Watashi No Hanayome

Watashi No Hanayome
19


__ADS_3

1 tahun berlalu.


"Ai, kenapa kau memengang perutmu? Apa perutmu sakit?"


"Ah, tidak hanya saja."


"Hanya saja?" Wajahnya mulai serius. "Ai, ada apa? Apa kau sedang tidak enak badan?"


"Sha, sepertinya aku hamil."


"A-A-A-Apa yang kau katakan!!" Mendengar hal itu, membuatku sangat terkejut. "A-Aku padahal be-belum pernah me-melakukan ap-apapun padamu."


"Hahaha. Aku hanya bercanda."


"J-jangan bercanda seperti itu lagi, i-itu sama sekali tidak lucu."


"Ahh. Jangan-jangan kau marah, ah lihat wajahmu memerah. Apa kau tersipu?"


"Hentikan, belakangan ini kau sering menggodaku." Seperti yang aku katakan, belakangan ini Ai mulai sering menggodaku. 


"Sha, hari ini kau ingin makan apa?"


"Makanan biasa saja."


"Begitu. Baiklah, berarti hari ini aku akan membuat sup daging."


"Wah. itu sangat luar biasa." Meskipun semua masakan yang dibuat oleh Ai sangat enak, tapi aku paling menyukai masakan sup daging buatannya. Entah kenapa saat pertama kali mencobannya aku langsung menyukainya.


Setelah cukup lama.


"Nah, makanannya sudah siap."


Suluruh hidangan sudah tersaji di atas meja. "Kalau begitu, selamat makan."


"Selamat makan."


Kamipun mulai makan.


Selesai makan.


"Ahh. Sup yang kau buat memang yang terbaik." Aku duduk dengan tenang, dan Ai sedang membersihkan piring.


"Terima kasih. Oh ya Sha, bukannya hari ini kau bilang akan ada ada pertemuan?" 


"Oh ya. Tapi, aku malas. Mungkin aku tidak akan ikut pertemuan itu."


"Kenapa? Bukannya kau bilang itu adalah hal yang cukup penting." 


"Memang benar sih." Pertemuan antar dewa, hari ini ada pertemuan itu dan pertemuan itu membahas tentang sesuatu yang aku tidak tau. "Tapi, aku hari ini sangat malas."


"Kau tidak boleh begitu. Bukannya kau harus mendatangi pertemuan itu."


"Ha, baiklah."


"Aku akan menyiapkan pakaianmu sebentar lagi, jadi tunggu."


"Ya."


-------


"Nah. Ini cocok untukmu."


"Eh, Ai."


"Ya, ada apa?"


"Dimana kau dapat pakaian ini?"


"Aku membelinya waktu itu, saat kau bilang akan ada pertemuan penting. Jadi, tidak ada salahnya jika aku membeli pakaian ini untukmu. Lagipula kau terlihat tampan menggunakan pakaian ini."


"B-Begitu, ya." Mendengar pujiaannya membuatku tersipu.


"Nee Sha. Apa kau mau mendengarkan permintaanku."


"Hm. Permintaan apa itu?"


"M-Maukah, kau menikahiku."


"Eh? T-Tapi, aku.."


"Kau tak perlu menjawabnya sekarang, pikirkan saja dulu. Aku akan menunggu jawabanmu."


"B-Baiklah."


"Oh ya, dan 1 hal lagi."


"Apa itu?"


"Sha, aku mencintaimu." Mendengar kata itu darinya membuatku terdiam untuk waktu yang cukup lama. 


"Cepat, nanti kau terlambat."


"B-Baiklah." Aku bergegas keluar dari rumah. "Ai, jaga dirimu baik-baik."


"Iya, aku mengerti."


"Kalau begitu, aku berangkat."


"Ya, hati-hati dijalan." Ai melambaikan tanganya padaku, dan aku berbalik melambaikan tanganku padanya.


"Menikahinya, ya." Saat aku memikirkan hal itu, entah kenapa itu membuatku tersenyum sendiri. "Hehehe."


"Dewa Sha, apa yang sedang kau pikirkan di tengah-tengah pertemuan penting ini?" (Dewa Ari)

__ADS_1


(Ruang pertemuan antar dewa.)


"M-Maaf."


