
“Ha, kenapa bisa jadi seperti ini.” Aku menjadi buronan disini, seluruh orang mencariku. “Aku harus segera menyelesaikannya sekarang juga, jika tidak aku akan terlibat masalah lebih jauh lagi dengan mereka.”
Aku perlahan bergerak menuju ke gunung Akaku, tempat dimana markas Yokai lainnya berada. “Itu orangnya. Tangkap dia!!”
“Gawat, aku ketahuan.” Mereka menemukanku, aku segera pergi dari tempat ini. Tujuanku, gunung Akaku.
-------------------------
“Wakil ketua, kami sudah menemukannya.”
“Segera tangkap dia!”
“Tapi wakil ketua, dia melarikan diri ke gunung Akaku.”
“Kalau begitu itu bagus. Cepat tangkap dia disana.”
“Baik.”
“Wakil ketua, apa tidak apa-apa melakukan ini padanya?” (???)
“Bicara apa kau? Orang yang sudah menginjak kehormatan ketua, pantas mendapatkannya.”
--------------------------
“Rein, apa dia akan baik-baik saja?” (Rury)
“Entahlah, tapi dia itu kuat, bahkan sangat kuat. Aku rasa dia akan baik-baik saja”
“Oh ya, dia memberikanku ini.” Rury memberikan uang yang diberikan Hikari pada Rein. “Dia tidak bilang apa-apa, tiba-tiba saja ia memberikan semua ini padaku.”
“Begitu, ya. Kau membuatku berhutang padamu.”
-------------------------
Digunung Akaku.
“Woy woy, mau sampai mana kalian mengejarku.” Mereka terus saja mengejarku. “Cih, ini sangat tidak adil.” Mereka terbang, sedangkan aku hanya berlari. Ini sangat tidak menguntungkan untukku.
Duarrrrr.
“Woy!! Apa maksunya ini.” Mereka juga menyerangku. “Apa yang sebenarnya kalian inginkan!!”
Duarrr Duarrr. Sfx : Ledakan.
Serangan demi serangan mereka lancarkan padaku, dan aku hanya menghindarinya. Jika sampai aku membalas, mungkin akan terjadi sesuatu yang buruk pada mereka, makanya aku tidak melakukan itu. Lagipula, jika tugasku sudah selesai, sudah dipastikan kalau aku akan langsung pergi meninggalkan dunia ini. Dan itu, sudah ada di depan mata. Gua dimana markas Yokai itu berada. “Aku, akan segera menyelesaikannya.”
Aku langsung masuk kedalam gua itu, dan saat didalam. “Mereka tidak mengikutiku.” Mereka sepertinya tau kalau tempat ini sangat berbahanya, dan jika seperti itu berarti itu benar kalau tempat ini adalah markas Yokai lainnya. “Ha. Shirame, Ryuga.” Seketika kedua pedangku langsung muncul. “Ha. Baiklah, para Yokai sekalian. Selamat tinggal…”
------------------------
“Kalian, apa yang kalian lakukan disini. Mana orang itu?” (Wakil ketua)
“Wakil ketua, dia masuk kedalam gua disana.”
“Masuk kedalam sana? Yang benar saja! Apa dia cari mati! Segera panggil pasukan yang lain, kita membutuhkan orang itu hidup-hidup.”
“Baik.”
“Untuk sisanya, kalian bisa ikut denganku.”
“Baik.” Mereka masuk ke dalam gua itu.
“Hiroaki ada didalam, aku harus menolongnya.” (Rein) Tanpa disadari, tenyata Rein mengikuti di belakang mereka.
-----------------------------
“Ha, tinggal kau saja yang tersisa, dengan begini tugasku akan selesai.”
“Hahaha... Aku tidak akan bisa dikalahkan dengan mudah, aku ini berbeda dengan Yorou.”
__ADS_1
“Yorou? Siapa? Ah… Apa dia ketua Yokai yang aku kalahkan itu?”
“Ya.”
“Hmm… Memang benar, dia sangat lemah.” Aku sedikit tersenyum. “Kau sepertinya berbeda denganya. Oleh karena itu, buat pertarungan ini menarik. Dan jangan membuatku kecewa.”
“Hahaha… Aku suka dengan senyumanmu itu, aku harap itu tidak menjadi senyuman terakhirmu.”
“Hahaha…”
Ctang.
Adu pedang terjadi. “Kau hebat, bisa menahan seranganku ini. Aku puji kehebatanmu itu.” (Ketua Yokai)
Ctrangg.
Ia melompat kebelakang. Kulitnya cukup keras, ia hanya tergores terkena serangan Shirame. “Kalau boleh tau, siapa namamu?”
“Hiroaki…”
“Hiroaki, akan aku ingat.”
“Kau akan mengingatnya, tapi bukan didunia ini. Melainkan di tempat yang lain.”
Aku menyerangnya lagi menggunakan Shirame, dan dilanjutkan dengan serangan vertikal dari Ryuga.
Ctrasss.
“Senjata apa itu?” Tangannya terluka akibat menangkis serangan Ryuga.
“Pedang andalanku. Ryuga.”
“Itu dia!” (???) Terdengar suara yang mendekat kesini.
