
“Pedang yang spesial?”
“Seluruh benda atau apapun yang dibuat oleh dewa, akan memiliki kekuatan yang luar biasa.”
“Hee, t-tunggu, kenapa?” Jika seperti itu, sama saja aku tidak bisa memberikan pedang replika ini pada Amane.
“Tenang saja, aku hanya memberikan setidaknya15% kemampuan dari kemampuan pedang aslinya.”
“Tunggu, 15%, bukannya itu terlalu banyak.” Mengingat selama ini, aku tidak pernah menggunakan lebih dari 3% kemampuanku saat bertarung didunia ini, mendengar hal itu. Ini membuatku sedikit khawatir.
“Tenang saja. Tidak akan ada masalah. Kalau begitu, sudah dulu.”
“T-tunggu!!” Dewa Sha langsung menutup telepatinya. “Haa, 15%, ya.” Hanya dengan menggunakan kurang dari 5% kemampuan pedangku, aku sudah bisa menghancurkan seluruh pelabuhan hanya dalam hitungan detik. Aku tak bisa membayangkan jika sampai 15% kemampuan pedang ini digunakan seluruhnya. “Apa aku harus memberikannya, ya?”
“Hiroaki, kau masih belum tidur?”
“A-Amane.” Ternyata dia masih belum tidur.
“Wah, kau sudah menyiapkannya.” Ia langsung menghampiriku, dan mengambil kedua pedang replika yang ada ditanganku. “Ini benar-benar sangat mirip. Hiroaki, ini hadiahku?”
“Y-ya, ini hadiahmu.”
“Terima kasih, aku pasti akan merawatnya dengan baik.”
“Terserah kau saja. Sudah, ayo masuk. Ini sudah larut.”
“Baik.”
Pagi hari, 09,32
Waktu sarapan sudah lewat, tapi aku masih belum melihat Amane. “Amane, apa belum bangun?”
“Ara... Sepertinya dia masih tertidur pulas. Mungkin tadi malam dia tidur terlalu larut.”
“Begitu.”
“Kotaro-kun, bisa kau tolong bangunkan dia. Bukannya hari ini kalian memiliki acara.”
“Benar juga, baiklah.” Aku bergegas menuju ke kamar Amane.
Beberapa saat kemudian.
“Amane, apa kau sudah bangun?” Aku membangunkannya dari balik pintu. “Amane, cepat bangun ini sudah siang.” Ia sama sekali tidak menjawab. “Amane, bangun.”
Aku berulang kali memanggilnya, tapi aku tak mendengar ada jawaban dan aku mulai khawatir. “Amane, maaf.” Aku putuskan untuk masuk kekamarnya, dan didalam kamarnya.
“Hee.” Aku cukup terkejut dengan apa yang aku lihat ini. Amane masih tertidur pulas sembari menggunakan replika pedang Shirame dan Ryuga sebagai guling. “Maaf menggangu.” Setelah melihat ini, aku putuskan untuk tidak mengnggunya setidaknya sampai ia bangun dengan sendirinya.
Siang hari, 12,33
“Selamat pagi.”
“Kau sudah bangun, ini sudah siang.”
“Begitu, (menguap) aku kurang tidur semalam.”
__ADS_1
“Begitu, untuk rencana hari ini. Apa perlu dibatalkan?”
“Rencana? Ah, benar juga. Tunggu, aku akan bersiap.”
“Haa.” Hari ini mungkin akan jadi hari yang melelahkan.
Malam hari, 19,42
“Terimakasih atas makanannya.” Hari ini adalah hari yang cukup melelahkan, seperti yang aku bayangkan. Amane mengajakku berkeliling keberbagai tempat, ketempat yang belum pernah aku datangi sebelumnya. Dan aku akan sangat terkejut jika ia masih memiliki tempat lain untuk dikunjungi esok. “Esok, ya.”
“Hiroaki, ada apa?”
“Tidak ada, apa-apa.” Aku baru saja mendapatkan ide.
Malam hari, 20,33
Teras rumah.
“Ini tehnya.”
“Maaf selalu merepotkanmu.”
“Tidak masalah.”
