
Malam hari, jam - -.- -
Aku dan Rin sudah selesai mandi di pemandian, baju kamipun sudah bersih dari bekas darah, dan saatnya kami kembali ke penginapan.
-------- Beberapa menit berjalan -------
Kami akhirnya sampai di depan pintu penginapan. Aku pun membuka pintu. "Selamat datang, tuan. (membungkuk) Ada yang bisa saya bantu?" (Penjaga penginapan)
"Hmm. Aku ingin kembali ke kamarku."
"Baiklah, tuan." penjaga itu pergi.
Aku berjalan ke arah kamarku yang berada di lantai dua di penginapan ini.
------ Di depan pintu kamarku di penginapan -------
Aku kembali ke kamarku dan Rin masuk ke kamarnya. aku pun membuka pintu kamarku.
Krekkkkkk. (pintu terbuka)
"Oh.. Akhirnya kau kembali bocah. Darimana saja kau?"
Garden sedang duduk di kasurnya sambil mengelap pedangnya yang kelihatan kotor.
"Aku baru saja dari pemandian."
"Ohh, begitu."
Aku berjalan menuju ke arah kasurku. "Hey bocah." (Garden)
"Ada apa?"
"Tadi, saat pembasmian hewan iblis, kau mengalahkan berapa ekor?"
"Hanya 2."
"Oh, sepertinya kau sudah lumayan berkembang."
"Memangnya, kau berhasil membunuh berapa ekor? (penasaran)"
"Hmmm. Sekitar 500 ekor, kalau tidak salah."
"Buset dah orang ini!! Sungguh overpower!! (terkejut)" pikirku
"Oh ya Garden.... Untuk misi yang tadi, kenapa aku bisa langsung mendapatkan imbalan? Bukannya untuk mendapatkan imbalan, kita harus membawa bukti untuk bisa mendapatkan imbalan."
"Hmmm. (berfikir) Ingat baik-baik hal ini bocah. Misi yang ada di pajang di papan itu adalah misi dari golongan pedangang, rakyat biasa, maupun para petinggi ataupun bisa dari selain orang yang aku sebutkan itu. Mereka akan memberikan suatu misi yang akan di tulis oleh guild dan di tempel di papan. Dan mereka yang memberikan misi itu ke guild akan membayar kepada guild, lalu guild akan menyuruh para petualang untuk melaksanakan misi itu, dan setiap misi itu selesai, guild akan membayar petualang yang mengerjakan misi yang sudah di kerjakan dan selesai dengan baik."
"T-tunggu dulu. Lalu, kenapa mereka meminta barang buktinya juga?"
"Hmm. Untuk hal itu. Biasanya bukti atau barang yang quest itu minta akan dijadikan sebuah obat atau hal yang lain, yang berguna bagi kepentingan orang banyak atau bahkan untuk keuntungan sendiri."
"Ohh. (mangangguk dan akhirnya paham)"
"Dan untuk misi seperti tadi siang. Itu adalah sejenis quest pembasmian. Para petualang tak memerlukan bukti untuk bisa mendapatkan imbalan dari misi itu, mereka hanya perlu membunuh hewan atau monster yang menjadi target quest itu."
"T-tapi. Bagaimana resepsionis itu tau, jumlah hewan atau monster yang kita bunuh dengan sangat tepat?"
"Dia bisa tau, hanya dengan melihat kartu milikmu."
"Bagaimana dia melakukannya?"
"Aku juga tau tau caranya. Tapi yang pasti, semua resepsionis yang ada di dunia ini bisa melakukan hal itu."
"Wihh. Hebat juga, ya. (kagum)"
"Sudah-sudah. Sebaiknya kau segera tidur, sekarang sudah larut."
"(tersenyum) Hehe~ Baik."
Akupun tidur.
***********
Pagi hari, jam - -.- -
Pagi hari yang cerah, dan suara burung berkicau indah mentari pun sudah terbit, mungkin.
Gubbrakk. (suara pintu kamar terbuka dengan cukup keras)
Aku pun terbangun karena suara itu.