“Mereka...”
“Penggangu, harus dilenyapkan.” Dengan cepat ia bergerak menuju kearah orang yang mengikutiku tadi. “Rasakan ini!!”
Aku bergerak dengan cepat dan kembali menangkisnya dengan pedangku, dan karena itu sebuah pusaran angin terbentuk akibat kuatnya serangan yang dilancarkan olehnya. “Ho… Kau bisa menahannya.”
“Kalian, apa yang kalian lakukan disini. Cepat pergi!”
“Manusia yang mengganggu pertarungan kita, akan aku lenyapkan mereka.” Ia kembali bergerak dengan cepat, dan sekali lagi aku menangkis serangannya.
“Cepat pergi!! Kalian menggangu!” Ini membuatku semakin kesal.
Ctang
Ctang
Ctang
Serangan demi seranga ia lancarkan, dan aku berhasil menangkisnya, dan itu memberikan waktu untuk orang yang mengejarku itu melarikan diri. “Ha. Dengan begini, aku bisa leluasa bertarung.”
“Masih ada… Mati kau!!” Ia bergerak dengan sangat cepat.
“Rein!!” Tanpa disadari, ternya Rein ada di dalam gua ini juga. “Sial…” Senarnya aku tak ingin menggunakan ini, tapi karena ini sudah keadaan yang genting. Jika tidak aku gunakan, nyawa seseorang akan dalam bahaya.
“Rasakan ini!!”
Slassshhh
Crassshhhhh
Aku seketika berada di depan ketua Yokai itu. “Waktumu sudah habis, selamat tinggal.”
“A-Apa yang sudah terjadi…”
Srasshhhh
__ADS_1
Tubuhnya terbelah menjadi potongan-potongan kecil. Sebuah tehnik yang aku dapatkan dari kemampuan baru ini. ‘Sang penghancur’. Memiliki dampak serangan yang berbahaya tapi kekuatan serangannya cukup kuat. “Rein, kau tidak apa-apa?”
“Y-Ya, aku baik-baik saja.”
“Ha, syukurlah.” Aku kira dia juga akan terkena dampaknya, ternyata tidak.
“Hiroaki, tubuhmu.”
Saat aku melihat ke kedua tanganku, perlahan tubuhku mulai lenyap. “Sepertinya tugasku disini sudah selesai.”
“Tugas?”
“Ya, sebenarnya aku bukan dari dunia ini. Aku dari dunia yang berbeda, aku datang kedunia ini karena aku memiliki sebuah tugas yang harus aku selesaikan.”
“Membasmi Yokai?”
“Ya, seperti itulah. Oh ya, sebaiknya kau menjaga istrimu itu baik-baik. Aku juga mempunyai keluarga, kau pasti mengerti perasaanku. Meninggalkan keluarga yang berharga bagimu, dan pergi ke tempat yang sangat jauh dari mereka.”
“Ya, aku mengerti.”
“Sepertinya waktuku sudah tiba. Selamat tinggal.”
“Hiroaki.”
“Ada apa?”
“Terima kasih.”
“Tentang apa?”
“Semuanya.” Aku tersenyum, mendengar hal itu, aku langsung paham apa yang ingin dia katakan padaku.
“Selamat tinggal.”
_______________________
“Hmm, ini lebih lama dari perkiraanku.” (Dewa Sha)
“Dewa Sha.” Aku kembali ketempat semula, sebelum aku dikirim keduni Rein. “Lama? Padahal baru 3 hari.”
“3 hari di dunia itu sama dengan 2 minggu di duniaku.”
“A-Apa!! 2 minggu!!” Mendengar hal itu aku sangat terkejut. Itu karena dewa Sha tidak memberitahuku tentang hal itu sebelumnya.
“Ha. Seperti yang aku duga, ia pasti lupa memberitahukannya padamu. Kalau di setiap dunia yang ada disini memiliki aliran waktu yang berbeda-beda, tapi tidak jarang ada dunia yang memiliki aliran waktu yang sama seperti dunia lainnya.”
“Begitu… Dewa Sha, tolong kirim aku kembali secepatnya.”
“Ha… Baiklah.” Clik…
Seketika, aku langsung berpindah tempat. “Papa!!”
Gubrakk
Inori berlari dan langsung memelukku, itu membuatku kehilangan keseimbangan. “Akhirnya papa pulang…”
“Ah… Maaf karena terlalu lama. Bagaimana dengan mama Rin, mama Emilia, mama Sia, dan mama Ai. Apa mereka baik-baik saja?”
“Iya, mereka baik-baik saja.”
“Kenapa kau lama sekali.” (Emilia)
“Emilia, ya. Dimana Rin dan yang lainnya?”
“Mereka sedang makan malam.”
“Ah, benar juga.” Ini sudah masuk jam makan malam.
“Papa, ayo kita makan bersama.”
__ADS_1
“Ya…”
Ini dia, kehidupan yang aku inginkan. Kehidupan yang damai bersama keluargaku. Setidaknya aku berharap ini akan berlangsung cukup lama, sampai ketidakstabilan selanjutnya muncul. Sampai saat itu tiba, aku ingin menikmati hari-hari bersama mereka.