
"Namaku Felicia, aku adalah Sang Ksatria Petarung"
"Apa? (sedikit terkejut) Ksatria Petarung. Jangan bercanda kau gadis kecil (nada tinggi), jangan kira hanya dengan memakai sebuah zirah lengkap, kau sudah menganggap dirimu 'Ksatria Petarung' yang legendaris itu. Lagipula kau hanya seorang wanita, kau takkan bisa melawan lima ribu pasukanku yang ada disini. Dan aku juga tak melihat pasanganmu. Apa kau termasuk pasangan yang di tinggalkan? (nada mengejek)" (Magnus)
Memang benar apa yang dikatakan Magnus, Felicia hanya seorang wanita, dan juga aku tak melihat pasangan Felicia saat ini maupun saat aku dan dia bertemu pertamakali di dalam kerajaan Slavic.
"Aku tak peduli aku mau percaya kata-kataku atau tidak dan yang pasti, jangan pernah sekali-kali kau meremehkanku. Memang benar, aku datang kesini sendiri dan menurutku, itu sudah cukup untuk mengalahkan kalian semua yang ada disini, lagipula kalian semua itu, tak pantas melawan pasanganku. Dan ingat, jangan pernah kau dekati mereka berdua atau kau akan menerima akibatnya. (nada mengancam)"
Meskipun dia seorang gadis, tapi nada bicaranya tak telihat seperti seorang gadis, dan malah lebih mirip seorang petarung.
"Hahahaha, jangan bercanda, aku tak takut dengan ancamanmu. Prajurit, SERANG!!!!"
Setelah mendengar kata-kata pangeran Magnus, semua prajurit yang ada di hadapanku maju dan berniat menyerangku.
"Namamu Hiroaki, kan. (melihat ke arahku)" (Felicia)
"I-iya."
"Kenapa dia bisa tau namaku?" aku cukup bingung karena ia sudah tau namaku, dan saat aku mengingatnya, aku belum memberitau namaku saat pertemuanku dengannya pertamakali. Dan hal itu membuatku cukup heran.
"Jika kau tak ikut bertarung, sebaiknya kau segera pergi dari sini, mungkin kau hanya akan menjadi pengganggu untukku."
"A-aku akan ikut bertarung juga." Aku berkata demikian, karena tak ingin melihat seorang gadis yang melawan semua prajurit itu sendirian.
"Hmm, baiklah, sekarang siapkan pedangmu."
"Baik." lagi pula, mulai tadi aku sudah memengang kedua pedangku.
"Perhatikan ini baik-baik."
"Baik."
Felicia meletakkan tangan kanannya ke tanah. "Sebuah pedang legendaris buatan dewa, segeralah kabulkan permintaanku, muncullah dihadapanku!!" Felicia kelihatan sedang merapalkan sesuatu.
Dan saat rapalan itu selasai ia ucapkan. Tiba-tiba saja, terjadi sebuah guncangan (gempa) yang cukup besar, dan tanah yang di sentuh oleh Felicia seketika terbelah, kemudian muncul sebuah pedang emas dari dalam tanah yang terbelah itu. Dan akibat guncangan itu, para prajurit yang mendekatiku seketika berhenti bergerak. "A-apa yang terjadi?!! Cahaya apa itu? Sangat silau." (Magnus)
Pedang emas itu menghasilkan cahaya yang menyilaukan mata, dan setelah beberapa saat cahaya itu menghilang. "Sihir apa yang kau gunakan barusan?" (Magnus)
"Sihir? Itu bukan sihir, ini hanya sebuah pemanggilan."
"Pedang apa itu?"
"Pedang ini, (melihat ke arah pedangnya) ini adalah pedang buatan dewa, nama pedang ini adalah Pedang darah. Pedang yang dibuat khusus oleh dewa untukku."
Kemudian, Felicia mengacungkan pedangnya ke arah pangeran Magnus. "Bersiaplah, aku akan mengalahkan kalian dengan pedang ini."
