
Gerbang utama.
“Wah, disini lebih buruk dari apa yang dibayangkan.” (Garden) Saat kami sampai disini, sudah banyak prajurit yang terluka parah disini, dan para tenaga medis sudah memberikan pertolongan pertama pada mereka.
“M-Maafkan kami yang mulia raja. Jumlah mereka sangat banyak, kami tidak mampu mengalahkan mereka.” (Komandan)
“Berapa jumlah mereka?”
“20, tidak mungkin 30 ribu dan jumlah itu masih terus bertambah.”
“30 ribu, ya. Bawa pasukan yang terluka dan pasukan yang masih ada dimedan perang mundur, kami yang akan mengatasi sisanya.”
"Tapi, yang mulia."
"Sudah, cepat lakukan."
"B-Baik." Komandan pasukan itu pergi.
Setelah medengar hal itu, aku melihat kearah Shin dan yang lainnya. Sikap mereka terlihat biasa, mungkin karena mereka sudah pernah melawan musuh yang lebih banyak dari itu. “Lalu, bagaimana? Apa kalian semua sudah siap?”
“Ha? Untuk apa kau bertanya lagi. Dengan berada disini saja itu berarti kita semua sudah siap.”
“Begitu. Baiklah, serang.” Kami maju untuk menghabisi para perusak hari yang istimewa ini.
___________________
“Sha, apa tidak apa-apa membiarkannya seperti itu?”
“Tidak masalah, lagipula aku yakin dia bisa mengatasinya. Dengan kekuatannya yang sekarang, bisa saja dia membasmi monster itu hanya dengan membuka sedikit pedangnya.”
“Lalu, bagaimana dengan yang lainnya?”
“Kau sangat peduli dengan orang lain, ya.”
“M-Maaf, hanya saja aku-…”
“(tersenyum) Tenang saja, siapapun yang ada didalam kerajaan itu akan aman. Kau tak perlu khawatir. Ai, apa kau merasa bersimpati padanya karena dia berasal dari dunia yang sama denganmu, ah tidak… Maksudku dunia yang hampir sama dengan duniamu.”
“Tidak, aku tidak bermaksud…”
“Tidak apa-apa, lagipula sudah wajar jika kau merasakannya.”
“Maaf…”
__________________
“Garden, awas dibelakangmu!!”
Srasshhh. Sfx : tebasan.
__ADS_1
Shin menebas monster yang mencoba menyerang dari belakang Garden. “T-Terima kasih…”
“Wah, ini banyak sekali.” (Shin) Meskipun sudah membunuh sangat banyak, tapi jumlah yang datang lebih banyak lagi daripada jumlah yang dibasmi.
“Shin, apa yang harus kita lakukan.”
“Entahlah, aku masih berfikir. Hiroaki, apa kau memiliki ide.”
“Untuk saat ini, tidak.” Sebenarnya aku memiliki ide, tapi itu mungkin akan sedikit berbahaya. Oleh karena itu aku akan menggunakannya jika waktunya sudah tidak mendukung. Tapi… 'Mereka terlihat sudah kelelahan…' Entah sudah berapa lama pertarungan ini dimulai, yang jelas stamina Garden dan juga Leona sudah hampir mencapai batasnya. Dan untuk Shin dan juga Felicia, sepertinya mereka masih baik-baik saja.
“Mereka tidak ada habisnya. Felicia, berapa monster lagi yang bisa kau bunuh?”
“Setidaknya tidak sampai 10 ribu monster sebelum tenagaku habis sepenuhnya.”
“Begitu… Lalu, bagaimana dengan kalian berdua? Berapa monster yang bisa atau sanggup kalian bunuh?”
“1-2 ribu saja, itu sudah batas kami.”
“Begitu… Lalu, bagaimana denganmu Hiroaki?”
“Entahlah. Aku tak tau, dengan pasti berapa monster yang bisa aku bunuh.”
“Begitu… Dengan begini, sudah dipastikan. Kita sedang kekurangan tenaga.” Mendengar seorang ksatria petarung berkata seperti itu, entah kenapa ini terlihat seperti sesuatu yang menyulitkan.
