
Pagi hari, jam 05.35
Aku perlahan membuka mataku, dan aku melihat sebuah langit-langit asing disini. Dan yang pasti, tempat ini bukanlah sebuah gua tempat aku berada kemarin. "D-dimana aku?" Aku mencoba untuk bangun. Tapi, saat aku melakukan hal itu di setiap bagian dari tubuhhku terasa begitu sakit.
"Ahh, kau sudah sadar." (???)
Seorang gadis yang belum pernah aku lihat sebelumnya datang menghampiriku sambil membawa makanan, dan kemudian menaruh makanan itu di meja kecil yang ada di sampingku. "Agghh.." Tubuhku masih terasa cukup sakit saat aku berusaha untuk bangun.
"Sebaiknya kau tidak boleh banyak bergerak, tubuhmu masih belum pulih dari racun bunga kemarin."
Ucapannya itu benar. Aku terkena racun bunga kemarin saat melawan monster batu itu. Aku kemudian kembali berbaring. "Apa kau lapar?"
"Huh? Ehh..." Ia menawarkan makanan padaku, padahal aku sama sekali tidak pernah bertemu dengannya.
"Ada apa?"
"T-tidak ada apa-apa. Tidak, aku tidak lapar." Sebenarnya aku lapar, tapi aku takut gadis ini menaruh sesuatu dimakanan itu, dan itu membuatku sedikit khawatir.
"Apa benar? Tenang saja, aku tak menaruh apa-apa dimakanan ini. Kau tenang saja."
"Huh? Apa dia membaca pikiranku?"
Gadis itu hanya tersenyum, dan sepertinya ia menugguku menjawab iya. Dan karena aku sudah lapar, dan gadis ini juga bilang kalau ia tak menaruh apa-apa di makanan yang ia bawa, aku rasa tidak apa-apa. "B-baiklah." Akupun mengambil makanan itu, tapi tepat saat aku menggerakkan tubuhku, seluruh tubuhku merasa kesakitan.
"Ternyata kau masih belum pulih total, ya. Baiklah kalau begitu..." Ia mengambil makanan yang ia taruh di meja kecil di sampingku. "Buka mulutmu.. Aaaa." Ia mengambil makanan yang ia bawa dan berusaha untuk menyuapiku secara langsung.
"A-a-apa yang ingin kau lakukan?!"
"Memangnya ada apa? Tubuhmu'kan tidak bisa digerakkan."
Yang dikatakan olehnya itu memang benar, tapi mnyuapi orang yang baru ditemuinya itu, bukankah sedikit.. "Ada apa? Kenapa kau diam?"
"T-tidak, hanya saja.."
"Sudahlah, makan saja. Ini..."
"T-tunggu.."
"Apa lagi? Apa kau tidak mau aku suapi.."
"Ada apa dengan gadis ini? Kenpa ia memperlihatkan wajah seperti itu padaku."
"T-tidak, bukan begitu.."
"Kalau begitu, kenapa?"
"'Aku hanya malu disuapi oleh seorang gadis.' Mana mungkin aku mengatakan hal seperti itu."
"Ha, baiklah.."
"Kalau begitu, buka mulutmu... Aaa..."
Akupun membuka mulut dan ia mulai menyuapiku, entah kenapa ia terlihat cukup senang.
----------- Setelah cukup lama diperlakukan seperti anak kecil ----------
Akupun selesai makan, dan gadis itu pergi untuk menaruh piring yang barusan digunakan.
"Ha, ternyata ini lebih memalukan dari apa yang aku bayangkan."
Gadis itu kembali. "Bagaimana keadaanmu, apa sudah lebih baik?"
Aku mencoba untuk menggerakan tubuhku, dan aku sudah tidak merasakan rasa sakit seperti sebelumnya, meskipun aku masih merasa sakit saat menggerakkan tubuhku. "Sepertinya sudah sedikit lebih baik." Tapi setidaknya, ini tidak sesakit seperti yang sebelumnya. Tapi... "Aku ingin bertanya sesuatu.."