"Dibuat khusus oleh dewa untukknya, apa maksudnya itu, apa dewa Sha seorang dewa yang suka memberikan sesuatu pada seseorang?" pikirku
"Jangan sombong dulu kau gadis kecil. Prajurit SERANGGG!!!" aba-aba dari pangeran Magnus diberikan, dan para prajurit yang tadinya diam tiba-tiba saja bergerak maju menghampiriku dan juga Felicia.
"Bagaimana ini, mereka akan menyerang secara bersamaan." pikirku. Meskipun yang dikatakan Felicia itu benar, kalau dia adalah Kstria Petarung yang legendaris, tapi, melawan lima ribu pasukan sekaligus pasti akan sangat menyusahkan.
"Ayo!!" (Felicia)
"Y-ya"
Aku berlari menuju ke arah para prjurit itu, dan pertempuranku dan Felicia melawan lima ribu prajurit kerajaan Slavic pun terjadi.
----------- Area pertempuran: Area selatan banua manusia, di luar kerajaan Slavic --------
Pagi hari, jam - -.- -
Cting tang. (adu pedang)
"Hikari, kau tak apa-apa?" (Felicia)
"A-aku baik-baik saja."
Hampir 20 menit berlalu dan sudah sekitar 500 prajurit yang sudah tumbang. "Prajurit!!! Habisi mereka berdua!!!!" (Magnus)
Para prajurit kerajaan Slavic mulai menyerang kami kambali. "Ha,ha,ha. (terengah-engah) B-bagaimana ini, aku sudah tak kuat." Ini adalah pertempuran panjang pertamaku, 20 menit sudah aku terus mengayunkan pedangku tanpa sekalipun berhenti dan itu cukup menguras banyak sekali tenagaku.
Sementara itu, Felicia masih berdiri tegak dan tak menunjukkan ekspresi kelelahan sedikitpun. "Ada apa dengan gadis ini, apa dia masih sanggup untuk bertarung?" pikirku.
Melihat kalau Felicia adalah seorang gadis, aku pikir kalau ia memiliki stamina yang cukup besar.
"Ahhh, aku sudah tidak sanggup lagi."
"Kalau begitu, kau istirahat saja sebentar, aku akan menahan mereka selama beberapa menit."
Felicia berniat memberiku waktu untuk beristirahat sebentar.
Grwaaaa. (raungan)
Sebuah raugan terdengar dari langit. "Suara apa itu? (bingung)" (Magnus)
Semua orang yang ada di tempat ini mendengar dengan jelas raungan itu. "Ha, sepertinya pengganggu sudah datang." (Felicia)
"Pengganggu? (bingung)" Aku kebingungan dengan kata yang di ucapkan oleh Felicia.
"Hoiiiii, FELICIAAAA!!!!!" (???)
Sebuah teriakan terdengan dari langit, dan aku memutuskan untuk melihat ke arah sumber teriakan itu. "A-A-Apa itu?!!!!(terkejut)"
Saat aku melihat ke atas, aku melihat sebuah naga yang cukup besar. "Naga?!! (terkejut) Bagaimana bisa ras naga bisa ada di benua ini?" (Magnus)
Mungkin, ras naga adalah salah satu ras yang pernah di katakan oleh dewa Sha padaku waktu itu. Dan lagi pula Magnus memanggilnya dengan sebutan ras naga.
Tiba-tiba seseorang melompat dari naga itu dan terjun tepat di depanku. Ia adalah seorang laki-laki yang mungkin berusia sekitar 25 tahun yang memiliki rambut berwarna biru persis seperti warna rambut milik Felicia. "Yo Felicia, aku datang untuk membantumu (tersenyum)."
"Hmp. (memalingkan wajah dangan ekspresi sedikit marah) Aku tidak butuh bantuanmu, aku sendiri saja cukup untuk menyelesaikan ini."
"Oy oy, ayolah. Apa kau masih marah tentang kejadian kemarin, aku'kan sudah minta maaf."
"Hmp. (masih memalingkan wajah) Jangan bahas hal itu lagi."
