
“H-Hiroaki, a-apa yang kau lakukan.”
Tubuhku bergerak sendiri, dan mengacungkan Shirame dan Ryuga ke arahnya. Dan seketika suasanya berubah. “H-Hiroaki, ayo ikt denganku..” Emilia menarik tanganku.
Beberapa saat kemudian.
Di tempat yang sepi
Plakk
“Apa yang sebenarnya kau pikirkan!!”
“M-Maaf, tubuhku tiba-tiba saja bergerak sendiri.”
“Bagaimana mungkin tubuhmu bergerak dengan sendiri.”
“Aku minta maaf.”
“Kau mengacaukan pesta malam ini. Hiroaki, apa yang sebenarnya terjadi denganmu?”
“Aku tidak apa-apa, aku baik-baik saja.”
“Jika kau baik-baik saja, kenapa kau melakukan hal itu?”
“Maafkan aku.”
“Hari ini tingkahmu sangat berbeda dengan biasanya.”
“Maaf.”
“Sebaiknya kau kembali saja ke penginapan.”
“Tapi…”
“Jika kau tetap seperti itu, nama baik kerajaan kita akan tercoreng.”
“Baiklah.” Aku kembali ke penginapan saat itu juga.
---------------
“Emilia, dimana...”
“Aku sudah menyuruhnya kembali.”
“Huh, kenapa?”
“Sikapnya hari ini sangat aneh, aku jadi khawatir dengannya.”
“Wah wah. Ratu dari kerajaan Riel, oh ya dimana dia?”
“Raja Yunas.”
“Panggil saja Sreder.”
“Sreder, ya. Baiklah, aku menyuruhnya untuk kembali.”
“Huh? Ada apa? Apa ada sesuatu yang terjadi padanya? Apa mungkin karena masalah barusan?”
“Ya, seperti itulah. Aku tak tau kenapa, tapi sikapnya berbeda dengan biasanya.”
“Berbeda dengan biasanya?”
“Iya.”
“Hmm. Apa kau sudah tanya kenapa sikapnya berubah?”
“Aku sudah menanyainya tapi, sepertinya ia tidak ingin memberitahu.”
“Hmm, mungkin saja begitu.”
“Sreder, apa kau mengetahui sesuatu?”
“T-Tidak, ini hanya pemikiranku saja.”
“Begitu.”
“Tapi, aku sangat terkejut melihat orang yang dijuluki raja terkuat sepertinya melakukan hal seperti itu.”
“Aku juga, ini pertama kalinya ia melakukan hal seperti itu.”
“Nona Emilia, apa kau benar?”
“Emilia saja.”
“Wah, aku rasa itu sedikit tidak sopan. Lagipula kau adalah ratu dari raja terkuat, setidaknya aku harus sedikit sopan padamu.”
“(tersenyum) Kau orang yang aneh.”
“Hahaha. Nona Emilia, aku memiliki saran untukmu.”
“Apa itu?”
“(bisik-bisik)”
----------------
Taman.
“Ada apa ini?” Setiap kali aku memejamkan mata, ingatan itu selalu terlintas. Mimpi buruk itu, tidak bisa aku lupakan. “Ini menyebalkan.” Meskipun kejadiaannya sudah tidak terjadi, tapi ingatan itu masih bisa aku ingat. “Haa. dewa Sha, kenapa kau melakukan hal seperti ini padaku.” Saat aku meminta dewa Sha untuk menghapus ingatan ini, dia bilang kalau ingatanku yang lain juga akan ikut terhapus. “Haa, kenapa bisa jadi seperti ini.” ‘Atasilah masalahmu itu sendiri, cobalah agar kau terlalu bergantu padaku.’ Itulah yang dikatakannya padaku.
“Atasi masalah ini sendiri, ya. Bagaimana caranya?” Tanpa petunjuk apapun, bagaimana caraku untuk mengatasinya. “Setidaknya, berilah aku sedikit petunjuk.”
Beberapa lama kemudian.
Disini sangat tenang dan nyaman, tempat yang cocok untukku. “Haa, sial.” Setiap kali aku memejamkan mata untuk menikmati ketenangan ini, ingatan itu kembali menghantuiku. “Jika seperti ini terus, aku mungkin tidak akan bisa tidur.”
