Watashi No Hanayome

Watashi No Hanayome
42


__ADS_3

Siang hari, jam 12.40 


Saat ini aku sedang dalam perjalanan kembali ke kerajaanku bersama dengan dengan Shin. "Shin, kenapa kau menjemputku?"


"Entahlah, aku hanya mengikuti apa yang dikatakan oleh dewa."


"Begitu." Sebenarnya aku masih merasa bosan, tapi karena tadi aku melawan monster dan monster itu sampai membuatku kerepotan sedikit rasa bosanku sudah hilang. Dan kau harap kalau sisa rasa bosan ini akan menghilang seiring berjalannya waktu.


"Shin, kau tadi bilang tentang pesta. Pesta apa yang kau maksud?"


"Oh, itu tentang pesta penobatanmu sebagai raja."


"Penobatanku? Bukannya aku sudah menjadi raja, kenapa aku harus dinobatkan segala?"


"Sebenarnya kau belum menjadi raja sepenuhnya, dan jika penobatan ini dilakukan maka kau akan sepenuhnya menjadi raja di kerajaanmu Riel."


"Begitu, ya. Ya sudah." Lagipula aku pikir, itu akan sedikit membuat rasa bosanku menghilang. "Oh ya, kemana dewa Sha. Mulai kemarin aku mencoba untuk menghubunginya tapi dia tak menjawabku, apa kau tau sesuatu?"


"Untuk kemarin aku tak tau, tapi hari ini dewa ada di kerajaanmu."


"Di kerajaanku? Kenapa dia ada di kerajaanku?"


"Aku tak tau, tapi sepertinya ada hal penting yang ingin dewa lakukan. Kau tenang saja, hal itu pernah terjadi padaku dulu."


"Huh, terjadi padamu? Apa maksudmu, kau juga memiliki kerajaan?"


"Iya. Kerajaanku adalah kerajaan terbesar ke-2 di dunia ini."


"Ke-2, itu berarti kerajaanku masih lebih besar dari kerajaanmu."


"Bisa di bilang begitu, tapi kalau tidak salah, sekarang luar kerajaanku hampi 90 km."


"A-apa!! 90 km."


"Ya, tapi untuk teknolonginya sendiri kerajaanmu masih sedikit berkembang dibandingkan dengan kerajaanku."


"T-tunggu, apa kau juga menggunakan pengetahuan..."


"Ya, lagipula dulu di duniaku berasal, aku adalah seorang penemu dan juga pencipta barang-barang baru."


"B-begitu." Kalau seperti itu, wajar saja kerajaanku terlihat masih sedikit berkembang di mata Shin. "Oh ya, aku ingin bertanya sesuatu padamu, Shin."


"Apa, tanyakan saja."


"Bagaimana caramu bisa dipanggil ke dunia ini?"


"Kau serius ingin bertanya hal itu?"


"Iya, aku serius, sebenarnya aku penasaran kenapa kau bisa berpasangan dengan Felicia."


"Begitu ternyata. Baiklah, aku akan menceritakannya padamu. Jadi, dengarkan baik-baik."


"Baik."


Shin mulai bercerita. "Sebenarnya, sebelum aku dipanggil kedunia ini, aku sama sekali tak mengenal Felicia."


"Jadi, bagaimana caramu bisa berpasangan dengan Felicia?"


"Itu karena, suatu hari. Saat aku tengah melakukan sebuah penelitian bersama dengan grupku di amerika, para seniorku di tempat kerja bilang, kalau ada sesuatu benda yang sangat menarik di amerika. Mereka bilang, kalau benda itu dapat mengubah teknologi di dunia menjadi lebih maju lagi."


"Jadi, kau memutuskan untuk pergi ke amerika."