Aku tak tau apa yang mereka bicarakan di tengah pertempuran seperti ini. Tapi, setelah kedatangan laki-laki ini, para prajurit seakan tak berani untuk mendekat. "Ano. Felicia, Dia siapa?" Aku bertanya karena aku sudah mulai penasaran, apa hubungan laki-laki ini dengan Felicia.
"Dia adalah pasanganku yang tak berguna. (kesal)"
"Oy oy, ayolah, jangan membiarkan nama pasanganmu ini jelek di depan orang."
"Hmp. (masih memalingkan wajah)"
Kemudian laki-laki itu melihat ke arahku. "Namaku adalah Shin, kau bisa memanggilku Shin atau terserah."
"Shin? Apa kau..."
"Ya betul, aku adalah orang jepang sama sepertimu."
"Tapi, bagaimana dia ingat kalau dia dari jepang, bukannya semua orang yang dipanggil kedunia ini, ingatan tentang dunia sebelumnya akan di hapus, kenapa dia bisa tau kalau ia berasal dari jepang, dan yang lebih penting, kenapa ia tau kalau aku juga berasal dari jepang?!!" pikirku.
"Kau pasti bingung, kanapa aku bisa tau kalau kau berasal dari jepang."
"Iya, kenapa kau bisa tau." mengingat kalau ini adalah pertemuan pertamaku dengannya, aku cukup penasaran bagaimana ia tau tentang hal itu.
"Ha. (memengang kapala dengan tangankanannya) Sebenarnya, aku di beri tau oleh dewa tentang hal itu."
"Pantas saja." pikirku
"Dan kau pasti juga bertanya-tanya, kenapa aku bisa tau kalau aku ini berasal dari jepang."
"Hebat, bagaimana ia tau apa yang aku pikirkan, apa ia memiliki kemampuan membaca pikiran." pikirku
"Sebenarnya, aku juga sudah bertemu dewa, dan dewa juga memberiku beberapa permintaan sama sepertimu."
"Jadi, bisa disimpulkan, kalau ada orang yang pernah bertemu dewa maka orang itu akan di izinkan meminta apa yang mereka inginkan, begitukah." pikirku
"Jadi, kau meminta ingatanmu tentang dunia sebelumnya di kembalikan."
"Ya, begitulah. Aku meminta ingatanku dan Felicia di kembalikan, sedangkan Felicia meminta sebuah sejata yang di buat langsung oleh dewa."
"Jadi, begitu." Akhirnya aku tau, kalau pedang itu hanyalah pedang yang di buatkan oleh dewa untuk Felicia karena keinginananya.
"Felicia, aku disuruh oleh dewa untuk membawa mereka berdua ketempatnya. Bisa kau urus mereka." (Shin)
"Tidak, kau saja yang urus, biar aku saja yang mengantarkan mereka pada dewa."
"Ha, ya sudah. (pasrah) Alfa."
Shin menyebutkan nama Alfa dan seketika naga yang masih terbang di atas perlahan mendarat ke tanah. "Nah, ini adalah Alfa, dia adalah salah-satu hewan peliharaan milik dewa."
"Apa?!! (terkejut) Peliharaan."
"Apa ini juga salah satu hobi dewa yang ada di dunia ini?" pikirku
"Felicia, kau bisa antar mereka berdua ke tempat dewa dengan Alfa, aku akan mengurus ini sebentar, nanti kalau sudah selesai, aku akan menyusulmu."
"Baiklah."
Felicia menaiki naga itu. "Hikari, cepat kau naik dan jangan lupa, panggil juga Rin untuk naik."
"B-baiklah."
__ADS_1
Akupun menuruti kata-katanya, dan mendatangi Rin yang berada cukup jauh di belakangku. "Rin, ayo kita bergegas."
"Bergegas?"
"Ayo."
Aku memengan tangan kanan Rin dan kemudian bergegas menuju ka arah naga yang sedang di naiki oleh Felicia.