Malam hari.
Penginapan.
Kreekk
“Ai, bagaimana? Apa dia ada didalam?”
“Iya, dan sepertinya ia sedang tertidur lelap.”
“Bagaimana kalau kita lakukan apa yang di sarankan oleh Sreder. Ini juga demi kebaikannya.”
“Iya. Baiklah.” Perlahan, Ai dan Emilia masuk ke dalam kamar.
“Ai, tolong lakukan.”
“Baik.” Ai mulai memengang tangan Hikari, dan mulai menyalurkan mana milikknya pada Hikari.
__ADS_1
Ctrasss
“Ai, apa yang terjadi?”
“Aliran mananya terputus.”
“Terputus? Bagaimana bisa?”
“Aku tidak tau, biar aku coba lagi.”
“Ya, aku mohon.” Ai kembali melakukan hal yang sama.
Ctrasss
Ctrasss
Ctrasss
Ctrasss
Ctrasss
“Ini tidak bekerja. Aliran mananya terus terputus.”
“Apa yang sebenarnya terjadi dengannya?”
“Aku tidak tau, tapi ini pertama kalinya aku melihat aliran mana terputus saat ada yang ingin membagikan mana.”
“Hiroaki.” Mereka melihat sesuatu yang sangat menyedihkan. “Dia, menagis.”
“Ini pertama kalinya aku melihatnya seperti ini, mimpi seperti apa yang ia alami hingga sampai membuatnya seperti ini.”
“Aku tidak tau, tapi… Aku tidak tega melihatnya seperti ini. Padahal ia sangat kuat, tapi ia sampai menjadi seperti ini.” Emilia memeluk Hiroaki yang tengah tertidur lelap. “Tenang saja, aku ada disampingmu. Kau tak perlu khawatir…”
---------------------
“H-Hi-roa-ki..”
“Ahhhhh!!!!”
“H-Hiroaki, ada apa?!”
Aku terbangun dari tidurku. “M-Maaf, aku membangunkan kalian.” Teriakanku membangunkan Ai, dan Emilia.
“Sayang, apa kau bermimpi buruk?”
“T-tidak, aku tidak apa-apa.”
“Hikari, apa yang sebenarnya terjadi padamu?”
“Aku baik-baik saja.”
Plakkk
“Setelah melihat semua ini, kau masih bilang baik-baik saja. Apa kau tidak tau seberapa khawatirnya kami melihat keadaanmu yang seperti ini!”
“M-Maaf, aku membuat kalian khawatir. Tapi, aku tidak apa-apa.. aku baik-baik saja, kalian tidak perlu khawatir.” Aku perlahan keluar dari kamar. “Aku akan bersiap-siap, sebentar lagi matahari akan terbit.”
-----------------
“Haa.” Aku merasa bersalah karena sudah membangunkan mereka, tapi tidak bisa dipungkiri kalau aku juga merasakan ketidaknyamanan. “Ingatan ini, aku harap ada obat untuk menghilangkannya.” Setidaknya itulah yang aku inginkan untuk bisa menghilangkan ingatan ini.
Beberapa jam setelah itu.
Para raja dari kerajaan lain berangsur-angsur kembali ke kerajaan mereka bersama prajurit yang mengawalnya, sedangkan aku hanya ber 3 saja. “Haa.”
“Hiroaki, ada apa?”
“Tidak ada apa-apa. Ayo.”
Di luar gerbang.
“Shura!”
“Eh?” (Emilia & Sia)
Beberapa menit kemudian.
Groaaarrr
“N-N-NAGA!!”
“Sayang, apa yang sebenarnya kau pikirkan?! Memanggil naga Shura dekat dengan kerajaan…”
“Maaf. Tapi, aku saat ini sangat lelah.” Bukan lelah secara fisik, melainkan secara mental.
Shura berhenti tepat di depanku. “Wah wah. Raja terkuat memang sangat luar biasa, bukan hanya memiliki kekuatan yang besar. Tapi sampai ras nagapun bisa ditaklukkan dengan mudah seperti itu.”
“Sreder, ya.”
“Jika ada waktu luang, datanglah ke kerajaanku. Akan aku sambut kedatanganmu dengan meriah.”
