
Pagi hari, jam 06.25
Aku membuka mata, dan bangun dari tidurku yang lelap. Aku segera bersiap-siap untuk pergi ke kerajaan milik orang tua Emilia.
----- Setelah beberapa lama bersiap -----
"Papa, apa papa sudah bangun?" Suara Inori terdengar dari balik pintu kamarku.
"Iya, sudah."
"Kalau begitu, aku akan menunggu papa di depan bersama mama."
"Iya.." Semua persiapanku sudah selesai, aku tak membawa apa-apa dan hanya mambawa kedua pedangku, dan juga pakaian yang aku gunakan adalah pakaian biasa yang selalu aku gunakan.
---------- Beberapa menit kemudian ---------
"Kau lama sekali Hi-chan, apa yang kau lakukan?" Rin, Emilia dan juga Inori. Sepertinya mereka sudah cukup lama menungguku.
"T-tidak ada.. Sebaiknya kita segera berangkat sekarang."
"Ayo.."
Ada satu hal yang aku lupa untuk tanyakan pada Emilia. "Emilia, ada dimana kerajaanmu?"
"Ehh.. Kalau itu.. Ada dibagian paling barat di benua manusia."
"Huh? Paling barat?" Kalau dipikir-pikir, bukannya itu terlihat seperti ujung dari benua manusia. "Jadi, butuh berapa hari untuk sampai di kerajaamu itu?"
"Kalau menggunakan kereta kuda dari sini, mungkin akan memakan waktu sekitar 5-6 hari. Tapi, jika menggunkan kuda biasa mungkin akan lebih cepat 3-4 hari baru akan sampai."
"Woy, woy, woy... Yang benar saja, seberapa jauh memangnya kerajaan orang tua Emilia itu. Huh, sepertinya ini akan memakan waktu lebih lama dari apa yang aku banyangkan." Dengan lesu aku berjalan keluar dari istana, menuju ke gerbang barat.
----- Sesampainya di gerbang barat -----
Saat ini aku sedang menaiki kereta kuda, dan itu berarti perjalanan ini akan memakan waktu sekitar 6 hari. "Haa... Andai saja perjalanan ini bisa di percepat. T-tunggu sebentar..." Seketika itu aku mengingat sesuatu. "Berhenti!!"
Kereta kuda ini berhenti bergerak. "A-ada apa yang mulia?" (kusir)
"Hi-chan, ada apa?"
"Tidak ada apa-apa, aku hanya berfikir kalau aku mempunyai cara agar bisa lebih cepat menuju ke kerajaan orang tua Emilia."
"Benarkah?!"
"Iya." Aku memutuskan untuk turun dari kereta kuda, dan yang lainnya juga mengikutiku. "Kusir, kau boleh kembali ke kerajaan."
"Tapi yang mulia, bagaimana dengan anda?"
"Tenang saja, sekarang kau boleh kembali."
"Baik yang mulia." Kusir itu kembali bersama dengan kereta kudanya.
"Hiroaki, kenapa kita turun."
"Haa... Shura!!!" Aku mencoba untuk memanggil naga Shura, lagipula dewa Sha sudah membriku izin kalau aku ingin pergi aku bisa memanggil naga Shura kapan saja dan naga Shura akan mengantarku.
----------- Beberapa saat kemudian -----------
Groooaarr.
Suara raungan terdengar. "Sepertinya sudah sampai."
"Suara apa itu?" (Emilia)
Grooaarr.
Naga Shura datang dengan cepat dan mendarat tepat di depanku. "Kita akan naik ini."
_________________
Sore hari, jam 17.14
[ Dalam perjalanan menuju ke kerajaan di atas punggung naga Shura ]
"Rin, apa tidak apa-apa tidak memberitahu Lia, Ai dan juga Sia kalau kita sedang pergi?"
"Aku sudah mengatakan itu pada mereka."
"Hah?"
"Iya, mereka bilang. 'Serahkan saja tugas disini pada kami'. Katanya."
"B-begitu, ya." Jika seperti itu, aku merasa sedikit lebih tenang. "Apa kerajaanmu masih jauh, Emilia?"
"Hikari, kita ini baru beberapa jam berangkat, jadi tidak mungkin kita langsung sampai."