"Hi-chan, ini. (takut)"
"Sudah, tidak apa-apa."
Aku kemudian naik ke punggung naga itu, meskipun begitu, aku cukup kesulitan saat ingin menaiki naga Alfa dan saat aku berada di punggung naga Alfa, entah kenapa aku merasa ketakutan. "Hi-chan." Rin masih berada di bawah dan ia kelihatan sangat takut.
"Alfa." (Shin)
Kemudian Alfa menurunkan sayapnya agar mempermudah Rin untuk naik ke punggunya.
"Kenapa kalian diam saja, pasukan. SERANGGGG!!!!" (Magnus)
Pangeran Magnus memaksa para pasukan untuk tetap menyerang. "Ha, sepertinya sudah tidak ada waktu lagi." (Shin)
Shin melihat ke arah Rin dan tersenyum. "Nona cantik. (nada lembut) Bisa kau segera naik, mereka akan segera menyerang kita kalau kau tidak segera naik."
Melihat Shin berbicara pada Rin dengan suara yang cukup lembut, membuat Felicia cukup kesal.
"T-tapi."
"Tenang saja, saat kau sudah ada di atas, kau akan terbiasa."
"Un, baiklah."
Setelah mendengar hal itu dari Shin, Rin kemudian memberanikan diri untuk naik ke punggung naga untuk pertama kalinya.
Setelah beberapa saat, Rin sudah berada di atas naga.
"Baiklah, Alfa berangkat." (Shin)
Grooaaarrr. (meraung)
Setelah itu, naga Alfa secara perlahan terbang, dan pasukan kerajaan Slavic tak bisa berbuat banyak. "Pasukan pemanah, serang naga itu, jangan biarkan mereka kabur!!" (Magnus)
Aku tak tau kalau pangeran Magnus juga memiliki pasukan pemanah. "SERANGGG!!!" (Magnus)
Ribuan panah dengan cepat tertuju pada naga Alfa. "Bagaimana ini. (panik)" Aku cukup khawatir. Karena, meskipun kulit naga di kenal sangat keras tapi, jika ribuan panah itu tertuju pada naga Alfa, ada kemungkinan bahwa dari ribuan panah yang dilepaskan oleh prajurit kerajaan Slavic, akan ada beberapa atau mungkin cukup panah yang akan mengarah tepat padaku, Rin dan juga Felicia, karena posisi kami yang sedang berada di punggung naga Alfa dan tidak terlindungi oleh apa-apa.
"Ha, (menghela nafas) Alfa." (Shin)
Groaarr.
Tiba-tiba, sebuah dinding pelindung yang cukup besar muncul di depan naga Alfa, dan menghadang semua panah yang tertuju pada naga Alfa.
"Lawan kalian adalah aku." (Shin)
"Beraninya kau. (marah) Pajurit serang dia!!!!" (Magnus)
Para prajurit maju dan mendekat ka arah Shin. "Sepertinya ini akan sedikit memakan waktu, (melihat ke arah kami yang sedang menaiki naga Alfa) Kalian duluan saja, aku mau bersenang senang sebentar dengan mereka."
"Terserah kau saja. (kesal)" (Felicia)
Setelah itu, naga Alfa perlahan meninggalkan tempat pertempuran.
"Nah sekarang adalah giliranku. 'Sebuah pedang legendaris buatan dewa, segeralah kabulkan permintaanku, muncullah di hadapanku!!'" (Shin)
Shin merapalkan kalimat seperti yang dirapalkan oleh Felicia sebelumnya, dan tiba-tiba saja sebuah tombak emas terjatuh dari langit dan tepat jatuh di hadapan Shin.
------ Di atas punggung naga Alfa -------
"Apa itu?!"
"Itu adalah senjata milik Shin, nama senjatanya adalah Tombak kematian." (Felicia)
"Tombak kematian, dari namanya saja sudah cukup menakutkan." pikirku
---------
Shin menancapkan tombaknya ke tanah. "Rasakan ini." (Shin) Beberapa saat kemudian.
