
Shirame dan Ryuga muncul. “K-Kekuatan macam apa itu?!!”
Perbedaanya cukup terasa. “Jadi ini kekuatan asli kedua pedangku.” Entah bagaimana mengatakannya, tapi ini jauh lebih kuat dari sebelumnya. “Bagaimana kalau aku coba dengan 2% dulu.”
“Raja Riel!! Bersiaplah, rasakan serangan terkuatku.” Ia menyerangku secara vertikal.
Dakkkk
Tepat saat aku menahan serangannya, tanah yang aku pijak retak dan menghasilkan lubang yang cukup dalam. Setidaknya serangannya kali ini cukup kuat, atau bisa aku bilang lebih kuat dari sebelumnya.
Beberapa saat kemudian.
Serangannya mulai melemah, dan ia secara bertahap menjauh. “Ha, ha, ha. Sepertinya, julukan itu bukan isapan jempol belaka.”
“Seranganmu barusan, lumayan juga.” Aku bisa menahan serangannya dengan kekuatan 2%, dan jika itu sebelum di tingkatkan mungkin akan butuh 4-5% kekuatan yang harus aku keluarkan. Jika seperti ini, mungkin aku bisa menggunakan kekuatan melebihi batas yang aku bisa. 15% adalah batasku sebelum peningkatan, dan mungkin saja aku bisa menggunakan lebih dari itu saat ini. “(tersenyum) Bagaimana, apa kau masih bisa menghiburku?”
“(mengangkat kedua tangan) Aku menyerah.”
“Huh?”
“Setelah tehnik andalanku dipatahkan dengan mudah seperti itu, aku sudah tidak memiliki kesempatan menang sedikitpun. Lagipula, tenagaku sudah habis setelah menggunakan tehnik itu.”
“Haa, begitu. Sudahlah, setidaknya aku sudah sedikit terhibur diawal tadi. Sampai jumpa di pertemuan selanjutnya.” Aku pergi dari sini, dan aku juga mendengar teriakan para penonton yang begitu meriah. ‘Sepertinya mereka menikmatinya.’
Beberapa saat kemudian, di ruang persiapan.
“Hiroaki, kau baik-baik saja?” Emilia dan Ai mendatangiku.
“Aku baik-baik saja.”
“Tapi, tadi bukannya kau menerima serangan kuat itu dengan telak, mana mungkin kau tidak apa-apa.”
“Aku baik-baik saja, setidaknya aku tidak terluka.”
“Sayang, yang tadi itu.”
“Huh? Ai, ada apa?”
“T-Tidak ada apa-apa.”
“Begitu.” Ada sesuatu yang ingin ia katakan, tapi karena ia tak berniat memberitahunya aku tidak akan memaksa. “Bagaimana kalau kita sarapan dulu. Aku sudah lapar.”
----------------
Sebuah tempat makan.
“Hiroaki, kau tadi bilang kalau kau lapar, tapi apa itu sudah cukup. Bukannya itu terlalu sedikit untukmu?”
“Kau kira aku apa.. aku hanya ingin mengisi perut saja. Yang lebih penting, kau makan sebanyak itu. Apa kau tidak takut berat badanmu bertambah.”
“T-Tidak sopan. Jangan berkata seperti itu didepan seorang gadis.”
“Heee.” Aku hanya tersenyum melihatnya. “Ai, apa yakin hanya makan segitu?”
__ADS_1
“Tidak apa-apa, lagipula aku tidak begitu lapar.”
“Begitu, ya sudah. Selamat makan.”
“Selamat makan.” Kami memakan makanan yang sudah kami pesan.
Sejujurnya aku cukup penasaran dengan pedang itu, ‘Demon Hunter’ memiliki kekuatan yang cukup besar, dan mungkin pedang itu adalah salah satu pedang terkuat yang pernah aku lawan. Meskipun aku hanya melawan Shima saja. Tapi setidaknya, pedang itu lebih kuat dibandingkan dengan milik Shima, ‘Hunter Sword’. “Hmm. Emi, ada yang ingin aku tanyakan.”
“Humm? Ada apa? (memakan makanannya)”
“Ahhh, sebaiknya kau habiskan dulu yang ada di mulutmu itu.”
“Bwaik.” Beberapa saat kemudian. “Lalu, ada apa?”
“Ini tentang kemampuan memanahmu, apa kau bisa menembak targer yang jauh?”
“Huh? Iya, aku bisa. Tapi, kenapa kau bertanya hal itu?”
“Sejauh mana target yang bisa kau tembak?”
“Setidaknya, 500 meter. Tapi, jika aku rajin berlatih mungkin bisa lebih jauh.”
“Hmmm, begitu.” Faktor pengalaman juga berpengaruh, ya. Alasan kenapa aku merasa kalau ‘Demon Hunter’ lebih kuat dari ‘Hunter Sword’ karena pengalaman mereka yang berbeda. Tapi.. “Jika sampai diangkat menjadi raja iblis, berarti dia memiliki pengalaman yang lebih banyak.”