“(tersenyum) Terimakasih.” Sepertinya aku mendapatkan 1 teman di pertemuan ini. “Shura.”
Groaarrr
Shura perlahan terbang, dan pergi kembali pulang menuju ke Riel.
“Hiroaki. Jika kau lelah, sebaiknya kau istirahat saja. Perjalanan ini sangat panjang.”
“Itu benar, jika sudah sampai akan kami bangunkan.”
“Terimakasih, tapi aku tidak mengantuk. Aku hanya ingin sebuah ketenangan.”
“Begitu…” Saat aku berkata seperti itu, mereka berdua diam dan aku bisa merasakan ketenangan disini.
Hanya ada hembusan angin dan kepakan sayap Shura yang bisa aku dengar. Ini adalah yang aku inginkan, ketenangan seperti ini. Tapi... Masih tetap saja, saat aku menutup mataku untuk menikmati ini, ingatan itu teringat kembali olehku.
----------------
“Hiroaki…”
“Stttt, jangan berisik. Dia sedang tidur.” Emilia sedang melihat Hikari yang tidur di pangkuan Ai. “Meskipun begitu ia terlihat begitu tersiksa. Apa yang sebenarnya terjadi padanya, kenapa dia tidak mengatakan apa-apa.”
“Mungkin dia tidak ingin kita khawatir. Setidaknya itulah yang ada dipikirannya, tapi ia tidak tau kalau jika ia menyembunyikan sesuatu dari kita itu malah membuat kita lebih mengkhawatirkannya.”
“Coba saja dia mengatakan dengan jujur apa yang sebenarnya terjadi padanya, pasti semuanya akan baik-baik saja. Ia mungkin tidak akan tersiksa seperti ini.”
--------------
Sentuhan lembut terasa di kepalaku, dan karena itu aku perlahan membuka mataku. “Ai.”
“Hiroaki, kau sudah bangun.”
__ADS_1
“Maaf, aku ketiduran.” Aku mencoba untuk bangun, tapi… “A-Ai...”
“Sebaiknya kau tetap seperti ini dulu, aku tau kau sangat lelah.”
“Tidak apa-apa, aku baik-baik saja…”
“Kau itu. Sekali-kali coba dengarkan apa yang aku katakan. (marah)”
“Maaf.”
“Ha.. Hiroaki, apa yang sebenarnya terjadi padamu? Coba ceritakan pada kami, siapa tau kami bisa membantumu.”
“Aku tidak apa-apa. Maaf jika aku membuat kalian cemas.”
“Jika kau memang tidak ingin bercerita tidak apa-apa, tapi jangan sampai membuat orang yang ada di dekatmu menjadi khawatir.”
“Maaf.”
“Haa, sudahlah, aku sudah lelah bertanya hal yang sama padamu.”
“Sayang. Jika ada sesuatu yang bisa kami lakukan, katakan saja. Kami pasti akan membantumu.”
“(tersenyum) Terimakasih.” Meskipun begitu, aku tak begitu yakin kalau mereka bisa membantuku mengatasi masalah ini.
Beberapa lama kemudian.
“Dia tertidur lagi.”
“Sepertinya dia sangat lelah.”
“Iya. Tapi, setidaknya tidurnya kali ini tidak tersiksa seperti sebelumnya.”
“Kita biarkan saja dia seperti ini dulu.”
“Jika itu maumu, aku tidak keberatan..”
Sore hari.
“Sayang, bangun kita sudah hampir sampai.”
Aku perlahan membuka mataku. “Maaf, sepertinya aku ketiduran lagi.” Tapi setidaknya, aku tidak memimpikan hal itu lagi untuk kali ini.
“Jika kau masih lelah, kau boleh tetap seperti ini untuk sementara waktu.”
“Terimakasih, tapi aku sudah baik-baik saja.” Aku perlahan bangun dari pangkuan Ai.
Cukup jauh di depan, aku sudah bisa melihat kerajaanku. “Akhirnya kita kembali.”
Beberapa lama setelah itu.
Taman belakang kerajaan.
Shura perlahan turun, dan disini sudah ada orang yang menyambut kami termasuk Rin dan Sia.
“Hi-chan, selamat datang.”
“Ya.” Aku langsung masuk ke dalam istana.