Duaaarrr. (ledakan)
Seketika ledakan yang cukup besar terjadi. "A-apa yang terjadi? (bingung)"
Tiba-tiba saja Shin sudah berada di tempat aku dan yang lainnya berada.
"Ah. (memengang kepala dengan tangan kanannya sambil tersenyum) Maaf, aku tidak sengaja. Dan lagi pula, pangeran itu masih baik-baik saja. Jadi, tidak masalah'kan."
"Hmp.. (memalingkan wajah) Terserah."
"Hahahaha..."
Kami pun pergi dari area pertempuran dan tebang menuju ke arah timur.
-------- Setelah beberapa jam terbang ------
Siang hari, jam - -.- -
------- (Benua manusia: Area hutan bagian timur) ------
"Nah itu tempatnya. (menunjuk ke arah gua) Alfa." (Shin)
Grooaarr.
Naga Alfa turun secara perlahan dan mendarat tepat di depan gua yang di tunjuk oleh Shin. "Nah, sekarang kita masuk. Alfa, kau boleh pergi."
Setelah Shin mengatakan hal itu, naga Alfa terbang dan pergi menjauh. "Ayo kita masuk, dewa sudah menunggu kalian di dalam." (Shin)
"Baik." Aku dan Rin masuk ke gua itu besama dengan Felicia dan juga Shin.
-------- Setelah beberapa saat berjalan --------
"Yo, kalian sudah datang." (dewa Sha)
Dewa Sha menyambut kami, dan ia juga duduk di sebuah kursi dan juga ada sebuah meja dan 4 kursi kosong yang mungkin sudah di siapkan untuk kami.
"Sepertinya perjalanan kalian kesini menyenangkan (tersenyum)" (dewa Sha)
"Menyenangkan? Apa yang ia sebut menyenangkan itu adalah, melawan 5000 prajurit di pagi hari." pikirku.
"Dewa, aku sudah membawa mereka, bisa aku pergi sekarang?" (Shin)
"Ahh, kerja bagus. Kau boleh pergi, tapi, apa kau tak ingin duduk dulu?"
"Maaf dewa, aku ada urusan lain yang harus segera aku kerjakan."
"Oh begitu, baiklah. Hati-hati di jalan."
"Baik. (pergi)" Shin pergi menginggalkan kami.
"Bagaimana denganmu Felicia? Apa kau juga ada urusan?" (dewa Sha)
"Sepertinya tidak dewa."
"Coba pikirkan lagi."
Entah kenapa, aku merasa kalau dewa Sha berniat untuk mengusir Felicia tetapi dengan menggunakan cara yang halus.
"Ahh, aku baru ingat."
"Benar 'kan. Sebaiknya kau segera bergegas, agar kau tek kehilangan jejaknya lagi."
"Baik dewa. (pergi)"
Dan sepertinya perkiraanku benar, Felicia juga pergi, dan hanya tinggal aku dan Rin yang berada di sini bersama dewa Sha.
"jadi, kenapa kau memanggil kami lagi dewa Sha?"
"Sebenarnya aku punya tugas untuk kalian. Tapi sebelum itu, aku ingin menanyakan sesuatu pada kalian berdua."
"Menanyakan sesuatu? menanyakan apa?"
"Pertanyaannya cukup mudah. 'Apa yang akan kalian lakukan selanjutnya?'"
"Yang akan kami lakukan selanjutnya?" Aku cukup bingung dengan apa yang di tanyakan oleh dewa Sha pada kami.
"Sepertinya kalian masih belum mempunyai rencana, kalau begitu aku akan memberikan tugas ini pada kalian."
"Tugas? Tugas apa itu?"
"Mudah, 7 hari lagi, kerajaan Chamos yang ada di benua demi-human akan melakukan rituan pemanggilan.."
"Ritual pemanggilan, apa itu berarti."
"Yap, mereka akan memanggil manusia dari dunia lain."
__ADS_1
"Apa maksudmu, kami harus menghentikan pemanggilan itu."
