Watashi No Hanayome

Watashi No Hanayome
14. Sakusha


__ADS_3

Pagi hari yang cerah.


"Ha. Hari ini juga sama seperti kemarin, ya." Aku sedang melihat peperangan antar ras dari atas kastil layangku. "Kenapa bisa seperti ini, padahal aku hanya ingin membuat sebuah dunia yang damai tanpa peperangan."


Sepanjang hari selama hampir 700 tahun sejak aku membuat dunia ini, aku mengawasi apa yang terjadi di daratan. 500 tahun aku habiskan untuk melihat mereka yang merapalkan sihir, adu pedang dan juga darah. "Ha, dunia ini tidak seperti yang aku bayangkan." Setiap hari aku hanya melihat hal itu berulang-ulang. 


Duarrr


Duarrrr.


Duarrr.


"Huh?" Di saat yang bersamaan dengan rasa bosanku, aku melihat sesuatu yang menarik. "Siapa mereka?" Memiliki kemampuan sihir diatas rata-rata, dan dengan mudah menghabisi seluruh lawannya. Itu adalah mahluk yang pertama kali di panggil ke dunia ini.


"Sampai mengembangkan sihir pemanggilan. Aku rasa dunia yang aku buat ini sudah kacau."


100 tahun setelah pemanggilan pertama itu, banyak sekali mahluk dunia lain yang sudah dipanggil kedunia ini. Dan akibat hal itu pula, kekacauan terjadi di seluruh penjuru dunia.


"Perang perang dan perang. Aku sangat bosan melihat hal itu setiap hari." Sampai akhirnya, aku menemukan sesuatu yang menarik, sangat menarik.


4 kerajaan besar melakukan pemanggilan, dan pemanggilan itu gagal. Mahluk yang dipaggil bukannya berpasangan malah hanya 1 saja yang terpanggil, dan mahluk yang dipanggil itupun tidak memiliki kekuatan yang luar biasa, berbeda dengan mahluk yang berhasil diapanggil.


Mereka ber-4 dibuang. "Hm. Sepertinya ini akan sedikit menarik." Aku memutuskan untuk mengawasi mereka ber-4.


Dengan mengubah sedikit dari takdir mereka, aku membuat mereka ber-4 bertemu di suatu tempat yang sama. Dan tepat seperti dugaanku, mereka ber-4 menyatukan kekuatan mereka dan berusaha untuk menghentikan perang antar ras yang sudah  terjadi lebih dari 500 tahun.


"Hm. Ini akan jadi tontonan yang cukup bagus." Aku mengawasi mereka ber-4, melihat apa yang mereka lakukan untuk menghentikan perang yang sudah terjadi selama 500 tahun ini.


---- Beberapa hari setelah itu ----


"Huh? Mereka sudah mulai." Dari sini, aku melihat mereka ber-4 mulai mencoba untuk menghentikan perang itu dengan cara berbicara dengan para petinggi ras. 


Melihat hal itu, aku hany tersenyum. "Mereka melakukan hal yang percuma." Cara yang mereka lakukan gagal. Tapi aku sudah medunga akan jadi seperti itu.


Di saat mereka ber-4 mencari cara untuk menghentikan perang antar ras. Aku kembali menemukan sesuatu yang menarik pertahianku. Salah satu kerjaan melakukan ritual pemanggilan dan gagal, tapi ada yang aneh. "Dia, sama sekali tidak memiliki kekuatan apapun." Seorang gadis, dan tak memiliki kekuatan sedikitpun. "Apa yang terjadi?" Meskipun gagal, setidaknya ia memiliki sedikit kemampuan, tapi ia tak memilikinya.


Karena termasuk mahluk panggilan yang gagal, gadis itu dibuang. "Sudahlah." Aku berniat untuk mengabaikannya, tapi karena ia sama sekali tidak memiliki kekuatan sedikitpun. "Ha..." Aku mengawasinya juga. Selain ke-4 orang itu, aku juga mengawasi gadis ini.


"Huh? Kenapa dia pergi kesana?" Gadis yang ku awasi pergi ke sebuah hutan, dimana hutan itu sangat berbahaya.


--- Beberapa menit kemudian ---


"TOLONG!!! TOLONG SELAMATKAN AKU, SIAPA SAJA TOLONG!!" Gadis itu tersesat di dalam hutan itu dan aku juga melihanya sedang di kejar oleh kerumunan monster. 


"Ha. Seharusnya aku tak boleh melakukan ini, tapi sudahlah." Dari tempat ini aku hanya bisa mengawasi, tapi jika aku sampai turun aku mungkin akan mengubah sesuatu. Tapi, jika tidak seperti itu gadis itu mungkin akan mati.


Aku menuju ke daratan untuk sedikit membantu gadis itu. 

__ADS_1


"(terjatuh) S-siapa saja, TOLONG AKU!! AKU MOHON!!" Tepat saat para monster itu ingin menerkam gadis itu. "H-Hilang?"


"Ahh. Aku berlebihan." Para monster itu seketika lenyap saat aku melihatnya. Padahal aku tidak berencana untuk melenyapkannya, aku hanya ingin monster itu pergi dengan tenang. "Sudahlah."


"T-terima kasih. Terima kasih sudah menolongku." Dan dia adalah orang pertama yang melihatku.


Setelah menolongnya, aku berniat untuk meninggalkannya tapi. "K-Kenapa kau menangis?" Tiba-tiba saja gadis itu menangis.


"A-Aku sangat takut. Aku kira aku akan mati dimakan oleh mahluk-mahluk mengerikan itu." Ia berkata seperti itu, tapi aku merasa kalau ada hal lain yang membuatnya sedih.