"Wah, sepertinya ada sesuatu hal yang baik yang terjadi padamu dewa Sha, sampai kau tersenyum seperti itu." (dewa Kuu)


"Palingan dia hanya memikirkan tentang manusia rendahan itu." (dewa Ra)


"Apa katamu!!"


"Nah, sudah cukup. Bisa hentikan kebiasaan buruk kalian saat saling bertemu ini, aku sudah bosan melihatnya. Dewa Ari, bisa kau lanjutkan tentang pembahasan kali ini." (dewa Yu) 


"Baiklah. Kali ini, aku akan membahas tentang dunia yang sudah menuju kehancuran. Bagaimana menurut kalian, apa perlu dunia itu di daur ulang atau dimusnahkan saja." (Dewa Ari)


"Dunia itu, ya." (dewa Fu)


"Jadi dunia itu sudah menuju kehancuran, ya." (dewa Nii)


"Dunia itu? Dunia yang mana?"


"Dewa Sha, apa kau tidak tau?" (dewa Kuu)


"Tidak."


"Dunia itu dijaga oleh dewa Ryu, tapi karena dewa Ryu sudah tidak ingin mengurus dunia itu jadi dewa Ryu mengabaikannya. Dan sekarang dunia itu sedang menuju ke kehancuran."


"Hmm. Begitu. Ada 1 pertanyaan dariku."


"Dewa Sha, pertanyaan apa itu?"


"Jika dewa Ryu tidak ingin menjaganya, lebih baik hancurkan saja. Lagipula semua dewa disini aku yakin sudah memiliki dunia mereka sendiri, aku benar'kan."


"Tepat seperti katamu, tapi..." (Dewa Ari)


"Pemusnahan dunia tidak bisa dilakukan semudah itu." (Dewa Nii)


"Haa? Bukannya tinggal minta saja dewa Ryu untuk menghancurkan dunianya itu."


"Benar, tapi saat ini dewa Ryu sedang pergi." (Dewa Yu)


"Pergi kemana dia."


"Entahlah, tapi dia bilang ia bilang padaku, tidak akan kembali dalam waktu yang lama. Sepertinya ia sedang menenangkan diri." (Dewa Kuu)


"Cih, dasar." Jika dilanjutkan, ini akan memakan banyak waktu. "Kalau begitu, daur ulang saja."


"Siapa yang akan menjaganya?" (Dewa Ari)


"Aku yang akan menjaganya."


"Begitu, baiklah. Dewa Sha, ayo ikut denganku sebentar, kita lihat dunia yang akan kau jaga itu." (Dewa Ari)


"Baikl..." Seketika aku merasakan sesuatu yang buruk sudah terjadi.


"Aku akan segera kembali.(menghilang)"


"Apa yang terjadi dengan dewa Sha?" (Dewa Yu)


"Jika dilihat dari ekspresi wajahnya, sepertinya ada masalah yang serius yang sudah terjadi." (Dewa Kuu)


"Jadi, bagaimana ini? Jika tidak segera dilakukan, kita tidak bisa berbuat apa-apa lagi pada dunia itu." (Dewa Ari)


"Haaa. Baiklah, biarkan aku yang menjaganya." (Dewa Yu)


"Dewa Yu, kau yakin."


"Dewa Yu, bukannya kau sudah punya 150 dunia yang sudah kau awasi. Jika menambah dunia lagi-..." (Dewa Ra)


"Sudahlah, ini adalah tugasku. Lagipula aku hanya melakukan apa yang ingin aku lakukan."


"Begitu.. Baiklah dewa Yu, kau bisa ikut denganku."


------------------


Di sore hari, rumah gua.


Gubrakk. Sfx : Buka pintu.


"Ai!!"  Saat aku membuka pintu rumah, tidak ada orang disini. "Ai, apa kau ada disini. Jawab Ai!!" Aku sama sekali tidak bisa merasakan keberadaannya. "Cih, dimana dia."


Aku menlanjutkan mencari keluar gua, dan... "Ini." Aku menemukan sesuatu. "Jepit rambut yang pernah aku berikan padanya." Aku menemukannya tergeletak didekat luar gua. "Sial!! Ai DIMANA KAU!!" Aku sama sekali tidak mendengar ia menyebut namaku, dan itu membuatku sangat khawatir.