"Benar sekali, sepertinya otakmu sudah lumayan encer."
Entah kenapa aku merasa cukup kesal mendengar hal itu. "Tapi, bagaimana aku mencegah ritual pemanggilan itu?"
"Caranya cukup mudah, saat melakukan ritual pemanggilan, para penyihir yang berkumpul akan sangat berkonsentrasi demi keberhasilan ritual pemanggilan itu. Jadi, kau tinggal memecah konsentrasi para penyihir yang sedang melakukan pemanggilan, agar konsentrasi mereka pecah dan tak bisa melakukan ritual pemanggilan lagi untuk waktu yang cukup lama."
"Waktu yang lama? Memangnya ada waktunya untuk melakukan sebuah ritual pemanggilan?"
"Sudah kuduga kau akan menanyakan hal itu. Ya, hal itu memang benar. Setiap kerajaan yang ada di dunia hanya bisa melakukan ritual pemanggilan 1 kali dalam 10 tahun. Oleh karena itu, jika kau menggagalkan rencana pemanggilan itu, tak akan ada orang dari dunia lain yang akan di panggil kesini untuk waktu yang cukup lama kalau kau berhasil mengagalkan rencana pemanggilan itu."
"Jadi, aku hanya perlu mengacaukan ritual pemanggialn itu saja kan."
"Benar, tapi, untuk mengacaukan hal itu sepertinya akan cukup sulit untuk dilakukan."
"Kenapa?"
"Mengingat kalau ritual pemanggilan itu adalah ritual yang cukup sakral bagi seluruh mahluk yang ada di dunia ini. Pasti mereka akan menggunakan seluruh cara agar ritual pemanggilan itu bisa berjalan dengan mulus."
"Jika memang benar begitu, pasti ini akan menjadi tugas yang cukup sulit." pikirku
"Dan karena kalian sudah mendengar tugas ini, mau tak mau kalian juga harus menerimanya."
"Ehh? Eeeeehhh!!!!"
Aku tak tau kalau aku harus menerima tugas ini setelah aku medengar isi tugasnya.
"Kenapa? Apa kau akan menolak tugas ini? Tidak apa-apa kalau kau mau menolak."
"Eh? ada apa dengan dewa ini, tadi ia sepertinya sangat memaksa untuk aku menerima tugas ini tapi sekarang ia malah seperti tidak peduli, aku mau menerima misi ini ataupun aku menolaknya." pikirku.
"Tapi, jika kau menolaknya, akan ada orang dari dunia lain yang hidup dengan damai kemudian ia akan di panggil ke dunia ini dan ingatan tentang dunia sebelumnya akan di hapus. Apa kalian tega melihat hal itu."
"Waahh, ternyata dugaanku benar, dewa ini sengaja memberi tauku tentang hal itu agar aku tak bisa menolak tugas ini, sungguh dewa yang licik." pikirku.
Setelah mendengar hal itu, mau tak mau aku harus menerimanya, karena aku tak ingin melihat pasangan yang hidup damai tiba-tiba di panggil ke dunia ini dan juga ingatan tentang dunia sebelumnya di hapus. "Baiklah, akan aku terima tugas ini."
"(tersenyum) Baiklah, kalian bisa berangkat sekarang."
"Hmm, dewa Sha."
"Ada apa lagi?"
"Bisa kau keluarkan gerbang dimensi itu lagi, agar kami bisa dengan cepat langsung berada di benua demi-human."
"Untuk saat ini aku tak bisa melakukannya."
"Kenapa?"
"Gerbang dimensi hanya bisa di pakai 15 hari sekali, jadi kau tak bisa menggunakannya sekarang."
"Oh begitu, baiklah." Ternyata gerbang dimensi yang dimiliki oleh dewa mempunyai kekurangan juga.
Dan ada sesuatu yang ingin aku tanyakan pada dewa Sha. "Oh ya dewa Sha, ada yang ingin aku tanyakan padamu."
"Apa itu?"
