Watashi No Hanayome

Watashi No Hanayome
24


__ADS_3

"Baiklah, kalau begitu, aku akan mulai." aku mulai ritual pelepasan segel budaknya.


"Dengan menyebut nama dewa, aku memerintahkan kalian untuk bebas dari segel perbudakan, dan mulai saat ini, kalian bukan budak lagi." untuk beberapa saat tak ada yang terjadi. "Ada apa ini? Apa tidak berhasil?"


"Percuma saja kau lakukan hal itu." suara dewa Sha tiba-tiba muncul di kepalaku. Dan setelah beberapa waktu dewa Sha kembali menghubungiku dan waktunyapun sangat tepat.


"Tapi, kenapa dewa Sha?"


"Kontrak succubus adalah kontrak abadi."


"Kontrak abadi? Jadi maksudnya.."


"Ya, kontrak itu akan terus ada dan tak'kan bisa dihapus oleh cara apapun, karena itu adalah kontrak abadi."


"Apa maksudmu, kontrak ini akan terus ada sampai aku mati nanti."


"Tidak, kontrak ini akan terus ada bahkan ketika kau mati nanti. Tapi, kontrak ini akan dihapus setelah ras sucubus ini mati."


"Apa ini semacam hukuman untuk sucubus ini." pikirku. Dengan kata-kata dewa Sha, aku tau bahwa ini adalah hukuman. "Apa tak ada cara untuk melepaskan kontak abadi ini selain cara itu?" Aku menanyakan hal itu karena siapa tau ada cara lain yang bisa aku gunakan untuk melepaskan segel perbudakan ini.


"Aku sudah bilang, tak ada caranya, kontak ini akan terus ada sampai sucubus itu mati."


Sepertinya memang tak ada cara lain yang bisa aku gunakan untuk melepas segel perbudakan ini, dan cara satu-satunya adalah kematian untuk sucubus ini, dan aku tak mungkin membunuh succubus ini. Mau tak mau aku harus menerima sucubus ini sebagai budak milikku.


"Tapi, bagaimana caranya aku memperlakukan seorang budak?" pikirku. Mengingat ia adalah budak tetap pertama yang aku miliki, jadi aku tak tau harus memperlakukannya bagaimana.


"*Itu mudah, kau cukup memberi sucubus itu kebebasan dalam melakukan hal apapun."


"Tapi, bukannya itu sama dengan ia terbebas dari segel perbudakan."


"Tenang saja, kau masih bisa memberinya perintah, karena sucubus itu terikat dengan kontrak abadi. Oh ya, jika kau menyerahkan sucubus itu kepada orang lain, maka kau tak akan memiliki hak apapun terhadapnya*."


Sebenarnya bukan itu jawaban yang aku harapkan, tapi sepertinya itu sedikit memberiku informasi yang cukup penting. "*Baiklah, terima kasih atas infonya dewa Sha."


"Sama-sama. Oh ya, aku yakin dia akan berguna untukmu, jadi jangan sekali-kali kau beniat untuk membuangnya*." menutup telepatinya.


"Jika itu yang dikatakan dewa Sha, pasti itu benar. Lagipula, aku memang tak berencana untui membuangnya. Karena mungkin jika aku melakukan hal itu, succubus ini pasti akan di siksa lagi, dan aku tak mungkin membiarkan hal itu terjadi." pikirku.


"Hmmm, kalau begitu. Pertama-tama, aku ingin tau siapa namamu?" aku ingin tau siapa nama sucubus ini, karena aku merasa tak enak kalau memangilnya dengan sebutan kamu atau yang lainnya.


"N-namaku, Lia."


"Hmmm. Lia, ya. Baiklah, Lia, dengarkan baik-baik."


"Y-ya."


"Mulai saat ini, aku memberimu kebebasan untuk melakukan apapun."


"Benarkah, tuan."


"Iya, dan jangan panggil aku dengan sebutan tuan."


"Baik, tuan."


"Hadeh, jangan panggil aku dengan sebutan tuan, apa kau paham."


"Jadi, aku harus memanggil tuan dengan sebutan apa?"


"Panggil aku Hiroakj saja."


"Baiklah, Hiroaki-sama."


"Bagus. *-*-*-tunggu dulu, kau barusan bilang apa?!!" ia menyebutku dengan sebutan 'sama' dibagian belakang dan mungkin aku hanya salah dengar saja, jadi aku bertanya untuk memastikannya kembali.


"Hiroaki-sama."


"Darimana kau tau kata 'sama' itu? (penasaran)" mengingat ini adalah dunia lain, dan tak ada yang menggunakan logat jepang di dunia ini. Sudah jelas membuatku penasaran.