Beberapa saat kemudian.


"I-Ini." Meskipun sedikit, aku bisa mendengar suara Ai. Dan suara itu berasal dari sebuah bukit yang ada di dekat perbatasan benua elf dan manusia. "Cih, aku harus cepat."


Aku menghilang dan langsung sampai di tempat, tapi... "A-A-Apa yang kalian lakukan padanya." Aku melihat sesuatu yang sangat kejam. Ada lebih dari 200 orang berkumpul dibukit ini, dan aku melihat mereka menyiksa Ai.


"Orang itu, bagaimana dia bisa berada dibukit ini. Bukannya tadi tidak ada orang lain selain kita yang pergi ketempat ini."


"Kalian, tidak akan aku maafkan. 'Musnahlah kalian'" Setelah aku berkata seperti itu, disini hanya tersisa Ai, dan genangan darah dari para penduduk itu. "A-Ai, apa kau baik-baik saja. Bertahanlah aku akan menyelamatkanmu."


"S-Sh-Sha. K-Kau da-tang."


"I-Iya, aku datang." Tanpa aku sadari, untuk pertama kalinya air mataku perlahan mulai keluar.


"Ke-napa k-au me-nangis." Ai mengusap air mataku menggunakan tangganya yang sudah terluka. "J-angan m-enangis."


"Aku akan menyembuhkanmu, bertahanlah."


"Nee, S-Sha."


"Ai, jangan bicara lagi. Aku mohon."

__ADS_1


"A-pa be-nar ka-u seo-rang dewa." Mendengar hal itu, aku terdiam. "T-ternyata be-nar apa y-ang mer-eka katakan. K-alau kau adalah de-wa."


"Ai, sudah. Jangan bicara lagi." Disini aku tidak bisa menggunakan hakku sebagai seorang dewa dengan sepenuhnya, dan karena itu aku tidak bisa mengobati luka parah yang dialami oleh Ai disini. "Aku akan membawamu, tahan sebentar saja."


"Sha, terima ka-sih su-dah menjagaku."


"Ai, jangan katakan apapun lagi. Ya, jika kau bertahan aku akan menikahimu, aku janji."


"B-Benarkah. A-ku sangat b-ahagia men-dengar hal i-itu, tapi a-ku su-dah tid-ak kuat lagi. Sha, te-rima ka-sih."


"Ai, aku mohon. Bertahanlah." Aku sudah sampai di tempatku mengawasi, jika ditempat ini aku bisa menggunakan hakku sebagai dewa dengan leluasa. "Ai. Bertahanlah." Aku menggunakan hakku sebagai dewa untuk menolong Ai, tapi. "Kenapa? Kenapa tidak bisa!" Aku tidak bisa menghidupkan Ai kembali. "Ai. AI!!" Air mataku mulai menetes, dan membasahi wajah Ai. "A-Aku minta maaf, a-aku tida bisa melindungimu. Maafkan aku."


------


"Dewa Sha, ternyata kau disini. Huh? Dia." Seseorang datang ke tempatku.


"D-Dewa Yu." 


"Apa yang terjadi padanya?"


"Aku tidak bisa menghidupkannya kembali, aku tak tau harus melakukan apa untuk membuatnya sadar. Aku mohon dewa Yu, tolong bantu aku." 


Dewa Yu berjalan mendekati Ai yang sedang terbaring. "Hmm. Kau bisa kembali menghidupkannya, dengan 1 cara."


"Apa itu? Katakan padaku."


"Haa. Baiklah, apa yang ingin kau korbankan untuk membangkitkannya?"


"Korbankan."


"Iya, semulanya dunia yang kau buat ini tidak memperbolehkan yang mati hidup kembali. Oleh karena itu apa yang ingin kau korbankan. Untuk membangkitkannya."


"Apapun itu, agar dia bisa hidup kembali. Aku akan mengorbankan semuanya."


"(tersenyum) Baiklah. Kalau begitu."


"Agh,..." Aku merasakan sedikit rasa sakit didadaku. "D-Dewa Yu."


"Aku mengambil sedikit keabadian milikmu untuk aku berikan padanya."


"Keabadian? Itu berarti."


"Ya, dia akan abadi."


