Watashi No Hanayome

Watashi No Hanayome
44


__ADS_3

Pagi hari, jam 06.50


[Kamar]


Aku perlahan membuka mataku. "Hoaaam... Kamar? Bagaimana aku bisa ada disini?" Aku bangun dari tempat tidurku, dan memutuskan untuk segera mandi untuk menyegarkan tubuhku. 


------- Hampir 20 menit kemudian -------


Aku sudah selesai dan saat ini aku sudah berpakaian seperti biasa. "Kemarin, apa yang terjadi?" Aku tak bisa mengingat apa yang terjadi setelah aku dinobatkan menjadi raja oleh Shin. "Sudahlah, mungkin saja itu bukan hal penting." Akupun perlahan keluar dari kamar.


[Di luar kamar]


"Huh? Sepi sekali, kenapa tidak ada satu orangpun disini?" Sejauh mataku melihat, aku sama sekali tak melihat seseorang. "Apa yang terjadi?" Aku memutuskan untuk berjalan keluar istana untuk mencari sedikit ketenangan.


--------- Beberapa saat kemudian -----------


Semakin aku mendekat ke arah pintu keluar, aku semakin mendengar suara yang cukup ribut. Dan karena penasaran, aku putuskan untuk menghampiri asal suara itu.


"Cepat kau pergi dari sini, aku tak mau melihat wajahmu lagi." (Emilia)


"Huh? Bukannya itu suara Emilia." Aku tak tau kenapa, tapi sepertinya Emilia mendapatkan sebuah masalah. Dan mau tak mau aku harus melihat apa yang sebenarnnya sedang terjadi.


 [ Di luar istana ]


Aku sedikit membuka pintu dan melihat, apa yang sedang terjadi. 


"Kau harus ikut denganku sekarang juga." (???)


"Sudah aku bilang, aku tak ingin melihat wajahmu lagi. Pergi dari kerajaan ini!!" (Emilia)


Emilia terlihat kesal, dan saat ini ia sedang berdebat dengan seorang laki-laki dan laki-laki itu juga membawa cukup banyak prajurit ke dalam kerajaanku. "Hmm... Apa aku harus menghentikannya?" Aku tak tau apa yang harus aku lakukan, tapi sepertinnya jika aku ikut campur aku akan terlibat dengan masalah ini.


"L-lepaskan aku!!" (Emilia)


"Kau harus kembali!!" (???) Laki-laki itu memengang tangan dan berniat untuk membawanya pergi secara paksa.


"Huh? Sepertinya tidak ada pilihan lain." Aku memutuskan untuk keluar dan menemui mereka. "Hey, apa yang kau lakukan di kerajaan orang lain?"


"H-Hiroaki.."


"Jadi dia orangnya."


"Huh??"


"Kalau begitu. Hiroaki, aku menantangmu berduel. Jika aku menang, aku akan membawa putri Emilia kembali."


"Ehh? P-Putri?"


"Aku akan menunggumu di arena, pertarungan akan dimulai jam 9 Jika kau tidak datang kau akan dianggap kalah." (???) Setelah mengatakan itu, pria itu pergi bersama dengan para prajuritnya.


"Emilia, apa kau tau siapa orang itu?" Baru pertama kali bertemu dan langsung mengajak berduel. "Haa, aku rasa aku sudah terlibat dalam masalah yang sangat rumit."


"Aku tak mau membahasnya, dan yang paling penting. Kau harus memenangkan pertandingan itu."


"Haa... Baik, akan aku usahakan."


Di pagi hari yang cerah, dimana aku baru saja ingin bersantai aku mendapatkan sebuah masalah dan harus menyelesaikan masalah itu dengan cara berduel. "Sungguh, hari ini aku merasa sial."


________________


[ Arena pertandingan ]


"Ternyata ada tempat seperti ini di kerajaanku, ya." Aku baru pertama kali melihatnya, tempat ini sangat luas dan tempat ini kalau dilihat mirip seperti lapangan sepak bola. Tapi yang membedakan adalah tempat ini untuk sebuah pertarungan senjata bukan bola.


Saat ini aku sedang duduk di salah satu kursi yang ada di tempat ini. "Emilia, siapa sebenarnya laki-laki itu?"


"Dia adalah Glery, dia merupakan salah satu ksatria kebanggaan ayahku."