"Barusan, seperti ada orang yang membisik'kan itu padaku, Hiroaki-sama."


"Membisik'kan padamu?"


"I-iya, suaranya seperti seorang laki-laki."


"Laki-laki, ya." saat Lia mengatakan laki-laki, entah kenapa hanya 1 orang yang aku duga bisa melakukan hal itu, yaitu dewa Sha.


"Ada apa, Hikari-sama?"


"Ah, tidak ada apa-apa." aku rasa, tidak apa-apa kalau Lia memanggilku dengan sebutan 'sama', lagipula aku belum pernah sekalipun dipanggil seperti itu, dan kalau boleh jujur, aku juga ingin tau rasanya di panggil dengan sebutan 'sama' oleh seseorang.


"Sebaiknya, kita segera keluar dari sini."


"B-baiklah, Hiroaki-sama."


Entah kenapa saat ini, Lia terlihat lebih berani berbicara dibanding dengan yang tadi. Tapi, menurutku itu cukup bagus, meskipun ia masih takut untuk menatap mataku secara langsung.


Aku dan Lia pergi keluar dari kamar ini.


Kreekk.


"Hi-chan, apa kau sudah-" Rin berhenti melanjutkan kata-katanya setelah melihat aku keluar besama dengan seorang gadis.


"Tunggu, biar aku jelaskan." agar tak ada salah paham, akupun menjelaskannya.


-------- Beberapa menit menjelaskan --------


Mereka semua paham atas apa yang sudah terjadi pada Lia. "Kalau begitu, aku akan menyembuhkan lukamu dulu." (Rin)


"Terima kasih." Lia terlihat malu-malu saat menghadapi orang lain. Rin mulai menyembuhkan Lia dengan sihir penyembuhan yang aku tak tau kapan ia pelajari.


"Hiroaki, apa kau sudah tau tentang ras succubus yang suka menggoda para laki-laki."


Saat Emilia berkata seperti itu, Lia menundukkan kepalanya. "Sepertinya memang benar, apa yang aku lihat di anime-anime tentang sucubus, kalau sucubus itu adalah mahluk yang suka menggoda laki-laki itu benar adanya, dan itu juga berlaku di dunia ini." pikirku.


"Woy woy, jangan sembarangan menyimpulkan." (telepati dewa Sha)


"*Apa maksudmu dewa Sha?"


"Di dunia ini, ras succubus adalah ras yang paling suci, aku membuatnya demikian."


"Tapi, yang Emilia katakan barusan itu-"


"Itu adalah sucubus yang sudah kehilangan pasangannya, sucubus yang sudah tidak punya pasangan, paling tidak akan menggoda setidaknya 2 laki-laki dalam setiap tahunnya untuk bisa bertahan hidup. Itulah aturan yang sudah aku tetapkan untuk sucubus wanita yang sudah kehilangan pasangannya."


"Tapi, kenapa mereka tidak mencari pasangan baru saja."


"Memang mudah kau bicara seperti itu, tapi ras sucubus ini merupakan ras yang hanya memiliki 1 pasangan untuk seumur hidupnya, dan sangat jarang melihat sucubus yang bisa mencari penganti pasangannya yang sudah tiada."


"Begitu, tapi kenapa?"


"Hmmm. Baiklah, coba sekarang kau bayangkan. Jika kau sudah sangat-sangat menyukai Rin dan kau berhasil menjadi pasangannya. Lalu karena sebuah kejadian, Rin tiba-tiba saja meninggal, dan kau tiba-tiba langsung di berikan pengganti Rin. Apa kau akan menerimanya*?"


Sudah jelas. "*Tentu saja, tidak.."


"Nah seperti itulah sucubus yang aku buat di dunia ini."


"Hmmm, seperti itu, ya*."


Ada 1 hal yang aku lupa tanyakan pada dewa Sha tadi dan mungkin ini adalah saatnya aku menanyakan hal itu. "*Dewa Sha, umur succubus itu paling lama berapa tahun?"


"Hmmm. Sejauh ini, hanya 800 sampai 2000 tahun saja sampai akhirnya mereka mati."

__ADS_1


"2000 tahun, (terkejut) serius*?" Dunia ini baru dibuat sekitar 1500 tahun lalu, tapi umurnya melebihi dunia itu sendiri. Ini sedikit membuatku bingung.