"Apwa yang- (berbicara sambil menguap dan membuka mata perlahan)"
"Hiroaki!! (panik)" (Rin)
"Adwa apa Rin? (menguap)"
"Aku minta maaf. (sedih) Koin yang sudah kau berikan padaku kemarin sudah hilang."
"Hoamm. (menguap) Sudahlah, tidak apa-apa. (kembali ke dalam selimut)"
"Semua koin milikku juga hilang!"
"Woywoywoywoy!! (bangun lagi) Yang benar saja!!"
"Iya. Saat aku bangun, semua koin yang ada padaku sudah hilang. (sedih)"
"Hah~ (menghela nafas) ya sudah, ikhlaskan saja."
"T-tapi..."
"Nanti kita bisa dapatkan koin itu lagi, kau tak usah khawatir."
"Baiklah. (sedih)"
__ADS_1
Meskipun Rin berkata seperti itu, ia kelihatan masih sedih. Dan aku merasa tak tega melihatnnya.
Aku melihat sekeliling kamar. "Garden kemana?"
"Aku tadi melihatnya pergi keluar, sepertinya dia pergi ke guild."
"Ohh. Sebaiknya kita tanyakan saja hal ini pada Garden, siapa tau dia tau pelakunya."
"(mengangguk) Iya."
Aku pun bersiap-siap, mulai dari mengambil semua pedangku yang aku taruh di bawah kasurku dan juga tak lupa mencuci muka.
------- Beberapa menit setelah itu ------
"Ayo, kita berangkat Rin."
"Iya."
Akupun berangkat ke guild. Di tengah perjalanan, banyak mata yang tertuju padaku. Aku tak tau apa yang mereka inginkan dariku, yang pasti cara mereka melihatku membuatku merasa tak nyaman.
-------- Beberapa menit berjalan -------
Akhirnya kami sampai di guild. Akupun masuk ke dalam guild, di dalam aku melihat Garden dan Leona sedang berada di depan meja resepsionis.
"Yo bocah. Ada apa kau pagi-pagi kesini?"
"Garden, sebenarnya aku punya sedikit masalah."
Aku menceritakan masalah tentang koin emas yang ada pada Rin tiba-tiba hilang seperti ada orang yang mencurinya.
"APAAA!!!! (kaget) Bagaimana mungkin?!"
"Aku juga tak tau kejadian pastinya. Tapi, yang pasti semua koin yang ada di Rin itu hilang."
"Hmmm. Sepertinya ada yang mencurinya. Baiklah, aku akan urus hal ini. Dan kau bocah, sebaiknya ambil quest saja, untuk menambah koin yang sudah kau punya saat ini."
Sebernarnya aku tak tau pasti, seberapa tinggi harga koin emas. Tapi, sepertinya koin emas itu cukup berharga dan satu hal yang pasti, koin emas itu lebih mahal dari pada koin tembaga tapi aku tak tau jumlah pastinya berapa.
"Baiklah, aku akan mengambil quest dulu."
Garden dan Leona pergi.
Aku dan Rin pergi malihat quest yang ada di papan. Dan untuk urusan ini, aku serahkan pada Rin.
------- Bebeerapa menit mencari quest -------
"Bagaimana dengan ini."
Rin mengambil sebuah kertas yang aku tak tau tulisannya dan yang aku tau hanya gambar se-ekor rusa hutan dengan sebuah tanduk, persis dengan apa yang di tunjukka Rin pertama kali padaku.
"Hmmm? Apa itu."
"Membunuh rusa hutan yang bertanduk 7 ekor. Biasanya hewan ini berada di hutan bagian utara dari kerajaan ini, dan untuk buktinya kita di suruh untuk membawa 7 tanduk rusa hutan itu, peringkat quest ini. B dan imbalannya 15 koin perak per-ekor rusa hutan bertanduk."
"15 koin perak, ya. Hmmm. (berfikir) Baiklah kita ambil quest itu saja."
Mengingat kalau aku sudah pernah membunuh hewan iblis, untuk hewan seperti ini aku rasa tidak apa-apa.
------- Beberapa menit setelah itu -------
"Ayo kita berangkat sekarang Hikari."
"Iya."
