Watashi No Hanayome

Watashi No Hanayome
33


__ADS_3

Sore menjelang malam (petang) hari, jam 18.02


Saat ini aku sedang berada di dalam istana kerajaan Gein, dan saat ini pula aku sedang dihadapkan oleh masalah yang cukup rumit.


"Yang mulia, hamba mohon. Tegakkan keadilan untuk hamba, hamba ingin kau menghukum dia dengan hukuman yang pantas." (Hard)


Ya, seperti itulah. Saat ini aku sedang dituduh sudah mempermalukan pengeran sombong ini. "Terserah kau mau bilang apa, yang pasti aku tak pernah melakukan hal itu." Aku membela diri karena aku ini tidak salah.


"Kenapa kau berbohong. Aku membawa beberapa saksi yang melihat kalau kau sudah mempermalukanku. Bwa saksinya kemari!" Beberapa Elf muda masuk kedalam ruangan ini. "Katakan, apa yang kau lihat di dalam hutan itu?"


"Yang dikatakan pangeran Hard benar, paduka. Orang ini sudah mempermalukan pangeran." (???)


"Itu benar, paduka." (???)


"Apa yang kalian katakan!!! Aku tidak pernah melakukan hal itu!!" Para Elf muda itu mengatakan hal yang sama sekali tidak pernah aku lakukan.


"Para Elf muda itu sudah dibayar."


"Apa!! Mereka dibayar?" Dengan begitu sudah jelas, kenapa mereka mengatakan kalau aku ini bersalah, itu karena mereka sudah di bayar oleh pangeran bodoh itu. "Apa yang harus aku lakukan saat ini, dewa Sha?"


"Entahlah, kau harus bisa mengatasi hakl ini sendiri. Kalau begitu, sampai jumpa." (menutup telepati)


"Woy!! Tungguu!!!" Dewa Sha langsung menutup telepatinya. "Cih, sial!! Apa yang harus aku lakukan saat ini." Semua orang di ruangan melihatku dengan tatapan yang membuat diriku rendah.


Dan entah kenapa, cara orang-orang yang ada di ruangan ini melihatku membuatku sangat marah. "Baiklah, jika itu keinginanmu. Aku akan membuatmu menyesal karena kau sudah mengatakan kebohongan seperti itu kepadaku."


"Hamba mohon maaf paduka raja, tolong jangan hukum manusia yang tak bersalah ini." (???) Tiba-tiba saja seorang pemuda Elf berada tepat di tengah-tengah kami.


"Siapa kau?" (Raja)


"Hamba adalah utusan dari yang mulia Elena, dari kerajaan Ality."


"Utusan ibu?" (Hard) Ternyata pemuda Elf ini adalah utusan dari ibunya Hard.


"Hamba diutus oleh yang mulia Elena untuk memata-matai pangeran, dan hamba mendapatkan sesuatu yang mengejutkan. Bahwa pangeran membayar para Elf muda ini untuk membuat seolah-olah manusia ini sudah mempermalukan pangeran Hard."


"Apa maksudmu?" (Raja)


"Manusia ini, maksudnya pemuda yang bernama Hiro sama sekali tidak melakukan hal itu. Ia sama sekali tidak bersalah dalam hal ini."


"Baiklah, kalau begitu aku sebagai raja tidak akan menghukum Akarui." Kali ini aku di selamatkan oleh pemuda Elf ini.


"Hamba sungguh berterima kasih yang mulia. Saya sungguh kecewa kepada anda pangeran, anda adalah penerus kerajaan Ality, anda seharunya tidak melakukan hal yang memalukan seperti ini."


"Ahh. Sudahlah." (Hard) Dia keluar dari ruangan ini.


Aku rasa pangeran bodoh itu sudah malu. "Maaf sebelumnya yang mulia, hamba ingin menyampaikan sesuatu  yang penting." (Pemuda Elf)


"Apa yang ingin kau sampaikan? Katakanlah.."


"Yang mulia Elena ingin membatalkan perjodohan ini."


Mendengar hal itu, pangeran Hard berhenti berjalan dan kembali mendekat ke arah pemuda Elf itu. "Apa yang kau katakan barusan?"


"Yang mulia Elena memilih untuk mengakhiri perjodohan ini."


"Begitu, ya. Baiklah, jika itu kemauan ratu kalian. Aku sebagai seorang raja akan menghormati keinginannya." (Raja) Raja Difard terlihat cukup tenang dengan hal itu, atau mungkin dia sudah tau kalau Sia sebenarnya tidak suka dengan Hard, dan karena itu raja Difard terlihat cukup tenang.


"Kalau begitu, hamba izin untuk pergi." 