'Sepertinya, aku harus menggunakannya.' Aku perlahan berjalan menuju ke kerumunan para monster dan juga iblis itu.
"Hiroaki, apa yang ingin kau lakukan, jangan gegabah.” (Shin)
Aku memasang kuda-kuda, dan sedikit menarik Ryuga dari sarung pedangnya. “Musnah.” Aku memasukkannya lagi.
Mereka seketika menghilang. “Agghhhh…” Rasa sakit dikepalaku, mungkin karena musuh yang aku musnahkan jumlahnya sangat banyak. Tapi, musuh yang lain masih berdatangan. Setidaknya ini tidak akan berakhir hanya dalam 1 kali tehnik saja. Sebuah tehnik yang aku tiru dari dewa Sha, dan aku menamainya dengan nama ‘Serangan pemusnah’.
“Aku masih belum terbiasa dengan hal ini, ini sagat menyebalkan.” Aku mengulanginya lagi.
‘Musnah, musnah, musnah, musnah….’
“Ha, ha, ha…” Nafasku terengah-engah, entah sudah berapa kali aku mengulanginya. “Graahhhh…” Saat aku melihat kesekujur tubuhku, ternyata seluruh tubuhku sudah terluka. ‘Sebuah tehnik yang memiliki kekuatan besar dan melukai penggunanya sebagai ganti kekuatan itu’. Jika saja tubuhku masih sama seperti dulu, aku mungkin tidak akan bertahan meskipun hanya sekali menggunakannya.
“Hitam..” Aku tak bisa melihat, padahal barusan aku bisa melihat. 'Apa ini termasuk efek sampingnya juga?' Aku tak tau apa yang terjadi, tapi saat ini aku sangat kelelahan. “Sudahlah…”
“Hiroaki!!!” Shin dan yang lainnya menghampiri Hiroaki.
“Semua monster dan iblisnya hilang… Apa dia yang melakukannya.” (Garden)
“Tubuhnya terluka parah, kita harus membawanya kembali.” (Felicia)
“Tempat ini sangat jauh dari kerajaan, paling tidak butuh waktu 1 jam sampai tiba dikerajaan. Dan sebelum itu, dia pasti tidak akan bisa bertahan dengan luka yang sebanyak itu.” (Leona)
“Alfa!!” (Shin)
__ADS_1
Beberapa saat kemudian
Naga Alfa datang. “Kalian berdua, bantu aku mengangkat Hiroaki keatas.”
“Baik.”
Hiroaki dinaikkan keatas punggung naga Alfa.
Setelah itu
“Alfa, cepat…”
Grooaaaarrrrr
Naga Alfa terbang dengan cepat menuju kembali ke kerajaan ini. “Felicia, bagaimana dengan keadaannya?”
“Kami sedang mencoba untuk menutup luka yang parah, tapi…” (Felicia)
“Tidak bisa… Lukanya tidak bisa tertutup. Jika seperti ini terus, dia akan kehilangan banyak darah.”
“Cih. Alfa, lebih cepat!!”
Groooaaaarrrr.
_________________
“Huh? Dimana aku? Apa aku sudah mati?”
“Yo, kau sudah sadar?” Suara yang tak asing bagiku.
“Dewa Sha, ya. Dimana ini?” Seluruh tempat disini berwarna putih, dan tak ada hal lain yang bisa aku lihat selain itu.
“Hmm…Tenang saja, kau belum mati. Hanya saja, aku ingin menjelaskan tentang tugasmu yang berikutnya.”
“Tugasku yang berikutnya, ya.” Ternyata aku akan pergi lagi, padahal aku barusaja menikmati kebagaiaan kecilku ini.
“Untuk dunia yang akan kau datangi, dunia yang hampir sama seperti duniaku.”
“Dunia yang hampir sama?”
“Ya, dunia pedang dan juga sihir.”
“Jika seperti itu, pasti ada seorang pahlawan dan juga raja iblis disana.”
“Benar sekali.”
“Lalu, apa tugasku?”
“Membunuh sang raja iblis.”
__ADS_1
“Huh? Membunuh raja iblis?” 1 hal yang aku sangat bingung, kenapa aku harus melakukannya.