Watashi No Hanayome

Watashi No Hanayome
22


__ADS_3

“Hiroaki, apa kau sudah siap.” (Dewa Sha)


“Ya, aku sudah siap.”


“Seluruh senjatamu sudah aku perkuat, dan juga aku memberikan kemampuan khusus untuk kedua pedangmu itu.”


“Eh, benarkah?”


“Ya, bisa dibilang. Kemampuanmu saat ini, akan sangat berbeda dengan sebelumnya. Tapi, itu tergantung kemampuanmu untuk menggunakannya.”


“Begitu, terima kasih dewa.”


“Kau tak perlu berterima kasih, ini adalah tugasku untuk mempersiapkanmu secara matang.”


Beberapa menit kemudian.


“Baiklah, semuanya sudah siap. Hiroaki, apa kau sudah siap?”


“Ya.”


“Aku akan mengirimmu. Oh ya, pedangmu akan hilang tapi tenang saja, kau bisa memanggilnya jika kau membutuhkannya.”


“Ya, baiklah.”


Dewa Sha menjeltikkan jarinya. Dan aku berpindah ke suatu tempat. “Ini, apa ini dunia itu?”


“Awas menyingkir!!” (???) Tanganku tiba-tiba saja di tarik oleh seseorang.


Duarrrr.


Sebuah ledakan besar terjadi di tempat aku berada barusan. “Cih, meleset.” (???)


“Kau tidak apa-apa?” (???)


“Ya, aku tidak apa-apa.”


“Kalau begitu, apa kau bisa berdiri?”


“Ya.”


“Rein, keluar kau. Jangan menjadi pengecut yang bersembunyi diantara pohon.” (???)


“Ini sudah mulai gawat. Hey kau, bisa kau segera pergi meninggalkan tempat ini. Tempat ini sangat berbahaya.”


“Baik.” Hikari mengikuti apa yang dikatakan olehnya.


Seorang laki-laki yang umurnya hampir sama denganku. “Aku akan memancingnya, saat itu kau harus lari.”


“Baik.”


“Rein! Keluar kau, atau jika tidak akan aku bakar seluruh hutan ini.”


“Sekarang.” Mendengar tanda darinya, aku segera lari.


“Ho, disana kau rupanya. Rasakan ini!!”


Duarrrr.


Sekali lagi, sebuah ledakan besar terjadi.


“Tunggu sebentar. Kenapa bisa jadi seperti ini?!” Saat baru sampai di dunia baru, tiba-tiba saja aku langsung dihidangkan oleh pertarungan. “Ini sangat tidak masuk akal.”


“Hey kau, apa yang masih kau tunggu. Cepat lari dari sini!!”


“Dia, terbang.” Orang yang menyelamatkanku tadi, ia terbang.


“Hahaha, ada mangsa empuk. Kau, akan aku habisi lebih dulu.” Seseorang yang menjadi lawannya dengan cepat menuju ke arahku.


Aku mengarahkan tanganku padanya. “Kau, cepat lari!!”


“Hari ini, kau akan jadi masangku.”


“Begitukah.” Saat orang itu mendekat. “Shirame.”


Ctrasssss.


“A-Apa yang terjadi?” (???) Orang yang berniat menyerangku itu, tertusuk oleh pedang Shirame.


“Hmm, tenyata cukup mudah dari apa yang aku bayangkan.”


“T-Tidak mungkin, ak-u dikalahkan oleh manusia biasa sepertimu.”

__ADS_1


“Kau salah kalau menganggapku manusia biasa.”


Ctrasss.


Tiba-tiba saja tubuh orang ini menjadi Kristal dan pecah berkeping-keping. “A-Apa yang terjadi?”


“Dia adalah Yokai, monster yang diciptakan untuk membunuh para pahlawan.”