"Baiklah."


"Pangeran, ayo kita kembali ke kerajaan sekarang."


"Cih. Baiklah." Aku melihat Hard terlihat sangat menurut dengan apa yang dikatakan oleh pemuda Elf itu. Dan aku sangat bersyukur, karena masalah ini sudah terselesaikan dengan damai. Aku kembali memasukkan kedua pedangku.


"Baiklah, kalian semua boleh bubar sekarang." (Raja) Setelah mengatakan hal itu, seluruh orang yang ada di ruangan ini keluar, kecuali aku, Sia dan juga raja. Ya, meskipun aku bisa saja ikut dengan yang lain untuk keluar, entah kenapa sepertinya ada sesuatu yang ingin di katakan oleh raja Difard kepadaku.


"Aku sungguh berterima kasih padamu, Hiro." (raja)


"Ehh. Kenapa anda berterima kasih padaku? Bukannya aku yang harus berterima kasih kepada anda karena anda tidak jadi menghukumku."


"Itu memang benar, tapi aku berterimakasih karena kau sudah menyelamatkan kerajaanku dan juga kau sudah menyelamatkan Sia saat dia sedang berada dalam kesulitan."


"Ternyata begitu, ya." Ternyata raja Difard sudah tau kebenarannya, dan ia melakukan tadi semata-mata hanya untuk mencegah terjadinya kekacauan di kerajaanya. Dan jika aku berada di posisinya aku juga pasti akan melakukan hal yang sama.


"Aku tak tau harus membalas perbuatanmu ini dengan apa."


"Ahh.. Anda tidak perlu melakukan apa-apa, aku disini hanya sebagai petualang, dan melakukan hal seperti itu sudah biasa untukku."


"Meskipun begitu, aku ingin memberikan hadiah yang pantas bagi seseorang yang sudah menyelamatkan kerajaan ini."


"Kalau begitu, baiklah." Aku rasa raja Difard termasuk seorang raja tidak akan menyerah sebelum apa yang ia inginkan dipenuhi.


"Aku ingin kau membawa Sia dalam petualanganmu, lagipula sekarang Sia sudah tidak memiliki hubungan dengan pangeran Hard, jadi dia bisa menjadi seorang petualang seperti yang dia inginkan. Dan aku merasa kalau ia akan aman saat kau bersama dengannya."

__ADS_1


"Ehh.. Apa yang anda katakan? Apa anda serius tentang hal itu?"


"Tentu saja. Lagipula, sepertinya Sia terlihat menyukai dirimu."


"Ehh.. Sia? Menyukaiku?" Aku tak tau apa itu benar, tapi aku rasa ini akan menjadi masalah kalau aku sampai membawa seorang wanita lagi kedalam keluargaku. Mereka pasti akan membuatku babak belur atau bahkan lebih parah lagi dari itu. Aku tak bisa membayangkah hal apa yang akan terjadi setelah itu. "Maaf yang mulia, bukannya aku menolak. Tapi.... Agghh!!" Tiba-tiba saja tubuh bagian bahu kananku terasa sakit dan juga panas, dan aku tak tau kenapa.


"Aggh..." (Sia) Sia juga terlihat kesakitan.


"Jangan-jangan ini..." Aku segera membuka bajuku dan melihat apa yang sudah terjadi dengan bahu kananku. "Sejak kapan?"


Sebuah tanda bintang berada tepat di bahu kananku. Aku tak tau kenapa tanda ini bisa ada di sini, tapi yang pasti ini adalah sebuah tanda pasangan.


------ Beberapa menit kemudian -------


Lama kelamaan rasa sakit dan panas itu mulai menghilang dari tubuhku. "Hi-ro.." (Sia) Sia pingsan karena ia tak kuat dengan rasa sakit dan juga rasa panas itu.


Dan aku terpaksa harus membawa Sia ke kamarnya untuk di biarkan istirahat, karena raja yang menyuruhku untuk bertanggung jawab atas apa yang tidak aku perbuat.


------ Beberapa menit kemudian -------


Setelah aku menidurkan Sia di kamarnya, aku kemudian keluar dari kamarnya. "Aku tak menduga kalau hal seperti itu akan terjadi tepat dihadapanku." (Raja Difard) Raja Difard sedang menungguku keluar dari kamar Sia, dan ia berada di samping pintu sambil bersandar di tembok.


"Aku juga cukup terkejut dengan hal ini." 


"Jadi, apa yang akan kau lakukan setelah ini? Apa kau masih belum berubah pikiran untuk membawa Sia berpetualang bersama denganmu? Meskipun kau tau kalau mulai saat ini, Sia adalah pasanganmu."