"Begitu.. Oh ya, tadi orang itu memanggilmu dengan sebutan putri. Apa kau putri dari sebuah kerajaan?"


"(tersenyum) Begitulah.. Hanya saja, kedua orang tuaku itu sangat egois. Mereka lebih mementingkan perkembangan kerajaan dari pada kebahagiaan putri mereka."


"Maksudmu?"


"Sebelumnya maaf, aku merahasiakan hal ini darimu selama ini. Sebenarnya aku sudah dijodohkan dengan pangeran dari kerajaan lain."


"Hmmm... Begitu." Menurutku, kasusnya hampir sama dengan kasus Sia, tapi yang memilihnya bukan dari para petinggi melainkan orang tuanya sendiri. "Jadi maksudmu, kau kabur karena kau tak suka dengan pasangan yang dipilihkan oleh orang tuamu itu."


"B-begitulah. Aku pergi dari kerajaanku dan aku bertemu dengan seorang peramal (dewa Sha yang menyamar) dan dia yang memberitahuku kalau aku akan aman bila bersama dengannya."

__ADS_1


"Seperti itu." Jadi, bisa dikatakan kalau dia datang menenuiku bukan hanya karena ulah dewa Sha, tapi karena dia memang membutuhkan bantuan. "Kenapa kau tidak menolaknya, bukannya itu akan lebih mudah."


"Kalau aku mempunyai kekuatan untuk berkata seperti itu, aku pasti tidak akan berada dalam masalah seperti ini."


"Hoo.. (berdiri) Aku sudah sedikit memahami apa yang sedang kau alami saat ini. Ehh.. Dan karena kau adalah bagian dari keluarga kecilku, aku tak akan membiarkan hal seperti itu terjadi."


"Terima kasih, Hiroaki."


Sebenarnya aku tak tau apa yang aku katakan berusan, tapi sepertinya itu membuatnya sedikit lebih tenang. Dan saatnya masalah serius sedang berada di depan mataku.


[ Arena pertempuran ]


Pagi hari, jam 09.00


Grely sedang berdiri cukup jauh di depanku, dan ia juga membawa sebuah pedang yang cukup panjang. "Ehh... Apa aku boleh menggunakan senjataku juga."


"Tentu saja, gunakan saja senjata milikmu. Lagipula kau tak akan menang melawan pedang terkuat yang di banggakan di kerajaan Slvy, Pedang iblis Demon Sword."


"Hoo.." Aku tak tau, tapi sepertinya pedang itu cukup berbahaya. "(memengang kepala) Huh.. Aku tak membawa pedang, dan pedangku sepertinya masih ada pada Rin." Dan dengan terpaksa, aku melawan orang ini menggunakan sebuah pedang yang di sediakan disini. "Jika aku menang, kau harus kembali ke kerajaanmu dan jangan pernah ganggu Emilia lagi."


"Baiklah. Jika kau menang, aku akan menuruti apa yang kau katakan, aku tak akan menganggu putri Emilia lagi. Baiklah, kita mulai pertarungannya.." (Glery) Glery dengan cepat berlari kearahku dan kemudian menyerangku.


Aku mencoba  untuk menagkis serangan pertamanya, tapi...


Ctrakk.


Pedang yang aku gunakan tiba-tiba saja retak saat mencoba untuk menangkis serangan pertamanya. "Cih, pedang ini berakhir hanya dengan satu pukulan saja." Karena hal itu, membuatku melompat cukup jauh kebelakang. "Wah wah, ternyata kau cukup tangguh juga."


"Ada apa? Apa seperti ini kekuatan seorang raja Riel, sungguh mengecewakan."


"Hi-chan!! Maaf lama!!" Rin berlari kearahku sambil membawa kedua pedangku.


-------- Beberapa saat kemudian --------


"Ha ha ha. M-maaf Hi-chan, ini pedangmu." Rin memberiku semua pedangku, tapi ia hanya memberi pedangnya saja, sedangkan kedua sarung pedangnya ia pegang.


"Terima kasih." Dan karena itu pula, aku rasa pertandingan ini akan cukup seimbang. "Baiklah, aku akan mulai serius sekarang."


