Watashi No Hanayome

Watashi No Hanayome
18


__ADS_3

Setengah tahun berlalu, dan aku mulai menikmati hidup disini bersama Ai.


Pagi hari yang cerah.


"Ai, apa kau ingin pergi ke pasar lagi?"


"Iya, bahan masakan kita sudah hampir habis."


"Begitu, ya."


"Aku berangkat."


"Ya, hati-hati dijalan." Sudah beberapa bulan Ai mulai berbelanja sendiri, tantu saja aku juga ikut mengawasinya. Meskipun tidak ada sesuatu yang akan terjadi, tapi tidak ada salahnya aku mengawasinya.


---------


"Haa. Sudah lama sekali aku tidak mengawasi mereka ber-4, aku akan melihat apa mereka sudah melakukan sesuatu yang besar saat aku tidak mengawasi mereka." Aku langsung kembali ke tempat aku bisa mengawasi mereka. 


"Ho, ini sangat menarik." Aku bisa melihat dari sini, mereka sudah berhasil menguasai beberapa kerajaan besar di benua demi-human. Mereka mulai bersiap menyiapkan pasukan untuk menyudahi perang ras yang sudah terjadi lebih dari 300 tahun.


"Ai masih baik-baik saja. Haa." Entah kenapa aku mulai merasa sangat bosan saat berada disini, padahal sekalipun aku tidak pernah merasa bosan diam dan melihat apa yang terjadi diduniaku meskipun dalam waktu yang sangat lama.


Tapi sekarang, hanya dalam hitungan menit aku sudah bosan. "Oh ya, bagaimana kalau aku pergi ke tempat dewa Nii." Aku berniat untuk menikmati teh disana, lagipula aku rasa tidak akan ada sesuatu yang terjadi jika aku tidak mengawasi mereka selama beberapa menit saja.


Aku langsung pergi ke tempat dewa Nii berada.


----


Di tempat dewa Nii.


"Ah dewa Sha, kau datang lagi. Apa kau ingin minum teh?"


"Terima kasih tawarannya." Memang itu tujuanku kesini. 


Dewa Nii langsung menyuguhkan secangkir teh padaku, dan aku langsung duduk berhadapan dengannya. "Oh ya, bagaimana dengan gadis yang kau ambil dari duniaku itu? Apa dia masih hidup?"


Kasar sekali ucapannya. "Iya, dia masih hidup. Aku yang menjaganya."


"Hoo. Benarkah? Kalau begitu, jarang sekali seorang dewa mengawasi langsung dunia yang ia jaga."


"Apakah yang aku lakukan ini aneh?"


"Hmm. Jika itu duniamu, tidak masalah kau melakukan hal itu. Tapi kau pasti sudah merasakan batasan kekuatanmu'kan."


"Iya."


"Kau tidak bisa menggunakan atau tidak boleh menggunakan lebih dari batasan yang bisa kau gunakan, karena akan berakibat buruk pada keseimbangan duniamu."


"Begitu." Aku paham dengan apa yang dikatakan oleh dewa Nii.


"Oh ya, aku dengar kalau pemanggilan di duniamu sudah sedikit berkurang."


"Ahh, iya. Itupun karena aku menyuruh salah satu raja dari duniaku untuk menghentikan pemanggilan itu."


"Itu lebih baik, akan buruk jika kau mendapatkan masalah dari dewa lain gara-gara pemanggilan itu."


"Aku akan ingat saranmu itu."


Dan setelah itu, tidak ada pembicaraan lagi. Kami menikmati teh ini dengan tenang.


Beberapa menit kemudian.


"Haa. Disini sangat tenang, berbeda dengan di tempatku."

__ADS_1


Dewa Nii sedikit menyeruput tehnya lalu menaruhnya di atas meja. "Bukankah kau sudah mendapatkan tempat yang membuatmu tenang."


"Ya, mungkin aku bisa bilang begitu tapi..."


"Perbedaan antara manusia dan dewa, kau pasti mengetahui hal itu."


"Iya."


"Jika kau masih melanjutkannya, kau pasti akan merasa tersakiti, selamanya. Aku bisa menjamin hal itu."


"Ya." Aku sudah tau dengan konsekuensinya, tapi entah kenapa aku masih ingin ini berlanjut. Keinginan untuk hidup tenang, aku tidak pernah mendapatkan hal itu saat aku masih menjadi manusia. Oleh karena itu aku cukup senang karena sekarang aku bisa menikmati hal itu.


"Ah. Tehnya sudah habis."


"B-Begitu."


"Lagipula sebaiknya kau segera kembali. Aku rasa sudah terjadi sesuatu yang buruk padanya."


"Sesuatu yang bu-..." Aku melihat sesuatu, dan seketika itu aku langsung kembali. 