"Haaa, aku bosan." Entah kenapa rasa bosan ini seperti ingin membunuhku.
"Kalau kau bosan, lebih baik kau tidur saja."
"Baik-baik." Aku mengikuti apa yang dikatakan oleh Emilia, dan berbaring merenggangkan tubuhku yang terasa kaku.
"Papa, aku juga mau tidur dengan papa." Inori tiba-tiba tidur dengan lenganku sebagai bantal.
"Ah, sudahlah." Aku memutuskan untuk menghiraukannya, dan memilih untuk tidur.
_________________
[ Di suatu tempat dekat dengan benua demi human ]
"Huh, akhirnya selesai juga tugas dari dewa." (???)
__ADS_1
"Shu, apa kau sudah selesai." (???)
"Ya, aku sudah selesai. Bagaimana denganmu, Elliy?" (Shu)
"Lihat, aku membunuh banyak sekali." (Elliy)
"Hah!! Menurutku, ini terlalu berlebihan." Shu terkejut melihat Elliy yang membunuh ratusan monster hutan.
"Berlebihan? Bukannya kita hanya ditugaskan untuk membasmi monster ini."
"Iya juga sih, tapi menurutku kau terlalu berlebihan. Bagaimana kalau monster hutan ini punah?"
"Shu, kau terlalu membersar-besarkan hal kecil seperti ini. Dewa sudah bilang, kalau kita bisa menghabisi semua monster hutan ini, lagipula monster di hutan ini terlalu berkembang pesat. Oleh karena itu dewa menyuruh kita membasminya."
"Seperti biasa, aku tak bisa menang jika beradu mulut dengannya."
"Baiklah. Jadi, apa yang akan kita lakukan dengan mayat monster hutan ini?" Mereka telah membunuh ratusan monster hutan, dan mereka tak tau apa yang akan mereka lakukan selanjutnya.
"Hmm.. (berfikir) Kita tidak diberitahu apa yang harus kita lakukan setelah berhasil membasmi monster hutan ini oleh dewa, jadi biarkan saja."
"Hah!!?"
"Shu, ayo kembali. Aku sudah lelah..."
"Elliy, tunggu aku." Mereka berdua berjalan berdampingan. "Kau mau kembali ke kerajaanmu?"
"Begitulah, ayah dan ibu pasti khawatir."
"Oh ya, aku dengar kalau kakak perempuanmu pergi dari kerajaanmu, ya. Apa itu benar?"
"Iya, dia sudah pergi hampir 2 bulan dan aku masih tidak tau dimana ia berada."
"Hmmm.. Begitu, ya. Kenapa kau tidak bertanya pada dewa saja, dia pasti tau dimana kakakmu berada."
"Aku sudah pernah menanyakannya, tapi dewa bilang kalau kakakku baik-baik saja."
"Kalau seperti itu, yang dikatakan dewa pasti benar. Jadi, sebaiknya kau tak usah khawatir, benar'kan."
"Benar juga.. Shu, bisa antar aku kembali ke kerajaan."
"Tentu saja. Kau tak usah khawatir, aku pasti akan mengantarmu dengan aman. Ran!! Datanglah."
------------ Beberapa saat kemudian ----------
Seekor serigala putih besar datang. "Bukannya itu peliharaan dewa, bagaimana bisa?"
"Ahh... Dewa sudah memberiku izin, jadi jika aku ingin pergi aku bisa memanggil Ran untuk mengantarkanku. Lagipula, dengan adanya Ran, kita pasti bisa lebih cepat sampai ke kerajaanmu."
"Ya sudah kalau begitu." Mereka berdua menaiki Ran yang merupakan jelmaan dari serigala agung. Dan setelah mereka berdua berada di atas Ran, Ran dengan cepat berlari manuju ke barat atau tepatnya kembali ke kerajaan Slvy.
_______________
Pagi hari, jam 06.28
"Papa... (mengigau)" Tanpa sadar Inori berada tepat di atas tubuhku.
"Rin, Emilia, Inori. Bisa kalian bangun."
Rin dan Emilia mulai membuka mata. "B-bisa kalian bedua pindah sebentar, tanganku kekurangan darah, lo." Setelah aku berkata seperti itu, mereka berdua dengan segera bangun.