"Apa hari yang ada di dunia ini sama dengan hari yang ada di duniaku sebelumnya?"
"Kalau untuk jumlah hari, sepertinya sama seperti jumlah hari yang ada di duniamu (7 hari seminggu) dan juga untuk bulannya sepertinya terdiri dari 30 hari saja dalam setiap 12 bulan atau satu tahun. Dan juga, nama hari dan bulan yang ada di dunia ini berbeda dengan yang ada di duniamu, tapi simpelnya, hari dan bulan yang ada di dunia ini sama seperti yang ada di duniamu sebelumnya."
"Oh begitu. Oh ya, kalau boleh tau lagi, untuk tahunnya?"
"Oh... Tahun, ya.... Sepertinya di dunia ini masih belum aku buat. Tapi kau bisa anggap ini adalah tahun 1500-an, karena aku menciptakan dunia ini sekitar 1500 tahun yang lalu."
"Oh, dan untuk jam? Aku belum pernah melihat jam ada di dunia ini, apa ada jam di dunia ini?"
"Oh, untuk jam, karena dunia ini adalah dunia para petualang dan juga sihir, aku tak memberikan jam dan jika kau menginginkan sebuah jam, kau bisa membuatnya tapi dengan satu syarat."
"Syarat? Syarat apa itu, dan lagipula apa butuh sebuah syarat untuk membuat sebuah jam. (heran)"
"Untuk membuat jam sih kau tak butuh syarat, kau hanya butuh kemampuan, dan juga kau butuh sebuah kerajaan untuk bisa membuat jam itu befungsi."
"Apa memang serumit itu hanya untuk membuat sebuah jam bekerja?"
"Sebenarnya tidak juga, tapi jika kau ingin membuat sesuatu, alangkah baiknya kau membuat sebuah kerajaan terlebih dahulu, agar barang yang kau ciptakan bisa di jual dan di gunakan oleh orang yang ada di dunia ini."
"Oh jadi begitu maksudnya."
"Kau harus memiliki sebuah kerajaan agar kau bisa mempublikasikan barang ciptaanmu di dunia ini, dan jika kau belum memiliki sebuah kerajaan tapi kau sudah membuat sesuatu, itu akan menjadi barang yang di anggap tak berguna, karena barang itu belum pernah di pakai di kerajaan manapun, atau barang yang kau ciptakan itu akan di anggap sampah oleh orang-orang. Dan juga, kalau kau sudah memiliki sebuah kerajaan, kau bisa menjual barang ciptaanmu dengan harga yang sangat mahal, itulah keuntungan dari kau memiliki sebuah kerajaan."
"Sekarang aku paham, jika ingin membuat sesuatu aku harus memiliki sebuah kerajaan dan saat aku sudah memiliki sebuah kerajaan, aku bisa menjual barang yang aku buat dengan harga yang mahal. Menurutku, hal itu cukup bagus, mengingat ada banyak hal yang bisa aku buat di dunia ini, karena apa yang ada di duniaku sebelumnya tidak ada di dunia ini. Dan yang aku pikirkan adalah bagaimana cara membuat sebuah kerajaan di dunia ini?" pikirku
"Kau pasti berfikir bagaimana caranya membuat kerajaan di dunia ini 'kan."
"Bagaimana kau tau?"
"Tentu saja aku tau, aku 'kan dewa, tak ada yang tidak aku tau di dunia ini. Jadi, apa kau berencana ingin membuat sebuah kerajaan?"
"Apa bisa, aku membuat sebuah kerajaan?"
"Tentu saja, apa kau tau kenapa di setiap benua terutama di benua manusia banyak sekali kerajaan yang berdiri?"
"Aku tak tau?"
"Karena mudahnya syarat untuk membuat sebuah kerajaan."
"Memangnya, apa syarat untuk membuat kerajaan?"
"Kau harus mempunyai koin dengan jumlah 1 berlian, dan aku rasa kau sudah mempunyai 1 berlian atau mungkin lebih."
Memang benar apa yang dikatakan dewa, aku sudah mempunya 3 berlian yang aku dapatkan dari dewa.
