Watashi No Hanayome

Watashi No Hanayome
57


__ADS_3

Malam hari, 19.55


Tempat ini sudah ramai, banyak orang yang melihat apa yang sebenarnya terjadi disini. “Jemputanku masih belum datang, ya.” Saat ini aku masih menunggu jemputanku datang. Tak ada jam disini, jadi aku tak tau sekarang masih kurang berapa menit menuju jam 8 malam.


Beberapa menit kemudian.


Sebuah mobil mewah datang. “Apa itu jemputanku?” Mobil itu berhenti, dan seseorang keluar dari dalam mobil itu. “Shirayuki.” Aku melihatnya keluar dari mobil itu, dan karena itupula aku langsung menghampirinya.


“Akarui-san, apa yang sebenarnya terjadi?”


“Tidak ada, hanya saja tadi ada sedikit masalah. Sudah, lupakan hal itu. Sebaiknya kita segera berangkat.”


“B-Baiklah.” Meskipun begitu, aku merasa kalau Shirayuki masih penasaran kenapa hal ini bisa terjadi.


Tapi... 'Aku tak menyangka kalau pedang Ryuga seberat itu. Kalau tidak salah, Ryuga sudah menghancurkan 2 gedung, dan gedung ke-2 ini.' Saat aku mengingat hal itu, aku kembali teringat kejadian dimana aku telah gagal dalam tugaku untuk yang pertama kali. 'Jika sampai aku gagal, apa dunia yang gagal aku selamatkan akan bernasib sama seperti dunia itu?' Jika memang benar, aku tidak ingin sampai gagal lagi.


Aku menghabisi para penjahat itu bukan tanpa alasan. Di dekat apartemenku, beberapa puluh meter dari apartemenku terdapat apartemen yang ditinggali oleh Sylvi. Jika aku tidak melakukan hal itu, kemungkinan mereka juga akan melakukannya padanya, dan itu bisa membuat tugasku gagal jika sampai dia terbunuh. Dan aku tak tau apa yang akan terjadi pada dunia ini jika sampai aku gagal dalam tugas ini. Dan aku ingin mencegah kegagalan itu.


Keinginan terbesarku saat ini hanya, aku ingin hidup tenang bersama dengan keluargaku. Hanya itu, aku tak menginginkan hal lain.


“Akarui-san, ada apa?”


“Ahh, tidak ada apa-apa. Aku hanya sedang memikirkan sesuatu.” Menjadi seorang dewa, dengan begitu aku bisa hidup dengan tenang bersama dengan keluarga yang aku miliki. Tapi, aku masih belum siap dengan hal itu. Setidaknya, aku membutuhkan waktu, waktu untuk berfikir.


Beberapa lama kemudian.


“Kita sudah sampai.”


Kami turun didepan sebuah apartemen yang begitu mewah, lebih mewah dari milikku sebelumnya. “Apa pertemuannya disini.”


“Iya, orang tuaku menyewa seluruh apartemen ini selama beberapa hari kedepan untuk persiapan pesta.”


“Weew...” Bisa sampai menyewa apartemen semewah ini selama beberapa hari. Berapa banyak uang yang harus dikeluarkan oleh orang tua Shirayuki, bukan pertanyaan itu yang seharusnya aku tanyakan, tapi.. seberapa banyak kekayaan milik orang tua Shirayuki.


“Akarui-san, ayo.”


“Y-Ya.” Aku berjalan mengikuti Shirayuki.


Di dalam apartemen


“Wah, luar biasa.” Di dalam sini terlihat sangat luas, dan juga sangat mewah. Ada cukup banyak orang yang ada disini. “Apa mereka semua tamu undangan.”


“Iya. Mereka semua adalah pemilik perusahaan yang terkenal.”

__ADS_1


“Begitu..” Orang-orang hebat ini berkumpul di satu tempat. Ini cukup mengagumkan.


“Papa, mama.”


“Huh?” Aku berbalik, dan melihat sepasang kekasih mendekat ke arah kami. 'Eh, mereka orang tua Shirayuki?'


“Ahh. Amane, bagaimana?”


“Aku sudah membawanya mama.”


“Begitu...”


“Hah, jadi kau, ya.” Tantapannya terlihat cukup menakutkan, tapi entah kenapa aku sama sekali tak merasakan apapun. Mungkin karena aku sudah pernah melihat hal yang lebih menakutkan dari ini.


“Nama saya, Akarui Hiroaki. Senang bertemu dengan kalian berdua.” Jika boleh jujur, ini adalah pertama kalinya aku berbicara sesopan ini pada orang, dan aku tak tau apa ini benar atau tidak.


“Sayang, sudahlah. Ahh... Amane, bisa kau temani Hiroaki-kun berkeliling apartemen ini sebentar.”


“Baik mama. Hiroaki, ayo.” Dia mengubah cara memanggilku didepan orang tuanya untuk membuatnya lebih realistis.