"Iya serius. Kalau begitu, sudah dulu." (menutup telepatinya)


Dari percakapan dewa Sha barusan, aku mendapatkan informasi penting lainnya, fakta kalau ras sucubus itu adalah ras yang suka menggoda laki-laki tidak sepenuhnya benar, dan ras sucubus termasuk ras yang berumur panjang.


"Nah, penyembuhannya sudah selesai." (Rin) Rin sudah selesai menyembuhkan Lia, dan Lia sudah telihat lebih baik sekarang tanpa adanya luka di tubuhnya.


"Papa, dia siapa? (menunjuk ke arah Lia)"


"Ah, eh.." aku tak tau harus menjawab apa pada Inori.


"M-maaf sebelumnya, namaku adalah Lia."


"Mama Lia..?"


"Eh..?!" Inori tiba-tiba saja memanggil Lia dengan sebutan mama.


"Ada apa Hiroaki-sama?"


"Ohh.. Hiroaki-sama, ya." (Rin) Wajah Rin terlihat begitu menakutkan.


"Hiroaki-sama?" (Emilia) Emilia tak paham kata 'sama' yang di ucapkan oleh Lia padaku, sedangkan Rin melihatku dengan tatapan menakutkan.


"Bisa kau jelaskan, Hi-ro-a-ki-sa-ma..." (Rin)


Ia melihatku dengan tatapan seperti itu dan yang jelas itu membuatku merinding. "Baik-baik, akan aku jelaskan. (ketakutan)" akupun mulai menjelaskannya pada Rin, kalau Lia mungkin akan berguna untukku lagi pula itu yang dewa Sha katakan padaku.


--------- Setelah menjelsakan -----------


Rinpun mulai paham dan mengerti apa yang dilakukan oleh dewa Sha. "Baiklah, kalau begitu, aku akan menerimanya. Tapi ingat, jangan macam-macam padanya, ingat itu Hi-chan."


"Baik." aku terpaksa harus mengikuti apa yang ia katakan, karena jika tidak, mungkin akan terjadi sesuatu yang buruk padaku, yang tak pernah aku bayangkan sebelumnya.


"Oh ya, Emilia."


"Ada apa Hikari?"


"Ini, (memberi gulungan kertas yang diberikan kepala desa padaku kepada Emilia) kepala desa bilang, ini bukti kalau quest sudah selesai di kerjakan."


"Oh, begitu. Kalau begitu, sebaiknya kita kembali sekarang."


"Ayo, lagipula tugas kita disini sudah selesai." kamipun memutuskan untuk kembali ke kerajaan Chamos, karena quest ini sudah selesai dan tak ada yang harus kami lakukan lagi di desa ini.


Kamipun pergi meninggalkan desa ini dan kembali ke kerajaan Chamos.


--------- Beberapa jam berjalan ---------


Sore hari, jam - -.- -


Kami sampai di depan pintu gerbang kerajaan Chamos. Dan seperti biasa, gerbang di jaga oleh beberapa penjaga.


Kamipun masuk ke dalam kerajaan. "Maaf, apa aku boleh tau siapa dia?" (penjaga 1) penjaga itu melihat ke arah Lia. Itu wajar saja, karena sebelumnya aku hanya bersama Rin, Emilia, dan Inori, sedangkan saat ini, aku membawa tambahan 1 orang.


"Aku, b-budak milik Hiroaki-sama."


"Seorang budak, ya. Baiklah, kau boleh masuk."


"Terima kasih." (Lia)


"Semoga hari kalian menyenangkan." (penjaga 2)


Kamipun berjalan menuju ke guild untuk melaporkan quest yang sudah selesai kami kerjakan.


---------- Beberapa menit berjalan ------------


Kami sampai di depan pintu guild, dan kami masuk.


"Hey, apa itu ras sucubus? (bisik-bisik)" (???)


"Sepertinya iya. (bisik-bisik)" (???)


"Apa yang dilakukan ras hina seperti itu disini. (bisik-bisik)" (???)


"Woy woy woy, ayolah, aku bisa dengar kalian bisik-bisik dengan jelas." pikirku. Mereka semua melihat ke arah Lia, dan terus berbisik-bisik membicarakan Lia, mungkin karena Lia merupakan ras sucubus. Dan succubus dianggap sebagai ras yang hina di kerajaan ini, padahal sebenarnya tidak. Mungkin mereka saja yang tak tau tentang kebenaran ras sucubus, dan mungkin selama ini, mereka mengira kalau ras sucubus adalah ras penggoda.


Lia hanya bisa menundukkan kepalanya, dan aku tak bisa berbuat apa-apa, meskipun aku berkata tentang fakta ras sucubus, mereka belum tentu mempercayai kata-kataku.