"Ah... Ini pertama kalinya aku berbicara dengan seorang gadis, apa yang harus aku lakukan setelah ini?" Meskipun aku sudah menjadi seorang dewa, tapi aku dulu yang merupakan seorang manusia biasa tak pernah sekalipun berbicara dengan seorang gadis, oleh karena itu saat ini aku sedang kebingungan. 


"Jika kau membutuhkan sesuatu, katakan saja padaku. Aku akan membantumu." Entah kenapa, dari sekian banyak kalimat, malah kalimat itu yang keluar dari mulutku.


Setelah mendengar hal itu, sebuah jawaban yangtak pernah terpikirkan olehku di katakan olehnya. "K-Kalau begitu, bisa kau membunuhku."


"Huh?"


"Aku sebenarnya bukan dari dunia ini, aku tiba-tiba saja dipanggil dan setelah itu aku dibuang. Oleh karena itu, untuk mengakhiri penderitaan ini. Tolong bunuh aku."


Mendengar hal itu, aku jadi tau kenapa dia masuk ke dalam hutan ini. "Apa kau yakin."


"Ya." Dia menjawab dengan sungguh-sungguh.


"Tapi, kenapa saat monster itu ingin membunuhmu kau malah ketakutan."


"Apa kau masih berniat untuk mati, padahal dirimu tau betul kalau kau sebenarnya tidak menginginkan hal itu." Butuh tekat yang sangat kuat untuk melakukanhal seperti itu, tapi aku tak merasakan tekad itu pada gadis ini. Itu membuktikan kalau sebenarnya gadis ini tidak ingin mati. Aku bisa katakan kalau gadis ini hanya membual saja.


Mendengar ucapanku, gadis itu terdiam. "Sebaiknya aku mencoba sesuatu untuk mengetesnya." Aku perlahan berjalan menjauhinya.


"K-Kau mau kemana?"


"Aku ingin pergi, jika kau ingin mati diamlah di sini dan tunggulah monster yang lain datang." Aku berjalan semakin menjauh dan sepertinya gadis itu masih diam.


Dan saat aku hampir tidak terlihat. "T-TUNGGU AKU!!" Dan tebakanku benar, ia hanya mambual tentang ingin mati. Ia berlari menuju ke arahku. 


"Ada apa? Apa keinginanmu untuk mati hanya sekedar membual saja." Saat aku berkata seperti itu, ia menundukkan kepalanya. "Sudahlah. Ayo." Aku berjalan di depan dan ia mengikuti dibelakangku.


----- Beberapa lama kemudian -----


Kami berhasil keluar dari hutan. "Apa yang akan kau lakukan setelah ini?" Gadis itu hanya menggelengkan kepalanya. "Apa kau tidak punya sesuatu yang ingin kau lakukan?"


Sepanjang perlajanan gadis ini hanya diam. "A-Aku..." (Gadis)


"Huh? Ya?"


"A-Aku, Aku ingin kembali ke tempat asalku."

__ADS_1


"Tempat asalmu?"


"Aku tidak ingin berada disini, disini aku sama sekali tidak mengenal siapapun, aku juga tidak tau dunia macam apa ini. Alasanku ada disini, aku juga tidak tau. Jika aku memang tidak dibutuhkan kenapa aku harus dipanggil kedunia ini, kenapa mereka tidak mengembalikanku ke dunia asalku." Ia kembali menagis setelah berkata seperti itu.


Dan saat ini, entah kenapa aku merasa mulai muak dengan sihir pemanggilan yang ada di dunia ini. "Ayo, ikut denganku. Aku akan membawamu ke tempat yang aman."


"B-Baik."


--- Di tengah perjalanan ---


Gadis itu mulai tenang, dan aku mulai mencoba untuk bertanya sesuatu padanya. "Siapa namamu?"


"Ai, Shiraku Ai."


"Ai, ya. Di duniamu yang dulu, apa pekerjaanmu?"


"Aku seorang pelajar."


"Pelajar, ya." Jika dilihat, sepertinya usianya lebih muda dariku. Itu sudah jelas, aku bisa tau dengan mudah tentang siapa dirinya, tapi untuk lebih sopannya makanya aku bertanya padanya. "Setelah itu, apa yang akan kau lakukan?"


"Mencari pengalaman, perkerjaan yang cocok denganku, lalu..." Tiba-tiba saja pipinya memerah.


"Lalu?"


"M-Menikah dan mempunyai anak, lalu hidup bahagia."


"Begitu, ya." Impian yang biasa saja, itu jika di dunia lain, tapi tidak untuk dunia ini.


"Apa aku boleh bertanya."


"Silahkan."


"Kau itu sebenarnya siapa? Kenapa kau bisa mengerti apa yang aku katakan, padahal orang-orang itu sama sekali tidak paham dengan perkataanku. Apa jangan-jangan..."


Aku sedikit berbohong. "Ya, aku sama sepertimu. Aku juga dipanggil kedunia ini, dan dibuang."


"Tapi, kenapa kau dibuang. Padahal kau bisa melenyapkan mahluk-mahluk aneh itu dengan mudah."


"Entahlah."


"Oh ya, kalau boleh tau. Siapa namamu?"


Jika aku menggunakan nama Sakura Sharui, mungkin dia akan sedikit percaya denganku. "Sha, panggil saja aku begitu."


"Sha, ya. Baiklah, Sha." Ia tersenyum sambil menyebutkan namaku.


Shiraku Ai, seorang gadis lemah yang dipanggil kedunia yang sudah mulai menuju ke kehancuran.

__ADS_1


__ADS_2