Aku pun berjalan keluar dari guild dan menuju ke hutan di bagian utara.
Tapi, sebelum itu, aku mampir ke rumah makan, yang sudah aku datangi selama 2 hari yang ini.
Kringgg. (suara bel di balik pintu)
Saat aku membuka pintu rumah makan ini, aku mendengar suara bel yang sebelumnya tidak ada. "Apa mereka baru saja memasangnya?"
"Selamat datang. tuan."
Beda dengan sebelumya, sekarang yang menyambut kami adalah seorang gadis.
Karena penasaran aku pun menanyakannya. "Anu. Kemana laki-laki yang biasanya menyambut pengunjung disini"
"Oh.. Dia adalah kakakku. Sekarang dia sedang dalam perjalanan pulang dari ibu kota."
"Ibu kota?" gumamku.
Aku tak tau kalau masih ada ibu kota di kerajaan ini. Dan aku kira, selama ini, hanya ini kota yang ada di kerajaan ini, ternyata masih ada kota lain di kerjaan ini, menurutku.
Kami pun duduk dan memesan makanan.
---------- Setelah 10-13 menit kemudian, mungkin ------- (malas mendeskripsikan, lagi)
Aku dan Rin selesai makan.
Setelah itu, kami pergi ke tempat tujuan quest, yaitu hutan bagian utara.
------ 1 jam kemudian, mungkin ------
-------- HUTAN LUAR DI BAGIAN UTARA KERAJAAN MANUSIA --------
Kami sampai di tempat tujuan, sebuah hutan lebat yang ada di bagian utara. Karena tempatnya cukup dekat dengan kota, jadi kami hanya membutuhkan waktu sekitar 1 jam perjalanan saja.
"Ayo Rin."
"Eh. Y-ya."
Aku masuk ke dalam hutan dan Rin berjalan tepat di belakangku. Di hutan ini, aku juga melihat gua yang cukup besar.
Setelah beberapa menit memasuki hutan, tak jauh dari tempat kami berada, kami menemukan buruan kami, rusa hutan bertanduk, tapi hanya ada 4 ekor rusa hutan bertanduk yang aku lihat. Dan karena itu adalah hewan yang menjadi quest kali ini, jadi tanpa ragu-ragu lagi, aku berlari dengan cepat ke arah rusa hutan bertanduk itu, dan aku menggunakan pedangku (shirame) untuk menyerang semua rusa hutan itu.
__ADS_1
Slashh shassshh slaasshhh setttt satttttt. (tebasan)
Dengan mudah aku membunuh semua rusa hutan itu, dan sekarang waktunya untuk mengambil tanduk rusa hutan itu.
----- Hampir 30 menit kemudian ------
Aku selesai mencabuti tanduk rusa hutan itu. "Ternyata, mencabut tanduknya lebih susah daripada membunuh hewan ini sendiri. (mengeluh)"
Tanduk rusa hutan ini cukup keras dan menancap cukup dalam, dan itu membuatku cukup kesulitan untuk bisa mencabutnya.
"Ini. (memberi sebuah keranjang)"
Rin memberiku sebuah keranjang, lagi. Aku tak tau ia mendapatkan itu dari mana, yang pasti hal itu sangat membantu.
"Terima kasih. (mengambil keranjang)"
Aku menaruh semua tanduk rusa hutan itu ke dalam keranjang yang di berikan oleh Rin padaku. Dan setelah itu, kami kembali mencari sisa tanduk rusa hutan yang di butuhkan untuk mendapatkan imbalan dari quest ini.
------- Setelah hampir 2 jam berada di hutan ------
Aku terus berjalan menyusuri hutan untuk mencari sisa 3 rusa hutan bertanduk untuk menyelesaikan quest ini. Dan setelah 2 jam menyusuri hutan ini, akhirnya aku menemukan 3 rusa hutan bertanduk yang berada cukup jauh dari tempat pertama tadi. Aku dengan cepat berlari menuju ke arah rusa hutan bertanduk itu dan.
Sattt settt shaasshh. (tebasan)
Aku menebas mereka semua.