Dengan reflek aku langsung mengelus kepala Lia dan berusaha menenangkannya. "Kau tenang saja, yang mereka semua katakan padamu semuanya itu tidak benar. Jadi, kau tak perlu merasa malu karena menjadi succubus, seharusnya kau bangga, karena ras sucubus adalah ras yang diberkati oleh dewa."


"Apa itu benar, Hiroaki-sama?"


"Iya benar. Jadi Lia, kau tak boleh menundukkan kepalamu lagi."


"Baiklah, Hiroaki-sama. (tersenyum)" setelah mendengar apa yang aku katakan padanya, Lia mulai bersikap seperti biasa. Meskipun begitu, Lia masih tak berani untuk menatapku. "Apa ada yang salah dengan wajahku?" pikirku.


"Rin, Emilia, Inori, aku dan Lia akan menunggu kalian di luar guild. Kalian saja yang ambil imbalan questnya."


"Baiklah kalau begitu." (Rin) sepertinya Rin juga menyadari kalau Lia menjadi perhatian semua orang yang ada di dalam guild.


Aku dan Lia keluar dan menunggu Rin dan yang lainnya di luar guild.


-------- Beberapa menit kemudian --------


Rin dan yang lainnya sudah selesai mengambil imbalan quest. "Hiroaki, ini imbalan quest kali ini."


Aku tak tau kenapa Emilia memberiku koin questnya, lagipula aku juga punya kartu biru. "Kau pegang saja koin itu, lagipula nanti pasti koin itu akan digunakan untuk membeli keperluan lainnya, dan untuk saat ini sepertinya aku tak terlalu membutuhkan apa-apa."


"Begitukah? Ya sudah.


Grrrr.


Perut Inori berbunyi. "Ma, aku lapar.."


"Kalau begitu, ayo kita kembali ke penginapan sekarang." (Rin)


"Baiklah." (Inori)


Kami pergi meninggalkan guild dan kembali ke penginapan, lagipula Inori juga sudah lapar.


-------- Beberapa menit berjalan --------


Kami sampai di penginapan. "Selamat datang, tuan, nyonya. Makan malamnya sudah siap, anda bisa datang ke ruang makan.." (pelayan)


"Oh begitukah?"


"Sepeti yang aku duga, pelayan di penginapan ini sangat cekatan, bahkan mereka sudah menyiapkan makan malam." pikirku.


"Kalian duluan saja, aku ingin ke kamar untuk menaruh pedangku. Kalian pergi duluan saja, nanti aku akan menyusul."


"Baiklah kalau begitu.."


"Mama, ayo.."


"Ayo.."


Rin dan Inori pergi duluan. "Bagaimana denganmu Emilia? Apa kau tak ikut dengan mereka?" Emilia masih berdiri dan sepertinya ia ingin ikut denganku.


"Aku ik-..."


Grrr. Perut Emilia berbunyi.

__ADS_1


"Sudah, kau duluan saja, aku akan menyusul nanti."


"T-tapi-..."


"Sudah, aku akan baik-baik saja kok, lagipula aku cuma sebentar." Kelihatannya Emilia khawatir tentang sesuatu, tapi aku tak tau apa itu.


"Baiklah, tapi, aku juga akan membawa Lia bersama denganku, boleh?"


"Hmmm, kalau begitu, bawa saja Lia bersamamu." Sepertinya itu tidak buruk juga. Lagipula meskipun Lia tak berkata apa-apa, aku tau kalau dia juga lapar, tapi dia tak berani untuk bilang karena dia adalah seorang budak, dan seorang budak tidak seharusnya meminta pada tuannya. Itulah yang bisa aku simpulkan.


"Tapi, Hiroaki-sama..."


"Sudah, kau ikut saja, lagipula aku tau kalau kau sebenarnya lapar."


Lia menundukkan kepalanya. "Eeh? (bingung) Apa yang aku katakan barusan itu salah?" pikirku.


"B-baiklah, Hiroaki-sama."


"Kalau begitu, kami pergi dulu." Emilia dan Lia pergi, sedangkan aku kembali ke kamar untuk menaruh semua pedangku.


Sore menjelang malam (petang), jam - -.- -


[Di kamar penginapan.]


Saat ini, aku sedang berada di dalam kamar, dan aku juga sudah menaruh semua pedang milikku di tempat biasa. "Sebaiknya aku segera mendatangi mereka di ruang makan, lagipula saat ini aku sudah lapar." akupun keluar dari kamar.


Kreeeekkk.


"Hiroaki-sama."