“Huh? Membunuh?” Ini sedikit berbeda dengan apa yang aku dengar dari dewa Sha. Menurut versi dewa Sha, di dunia ini para pahlawan saling bertarung, dan aku tak pernah mendengar kalau ada monster seperti itu di dunia ini.


“Apa kau juga seorang pahlawan?”


“Aku, sepertinya bukan.” Karena bukan berasal dari dunia ini, aku tak bisa menganggapku seperti itu.


“Begitukah. Tapi, hebat juga kau bisa mengalahkan Yokai itu dengan mudah.”


“Begitu.” Saat aku melihat ke tanganku, Shirame menghilang.


“Disini sangat berbahaya. Ayo kita kembali ke kota.”


“Ya.” Aku mengikutinya. Dan ternyata yang dikatakan dewa benar. Mustahil kalau aku tidak bisa terlibat langsung dengan mahluk dunia lain.


_____________________


“Tunggu Rin, apa yang dikatakan olehnya benar?” (Emilia)


“Iya.” (Rin)


Mendengar cerita dari Ken, Emilia sangat marah. “Dia, dasar suami tidak bertanggung jawab. Saat dia kembali aku pasti akan mencincang tubuhnya.”


“Mama, apa papa akan pergi lama?” (Inori)


“Iya, tapi papamu bilang kalau dia akan segera kembali setelah tugasnya selesai.”


-------------------------


“Hey, ada apa?”


“Tidak ada apa-apa.” Entah kenapa tubuhku tiba-tiba menggigil. 'Apa ada yang membicarakanku?'


“Oh, ya. Kita belum berkenalan. Namaku Rein.”


“Namaku Hiroaki.”


“Ya.”


“Oh ya, kalau boleh tau. Kenapa kau tiba-tiba berada di tengah pertempuran tadi?”


“Entahlah, aku juga tidak tau.”


“Apa jangan-jangan kau mahluk panggilan.”


“Mahluk panggilan?”


“Iya, konon dahulu ada seorang pahlawan yang dikirim oleh dewa untuk menyelamatkan dunia ini. Dan dia disebut mahluk panggilan.”


“Hm, begitu.” Aku tak tau kalau ada cerita itu disini, dan pasti dewa Sha lupa untuk memberitahukannya padaku.


Tapi yang aneh, ia bilang kalau dulu ada orang yang dikirim ke dunia ini, itu berarti dunia ini sudah pernah mengalami ketidakstabilan sebelumnya. Dan itu terulang lagi saat ini. “Lihat, kotanya sudah kelihatan.”


Cukup jauh dari sini, aku bisa melihat sebuah tempat. “Itu besar sekali.” Tempatnya sangat besar.


Cukup lama kemudian.


Tak ada penjaga, atau apapun di pintu masuk. Tempat ini tak seperti duniaku sebelumnya. “Hiroaki, setelah ini kau mau pergi kemana?”


“Entalah.” Ini pertama kalinya aku datang kesini, dan sudah jelas aku tak tau apa yang harus aku lakukan setelah ini.


“Oh ya, aku akan mengambil imbalanku dulu sebentar. Kau tunggu disini.”


'Imbalan, ya. Itu mungkin hadiah dari quest yang ia kerjakan.' Setidaknya ada satu hal yang mirip.


“Hoy bocah. Serahkan barang berhargamu pada kami, atau jika tidak kami akan membuat tulang rapuhmu itu bengkok.” (???)


“Perampok, ya.” Aku sudah lama tidak dirampok.


“Hoy!! Kenapa kau diam, serahkan uangmu pada kami, cepat!!”


“Aku tidak punya apa yang kalian inginkan. Jadi, bisa pergi dari sini.”


“Kau, berani-beraninya berbicara seperti itu padaku. Apa kau tau siapa aku?” Nadanya meninggi dan ia berbicara sambil memengang kerah bajuku.

__ADS_1


“Hahaha, ini akibatnya kau membuat bos marah.”


“Ternyata, didunia manapun orang bodoh seperti kalian tetap ada, ya.”