"Apa? Katakan saja."
"Siapa kau, dan sekarang aku ada dimana?"
"Oh, ya. Maaf, aku belum memperkenalkan diri. Namaku Ai, dan saat ini kau sedang ada di rumahku."
"Ai, ya. Namaku Hiroaki, kau bisa panggil aku Hiroaki atau apapun terserah kau."
"Hiroaki, ya. Boleh aku memanggilmu Aki."
"Terserah kau saja, lagipula aku tidak keberatan dengan nama itu."
"Aki, ya. Rasanya aku pernah mendengar hal seperti itu."
"Oh ya. Aku yang membawamu kesini dari gua."
"B-begitu, terima kasih."
"Tidak apa-apa."
Dan tepat setelah itu, tak ada pembicaraan lagi. Dan Ai pergi keluar dari ruangan ini untuk melakukan sesuatu.
--------- Beberapa menit kemudian ---------
Aku mencoba menggerakkan tubuhku. "Sepertinya tubuhku sudah lebih baik, dan aku harus segera mencari bunga itu." Akupun mulai bangun dan keluar dari ruangan ini, aku berniat untuk mencari Ai untuk bertanya tentang pedangku, karena aku tak melihat kedua pedangku, dan mungkin saja ia yang menaruh pedangku di sebuah tempat.
Setelah beberapa saat berjalan, aku melihat Ai sedang duduk meja yang ada di dekat jendela. "Ai, apa kau tau dimana pedangku?"
"Pedangmu?.. Ah, ini. (memberi pedang Shirameku)"
Aku mengambil pedang Shirameku. "Lalu, pedangku yang satunya?"
"Ohh.. Maksudmu pedang yang berwarna biru itu, ya."
"Iya."
"Karena berat, aku meninggalkanya di luar."
"Apa!! Di luar.."
"Itu."
Aku cukup tekejut saat melihat ke luar jendela, ternyata rumah ini ada di dalam gua tempat aku bertarung dengan monster batu kemarin. Dan karena matahari sudah mulai terbit, seluruh tempat di dalam gua ini menjadi sedikit terang akibat dari sinar matahari yang masuk melalui lubang di dinding gua ini. "Apa rumah ini berada di dalam gua?"
"Iya. Tapi, jika dari luar, rumah ini tidak akan terlihat lo."
"Benarkah?"
"Iya."
"Kalau begitu.." Aku keluar dari rumah ini dan tepat seperti yang Ai katakan, rumah yang barusan aku tempati tidak terlihat. "B-bagaimana bisa?" Ini adalah sesuatu yang menakjubkan.
"Ini adalah sihir khusus milikku." Ai keluar dari rumah, dan menghampiriku.
"Sihir khusus?" Sesuatu yang tidak aku ketahui, dan dewapun tak pernah memberitahuku tentang sihir khusus yang sedang kami bicarakan ini.
"Iya, aku menggunakannya untuk membuat rumah ini tak terlihat oleh orang biasa. Lagipula, sebenarnya aku memiliki beberapa sihir khusus. Tapi, karena hal itu pula banyak orang yang mengincarku untuk dijadikan sebagai bahan percobaan ataupun alat untuk militer."
"Jadi, itu yang membuatmu membuat rumah di dalam gua ini. Untuk menghindar dari dunia luar yang kejam, ya."
"Iya."
Grrooooo..
Aku mendengar sesuatu yang tak asing bagiku, aku berbalik dan melihat monster batu kemarin tiba-tiba muncul di belakangku. "A-apa!!" Aku berniat menyerang monster itu kembali.
"Aki, jangan lakukan itu."
"Kenapa?" Ai melarangku menyerang monster yang berbahaya ini.
"Dia adalah penjaga yang aku buat untuk melindungi tempat ini dari orang asing."
"Penjaga?"