"Uwaaaa!!!" Tiba-tiba Lia ada di depan pintu kamarku.


"A-apa aku mengagetkanmu, a-aku minta maaf Hiroaki-sama."


"Ahh, tidak apa-apa."


"A-apa Hiroaki-sama, akan menghukumku?"


"Tenang saja, aku tak akan menghukummu karena masalah kecil seperti ini."


"Benarkah?"


"Iya. Daripada membahas itu, sebaiknya kita segera pergi ke ruang makan sekarang."


"Baik."


Aku dan Lia pergi ke ruang makan.


--------- Beberapa saat kemudian ----------


Aku dan Lia sampai di ruang makan. Rin dan yang lainnya sudah makan duluan.


"Papa, ayo cepat."


"Inori, jangan bicara kalau sedang makan." (Rin)


"Baik, ma." Inori melanjutkan makannya.


"Hikari, Lia, ayo cepat makan."


"Baik baik." akupun duduk di kursi yang kosong, sedangkan Lia masih berdiri di sampingku. "Lia, ada apa denganmu? Ayo kita makan bersama disini." aku tau kalau Lia lapar, tapi aku rasa Lia tak berani untuk bilang hal itu, Mengingat ia adalah budak.


"A-apa boleh, Hiroaki-sama."


"Tentu saja, mulai saat ini, kita adalah keluarga." (Emilia)


"Iya, itu benar." (Rin)


"Mama Lia. (tersenyum)"


"Yang mereka katakan itu benar, kita ini adalah keluarga, dan tak ada alasan untukmu merasa malu."


"(air mata menetes) Hiroaki-sama, semuanya, terima kasih. (tersenyum)" Lia duduk di salah satu kursi yang kosong yang ada di sampingku.


Aku cukup tau apa yang dirasakan Lia saat ini, lagipula aku juga tau rasanya hidup seorang diri, dan aku cukup bahagia ini karena memiliki keluarga di dunia ini.


----------- beberapa menit kemudian -----------


Aku sudah selesai makan, dan yang lainnya kelihatan masih belum selesai. Aku berdiri dan berniat meninggalkan ruangan ini untuk kembali ke kamar. "Aku sudah selesai, aku akan kembali ke kamarku dan istirahat." lagipula, aku tak mungkin menunggu mereka selesai makan.


"Hiroaki-sama, aku..."


"Kau makan saja dulu, lagipula kau belum selesai makan, kan.."


"Tapi..."


"Sudahlah, sebaiknya kau makan dulu, dan jangan hiraukan aku."


"B-baiklah, Hiroaki-sama." Lia pun kembali melanjutkan makan.


"Kalau begitu, aku pergi dulu." akupun pergi meninggalkan ruang makan dan bergegas kembali ke kamarku.


---------- Beberapa menit kemudian ----------


Malam hari, jam - -.- -


Saat ini, aku sedang berada di kamarku, dan aku sedang berbaring di kasur yang empuk.


"(menghitung jari) Mandi, jangan, mandi, jangan, mandi... Ahh, besok aja deh. Aku tidur dulu." Entah kenapa hari ini aku malas untuk mandi dan memutuskan untuk segera tidur.


-------- {Dream} --------


"Dimana aku? (bingung)" sebuah tempat yang aku tak tau dimana.


Aku melihat seorang gadis yang tak asing bagiku. "Rin, apa itu kau?"


Gadis itu berbalik dan benar, ia adalah Rin. "Rin, apa yang kau lakukan disini?"


"Hiroaki." suara yang tak asing bagiku terdengar di belakangku.


"Emilia, apa itu kau?" aku melihat kebelakang dan itu memang benar Emilia.


"Papa.." aku juga mendengar suara Inori.


"Hiroaki-sama." dan aku juga mendengar suara Lia.


Saat ini aku sedang di kelilingi oleh 4 gadis dan saat aku melihat sekeliling, aku juga melihat 2 gadis yang tak aku kenal juga ikut mengelilingku. Ya, meskipun mereka semua adalah wanita yang cantik tapi. "Woy woy woy, yang benar saja, hati kecilku masih belum siap untuk hal seperti ini."


"Hiroaki."


"Hi-chan."


"Papa."


"Hiroaki-sama."


"Hiro."


"Aki."


Mereka semua semakin mendekat ke arahku dan mengepungku. Dan saat aku berusaha untuk kabur dari situasi ini, tiba-tiba tubuhku tidak bisa di gerakkan. "Tu-buhku ti-dak bisa digerakkan. Ada apa ini? (panik)" mereka semua semakin dekat, semakin dekat....

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2