"B-Begitu." Mendengar hal itu membuatku sangat senang.


"Tapi, ada 1 hal yang harus kau ingat."


"Apa itu?"


"Gadis ini, akan melupakan semuanya tentangmu. Seluruhnya, apapun yang berhubungan denganmu."


"T-Tidak mungkin." Mendengar hal itu, aku merasa putus asa. "Melupakan segelanya tentangku." Ini pertama kalinya aku merasakan hidup yang sebenarnya, tapi ini berakhir begitu cepat. "Aku, aku..."


"Yo, aku datang." (Dewa Rai)


"Dewa Rai, ada keperluan apa kau kemari. Jarang sekali aku melihatmu pergi dari tempatmu."


"Ha, aku hanya melihat sesuatu yang menarik. Cinta seorang dewa kepada gadis manusia, bisa dikatakan seperti itu."


Saat dewa Rai berkata seperti itu, aku tidak bisa membantahnya. Aku memang mencintai Ai, itu karena aku selalu bersama dengannya sejak 1 tahun terakhir ini. Dan aku tak menyangka kalau perpisahan kami akan secepat ini.


"Dewa Sha, aku memiliki penawaran yang bagus untukmu. Bagaimana apa kau tertarik?" Aku hanya diam, tak menghiraukan kata-katanya. "Aku bisa membuat gadis itu hidup kembali. Dengan ingatan tentang dirimu."


"B-Benarkah?" Mendengar hal itu, aku merasa kalau masih ada sedikit harapan.


"Dewa Rai, apa yang kau rencanakan."


"Ah. Dewa Yu, kau diam saja. Aku berniat untuk membantu dewa Sha."


"Ha... Dewa Rai, bukannya itu..." (dewa Yu)


"Terima kasih dewa Rai." Mendengar dewa Rai ingin membantuku aku sangat senang.


"Tapi, ada bayarannya."


"Apa? Aku akan melakukan apapun asalkan Ai bisa-..."


"Penglihatanmu, korbankan penglihatanmu untuk menghidupkannya diduniaku."


"P-Penglihatanku."


"Aku tidak minta kau untuk mengorbankan semua, hanya salah satu dari penglihatanmu saja. Tidak lebih dari itu."


"Dewa Rai, bukankah itu sedikit-.."


"Baiklah." Aku sekilas melihat ke arah Ai. "Aku akan mengorbankannya, ini untuk membuatnya kembali hidup dengan ingatan yang utuh."


"Oh ya, ada 1 hal yang lupa aku katakan. Ingatan gadis itu akan disegel dan perlahan-lahan akan bangkit."


"B-Bagaimana bisa seperti i-..."


"Ingat, akan jadi masalah jika dia langsung mengingat tentangmu. Kau adalah seorang dewa, lagipula aku yakin kalau dia sudah tau identitasmu sebagai seorang dewa. Oleh karena itu aku akan menyegelnya. Dan saat ingatannya sudah kembali seutuhnya. Kalu bisa menemuinya secara langsung, tentu saja dari duniaku."


Meskipun bukan hal seperti itu yang aku inginkan. Tapi... "Baiklah." Dan setelah hari itu, aku kehilangan penglihatan di mata kiriku. Dan 2 Ai hidup di dua dunia berbeda, 1 Ai hidup di duniaku tapi tak memiliki ingatan tentangku, dan 1 Ai hidup di dunia lain dengan ingatan tentangku yang disegel.


--------


Begitulah ceritaku.


Mendengar cerita dari dewa Sha, aku hanya bisa menunduk. Waktu pertama kali melihat matanya, aku kira ia mengalami perbedaan gen. Tapi ternyata aku salah, ia mengorbankan penglihatannya untuk bisa menghidupkan Shiraku Ai. Seorang gadis yang sangat dicintai olehnya. "Hiroaki, berhenti menatapku seperti itu."


"M-Maaf dewa Sha. Tapi, hanya saja-..."

__ADS_1


"Kau bisa jadikan ceritaku itu sebagai pengingat antara dirimu dengan yang lain. Aku sudah tidak memikirkannya, karena suatu. Bukan, sebentar lagi ingatannya akan bangkit seutuhnya. Shiraku Ai, aku pasti akan menepati janjiku. Pasti."


__ADS_2