“Sialan kau!!” Tepat saat ia ingin memukulku.


“Hentikan.”


“Rein.” Rein datang menghampiriku.


“Aku akan memberikan uangku padamu, jadi tolong jangan ganggu dia.” Rein memberikan uangnya pada orang yang menganggap dirinya preman itu.


“Haha. Kali ini kau selamat.” Orang itu mengambil uang yang Rein berikan. “Ayo kita pergi.”


“Haa, untung saja.”


“Rein, kenapa kau melakukan hal itu?”


“Sudahlah, tidak usah kau pikirkan. Lagipula, mereka lebih kuat dariku. Jadi, mau bagaimana lagi.”


“Begitu.” Mau didunia manapun, kenyataan ini tidak akan pernah berubah. Yang lemah pasti akan yang ditindas. “Aku berhutang padamu.” Meskipun begitu, jika saja dia tak melakukannya. Jauh sedikit saja, aku mungkin akan bertindak.


“Tidak perlu, lagipula itu imbalan karena membunuh Yokai yang kau bunuh itu. Jadi, kau tak perlu berhutang apapun padaku.”


“Baiklah.”


“Hari sudah hampir sore, apa kau memiliki tempat untuk tinggal.”


“Tidak ada.”


“Begitu, bagaimana kalau kau menginap dirumahku dulu untuk sementara.”


“Tidak perlu, aku tidak ingin merepotkanmu lebih dari ini.”


“Tidak masalah. Lagipula kau sudah membantuku tadi, ini sebagai ucapan terima kasihku.”


“Baiklah.” Jika dia berkata seperti itu, aku tak bisa menolaknya.


----------------------


Sebuah tempat.


“Rein, kau sudah pulang.” Seorang gadis tiba-tiba saja keluar dari rumah. “Rein, dia siapa?”


“Ahh, dia Hiroaki. Orang yang tadi membantuku mengalahkan Yokai. Tapi, karena dia baru datang kesini, jadi aku membawanya kemari untuk menginap selama beberapa waktu.” Dia mengubah cerita tentangku.


“Rein, sini sebentar.” Rein dipanggil oleh gadis itu.


“Ada apa?”


“Sudah, sini masuk dulu.”


Aku rasa gadis itu merasa curiga denganku, tapi setidaknya itu wajar karena aku adalah orang baru disini.


Beberapa menit kemudian


“Hiroaki, kau bisa masuk sekarang.” (Rein)


“Y-Ya. Permisi.” Perlahan aku masuk ke dalam rumahnya.


Cukup sederhana, itulah yang bisa aku katakan saat pertama kali melihat rumah milik Rein. “Silahkan duduk, aku akan menyeduhkan teh.”


“Ya.” Gadis itu pergi. “Rein, siapa dia?”


“Ahh. Dia Rury, istriku.”


“I-Istrimu?” Aku sangat terkejut mendengar hal itu darinya.


“Tidak perlu terkejut seperti itu. Bukannya ini hal yang biasa.”


“Begitu, ya.” Di dunia ini, pernikahan dibawah umur dianggap normal, sama seperti di dunia dewa Sha. Tapi, aku tak tau itu sebenarnya normal atau tidak karena aku tak pernah bertanya padanya. “Sudah berapa lama kalian menikah?”


“sekitar 2 tahun.”


“2 tahun, itu berarti ia menikah sejak usia 15 tahun.” Setidaknya begitu perkiraanku.


“Maaf membuat kalian menunggu, ini tehnya.”


“Terima kasih.”


Hari pertama didunia ini, aku sudah mendapatkan hal yang sangat luar biasa. Aku harap banyak hal yang terjadi selama aku disini.

__ADS_1


Entah beberapa hari, minggu, atau bulan aku tak tau. Tapi saat aku disini. Tugasku harus segera aku selesaikan secepatnya. “Tujuan pertamaku. Pembasmian Yokai.”


__ADS_2