"Iya, kau tau'kan kalau aku memiliki sihir khusus. Oleh karena itu, banyak orang yang mencariku dan tak jarang aku harus berpindah-pindah tempat tinggal untuk mencari tempat yang aman. Oleh karena itu, aku membuat monster itu untuk menjaga tempat ini agar orang-orang tak menginjakkan kaki di tempat ini."
__ADS_1
"Begitu, ya." Ia membuat monster ini untuk menjaga rumahnya. "Tunggu dulu, membuat? Bagaimana caranya?"
"Sihir khusus milikku bisa menghidupkan benda mati, oleh karena itu aku bisa membuat monster penjaga ini dengan sihir khusus milikku ini."
"Begitu."
Seekor kucing seperti yang aku lihat kemarin datang dan menghampiri Ai.
"Ah, Pi, kau sudah kembali." Ai mengelus-elus sesuatu yang mirip kucing itu, dan sepertinya itu adalah peliharaanya.
"Hewan apa itu?" Aku cukup penasaran karena ini adalah pertama kalinya aku melihat hewan seperti itu.
"Dia adalah Pi, seekor kucing dewa, dia adalah temanku."
"B-begitu." Kucing dewa, itulah yang ia katakan padaku. "Apa hewan itu termasuk dewa di kalangan para kucing."
Karena aku rasa sudah cukup lama berada di sini, aku putuskan untuk keluar dari gua ini dan aku tak lupa mengambil pedang nagaku. "Aki, apa kau akan pergi?"
"Iya, aku datang kesini untuk mencari sesuatu yang penting."
"Begitu, ya. Kalau begitu, semoga kau berhasil, dan jika ada waktu mampirlah kembali kesini."
"Terima kasih atas tawaranmu itu, kalau begitu aku pergi dulu."
"Ya, selamat jalan."
Akupun pergi kaluar dari gua ini dan berjalan untuk mencari bunga yang bisa membangkitkan orang yang sudah mati itu di hutan ini.
_________________
"Ha, dia sudah pergi, ya. Apa masa depan yang aku lihat itu cuma sekedar penglihatan yang gagal. Padahal aku sudah menunggu lebih dari 500 tahun untuk hari ini." (Ai) Ai memiliki beberapa sihir khusus, keabadian, penglihatan masa depan, penciptaan, penghilang, dan sihir khusus yang masih belum di ketahui olehnya adalah membangkitkan.
"Nee, Pi... Apa menurutmu dia akan kembali lagi?"
Piii... (suara hewannya)
"Benar juga, ya. Ia pasti akan kembali, jadi aku harus menunggunya. Lagipula, ia yang akan membawaku keluar dari gua ini, dan membawaku ketempat yang aman. Benarkan, Pi.."
Piiii...!
Ai masuk kembali ke dalam rumahnya.
__________
Sementara itu, di luar gua.
Ada beberapa orang dari ras iblis yang mengintai tempat persembunyian Ai. "Hey, apa kau tadi lihat seorang manusia keluar dari gua itu.." (penjahat iblis 1)
"Apa itu tempat persembunyian gadis iblis yang sangat berharga itu?" (penjahat iblis 2)
"Bagaimana kalau kita serbu saja tempat itu, gadis iblis itu pasti ada di dalam sana." (penjahat iblis 3)
"Kalau begitu, pasukan serbu tempat itu." (penjahat iblis 1)
Para penjahat ras iblis itu berjumlah sekitar 30-50 orang, dan mereka secara bersamaan menyerbu tempat persembunyian Ai.
--------------
[Di dalam gua]
"Hey bos, apa benar gadis itu ada di dalam gua ini?" (Penjahat iblis)
"Sudah diam saja.." (Bos penjahat iblis)
Mereka semua mencoba untuk mencari keberadaan Ai. Dan karena itu...
Groooo.
