan membawanya pergi.
“Membunuhnya tidak akan membuatnya hidup kembali.” Meratapi kenyataan itu, membuatku begitu terpukul. Bukan hanya kehilangan 1, tapi aku kehilangan 2 hal yang berharga. Istri dan juga calon anakku.
______________
“Hmm, sepertinya dia terlihat cukup depresi.” (Ai)
__ADS_1
“Itu sudah wajar. Dia kehilangan seseorang yang berharga baginya, siapapun pasti akan tertekan.”
“Nee Sha, apa kau juga seperti itu saat tau kalau aku sudah mati?”
Mendengar hal itu, dewa Sha memalingkan wajahnya. “Entahlah, aku tidak ingat.”
“Eeh, apa kau juga depresi?”
“Aku tidak begitu ingat, tapi sepertinya aku biasa saja.”
“Kau bohong, aku sudah dengar semuanya dari dewa Yu. Tapi, aku juga berterimakasih. Kau rela mengorbankan apapun demi menyelamatkanku.”
“…” Dewa Sha masih memalingkan wajahnya.
“Kau malu-malu?”
“T-tidak.”
“Ee, jangan bohong. Aku bisa melihat dengan jelas dari sini.”
__________________
Gerbang istana
“Yang mulia...” (prajurit) Saat aku sampai, para prajurit tengah bersiap setelah beberapa menit setelah itu bala bantuan dari kerajaan tetangga datang.
Karena para pasukan iblis sudah mundur, pasukan bala bantuan hanya menoling mengobati korban yang jatuh akibat pertempuran ini.
Tenda perawatan.
____________
“Yo Hikari, maaf mengganggumu.” Aku berpindah tempat.
“Dewa Sha..”
“Hoy hoy, jangan pasang wajah seperti itu. Itu sangat tidak cocok denganmu, cepat hapus air matamu itu.”
“M-Maaf.” Aku menghapus air mataku.
“Aku memiliki sebuah tugas untukmu.”
“Tugas?”
“Mungkin ini berat bagimu untuk menjalankan tugas, dan padahal kau baru saja kembali. Lagipula, saat ini kau sedang berduka.”
“Dewa Sha...” Ia mengerti, setidaknya itulah yang aku pikirkan.
“Kau kira aku akan berkata seperti itu. Sudah, jangan merengek, kau seperti bayi saja.” Aku kira dia akan mengerti apa yang aku rasakan. “Ini bukan tugas dari para dewa, melainkan ini tugas khusus dariku.”
“Tugas khusus?”
“Ya, kau akan pergi kesebuah dunia untuk menyelamatkan seseorang.”
__ADS_1
“Menyelamatkan, bukannya tugasku hanya mencegah ketidakstabilan..”
“Oleh karena itu aku bilang sebelumnya, ini adalah tugas khusus dariku.” Padahal aku masih beduka, tapi dewa Sha sudah kembali memberiku tugas lagi. “Tenang saja, saat kau sudah menyelesaikannya. Aku akan mengabulkan keinginanmu.”
“Mengabulkan keinginanku?”
“Kau ingin menghidupkan Ai, benarkan.”
“Tapi, bukannya itu mustahil. Meskipun bisa kembali dihidupkan, dia akan kehilangan ingatannya.”
“Lalu, bagaimana dengan ini.” Dewa Sha menunjukkan sebuah mutiara padaku.
“Apa itu?”
“Bisa dibilang, sebuah kepingan ingatan. Karena hal seperti ini pernah terjadi, aku sudah menyiapkan pencegahannya agar hal seperti ini tidak terulang kembali. Lagipula, Ai tidak ditakdirkan mati secepat ini.”
“Jadi, dia aku menggunakan itu. Ai yang kembali dihidupkan, masih tetap akan mengingat-...”
“Tentu saja. Sudahlah, sudah saatnya kau pergi. Aku akan menjelaskan tentang tugas ini diperjalan.”
______________
“D-Dewa Sha... (terkejut)” (Emilia, Rin, Sia) Mereka semua masuk ke dalam tenda perawatan dimana Ai berada, dan bertemu dengan dewa Sha.
“Dewa Sha, apa yang anda lakukan disini? Dan dimana Hikari?” (Emilia)
“Dia sedang pergi menjalankan tugas dariku.”
“Tugas, dia baru saja kembali dan sekarang sudah pergi lagi.” (Sia)
“Dewa Sha, apa kau bisa menyelamatkan Ai?”
“Hm, bisa, tapi ini akan memakan sedikit waktu yang lebih lama.”
“Benarkah?”
“Dewa Sha, terima kasih..”
“Haha.. tidak masalah. Kalau begitu, aku akan membawanya.”
“Membawanya?”
“Ya, kesebuah tempat dimana hukum waktu tidak ada. Dan untuk kalian, sebaiknya segera pulihkan kerajaan ini. Mungkin suamimu tidak akan kembali dalam waktu dekat ini.”
“Tidak akan kembali. Apa tugasnya kali ini berbeda dengan tugas-tugas sebelumnya?” (Rin)
“Ya, mungkin saja paling cepat dia akan kembali setelah setengah tahun. Itupun jika dia berhasil..”
“S-setengah tahun..”
“Baiklah. Kalau begitu, aku akan pergi.” Dewa Sha kemudian menghilang bersama dengan Ai.
_____________
__ADS_1
“Aku, dimana?” Tempat ini begitu hening, dan sampai-sampai aku bisa mendengar suara detak jantungku sendiri. “Ah.. Sudah berapa lama aku berada disini...” Entah kenapa aku merasa sudah sangat lama berada disini. Tempat ini, tempat yang sangat nyaman..