Aku merasa ada yang aneh dengan kedua pedangku, khususnya dengan pedang naga. "Darah?" Di ujung pedang naga, terdapat sedikit bercak darah. Aku tak tau apa yang Rin lakukan dengan pedang naga dan juga Shirameku, tapi sepertinya itu adalah hal yang cukup berbahaya mengingat ada bercak darah di ujung pedang nagaku ini.


"Rasakan ini!!" (Glery) Ia kembali dengan cepat berlari dan menyerangku.


Ctangg.


Glery kembali melanjutkan serangannya, dan masih dalam keadaan yang sama. Aku  menghindari semua serangan yang diarahkan padaku dengan sangat mudah. Entah kenapa, tubuhku terasa sangat ringan. 


"Rasakan ini!!" Glery kembali menyerangku secara bertubi-tubi.


Ctangg


Ctingg


Semua serangan yang ia arahkan pedaku, aku tahan dengan pedangku. "Dia, terengah-engah?" Kekuatannya memang cukup besar, tapi sepertinya pedang itu memakan cukup banyak energi jika digunakan berlebihan. "Sudah, hentikan saja pertarungan konyol ini. Mau bagaimanapun juga, kau tak akan bisa mengalahkanku." Aku mencoba untuk mengakhiri ini tanpa sedikitpun masalah, lagipula aku sebenanya tidak senang menggunakan kekerasan, aku lebih suka menggunakan cara yang damai. Tapi, jika cara damai memang tidak diperlukan untuk mengatasi masalah, aku akan menggunakan kekerasan untuk menyelesaikan masalah itu. Dan saat ini sepertinya aku  masih bisa menyelesaikan masalah ini dengan damai.


"T-tidak!! Aku masih bisa bertarung." Aku tak tau kenapa, tapi kelihatannya tenanganya mulai terkuras akibat menggunakan senjata yang digunakannya itu. "Aku akan mengalahkanmu, dan membawa putri Emilia kembali."


"Ia memiliki tekat yang kuat, tapi sangat disayangkan." Aku mengangkat pedangku. "Aku akan mengakhiri ini." 


Dengan cepat aku berlari dan tanpa disadari aku sudah berada di belakang Glery. "C-cepat sekali.."


Aku kemudian menyerangnya secara vertikal menggunakan pedang naga dan Glery berhasil menagkisnya. Tapi, serangan kedua dari pedang Shirame yang mengarah tepat ke bagian perutnya tidak bisa ditangkis.


Gubbrrakk.


Glery terpental. "Aku rasa ia tidak terluka." Lagipula aku memukulnya menggunakan bagian tumpul pedangku, dan mungkin saja itu hanya menyebabkan rasa sakit dan beberapa patah tulang.


"Uhuk uhuk.. S-sialan." Glery mencoba berdiri dengan menggunakan pedangnya sebagai pegangan. 


"Sudahlah, kau tidak akan bisa mengalahkanku." Aku mencoba untuk membuatnya putus asa dengan kata-kataku. "Mau berapa kalipun kau mencoba, hasilnya akan sama saja. Jadi pergilah, sesuai kesepakatan. Emilia akan tetap berada disini."


"T-tidak... Ma-sih belum, aku masih bisa bertarung. Aku, masih belum kalah."


"Tuan Glery, baginda raja menyuruh kita untuk kembali sekarang juga." (???) Seorang prajurit Glery menggangu pertarunganku.


"Ada apa?! Apa kau tidak lihat, aku sedang bertanding."


"M-mohon maaf, tapi sepertinya sudah terjadi sesuatu yang buruk di kerajaan."


"A-apa!! (terkejut) Kalau begitu, hari ini aku akan membiarkanmu menang, tapi tidak di lain waktu. Kita segera bergegas kembali." 

__ADS_1


"Baik."


"Hari ini aku akan membiarkanmu menang, ya. Hah.." Kalau dilihat-lihat jika dia masih saja melanjutkan pertempuran sia-sia ini, mungkin saja aku tanpa sengaja melukainya dengan luka yang cukup parah. "Syukurlah masalah ini selesai."


"Hiroaki, apa kau memenangkan pertarungannya?" Emilia dan Rin tiba-tiba saja menghampiriku. 


"Seperti itulah, tapi..." Ada sesuatu yang mengganggu pikiranku tentang percakapan Glery dan prajurit yang ia bawa barusan.


"Hiroaki, ada apa?"