Penjaga monster bangun dan dengan segera menyerang mereka. "Semuanya, menghindar. "(Bos)
Mereka semua menghindari serangan dari monster penjaga itu. "Monster apa itu?" (anak buah)
"Kalau begitu, berarti kita harus mengalahkannya dulu."
"Itu benar... Pasukan, SERANG!!"
Mereka semua menyerang monster batu itu secara bersamaan.
---------------
"P-penyusup!! Mereka banyak sekali, kalau seperti ini monster penjaga tidak akan bisa mengatasinya." (Ai) Karena monster penjaga hanya bisa mengatasi 5-10 musuh saja, dan jika ia dihadapkan dengan banyak musuh sekaligus, monster penjaga pasti akan terdesak dan bisa dengan mudah di kalahkan. "Apa yang harus aku lakukan.."
"Semburan api panas. Fire Ball" (???) Salah satu dari para penjahat itu memiliki kemampuan sihir api, dan penjaga monster sangat lemah dengan api.
"Penyihir api.. Jika seperti ini, penjaga monster tidak bisa bertahan lebih lama lagi."
Duaaarrr.
Monster penjaga meledak dan karena bunga yang ada di punggungya juga ikut terbakar, efek racun yang di keluarkan oleh bunga itupun tak berfungsi.
"Ternyata lebih mudah dari yang aku bayangkan. Baiklah semua, cari gadis itu." (Bos)
"Siaaapp!" (semua) Mereka semua memeriksa setiap sisi yang ada di dalam gua ini.
"Kalau seperti ini, aku hanya tinggal menunggu waktu saja sebelum mereka semua menangkapku." (Ai) Ai terlihat sangat ketakutan, karena saat ini segerombolan orang tepat berada di depan rumahnya. Dan hanya tinggal menunggu waktu saja sebelum para penjahat itu menyadari sihir khusus milik Ai.
-------- Setelah beberapa menit --------
"Bos.." (???)
"Ada apa?" (Bos)
"Aku merasa ada yang aneh dengan batu itu.."
"Begitu, ya. Hey, siapa saja, gunakan sihir api ke arah batu itu."
"Baik.."
"Gawat, mereka sudah menyadarinya." (Ai)
"Semburan api panas. Fire Ball." (???) Salah satu penyihir dari penjahat itu melancarkan serangan sihir api tepat ke arah rumah Ai. Dan karena serangan itu, efek sihir penghilang milik Ai lenyap.
"Rumah? Bagaimana bisa?" (???) Mereka semua dapat melihat rumah Ai yang sebelumnya tak terlihat.
"Pasukan, geledah rumah itu.."
"Baik!!" Mereka semua mulai menggeledah rumah milik Ai.
----------- Beberapa menit kemudian ---------
"Lepas!!" Mereka menemukan Ai, dan menyeretnya keluar.
"Hoo, jadi dia gadis iblis yang dicari oleh sang raja. Ternyata kau cukup cantik juga." (bos)
"Lepaskan aku!!" Ai berusaha memberontak untuk bisa melepaskan diri dari para penjahat itu. Tapi, karena perbedaan tenaga, Ai tak bisa melepaskan diri.
"Bagaimana kalau kita bermain-main dulu dengannya.." (Bos)
"A-apa yang akan aku lakukan!!" (Ai)
Bos penjahat itu mulai melakukan sesuatu yang kejam terhadap Ai.
"Hoo... Ternyata kau memiliki tubuh yang indah juga."
"A-aku mo-hon.. Le-lepaskan aku. (Air mata Ai menetes)"
"MANA MUNGKIN AKU MELAKUKAN HAL ITU. HAHAHAHAHA... LIHATLAH DIRIMU, KAU MEMILIKI TUBUH YANG SANGAT INDAH."
"A-aku mohon... Le-lepaskan aku... Aki, tolong aku."
__ADS_1
"Hahaha. Tak akan ada yang menolongmu. Dan karena itu pula, saat ini aku akan menikmati setiap inci dari tubuhmu yang indah itu." (Bos) Tepat saat bos penjahat ingin menyentuh tubuh Ai.