"Haa. Sepertinya dia sudah menikmati hidup barunya, bukan sebagai dewa tapi setengah dewa. Mungkin."


-----------


"Sha, tolong aku. Sha!!"


"Hoho. Siapa yang kau panggil, disini sama sekali tidak ada orang." (???)


"Benar, setelah kami selesai bermain-main denganmu. Kau tak perlutaku lagi, kami akan segera mengakhiri penderitaanmu itu." (???)


"S-Sha. Aku mohon, datanglah. SHA!!!"


Tepat saat para penjahat itu ingin menyentuh Ai.


"T-Tanganku!!!"


Tangan penjahat itu terpotong. "Jauhkan tangan kalian darinya. Atau kalian akan merasakan hal yang lebih menakutkan dari kematian itu sendiri."


"S-Sha, kau datang."


"S-Sialan, kalian habisi dia."


"Ai, bisa tutup matamu sebentar."


"B-Baik." Menuruti apa yang aku katakan, Ai menutup matanya.


Aku menjeltikan jariku. "Kalian tidak pantas untuk hidup, lenyaplah."


Swuutt. 


Mereka lenyap seketika. "Ai, kau bisa buka matamu sekarang."


"S-Sha!!" Ai berlari ke arahku dan langsung memelukku dengan erat. "Aku kira kau tidak akan datang. Tapi, syukurlah kau datang."


"Sudah aku bilang, aku pasti akan menolongmu." Aku sedikit mengelus kepalanya untuk membuanya lebih tenang. "Apa kau baik-baik saja? Apa kau tidak terluka?"


"Aku baik-baik saja."


"Begitu, syukurlah." Aku melihat barang belanjaan yang dibeli oleh Ai berceceran di tanah. "Ayo, kita pergi berbelanja lagi."


"Aku, minta maaf."


"Untuk apa?"

__ADS_1


"Aku masih belum bisa untuk menjaga diriku sendiri, hari ini andai saja kau tidak datang, aku pasti sudah..."


"Sudahlah, jangan katakan apapun lagi. Saat dalam bahaya, aku yang akan melindungimu. Ini janjiku."


"Sha, terima kasih."


"Tidak masalah."


Beberapa hari setelah itu.


Pagi hari.


"Ai, apa kau sudah baik-baik saja."


"Tenang saja, aku sudah lebih baik. Kalau begitu, aku pergi dulu, ya."


"Y-Ya." Ai pergi berbelanja, meskipun beberapa hari yang lalu hampir terjadi hal yang buruk padanya, tapi seakan ingin melupakan kejadian itu Ai kembali seperti biasa. Meskipun megitu aku cukup khawatir dengannya. 


"Haa. Lagi-lagi, mereka ber-4 menguasai kerajaan. Huh? Sekarang kerajan Elf, ya. Lumayan juga mereka." Selagi Ai pergi, aku megawasi mereka ber-4 dan tentu saja aku juga mengawasi Ai, aku ingin mencegah sesuatu yang buruk terjadi padanya saat aku sedang mengawasi dari sini.


--------


"Sha, aku pulang."


"Ya, selamat datang. Apa yang kau beli hari ini?"


"Beberapa jamur, sayuran dan juga daging."


"Apa yang akan kau buat hari ini?"


"Rahasia. Tapi, aku yakin kau akan suka. Jadi, tunggulah sampai aku selesai."


"Baik, aku akan menunggu. Oh ya Ai, ada sesuatu yang ingin aku berikan padamu."


"Berikan padaku. Apa itu?"


"Tutup matamu."


"B-Baiklah."


"Sekarang buka matamu, dan lihat ini." Aku memberikan sebuah kaca untuk Ai.


"Jepit rambut, ini indah sekali."


"Apa kau menyukainya."


"Iya, aku sangat menyukainya. Sha, aku menyukaimu."


"Eh." Aku tak berharap jawaban lebih dari kata terima kasih. "Y-Ya."


"Aku akan menjaganya, ini barang yang kau berikan padaku. Aku janji akan menjaganya."


"Ya."


Aku tak ingin waktu ini berakhir, aku masih ingin menikmati waktu ini lebih lama lagi. Tapi, sebuah insiden mengubah hal itu.


________________


"Insiden? Insiden apa dewa Sha?"


"Sebuah insiden yang mengubah hidupku menjadi seperti sekarang. Berhati dingin, dan hanya melakukan apa yang aku inginkan tanpa mementingkan apa konsekuensinya untuk duniaku. Itulah aku yang sekarang."


Aku hanya bisa menyimak apa yang sedang dewa Sha ceritakan padaku saat ini. Sebuah kisah tentang dirinya, dan insiden yang membuat dirinya berubah.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2