"Ahhhh. Akhirnya, selesai juga." rusa hutan ini memang lemah, tapi yang jadi masalah adalah tempat untuk mencarinya. Karena, belum tentu di setiap tempat selalu ada rusa hutan bertanduk ini dan bisa dibilang rusa hutan bertanduk ini cukup sulit di temukan.
Setelah membunuh rusa hutan bertanduk itu, aku segera mencabut tanduknya dan membutuhkan waktu sekitar 30 menit.
------ 30 menit kemudian ------
Aku selesai mencabut semua tanduk **** hutan itu, dan tanduk yang aku cabut, aku taruh di keranjang.
"Ayo Rin, sekarang kita kembali."
"Baik."
(Quest sukses)
Kami pun kembali.
Saat kami dalam perjalanan kembali ke kota, kami melihat sesosok bayangan putih yang bergerak sangat cepat dan aku pun langsung berlari mengejarnya.
-------- Setelah beberapa saat berlari mengejar bayangan putih itu ------
Aku kehilangan jejaknya dan Rin berada agak jauh di belakangku.
"Sebenarnya, yang tadi itu apa?"
Rin pun sampai dan duduk karena merasa kelelahan.
"Ha,ha,ha. (nafas terengah-engah) K-kenapa kau berlari. Hi-Hikari?"
Sepertinya Rin tidak melihat apa yang aku lihat.
"Ahh. Maaf, sepertinya tadi aku melihat sesuatu. Tapi aku rasa, aku salah lihat."
"Hah~ (menghela nafas) Ya sudah."
Setelah itu, kami kembali ke kota.
------ Ketika hampir sampai di bagian hutan luar ------
"Ahhhhggggg!!!!!!!" (suara teriakan yang cukup keras)
Saat kami ingin keluar dari hutan ini, aku mendengar suara seperti seseorang yang sedang berteriak. Dan aku langsung berlari mendekat ke asal suara itu.
----- Saat sampai di asal suara -----
Aku sampai di asal suara, suara itu muncul dari dalam gua yang aku temui pertamakali saat masuk ke dalam hutan ini.
"AHHHHHHHH!!!!!"
Dan lagi-lagi aku mendengar suara teriakan yang berasal dari dalam gua itu.
Aku pun bergegas masuk dan Rin juga mengikuti di belakangku.
------- Di dalam Gua, Hutan bagian utara kerajaan manusia -------
"AHHHHHH!!!"
Suara teriakan itu semakin kencang. Dan setelah aku masuk cukup dalam ke gua itu, aku cukup terkejut melihat sebuah tempat yang cukup nyaman yang bisa dia anggap seperti sebuah kamar berada di dalam gua ini lengkap dengan tv, komputer dan juga speakernya, atau lebih mirip seperti ruangan milik seseorang yang pengurung diri, berada tepat di dalam gua ini. Dan aku tak tau kalau di dunia ini ada hal semacam ini juga. Aku juga melihat ada seorang laki-laki dengan rambut berwarna coklat yang sedang dengan santai duduk di sebuah kursi sambil melihat ke arah tv yang sedang menyala.
Orang itu berbalik melihat kami seakan sudah menyadari keberadaan kami.
"Wahhh, ternyata ada tamu yang datang menemuiku lagi." (sambil tersenyum)
Aku mengenal dia, dia adalah Sha seseorang yang pernah aku temui pemandian waktu itu.
"A-apa yang kau lakukan disini, Sha?"
"Walah, ternyata anak dari dunia lain yang datang ke sini?"
"Anak dunia lain? Bagaimana kau tau, kalau aku datang dari dunia lain?" Aku cukup terkejut, karena dia tau kalau aku datang dari dunia lain, sedangkan yang tau hal ini hanyalah Garden dan juga Leona saja.
"Jawabannya cukup simpel. Karena aku yang telah memanggilmu."
"APA!!!!! (terkejut)"
"Hahahaha. Aku adalah Sha, atau lebih tepatnya adalah Sakusha."
"Sakusha? (bingung) Bukannya dia adal-" Memotong pembicaraanku.
"Benar. (merentangkan kedua tangganya) Aku adalah dewa di dunia ini."
__ADS_1
Bersambung....