Sraaasshh.
Seketika kedua tangan bos penjahat itu terpotong. "Hey, apa yang ingin kalian lakukan beramai-ramai dengan seorang gadis." Dan yang melakukan itu adalah Hiroaki, ia menggunakan pedang naga untuk membuat angin tipis untuk memotong tangan bos penjahat itu, dan ia juga datang ketempat ini bersama dengan Pi.
"Ha, ha... AHHHHHH!!!!! (Histeris) S-sembuhkan tanganku, cepat."
"Ba-baik. Cahaya penyembuh, Heal." (???)
Pendarahan yang ada di kedua tangan si bos penjahat berhasil di hentikan. "B-beraninya kau!! Habisi dia!!!"
"Jadi kalian ingin melawanku, ya. Baik, akan aku layani kalian semua."
Para penjahat itu maju secara bersamaan menyerang Hiroaki yang sendirian.
Sraasshh
Slaahhh
Tapi, karena pedang naga miliknya, ia dengan mudah mengalakan semua penjahat itu. Dan hanya tersisa bos penjahat. "B-bagaimana mungkin."
"Selanjutnya adalah giliranmu." Hiroaki perlahan berjalan mendekati bos penjahat.
Sebuah bola api raksasa meledak tepat ke arah Hiroaki yang sedang berjalan mendekati bos penjahat itu.
Swuuutt.
Duaarrr.
"Aki!!"
"Hahaha, bagus. Dengan serangan seperti itu, dia pasti sudah mati." (Bos)
Ternyata, masih tersisa 1 penyihir yang bersembunyi di belakang bebatuan yang ada di gua ini. "Huh, tadi itu hampir saja."
"T-tidak mungkin. (terkejut)"
Hiroaki menangkis serangan sihir itu menggunakan pedang naga. "Jadi masih ada yang tersisa, ya. Bagaimana kalau..."
Hikari menebaskan pedangnya ke arah satu penyihir itu bersembunyi secara horizontal.
Duaaarrr.
Serangan Hiroaki membuat sebuah lubang besar dan lubang itu tembus keluar gua. "Wahh, aku berlebihan..."
"B-bagaimana mungkin.."
Hikari kembali mendekat ke arah bos penjahat itu. "J-jangan mendekat, atau aku akan membunuh gadis ini." Tangannya yang terpotong tadi, tiba-tiba tumbuh dan ia juga mengarahkan sebuah pisau tepat ke leher Ai.
"Regenerasi, ya. Gawat juga. Itu persis seperti apa yang pertama kali aku lihat saat datang ke dunia ini tapi..."
"Pi.."
Piii...!
Pi melompat ke arah wajah bos itu. "A-apa ini, lepaskan!!" Tanpa sadar, si bos melepaskan tawanannya.
Pi melompat menjauh dari si bos dan dengan cepat Hiroaki menebas si bos menjadi potongan-potongan kecil menggunakan pedang naga. "Dengan ini, dia pasti tidak akan bisa meregenerasi tubuhnya lagi."
"A-Aki!!"
_______________
"Ai..." Aku berbalik melihat ke arah Ai.. Dan setelah berbalik, aku kembali berbalik lagi. "Tidak tidak tidak tidak tidak, aku tidak melihatnya.. Aku tidak melihatnya." Aku kembali melirik ke arah Ai. "AHHHHH Aku melihatnya....!!!!"
"Ahhh!!"
"A-A-Ai.. K-kau bisa menggunakan ini." Aku melemparkan jaket milikku ke arah Ai dan berusaha untuk tidak melihatnya. "Gawattt, ini sangat gawatt!!"
"A-Aki, apa kau melihatnya?"
"T-tidak, a-aku tidak melihatnya.."