“Kalian boleh pergi, ada sesuatu yang ingin kami bicarakan.” Semua yang ada disini pergi, dan hanya tinggal mereka berempat saja disini. “Emilia, apa yang terjadi dengannya? Sikapnya berbeda dengan biasanya.” (Sia)
“Aku juga tidak tau. Dia sudah seperti itu sejak menghancurkan kerajaan Altra.”
“M-Menghancurkan kerajaan Altra, bagaimana bisa? Kerajaan itu memiliki pelindung sihir yang sangat kuat, bahkan ada yang bilang serangan terkuat raja iblispun bahkan tidak akan mampu menembus pelindung itu.”
“Aku juga tidak tau, tapi setelah melakukan itu tiba-tiba saja sikapnya menjadi aneh.”
“Tunggu, kenapa Hi-chan sampai menghancurkan kerajaan itu?” (Rin)
“Aku juga tidak tau, tapi katanya itu perintah dari dewa.”
“Begitu.”
“Rin, apa kau mempercayainya?”
“Aku percaya, lagipula tidak ada alasan untuknya berbohong. Jika itu memang perintah dari dewa, dia pasti akan melakukannya.”
“Meskipun dia sudah membunuh orang tak bersalah yang ada di kerajaan itu?”
“Iya. Alasannya sudah jelas. Lagipula, mana mungkin Hi-chan melakukan apa yang dia tidak inginkan, apalagi sampai menghancurkan sebuah kerajaan. Emilia, apa kau sudah lupa dengan apa yang pernah dia katakan pada kita.”
“Katakan? Apa?”
“Dia pernah bilang, kalau yang dia inginkan hanyalah kedamaian. Tidak lebih dari itu. Itu berarti jika dia sampai melakukan hal seperti itu, itu berarti ada sesuatu yang mendasarinya melakukan hal seperti itu, dan alasan karena dewa yang menyuruhnya sudah cukup untuknya melakukannya.”
“Tunggu sebentar, tapi…”
“Apa kau ingat. Waktu kau dan aku sudah diambang kematian.”
“Aku ingat.”
“Dewa memberikan Hi-chan sebuah harapan untuk menyelamatkan kita, dan karena itu mungkin saja dia merasa berhutang budi pada dewa. Dan bukan hanya itu, masih banyak hal lain terutama saat Hi-chan mencoba untuk menyelamatkan Ai, dia pasti sangat berhutang budi pada dewa.”
“Tapi…”
“Aku ingin bertanya, apa Hi-chan pernah melakukan hal buruk terhadap kalian?”
Mereka diam membisu termasuk Emilia.
“Aku barusaja mendapatkan berita yang buruk dari dewa.”
“Berita buruk? Apa itu?”
“Dewa bilang, kalau saat ini mental Hi-chan sedang keadaan tertekan.”
“Tertekan, kenapa?”
“Aku juga tidak tau, tapi dewa bilang kalau kita tidak membantunya itu akan sangat berbahaya bagi mentalnya.”
“Tapi, bagaimana caranya?” (Emilia)
“Ai, apa kau tau penyebab kenapa sikap Hi-chan berubah?”
“Maaf, aku tidak tau. Aku, bukan… Kami berdua sudah sering menanyakannya, tapi sepertinya ia tidak ingin mengatakan apa-apa. Aku juga sudah mencoba untuk mentrasfer manaku agar bisa melihat ingatannya, tapi saat aku melakukan itu aliran manaku dengannya terputus.”
“Terputus? Bagaimana bisa? Bukannya itu hal yang mustahil.” (Sia)
“Aku tidak tau, tapi itulah kenyataanya.”
“Bagaimana ini, jika dibiarkan ini akan sangat berbahaya baginya.”
“Kita harus melakukan sesuatu.”
Sementara itu.
__ADS_1
Saat aku kembali menutup mata, ingatan itu seketika kembali teringat olehku.”Ahhh!! Kenapa bisa begini.” Aku kira aku sudah tidak akan mengalami hal seperti itu lagi, tapi nyatanya tidak. “Jika seperti ini terus, apa aku akan terbiasa?” Jika sampai aku terbiasa dengan hal ini, mungkin disaat itulah mentalku benar-benar hancur. “Ini sangat menyebalkan.”