"A-aku minta maaf Hiroaki."
"A-aku juga minta maaf Hi-chan, aku tak tau kalau itu tanganmu."
"Hoo.." Mereka berdua menggunakan alasan yang sama. "Sudahlah." Saat ini yang aku pikirkan adalah keadaan kedua tanganku. "Jika seperti ini kedua tanganku bisa-bisa-.."
Sesaat setelah aku berfikir seperti itu, kedua tanganku kembali seperti semula. "Huh... Untunglah, sudah kembali normal. (lega)"
Dan sekarang hanya tinggal Inori yang masih ada di atas tubuhku. "Inori... Bangun."
"Papa~.. (mengigau) Sebentar lagi.."
Entah kenapa Inori terlihat sangat manis di saat seperti ini. "Ahhh.. Apa yang aku pikirkan." Aku memutuskan untuk membiarkannya seperti ini karena aku tak ingin meganggu tidurnya yang terlihat cukup nyenyak.
----------- Beberapa menit kemudian ---------
"Hoaamm.. (mengucek kedua mata) Pagi, papa." Inori bangun.
"Inori, bisa kau pindah sebentar."
Inori mulai merebahkan tubuhnya lagi. "Sebentar lagi, pa.." Dan Inori kembali tertidur.
Sebenarnya aku tak ingin melakukan ini, tapi sepertinya harus aku lakukan. Aku perlahan memindahkan tubuh Inori yang berada di atasku, dan menidurkannya di punggung naga Shura.
"Huh.. Akhinya aman juga." Aku melihat sekeliling, dan aku melihat sebuah hutan yang sangat luas di area ini. "Emilia, apa kita sudah hampir sampai?"
"Sepertinya nanti siang atau sore kita baru akan sampai."
"Begitu, ya." Dan aku cukup heran, ternyata naga Shura terus terbang tanpa sekalipun berhenti untuk istirahat sedikitpun.
"Hi-chan, lihat itu."
"Ada apa Rin?"
"Coba lihat itu."
Aku melihat apa yang ditunjukkan oleh Rin dan Emilia juga ikut melihat apa yang Rin lihat. "A-apa-apaan itu!!" Aku melihat banyak sekali monster hutan berada tepat dibawah kami.
"Monster hutan, banyak sekali.." (Emilia)
"Untung saja kita melewati jalur udara, jika seandainya kita melewati jalur darat kita pasti harus menghadapi mereka untuk bisa sampai ke kerajaanmu."
__ADS_1
"Iya.."
"Bagaimana dengan mereka, ya." Entah kenapa aku memikirkan para prajurit yang berasal dari kerajaan milik Emilia. "Apa mereka baik-baik saja, ya."
"Hi-chan, apa yang kau pikirkan?"
"Tidak ada."
"Begitu."
"Ya." Aku rasa mereka akan baik-baik saja, lagipula salah satu dari mereka memiliki pedang terkuat, ya meskipun masih kalah kuat dengan kedua pedangku ini aku yakin mereka pasti baik-baik saja.
--------- Berjam-jam kemudian ----------
Siang hari, jam 13.24
"Hoaamm... Pagi, papa." Inori bangun.
"Y-ya." Meskipun ini sudah siang. "Inori, apa yang kau lakukan tadi malam?"
"Tidak ada pa.."
"Hmm.. Begitu, ya." Aku tak tau apa yang membuat Inori bangun siang seperti ini, dan menurutku ini tidak baik untuk kesehatannya. "Emilia, apa masih jauh?"
"Sepertinya beberapa jam lagi kita akan segera sampai."
"Begitu.." Perjalanan ini cukup memakan waktu dari apa yang aku bayangkan. Aku kira kami akan sampai di tujuan siang ini, tapi ini lebih lama dari yang aku kira.
--------- Berjam-jam kemudian, lagi -----------
Sore hari, jam 16.27
"Lihat, kita sudah sampai." (Emilia) Aku melihat cukup jauh di depan ada sebuah kerajaan yang cukup besar, meskipun tak sebesar kerajaanku.