--------- Beberapa saat kemudian ---------
Ai menghampiriku yang berada cukup jauh darinya, dan ia juga sudah mengenakan jaket yang aku berikan padanya untuk menutupi tubunya. "Ahhh. Gawat, apa yang akan dia lakukan padaku.." Ai menghampiriku, dan aku tak tau apa yang akan dia lakukan padaku.
"Aki, terimakasih, karena kau sudah datang menolongku. Jika saja kau tidak datang, aku tak tau apa yang akan mereka lakukan padaku."
Diluar dugaan, aku kira Ai akan marah padaku, tapi ternyata tidak. "K-kau tak usah berterima kasih padaku, aku hanya membalas kebaikan yang kau lakukan padaku kemarin. Lagipula, aku kembali ke tempat ini karena Pi tiba-tiba mendatangiku dan ia terlihat sangat panik. Jadi aku putuskan untuk kembali."
"Terima kasih Pi. Tapi, karena kau sudah melihatnya, kau harus bertanggung jawab."
"A-apa!! Bertanggung jawab. T-tapi..." Aku kira Ai tak mempermasalahkan hal itu, tapi nyatanya ia ingin aku bertanggung jawab.
"Jika kau tak mau bertanggung jawab kerana telah melihat tunuhku, aku tak akan memaafkanmu."
"Hah. Baiklah. Tapi, apa yang harus aku lakukan agar kau mau memaafkanku." Sebenarnya aku tak mau melakukan hal ini, tapi karena aku juga yang salah sudah melihat tubuh seorang gadis meskipun itu tak disengaja.
"Apa kau mau menuruti apa yang aku katakan.."
"Iya iya.. Aku akan menuruti apa yang kau katakan."
"Kalau begitu..." Ai mendekat ke arahku.
"H-hey, A-Ai. A-apa yang ingin kau lakukan."
"Jika kau bergerak aku tak akan memaafkanmu."
Ai mengancamku. "B-baiklah." Akupun menuruti apa yang dikatakan olehnya.
"Aki, bisa kau pejamkan matamu."
"K-kenapa?"
"Sudah, pejamkan saja matamu."
"B-baik.." Akupun menuruti kata-katanya, dan memejamkan mataku. Aku tak tau apa yang akan dia lakukan padaku, tapi aku harap ia tak melakukan sesuatu yang kejam kepadaku.
--------- Beberapa saat kemudian ---------
Aku merasakan sesuatu yang lembut menyentuh pipiku, akupun dengan terpaksa membuka mataku. "A-A-Ai, A-apa yang kau lakukan..." Aku bergerak mundur menjauhi Ai yang sedang mencium pipiku.
""T-tidak ada. A-Aku hanya melakukan apa yang seorang istri lakukan."
"Hah?? I-Istri?"
"I-iya, karena kau su-sudah melihat tubuhku, kau harus bertanggung jawab dengan menikahiku."
"Hah.. T-tapi, kenapa harus menikahimu?"
"K-karena kau sudah melihatnya, dan jika kau tidak mau, kau harus dibunuh seperti yang lainnya. Begitulah peraturannya."
Aku tak tau kalau ada peraturan seperti itu di dunia ini. "Tapi..."
"Kau tadi bilang akan menuruti apa yang aku katakan. Apa kau ingin melanggar ucapanmu.."
Ai kembali mengancamku, dan mau tak mau aku harus menurutinya. Tapi menurutku, menikahinya itu terlalu berat, lagipula aku masih harus menemukan buah kebangkitan itu dan setelah aku menemukannya, aku harus mendengarkan apa yang Rin ingin katakan padaku waktu itu. "Baiklah. Tapi, berikan aku sedikit waktu, aku mempunyai tugas lain yang harus aku lakukan saat ini."
"Baiklah..."
Piii.... Pi melompat ke arah Ai.
"Aku berhasil Pii.."
Aku tak tau apa yang Ai inginkan dariku, tapi sepertinya ini bukanlah hal yang baik.
Bersambung
__ADS_1