Entah kenapa raja Difard terlihat tenang dengan hal ini, seakan ia sudah tau kalau hal ini akan terjadi. "Kalau sudah seperti ini, apa boleh buat." Mengingat efek pasangan akan membuat pasangan lainnya mengalami apa yang di alami oleh pasangan lainnya. Dan menurutku, akan sia-sia saja pergi sendiri dengan keadaan seperti ini, karena jika aku mendapatkan luka maka Sia juga akan merasakan apa yang aku rasakan.


"Kalau begitu, mohon bantuan untuk kedepannya, calon menantuku."


"Hah.. Calon menantu, ya... ... ... ... Apa!!!"


____________________________


Pagi hari, jam 05.54


"Hoamm.." Aku bangun seperti biasa, dan aku juga melakukan kegiatan rutin pagihariku, yaitu, setelah bangun aku terus mandi. 


------ Setelah selesai melakukan kegiatan pagihari ------


Grrrr.. 


"Aku lapar." Kalau diingat, sejak kemarin aku belum makan apa-apa, dan aku heran kenapa aku  masih bisa beraktifitas seperti biasa. Aku tak tau kenapa, tapi sepertinya tubuhku sudah lebih kuat dari sebelumnya, khususnya dalam hal menahan lapar. Tapi sepertinya, saat ini aku sudah mencapai batas.


"Hiro.. Makanannya sudah siap, ayo kita makan bersama." (Sia)


"Baik."


"Bawa pedang, tidak, bawa, tidak... Bawa aja deh." Aku pun membawa pedangku, dan setelah itu aku keluar dari kamar lalu berjalan bersama Sia menuju ke ruang makan.


Sia bersikap seperti biasa, dan apa mungkin ia tak tau kalau saat ini aku adalah pasangannya.


-------- Setelah beberapa menit ------


Kami sampai di ruang makan, dan di dalam ruang makan ini aku melihat raja dan juga seorang wanita Elf cantik yang tak pernah aku lihat sebelumnya sedang duduk di samping raja Difard. Aku juga melihat Kimi sedang duduk di meja makan. "Kakak, kau lama." 


"Maaf maaf." 


"Sudahlah, ayo kita makan sekarang." (raja Difard)


Kamipun makan makanan yang sudah di sediakan.


-------- Setelah selesai makan -------


"Sia, bukannya ada sesuatu yang ingin kau kerjakan sekarang." (Raja Difard)


"Ah, benar juga. Kalau begitu, aku pergi dulu." (Sia) Entah kenapa aku merasa kalau raja Difard sedang mengusir Sia.


"Maaf raja, siapa wanita yang ada di sampingmu itu?"


"Oh.. Dia adalah istriku, Lucia."


"Apa!! (terkejut) Dia istrimu?" Seorang gadis secantik dia adalah istri dari raja ini, sungguh sulit dipercaya.


"Aku tau kalau kau akan terkejut setelah tau kalau dia adalah istriku. Tapi mau bagaimana lagi, itulah kenyataanya. Dan Sia adalah purtinya."


Kalau dipikir-pikir, mulai dari rambut dan juga warna matanya sama dengan Sia. Dan aku mulai mencoba untuk menerima keadaan ini.


"Terima kasih karena kau sudah menyelamatkan putriku." (Lucia)


"Ahh.. Tidak apa-apa, aku hanya melakukan apa yang harus aku lakukan." Dan ada sesuatu tentang Sia yang aku harus tanyakan pada Raja Difard. "Raja, ada sesuatu yang ingin aku tanyakan padamu."


"Apa itu? Tanyakan saja."


"Apa Sia tau kalau dia sudah menjadi pasanganku." Melihat sikap Sia yang seperti itu membuatku curiga kalau ia tak tau kalau mulai saat ini aku adalah pasangannya.

__ADS_1


"Haha. Ternyata kau menyadarinya, ya." (Raja Difard) Ternyata dugaanku benar. 


"Memang benar, Sia tidak tau kalau kau adalah pasangannya. Dan bahkan Sia tidak tau apa arti dari menjadi seorang pasangan."


"Apa tak ada yang memberitaunya?"


"Aku sudah pernah menjelaskannya dulu, tapi sepertinya ia sudah lupa. Lagipula Sia memiliki masalah dengan ingatanya."


"Masalah dengan ingatanya?"


"Iya. Sia tidak bisa mengingat dengan baik apa yang sudah di jelaskan oleh orang lain."


"Begitu, ya. Aku rasa itu cukup buruk." Ya, jika kau tidak bisa ingat apa yang sudah dijelaskan pasti itu akan merepotkan. "Apa tak ada cara untuk menyembuhkannya?"