"Dan juga kau membutuhkan penduduk untuk tinggal di kerajaanmu dan juga beberapa gedung pemerintahan lalu sebuah wilayah untuk tempat kerajaanmu berdiri. Itu saja syaratnya, cukup mudah 'kan."
"Sepertinya cukup mudah, tapi bagaimana aku mendapatkan penduduk dan juga bangunan untuk kerajaan yang akan aku bangun nantinya, dan untuk wilayahnya sepertinya itu akan cukup sulit untuk di dapatkan."
"Untuk itu, kau tenang saja, kau bisa dengan mudah meminta hal itu padaku, lagi pula aku adalah dewa di dunia ini, tak ada yang tak bisa aku lalukan di dunia ini."
"Oh begitu ya. Oh ya, sebenarnya aku penasaran, seberapa luas dunia yang kau ciptakan ini?"
"Oh, pertanyaanmu lumayan menarik. Tapi sebelum itu, apa kau sudah tau di mana letak 4 benua ras yang mendominasi di dunia ini?"
"Kalau itu, aku sudah tau."
"Kalau begitu, kau bisa menganggap luas dunia ini sekitar 8 kali lipat dari dunia yang kau tinggali sebelumnya dan setiap ras yang mendominasi di dunia ini akan mendapatkan sekitar 20% wilayah."
"A-a-apa?! (terkejut) 8 kali lipat.."
"Ya, atau bisa di bilang... 4.080.576.000 km luas dunia yang aku ciptakan ini."
"8 kali lipat dari luas planet bumi. Pantas saja, 1 benua bisa di isi oleh lebih dari 100 kerajaan, ya memang dunia ini sangat luas." pikirku
"Tunggu dulu, kau barusan bilang, 'masing-masing ras yang mendominasi akan mendapatkan 20% wilayah'. Jadi sisa 20% wilayah itu milik siapa?"
"Oh... 20% sisa wilayahnya itu, masih di bagi lagi untuk puluhan ras yang ada di dunia ini."
"Jadi, masih ada ras lain di dunia ini selain 4 ras yang sudah aku ketahui.."
"Yap betul, aku sebenarnya juga kurang tau berapa jumlah ras yang sudah aku ciptakan."
"Oh."
"Sudahi saja pembicaraan ini sampai di sini, aku ada sesuatu yang harus aku kerjakan."
"Baiklah."
"Oh ya. (menghampiri Rin yang berada di belakangku) Rin-chan, aku sudah mengabulkan keinginanmu, apa kau sudah bahagia?"
"Terima kasih dewa. (tersenyum)"
"Hahaha, tidak apa-apa, ini bukan hal yang besar, jika kau memiliki sesuatu yang kau inginkan, bilang saja."
Entah kenapa, aku melihat dewa seperti sedang melakukan sebuah modus pada Rin.
"Baiklah, sekarang aku akan pergi. Semoga perjalanan kalian ke benua demi-human menyenangkan. Oh ya, sebelum itu."
Click. (menjeltikkan jarinya)
Seketika pakaian pengantin yang dipakai oleh Rin berubah menjadi seragam sekolah yang selalu ia kenakan, dan aku sudah tak terjekut lagi setelah melihat hal itu. "Dengan ini, semuanya sudah beres. Oh ya, kalian butuh waktu 2 hari perjalanan untuk bisa sampai di benua demi-human. Cuma itu yang ingin aku samapikan, da. (melambaikan tangan)"
Setelah mengatakan hal itu, dewa Sha menghilang.
"Ha. (menghela nafas) 2 hari perjalanan, ya. Sepertinya ini akan menjadi perjalanan yang cukup panjang."
"Hi-chan, sebaiknya kita segera pergi."
"Baiklah."
Aku dan Rin keluar dari gua dan berjalan menuju ke arah timur atau langsung menuju ke benua demi-human.
"Sepertinya, petualanganku akan di mulai hari ini."
__ADS_1
Bersambung