"Ya, dan saat aku sudah ada di amerika, para seniorku memberiku lokasi benda itu. Kemudian, aku dan kelompokku langsung pergi menuju ke tempat itu. Setelah mengalami perjalanan yang cukup panjang, kamipun sampai dan benar saja, setelah kami melakukan pemeriksaan dan juga penelitian di area itu. Disana kami menemukan sebuah liontin, dan menurut orang-orang yang ada di daerah itu, liontin itu merupakan wujud dari seorang dewi yang dikutuk menjadi sebuah liontin."


"Hoo..."


"Dan sebagai seorang peneliti yang sudah terlatih, kami tak mempercayai mitos-mitos seperti itu. Dan di sanalah aku bertemu dengan Felicia."


"Bertemu?"


"Ya, saat itu aku sedang melakukan penelitian dan tanpa sadar aku melihat Felicia yang sedang mandi di pinggiran sungai."


"Terus?"


"Dia bilang, aku harus bertanggung jawab karena sudah melihatnya mandi kalau tidak dia akan mengancamku dan memberitahu orang-orang kalau aku sudah melihatnya..."


"Haa.." Itu persis seperti yang terjadi beberapa waktu lalu padaku. "Lalu, apa yang Felicia inginkan darimu?"


"Aku diminta untuk menikahinya..."


"Haa... Itu persis seperti yang aku alami." 


"Apa kau menurutinya?"


"Ya, aku menurutinya. Tapi kerena hal itu pula aku harus menghentikan penelitianku, dan penelitianku berakhir tanpa hasil."


"Menurutku, dari ceritamu barusan kau masih mendapatkan hasil."


"Apa?"


"Felicia.. Haha."


"Aku lanjut ceritaku atau tidak?"


"Lanjut." Karena tak ada yang bisa aku lakukan di atas sini, aku rasa mendengarkan cerita akan sedikit lebih menarik.


"Baik. Beberepa tahun kemudian, setelah pertemuanku dengan Felicia. Aku kembali melanjutkan penelitian yang tertunda itu."


"Maksudmu, tentang liontin itu."


"Ya. Tapi, para peneliti lain tidak setuju denganku, mereka bilang kalau penelitian ini adalah hal yang sia-sia."


"Jadi, apa yang terjadi dengan penelitianmu tentang liontin itu?"

__ADS_1


"Aku melanjutkannya sendiri, aku membuat sebuah laboratorium kecil di ruang bawah tanah rumahku dan melakukan penelitian di sana."


"Apa kau mendapatkan hasil?"


"Untuk beberapa tahun pertama, aku sama sekali tak mendapatkan apa-apa dari penelitianku itu. Tapi, setelah beberapa tahun berikutnya, aku menemukan sesuatu yang luar biasa."


"Apa itu?"


"Tepat saat aku membongkar liontin itu, aku mendapatkan sebuah kepingan data informasi dari teknologi yang bahkan belum pernah ada di dunia ini dari liontin itu. Dan setelah mengetahui hal itu, banyak peneliti yang tertarik. Tapi aku tak membiarkan mereka."


"Jadi, penelitianmu selama bertahun-tahun membuahkan hasil."


"Ya. Tapi, meskipun begitu cukup banyak pihak yang tak senang dengan prestasiku ini. Dan bahkan sebagian dari mereka mencoba untuk mencelakakan Felicia supaya aku memberikan kepingan data itu."


"Peneliti macam apa yang tega melakukan hal seperti itu."


"Aku tak tau, tapi untuk mengamankan data yang sangat penting itu, aku memasukkannya kembali ke dalam liontin dan memberikan liontin itu pada Felicia."


"Lalu, bagaimana caramu bisa berada di dunia ini?"


"Kalau itu.. Tepat saat aku tidur, ada segerombolan perampok yang berhasil menyusup ke dalam rumaku, dan tepat setelah itu. Aku dan Felicia berpindah tempat, awalnya aku cukup bingung dan setelah beberapa waktu aku menyadari kalau aku berada di tempat yang belum pernah aku datangi sebelumnya."


"Jadi, tentang ingatanmu yang dihapus. Apa itu benar?"