"Aku sudah mecoba segala cara, tapi itu tidak berhasil. Tapi, aku rasa aku sudah menemukan seseorang yang bisa membantu Sia untuk menyembuhkan penyakitnya itu."


"Siapa? Tapi, apa yang dialami oleh Sia itu sejenis penyakit?"


"Iya, atau lebih tepatnya kau bisa menyebutnya sebagai kutukan."


"Kutukan? Siapa orang yang sudah mengutuk Sia?"


"Aku tak begitu tau siapa, tapi yang pasti kutukan yang ada di dalam tubuh Sia itu tidak bisa dihancurkan dengan sihir pembatal kutukan yang biasa."


"Begitu, ya." Aku cukup mengerti permasalahan yang sedang dihadapi oleh raja Difard, dan aku rasa aku tidak dapat membantu banyak. "Jadi, siapa yang bisa menolong Sia?"


"Dia adalah orang yang ada dibalik bayanganmu."


"Dibalik bayanganku?" Aku tak mengerti apa yang dikatakan olehnya. "Apa yang kau katakan raja, dibalik bayanganku?"


"Benar. Benar'kan teman lama.." 


"Ahh. Ternyata aku ketahuan, ya. Ternyata kau masih bisa menadari keberadaanku." (Dewa Sha) Dewa Sha perlahan keluar dari balik bayanganku.


"Dewa Sha!! Apa yang kau lakukan disini." 


"Aku datang kesini hanya untuk menyapa teman lama. Benarkan, Difard-kun."


"Kau masih saja menggunakan kata-kata aneh itu."


"Kau masih terlihat muda, padahal aku belum melihatmu sejak 900 tahun yang lalu."


"Apa!! 900 Tahun. Jadi, umur raja Difard..."


"Ahh.. Umurku sekarang sekitar 1189 tahun."


"Apa!!! 1189 tahun." Umur raja Difard ternyata sudah lebih dari 1 milenium lamanya.


[ 1 Milenium \= 10 abad \= 1000 tahun ]


"Sudah cukup basa-basinya. Dewa, aku membutuhkan bantuanmu." (Raja Difard)


"Hmmm... Baiklah, aku akan membantumu. Anggap saja ini sebagai ucapan terima kasihku karena kau sudah menjaga bocah manusia ini selama 2 hari terakhir."


"Benarkah, terima kasih dewa." (Lucia)


"'Cilk' Sudah selesai, kalau begitu aku akan pergi dulu. Oh ya, kau juga memiliki istri yang cantik, aku cukup iri denganmu."


"Hahaha... Kau bisa saja, dia'kan orang yang kau pilihkan untukku."


"Ahh. Benar juga, ya. Kalau begitu aku pamit. Oh ya Hiroaki. Aku akan mampir kekerajaanmu untuk memeriksa sesuatu." 


"Sesuatu? Apa itu?"


"Rahasia.. Kalau begitu, aku pergi." Dan dewa Sha pergi dengan cara yang cukup keren, lagi.


"Hiroaki.. Bukannya itu nama Raja di kerajaan Riel." (Lucia) Dewa Sha membongkar identitasku sebagai seorang raja yang aku sembunyikan selama ini.


"Ternyata dugaanku memang benar, kalau kau itu adalah seorang raja." Raja Difard kelihatan tidak terkejut sama sekali, mengetahui kalau aku adalah seorang raja.


"Tunggu, berarti kau sudah menadarinya sejak awal."


"Bukan sejak awal, sih. Tapi bisa dibilang setelah pangeran Hard pergi dari ruangan tahta, aku mulai menyadari kalau kau itu bukan petualang biasa. Dan ternyata dugaanku benar."


Ternyata Raja ini lebih teliti dalam menilai sesuatu. "Begitu ternyata." 


"Dan aku juga tak menyangka kalau kau juga memiliki hubungan baik dengan dewa. Dan aku juga tak menyangka kalau kau itu adalah seorang Raja dari kerajaan yang sangat berkembang itu. Aku sangat bersyukur bisa bertemu denganmu disini, karena kedatanganmu ke kerajaan ini, anakku sudah kehilangan kutukannya. Aku sungguh berterima kasih padamu."


"Aku tidak melakukan apa-apa, dan seharusnya kau tidak berterima kasih padaku, kau harusanya berterima kasih pada dewa Sha, karen dia yang sudah menghilangkan kutukan itu dari Sia."


"Ayah, aku sudah selesai." (Sia) Sia kembali ke ruangan ini.


"Benarkah? Baiklah."


"Hiro, ayo." (Sia) Dia menarik tanganku dan aku tak tau kemana Sia akan membawaku.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2