"Tidak ada apa-apa. Oh ya Rin, kenapa pedangku ada bekas darahnya? Apa yang kau lakukan dengan pedangku?" Aku mencoba untuk mengalihkan pembicaraan.


"Tidak ada, aku hanya menggunakannya untuk memotong daging untuk digunakan saat pesta berlangsung."


"Hah? Memotong daging?"


"Iya, karena dagingnya keras, jadi aku menggunakan pedangmu. Dan ternyata itu berhasil, jadi aku pinjam sekalian semua pedangmu."


"Hee... Ternyata pedangku digunakan untuk memotong daging, ya. Apa itu fungsi lain dari sebuah pedang?"


"Hi-chan, apa yang sebenarnya terjadi?"


"Begini..." Aku meceritakan apa yang terjadi tadi pagi kepada Rin.


--------- Setelah selesai bercerita ---------


"Begitulah, ceritanya.."


"Aku sudah sedikit paham.. Emilia, bagaimana kalau besok kita pergi ke kerajaan orang tuamu."


"Hah?!" Aku terkejut mendengar Rin tiba-tiba saja menyimpulkan ide seperti itu.


"U-untuk apa?" (Emilia)


"Besok kita akan mendatangi orang tuamu dan kau akan bilang kalau kau menolak untuk dijodohkan. Dengan begitu, mereka pasti tidak akan datang lagi ke kerajaan ini, dan kau bisa tenang."


"Hmm... Seperti itu, ya. Jadi, besok jam berapa kalian akan berangkat?"


"Apa yang kau katakan Hi-chan, kau juga akan ikut."


"Eeehh.. T-tunggu dulu, kenapa aku juga harus ikut?"


"Itu sudah jelas, bukan. Kau'kan pasangan Emilia, sudah wajar kalau kau ikut juga bertemu dengan orang tua Emilia."


"Ehhh.. T-tapi-..."


"Tidak ada tapi-tapian. Kita akan berangkat besok jam 7 pagi, jangan sampai telat." Mereka berdua pergi, tanpa mendengarkan apa yang ingin aku katakan pada mereka.


"Huh... Menemui orang tua Emilia, ya. Kira-kira, apa orang tua Emilia itu adalah orang yang ramah, ya?" Aku memikirkan hal itu, karena aku sama sekali belum pernah menemui orang yang tidak ramah padaku, jadi aku tak tau harus bersikap seperti apa jika saja kedua orang tua Emilia itu tidak ramah terhadapku. 


Semakin aku memikirkannya, aku semakin tertekan. "Lupakan saja, yang terjadi biarlah terjadi."


_________________


[ Di kamar ]


Sore hari, jam 16.45


Entah kenapa aku malas sekali untuk melakukan sesuatu untuk saat ini. "Dewa Sha, apa kau bisa menjawabku. Ada yang ingin aku tanyakan padamu." Aku mencoba untuk menghubungi dewa Sha.


--------- Beberapa menit kemudian ---------


Dewa Sha tak menjawab panggilanku. "Hmmm... Apa dia sedang sibuk, ya." Aku tak tau kenapa, tapi beberapa hari terakhir ini dewa Sha tidak bisa dihubungi.


"Besok, ya." Aku harus pergi kekerajaan milik keluarga Emilia, dan aku juga harus menemui orang tua Emilia yang merupakan seorang raja dan juga ratu. 


"Semoga saja disana aku mendapatkan sedikit hiburan." Aku merasa bosan, dan aku rasa bosan ini kembali setelah beberapa hari menghilang.


"Hah.. Aku ingin jalan-jalan sebentar." 


------- Beberapa menit kemudian ------


[ Masih di dalam istana ]


"Papa, apa papa besok akan pergi?" Tiba-tiba saja Inori muncul di depanku dan itu membuatku terkejut.


"Ah.. I-iya, papa akan pergi bersama dengan mama Emilia, dan mama Rin."


"Apa aku boleh ikut?"

__ADS_1


Sebenarnya aku ingin Inori tidak ikut, karena menurutku kerajaan ini adalah tempat yang aman untuknya. Tapi.. "Baiklah, kau boleh ikut." Sepertinya tidak apa-apa sekali-kali aku mengajak Inori pergi ke kerajaan baru.


Bersambung


__ADS_2