"Ya, itu benar. Sesaat setelah aku menyadari hal itu, para orang memanggilku seketika menghapus ingatanku dan Felicia. Dan aku bersyukur karena aku bertemu dengan dewa, dia sudah mengembalikan ingatan berharga milikku tentang bagaimana aku bertemu dengan Felicia, menghabiskan waktu bersamanya. Aku sangat bahagia saat pertama kali mengetahui hal itu setelah ingatanku dihapus selama bertahun-tahun."


"Begitu.." Aku cukup senang karena aku tak mengalami hal yang sulit seperti Shin dan Felicia. "Jadi, kau menggunakan data itu untuk membuat kerajaanmu berkembang."


"Ya. Karena tak ada peneliti di dunia ini, aku putuskan untuk menggunakannya. Lagipula itu sangat bermanfaat. Jika kau penasaran, kapan-kapan jika kau ada waktu, datang saja ke kerajaanku."


"Dengan senang hati, aku terima tawaranmu." Lagipula aku cukup penasara, teknologi macam apa yang sampai membahayakan hidup Shin dan juga Felicia.


------- Berjam-jam kemudian ------


Sore hari, jam 16.23


Grooaarrr.


"Sepertinya kita sudah sampai." (Shin)


Aku yang sedang berbaring kemudian melihat ke depan dan benar, tak jauh di depan aku melihat kerajaanku.


---------- Beberapa menit kemudian --------


Naga Alfa turun di hutan dekat dengan kerajaanku. "Ayo, kita lanjut dengan berjalan kaki." (Shin)


"Baik."


Kamipun melanjutkan dengan berjalan kaki, lagipula jarak dari tempat naga Alfa turun tidak jauh dengan gerbang kerajaanku.  


-------- Beberapa menit kemudian -------


Kami memasuki kerajaan, dan para prajurit itu diam dan tak bertanya sepata katapun pada kami. Tapi, sepertinya dia adalah orang baru, karena aku baru pertama kali melihatnya berjaga disini.


"Apa ada tempat yang menarik di kerajaanmu ini?"


Dia menanyakan hal yang bahkan akupun tak mengetahuinya. "Ada, mungkin."


"Mungkin? Bukannya ini kerajaanmu, bagaimana kau tak mengetahui tempat yang menarik di kerajaanmu sendiri."


"Kerajaan ini, dibuat oleh dewa Sha. Oleh karena itu, aku tak mengetahui dengan jelas tempat yang menarik yang ada di kerajaanku ini."


"Dibuat oleh dewa, ya. Jika seperti itu, sebaiknya kau segera memeriksa kerajaanmu. Dewa pasti sudah memberikan sesuatu yang istimewa pada kerajaanmu ini."


"B-begitu." Entah kenapa aku merasa tak yakin dengan kata-kata Shin, tapi jika aku memiliki waktu tidak ada salahnya mencaritau hal itu.


Karena menurut Shin, kerajaanku masih kurang menarik di matanya. Kami segera bergegas menuju ke istana.


----- Setelah cukup lama berjalan ------


Sore menjelang malam hari (petang), jam 17.40


[ Di dalam  istana ]


Di dalam sini jauh lebih ramai dari hari biasanya, banyak sekali hiasan yang ditempel di tembok dan juga pintu masuk istana. "Apa upacara penobatan memang harus semewah ini?" 


"Bukankah itu wajar."


"Tapi... Bukankah ini sudah berlebihan. Hisannya terlalu banyak, dan mungkin itu akan menghabiskan cukup banyak koin, dan pengeluaran di kerajaan ini pasti akan bertambah."


"Kau terlalu mempermasalahkan hal seperti itu, sudah tenang saja. Menurutku ini masih belum ada apa-apanya dengan upacara penobatanku dulu."


"Maksudmu, upacara penobatanmu dulu lebih mewah dari ini."


"Iya, kalau tidak salah aku hampir menghabiskan 20 koin platinum."