“Hiroaki, ada apa?”
“Tidak ada apa-apa.” Setidaknya, bukan itu perbedaanya. ‘Apa ada tingkatan?’ Jika bukan pengalaman, berarti ada tingkatan untuk pedang ini. Jika seperti itu, wajar saja kalau ‘Demon Hunter’ lebih kuar daripada ‘Hunter Sword’. Dan, itu berarti Ryuga juga memiliki tingkatan. Berbeda dengan Ryuga, Shirame adalah pedang yang dibuat di pandai besi dan bukan termasuk buatan dewa karena itu Shirame sedikit berbeda, meskipun Shirame memiliki kekuatan yang sama seperti pedang buatan dewa atau mungkin lebih.
--------------
Pemandian air panas terbuka
“Haa, sudah lama sekali aku tidak berendam seperti ini. Menikmati pemandian setelah selesai rapat adalah hal yang bagus.” Tempat ini cukup nyaman, dan juga sangat tenang. “Sudah lebih dari 1 tahun, ya.” Setidaknya aku sudah berada di dunia ini lebih dari 1 tahun, mekipun ada beberapa bulan aku pergi meninggalkan dunia ini. Tapi, setidaknya sudah 1 tahun lebih sejak pertama kali aku dikirim ke dunia ini.
Saat-saat seperti ini mengingatkanku saat pertemuan pertamaku dengan dewa Sha. “Ha.. ini sangat nyaman.”
“Kyaaa. Jangan di pegang, itu geli.”
Glup, menelan ludah.
Yang aku dengar barusan adalah suara Ai. “Wah. Ai punyamu lembut dan sangat besar, bagaimana caranya agar bisa seperti itu?”
“M-Mana aku tau.”
“Nee Ai.”
“A-Ada apa? Jangan melihatku dengan tatapan menyeramkan seperti itu.”
“Ada yang bilang kalau kita memijatnya, akan membuatnya tambah besar.”
“L-Lalu…Eh? E-Emilia, a-apa… Kyaaa...”
“’Glup’ (menelan ludah) A-Apa yang mereka bicarakan.” Ketenaganku malam ini terganggu, dan tidak bisa dipungkiri kalau pembicaraan mereka membangkitkan sesuatu yang seharusnya tersegel. “Haa.”
__ADS_1
“Kyaaaa…”
“Woaaahhh… Ini sangat empuk.”
“A-aku mohon… Ja-jangan lakukan itu lagi.”
“Ai, ayolah… Aku juga ingin sebesar punyamu.”
“Haa. Mereka itu.” Aku hanya bisa menghela nafas dan mendengarkan pembicaraan mereka yang sebenarnya tidak ingin aku dengarkan.
“Ai, bisa pijat punyaku.”
“Tidak. Untuk apa aku melakukan itu.”
“Ayolah, ada yang bilang kalau akan ampuh jika ada yang memijatnya.”
“Kenapa tidak meminta padanya saja.”
“(Buff) M-Mana mungkin aku melakukan itu. L-Lagipula, dia tidak mungkin berani melakukannya.”
“Aku yakin kalau kau sendiri yang memintanya, dia tidak akan menolak.”
“I-Itu ada benarnya, tapi…”
“Hey kalian berdua. Bisa hentikan pembicaraan kalian. Aku sedang mencoba menikmati pemandian ini dengan tenang.”
“H-H-Hiroaki!!”
“(tersenyum) Sayang, apa kau mendengar semuanya?”
“A-Ai… Apa yang aku katakana!! H-Hiroaki. J-jika kau mendengarnya, aku mohon lupakan.”
“Haa, baik-baik. Tapi, aku minta tolong pada kalian berdua untuk diam. Ini adalah pemandian, tempat untuk menenangkan diri, bukan tempat untuk membicarakan hal mesum.”
“M-M-Mesum.”
“Adawww.” Sesuatu yang keras dengan kuat menghantam kepalaku. “Gayung kayu (nama sementara)”
“Yang mesum itu kau, mendengarkan pembicaraan para gadis. Dasar mesum!!”
“Haa. sudahlah. Aku pergi duluan.” Ketenangan hari ini hancur. “Haa, bagaimana ini?” Segelnya lepas, jika tidak segera dijinakkan ini akan sangat berbahaya. :v
Penginapan.
“H-Hiroaki. A-apa-apaan itu…”
“Ahh. Emi, kau sudah kembali. Dimana Ai?”
“Tunggu, jawab pertanyaanku, kenapa bisa jadi seperti itu?”
“Hmm, segelnya rusak.”
“Segel, apa yang kau katakan!! Dasar mesum!!”
__ADS_1
“Haa.” Malam ini, setidaknya akan jadi malam yang panjang.