“Amane, ada yang ingin aku bicarakan mengenai kegiatan besok.”
“Huh? Ada apa?”
“Besok, kita akan melakukan latihan.”
“Waktuku disini tinggal sebentar lagi, tenanglah hanya 5 hari saja. Setelah itu, kau bebas, tidak ada latihan lagi. Kau bisa menikmati sisa liburan musim panasmu dengan tenang.”
“Tidak ada latihan lagi, ya.” Saat mendengar hal itu, Amane terlihat murung. Itu wajar, aku mengatakan hal itu sebagai tanda akhir dari pertemuan ini.
“Setidaknya, aku ingin melihat perkembanganmu.” 21 hari lagi sebelum bencana itu muncul, dan setidaknya aku harus menyiapkan Amane untuk hal itu.
“Baiklah.”
Dan kami melakukan latihan seperti biasa, dan itu berlangsung selama 5 hari.
5 Hari sudah terlewat.
Malam hari, 20,12
Menikmati malam yang tenang dengan secangkir teh hangat yang hambar. “Hiroaki, apa kau tetap akan pergi?”
“Haa.” Entah sudah puluhan kali ia menanyakan hal yang sama padaku. “Jawabanku tetap sama.”
“Meskipun aku memaksa, apa kau tetap akan pergi?”
“Ya.”
“Begitu.”
“Hee, jangan murung seperti itu. Latihan kita sudah selesai, dan mulai besok waktu untukmu menikmati sisa liburan musim panas yang tersisa. Lagipula, latihan yang aku berikan sudah cukup untukmu, tidak ada yang bisa aku berikan lagi padamu.”
__ADS_1
“Begitu.” Ia meminum teh yang seharusnya diminum olehku.
“Haa, sudahlah.”
“Hmm.”
“Amane, ada apa?”
“Teh ini, hambar.”
“Huh? Hambar? Apa maksudmu?”
“Teh ini tidak memiliki rasa.”
“Mungkin hanya perasaanmu saja.”
“Mana mungkin, indra perasaku ini sangat bagus. Aku yakin kalau teh ini tidak ada rasanya. Apa ada yang salah?”
“Huh, coba minum sekali lagi.”
“B-baiklah.” Ia kembali meneguk teh itu. “Tidak ada rasanya.”
'Hey dewa Sha, apa yang sebenarnya terjadi?'
'Haa, bagaimana kalau kau menyebutnya reaksi penolakan. Itu sama seperti yang terjadi pada dirimu.'
'Hee? Tapi, bagaimana bisa?'
'Kau lupa, darahmu mengandung sejumlah besar sihir dan kau tau nasib sihir didunia ini.'
'Tapi, bagai...'
'Kau sudah menyadarinya, ya. Karena hal itu. Sudahlah, jangan ganggu aku, aku sedang rapat penting.'
'Baik.' Dewa Sha menutup telepatinya. “Reaksi penolakan, ya.” Bergumam.
“Hiroaki, kau bicara apa barusan?”
“Tidak ada. Mungkin dalam beberapa hari juga sembuh, aku yakin.” Lagipula, dia memang berasa dari dunia ini dan aku yakin penyembuhannya tidak akan memakan waktu lama sepertiku.
“Begitu, tunggu. Bagaimana kau bisa tau?”
“Ehh, itu, karena aku juga pernah mengalaminya dulu. Dan itu sudah lama sekali, makanya aku bisa tau.”
“Begitu. Ah, benar juga. Ada sesuatu yang ingin aku berikan padamu.”
“Huh, apa?”
“Tunggu sebentar.” Amane pergi.
Beberapa saat kemudian.
Ia kembali sembari membawa cemilan. “I-Ini, ini adalah buatanku. Aku baru belajar, jadi aku masih belum terlalu ahli.”
“Wah.. terima kasih. Selamat makan.” Aku mengambil 1 dan memakannya. “Hmm.. ini sangat enak.” Aku menghabiskannya. Ya, sebenarnya aku tak tau rasanya bagaimana, tapi akurasa tidak baik jika aku tidak memuji makanan yang sudah susah payah dibuat olehnya.
__ADS_1
“Pembohong..”