"Hee... Besar sekali, bukannya itu sudah berlebihan."  


* Sekitar 20 triliun *


"Begitulah. Tapi, bukan aku yang merencanakan hal itu, melainkan Felicia."


"Hoo.. Itu seperti yang aku alami saat ini."


"Hiroaki! Kemari!!" (Emilia) Emilia melihatku dan segera memaggilku.


"Sepertinya ada yang menunggumu." 


"Sepertinya.." Entah kenapa, aku memiliki firasat buruk tentang hal ini.


"Sebaiknya kau segera datangi dia, nanti dia marah. Ehh... Kelihatannya dia sudah marah. Kalau begitu, aku akan pergi menemui Felicia. Semoga harimu menyenangkan. (Pergi)"


Shin pergi meninggalkanku. "Hiroaki kemari cepat!!"

__ADS_1


Dan mau tak mau aku harus menghampirinya. "A-ada apa Emilia?"


"Pergi kemana saja kau selama 2 hari terakhir?!"


"Aku... Hanya pergi jalan-jalan."


"Hoo... Lalu, kenapa perutmu terluka?"


"Ehh, itu... Karena.."


"Apa kau tau kenapa aku marah.."


"Karena aku pergi, bukan?" Aku merasa kalau dia maraha karena mengetahui kalau aku pergi keluar.


"Bukan.."


"B-bukan?" Aku yakin kalau dia marah karena aku sudah keluar dan tak bilang apa-apa dan hanya meninggalkan sebuah surat. "L-lalu, karena apa?"


"Emilia, sudah cukup. Aku sudah baik-baik saja." (Ai) Ai tiba-tiba berlari dan menghampiri kami.  


"Bagaimana keadaamu, apa kau baik-baik saja?"


"Lihat, lukanya sudah hilang."


"Siapa yang menyembuhkannya?"


"Dewa, barusan ia menghampiriku dan menyembuhkan lukaku."


"Begitu.. Karena masalahnya sudah selesai, aku tak akan memarahimu lagi. Tapi ingat Hiroaki, jangan lakukan hal yang merugikan lagi."


"B-baik.." Sebenarnya aku tak tau kenapa Emilia marah kepadaku, tapi aku senang karena dia tidak memarahiku habis-habisan seperti waktu itu.


Emilia pergi. "Aki, kau tidak apa-apa?"


"Huh... Ya, aku tidak apa-apa. Oh ya, aku minta maaf Ai."


"Minta maaf? Ada apa, kenapa kau meminta maaf?"


"Aku tak tau kalau kau sudah menjadi pasanganku, dan aku sudah melukai diriku sendiri, berarti itu sama dengan aku melukaimu."


"Eh?? Tunggu dulu, mungkin ini yang membuat Emilia merah padaku. Sepertinya aku telat menyadarinya."


"Tidak apa-apa. Lagipula lihat, lukaku sudah sembuh."


"B-begitu." Luka milik Ai memang sembuh, tetapi tidak dengan lukaku. Lukaku masih sedikit terasa perih. "Ai, apa dewa Sha mengatakan sesuatu saat menyembuhkan lukamu?" Aku hanya sedikit curiga kalau dewa Sha menghilangkan efek pasangan itu sebelum ia menyembuhkan Ai.


"Sebelum dia menyembuhkanku, dia bilang kalau dia sudah menghilangkan efek pasangan.."


"Begitu, ya." Entah kenapa luka yang ada di perutku ini menjadi sakit, padahal sebelumnya tidak sesakit ini. Tubuhku terasa berat untuk di gerakkan dan juga tubuhku berkeringat. "A-Ai, bisa kau antarkan aku ke kamar."


"Baik." Ai mengantarku kekamar.


---------- Beberapa menit kemudian ----------


Aku tengah berbaring di kasur. Ai mengambilkanku segelas air putih. "Hikarin, apa ada sesuatu yang kau perlukan lagi?" 


"T-tidak ada, terima kasih." 