Tapi ini, terlihat seperti ada sesuatu yang disembunyikan. Dan sepertinya, ayah dari Shirayuki tidak menyukaiku. 'Haa. Sudahlah, lagipula aku cuma dimintai tolong. Urusan suka atau tidaknya, itu bukan masalah untukku.'


Beberapa menit kemudian.


“Eh, tentu saja. Mama sudah bilang seperti itu, maka aku harus menurutinya.”


“Haa.” Sepertinya dia tidak tau kalau kalimat yang diucapkan oleh ibunya adalah sebuah kiasan. “Begini, biar aku jelaskan.” Akupun menjelaskannya.


Beberapa saat kemudian.


“Eh, benarkah seperti itu?”


“Iya.” Aku tak tau, tapi sepertinya Shirayuki ini sangat penurut terutama terhadap ibunya. “Sudahlah, ayo kembali.”


“Ehh, tu-tunggu.” Aku tak mendengarkannya, dan kemudian kembali.


Beberapa menit kemudian.


Pestanya sudah dimulai, dan ini terlihat seperti pesta yang biasa. Tidak ada hal yang menarik. 'Tidak ada rasanya.' Mau minuman, makanan, semua yang aku makan tidak ada rasanya. 'Masih belum sembuh, ya.' Ini lebih lama dari perkiraanku. Sudah hampir 2 bulan, tapi ini belum sembuh juga. Meskipun begitu, aku tak begitu mempedulikaannya, karena aku sudah mulai terbiasa dengan hal ini. “Ah, Shirayuki, ada apa?” Tiba-tiba saja Shirayuki datang menghampiriku.


“Begini Akarui-san, ayah ingin bicara denganmu.”


“Baiklah.” Ada sesuatu yang aneh, dia memanggil ibunya dengan sebutan mama, tapi ia memanggil ayahnya dengan sebutan ayah, bukan papa. 'Bukan urusanku.' Mau ia memiliki hubungan buruk dengan ayahnya, aku tak peduli. Karena itu tidak ada untungnya buatku.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian.


“Ayah ada didalam, kau boleh masuk.” Shirayuki mengantarkanku ke sebuah ruangan.


“Baiklah.” Aku masuk kedalam.


Di dalam


“Wah, ini cukup mewah.” Sebuah ruang tamu yang terlihat begitu mewah.


“Ehem...” (Ayah SHirayuki)


Aku melihat ayah dan juga ibu Shirayuki yang tengah duduk berdampingan dikursi. “Hiroaki-kun, bisa kau duduk disini, ada yang ingin kami bicarakan denganmu.” (Ibu Shirayuki)


Menuruti apa yang dikatakan olehnya, aku duduk di kursi yang berhadapan dengan mereka. “Apa yang ingin anda bicarakan dengan saya?”


“Pertanyaan yang bagus. Kau pasti sudah tau kalau kami adalah pemilik perusahaan ternama yang ada di jepang.” (Ayah Shirayuki)


“Y-Ya.” Kalau boleh jujur, aku tidak tau. Tapi, karena aku ingin bermain aman aku jawab saja begitu.


“Kami hanya ingin tau, tentang keluargamu. Seperti pekerjaan, jabatan, atau hal lainnya.” (Ibu Shirayuki)


“Begitu...” Ibu Shirayuki terlihat lebih lembut dibandingkan dengan ayah Shirayuki. Dari pembicaraan ini, mereka berencana untuk mencari pasangan yang pas untuk putri mereka agar hidupnya bisa terjamin. Itu adalah hal wajar yang semua orang tua inginkan. “Ayah saya bernama Akarui Yamato, beliau adalah pemilik perguruan terkenal. Sedangkan ibu saya...”


“Hiroaki-kun ada apa?”


“Maaf, Ibu saya sudah meninggal saat saya berusia 3 tahun.” Meskipun fakta yang aku dapatkan berbeda.


“Begitu, maafkan kami.”


“Ahh, tidak masalah.”


“Jika seperti itu, ini adalah pertanyaan terakhir. Apa pekerjaanmu?”


Hal ini, pertanyaan ini pasti akan dilontarkan orang tua pada pasangan putrinya. Pertanyaan ini sudah tidak asing. “Maaf, saya tidak memiliki pekerjaan. Lagipula saat ini saya sedang dalam masa pembelajaran.” Aku tak bisa menyebutkan pekerjaanku yang sebenarnya, lagipula awalnya aku memang tidak ingin berada disituasi seperti ini.


“Begitu.”


“Eh?” Ini sangat berbeda dengan respon yang aku harapkan. Aku kira mereka akan langsung menolakku, dan lagipula meskipun begitu tidak akan jadi masalah karena sedari awal ini hanyalah sebuah sandiwara. Setidaknya itulah respon dari ibu Shirayuki, sedangkan dari ayahnya. Ia melihatku dengan tatapan berbeda.


“Sayang, sudahlah. Benar apa yang dikatakannya, lagipula seorang siswa tidak diwajibkan untuk bekerja.”


“Sudahlah, terserah padanya saja.” Dan percakapan inipun berakhir. Setidaknya, itulah yang harusnya terjadi.

__ADS_1


__ADS_2