"Aneh, mulai tadi aku sama sekali tak melihat satupun kerajaan, dan aku hanya melihat kerajaan milik orang tua Emilia saja." Dewa Sha bilang, kalau di benua manusia terdapat lebih dari ratusan kerjaan yang berdiri, tapi dalam perjalanan ini dari mulai perjalanan hingga sampai aku sama sekali tak melihat satupun kerajaan. "Bukannya itu aneh?"
Grooaarrr.
Seperti biasa, naga Shura turun cukup jauh dari area kerajaan. Karena naga Shura sudah mendarat, kami putuskan untuk melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki, lagipula ini tidak akan memakan waktu lama.
------ Hampir 10 menit berjalan -----
Kami sampai di depan gerbang. "Putri Emilia." (prajurit) Seketika prajurit yang melihat Emilia, memberikan hormat. "Putri Emilia, tolonglah kembali ke istana, paduka raja sangat khawatir dengan anda."
"Aku datang kesini untuk menemui ayah dan ibu, dan mungkin setelah itu aku akan pergi lagi."
"B-baiklah tuan putri. Lalu, siapa mereka bertiga ini?"
"Perkenlakan, namaku..."
"Dia Hiroaki, dan dia Rin, lalu ini Inori."
Entah kenapa Emilia memotong kata-kataku."Apa mungkin dia ingin kalau aku tak mengatakan apapun kalau aku seorang raja." Aku juga tidak tau, mungkin saja itu benar karena bisa gawat kalau ada seorang raja yang tiba-tiba datang ke kerajaan orang lain, dan aku tak bisa memikirkan kemungkinan terburuk selain perang. "Mudah-mudahan hal itu tidak terjadi."
"Kalau begitu, saya akan mengantar anda." (prajurit)
"Tidak, itu tidak perlu. Aku bisa pulang sendiri, lagipula ada yang ingin aku tunjukkan pada mereka."
"Baiklah putri."
"Ayo.."
Entah kenapa itu terdengar seperti alasan di telingaku. Kami berjalan dengan Emilia sebegai pemandu.
----------- Beberapa menit kemudian -----------
"Kita sudah sampai."
Saat ini aku sedang berdiri tepat di depan gerbang masuk istana, dan gerbang ini di jaga oleh beberapa prajurit. "Putri Emilia, anda sudah kembali." (prajurit) Entah kenapa aku merasa kalau kedatangan Emilia ke kerajaannya ini disambut oleh para prajurit.
"Aku ingin menemui ayahku, aku ingin bicara sesuatu dengannya."
"Kalau begitu, saya akan mengantarkan anda." Salah satu prajurit mengajukan diri untuk mengantarkan Emilia.
"Terima kasih." Kami mengikuti prajurit itu yang berniat untuk mengantarkan kami kepada ayah Emilia yang merupakan seorang raja di kerajaan ini.
--------- Beberapa menit kemudian ----------
Kami diantarkan ke ruangan yang mirip seperti ruang pertemuan. Di dalam ruangan ini, aku melihat seseorang sedang duduk membelakangi kami. "Yang mulia, putri Emilia sudah kembali."
"Putriku kembali.." Mendengar hal itu, orang itu seketika berbalik dan melihat ke arah kami. "Putriku.. Akhinya kau kembali.. (menangis)"
"Ayah.." Emilia berlari menghampiri ayahnya.
"Emilia.." Mereka berdua berperlukan.
"Apa dia ayah Emilia?"
"Ya, beliau adalah orang tua putri Emilia."
"Huh!!? Yang benar saja." Ayah Emilia terlihat sangat muda, dan sangat tidak cocok untuk menjadi orang tua. Ia lebih terlihat seperti seorang pemuda yang berusia 25 tahunan, dan menurutku itu sangat tidak masuk akal.
"Emilia, siapa mereka."
"Dia adalah Rin, dan dia Inori."
"Lalu, siapa laki-laki itu?"
"Dia Hiroaki, d-dia adalah pasanganku."
"Apa!!!" Seketika itu sebuah pedang emas tiba-tiba muncul dari tangan kanan ayah Rin. "Berani-beraninya kau." Seketikan suasana berubah menjadi suram.
__ADS_1
"G-G-G-G-GAWAT!!! Apa yang harus aku lakukan!!" Ayah Emilia terlihat marah, dan ia juga mengacungkan pedangnya tepat ke arahku. "Apa yang akan terjadi denganku?"
Bersambung