"Kalau begitu, aku akan keluar dulu. Jika kau butuh sesuatu, panggil aku, ya."


"Y-ya." Ai pergi, dan ia tak mengetahui kondisi tubuhku. Aku bersyukur karena hanya aku yang mengalami hal ini. 


"Uhuk-uhuk.. S-sial." Tubuhku semakin lemah dan tak bisa digerakkan, suhu tubuhku juga meningkat.


"Sebaiknya aku istirahat, mungkin suhu tubuhku akan kembali normal saat aku beristirahat." Setelah melepaskan jaketku, akupun segera tidur.


-------------------


Pagi hari, jam 06.30


"Uhuk-uhuk.. A-ada apa ini? Ahh!!" Suhu tubuhku tambah meningkat dari sebelumnya, dan juga saat  ini kepalaku terasa sangat sakit. "K-kepalaku.. S-sial..." Semua yang aku lihat seperti berputar-putar.


Tubuhku tidak bisa digerakkan, dan seluruh tubuhku terasa mati rasa. 'Sakit' Itulah yang aku rasakan saat ini, tak ada yang lain yang bisa aku rasakan kecuali rasa sakit yang ada di seluruh tubuhku. "D-dewa Sha... Ahhh!!" Kepalaku terasa sangat sakit saat aku mencoba untuk menghubungi dewa Sha. "A-apa ti-dak ada orang, di sekitar sini?" Suaraku perlahan seakan menghilang.


"Yo.. Ternyata kau masih bisa bertahan." (dewa Sha) Dewa Sha tiba-tiba muncul didepanku.


"D-Dewa-..."


"Sebaiknya kau tidak usah bergerak, jika kau bergerak racun yang ada ditubuh akan semakin menyebar."


"Ra-cun?" Aku sama sekali tak tau kalau tubuhku diracuni.


"Ya. Kau ingat monster yang kau lawan di desa yang ada di dekat perbatasan benua iblis."


"Jangan-jangan.."


"Ya. Racun yang ada ditubuhmu berasal dari cakaran hewan itu. Dan hewan itu sebenarnya adalah salah satu ciptaanku yang aku buat untuk menjaga salah-satu markasku. Tapi, dia sepertinya dia sedang dikendalikan oleh seseorang dan itu mengakibatkan hewan itu mengamuk, dan menghancurkan beberapa pemukiman sebelum akhirnya aku menugaskan Shin untuk membunuh hewan itu di desa yang ada di dekat perbatasan benua iblis. "


"Be-begitu.."


"Tapi, aku cukup terkejut karena kau bisa bertaha selama ini. Biasanya, orang yang terkena racun dari hewan yang aku ciptakan itu akan mati hanya dalam hitungan menit."


"L-lalu, b-bagaimana dengan Ai?" Aku sangat khawatir padanya, karena aku terkena serangan sebelum dewa Sha menghilangkan efek pasangan dariku.


"Kalau untuk itu, kau tenang saja. Yang di alami oleh Ai hanyalah lukanya saja, tidak dengan racunnya. Jadi, dia tidak terancam."


"Begitu.. Uhuk-uhuk." Tubuhku semakin melemah. "De-wa Sha, a-pa tid-ak ada yang bisa kau lakukan untuk menyembuhkanku?"


"Sebenarnya cukup sulit, aku membuat racun hewan itu dari berbagai tanaman beracun yang ada di dunia ini. Jadi, untuk membuat penawarnya juga cukup sulit."


"Ahh.. Begitu, ya. Jadi, a-ku tidak bisa di sembuhkan." Jika dewa Sha berkata seperti itu, penawarnya memang ada tapi sangat sulit untuk mendapatkannya.


Pandanganku mulai menghitam. "Dewa Sha. Bisa berikan aku waktu u-untuk istirahat." Aku tak mendengar suaranya, yang bisa aku dengar hanyalah kesunyian dan juga kehampaan. "Ahh.. Apa ini rasanya.. Kematian."

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2