
Pagi hari, jam 08.50
Disekolah, kelas
Pelajaran sudah dimulai, dan Sylvi bersikap biasa padaku. Sepertinya ia menuruti apa yang aku katakan. “Ini lebih baik.”
Beberapa minggu kemudian
Kringggggggg.
Siang hari, 14.22
Alarm perginya iblis sudah berbunyi. “Sepertinya sudah selesai.” Sudah lebih dari 1 bulan berlalu sejak aku diberitahu tentang tugasku oleh dewa Sha. Dan saat ini, masih sama seperti hari-hari sebelumnya. (67 hari lagi sebelum kembali)
“Haa, kalian datang lagi.” Mereka semua datang menghampiriku. Itu terjadi setiap alarm peringatan hilangnya monster berbunyi. “Aku heran, kenapa kalian selalu saja menemukanku. Padahal sangat jarang ada orang yang datang ke tempat ini.” Sebuah kuil kecil di dekat pegunungan, tempat ini adalah tempat yang sudah lama tidak dikunjungi oleh maysrakat, meskipun begitu masih ada beberapa orang yang datang ke tempat ini, entah untuk melakukan apa. Itulah yang aku dapatkan setelah mengamati daerah ini beberapa hari terakhir.
“Kali ini, kami pasti akan mengalahkanmu.”
“Haa, kau sudah sering mengatakan hal itu disetiap pertemuan. Huh, dimana dia?”
“Siapa?”
“Sylvi Angelia, apa dia tidak ikut dengan kalian? Dan juga si gadis panah itu.”
“Mereka sedang ada urusan, jangan mengalihkan perhatian. Kali ini, kami saja sudah cukup untuk mengalahkanmu.”
“Haa, baiklah. Tolong, jika bisa berikan aku sedikit hiburan kali ini.”
“Semuanya, serang!!!”
Beberapa lama kemudian.
“Hmm, hampir 30 menit, lumayan juga. Kalian sedikit berkembang dari sebelumnya.” Setiap kali melawanku, mereka menunjukkan sedikit perkembangan baik dalam kerjasama ataupun dalam kekuatan mereka. Tapi, masih ada sesuatu yang kurang dari itu. Dan untuk saat ini aku masih belum mengetahuinya. “Datanglah lagi padaku saat kau sudah bertambah kuat.”
“T-Tolong!!!!”
“Suara?” Aku mendengar sebuah suara teriakan.
“Tolong selamatkan aku!!”
“Suara itu...” Aku langsung pergi menuju ke asal suara itu.
Beberapa menit kemudian.
“Suaranya berhenti, apa aku terlambat?” Aku tak bisa mendengar suara itu lagi. “Dimana? Dimana dia?” Aku takut terjadi sesuatu padanya, jika sampai terjadi sesuatu padanya entah apa yang akan dewa Sha lakukan padaku. “Sial!!” Aku kembali mencari.
“Huh, itu...” Dari jalan yang berbeda, aku melihat sang Shinigami sedang bersama dengan Sylvi Angelia yang sedang tak sadarkan diri. Dan disana, aku juga melihat sang gadis panah, beserta 3 orang lainnya yang juga sudah tergeletak tak sadarkan diri.
__ADS_1
“Koujo-kun, apa kau masih akan terus melakukan hal ini?”
“Ya.”
“Bukankah akan lebih baik jika kau menjaganya sendiri.”
“Aku tidak bisa, aku tidak mau kejadian itu...”
“Tapi, bukankah kau...”
“Maaf, sebentar lagi dia akan sadar. Aku harus segera pergi.” Saat dia ingin pergi, tanpa sengaja ia melihat ke arahku.
Aku mengabaikannya, dan berjalan tanpa tujuan. “Sepertinya, aku baru saja melihat sesuatu yang menarik.” Yang ingin melindungi Sylvi Angelia bukan hanya aku, tapi sang Shinigami juga. Tapi, sepertinya ia memiliki alasan tersendiri melakukan hal itu. Dan aku tak ingin mengetahuinya lebih jauh, karena itu akan membuat diriku terjun kedalam masalah lain yang bukan urusanku dan aku sangat ingin menghindari hal itu.
Malam hari, 22.32
“Dewa Sha, ada yang ingin aku tanyakan padamu.”
“Apa, tentang Shinigami itu?”
“Ya.”
“Jika itu yang ingin kau ketahui, baiklah. Shinigami itu bernama Koujo Kotaro. Itu saja.”
“Eh? Hanya itu?”
“Apa tidak ada hal lain lagi tentangnya?”
“Jika aku memberitahukan hal lain tentangnya, maka itu akan menyebabkan (sesuatu) hal yang berlebihan. Dan disini saja sudah banyak sekali (sesuatu) hal yang di ungkap.”
“Huh?”
“Tidak ada, lupakan apa yang aku katakan barusan. Jika kau ingin tau, sebaiknya kau caritau saja sendiri.” Dewa Sha menutup telepatinya.
“Haa. Mencaritau sendiri, ya. Sudahlah.” Meskipun penasaran, aku tak ingin terlibat lebih jauh lagi dalam urusan pribadi Sylvi, ataupun Kotaro.
Beberapa hari setelah itu.
Sore hari, 17.21
Di atas salah satu gedung.
Saat ini aku tengah berbaring sembari menikmati matahari yang mulai terbenam. “Haa, ada orang, ya.” Ada orang lain yang datang kemari. Dan saat aku melihatnya. “Ah, si gadis panah. Apa kau ingin melawanku?”
“Tidak, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan.”
“Huh?” Tidak biasanya hal seperti ini terjadi. “Baiklah, akan aku dengarkan.”
__ADS_1
Setelah itu.
“Jadi begitu, lalu kenapa kau memberitahuku tentang hal ini.”
“Aku rasa kau adalah orang yang tepat.” Dari apa yang dikatakan olehnya, dia memberitahuku tentang hubungan Sylvi Angelia dan juga Koujo Kotaro, dan dia juga memintaku untuk membantunya.
“Jika kau mencari orang yang bisa membantumu, carilah orang lain.”
“Jika kau tidak ingin membantuku, tidak masalah, tapi ada sesuatu yang ingin aku tanyakan padamu.”
“Apa?”
“Kenapa kau memprovokasi mereka, bukannya kau juga seorang guardian sama seperti yang lain. Kenapa kau melakukan hal ini?” Mendengar ia berkata seperti itu, membuatku tertawa. “Apa yang kau tertawakan.”
“Tidak ada, hanya saja aku terkejut kalau kau akan bilang aku adalah seorang guardian.”
“Kau memiliki kemampuan yang luar biasa, siapapun pasti akan sadar kalau kau seorang guardian. Lagipula, kau bisa menang setelah di serang oleh para guardian itu.”
“Hmm, mulai tadi kau menyebut ‘itu’ dan ‘mereka’. Apa para guardian tidak akrab satu sama lain?” Ia tak menjawab apa-apa, dan hanya menunduk. “Begitu, ya.” Jika memang benar, pantas saja aku merasa ada sesuatu yang kurang saat aku melawan para guardian itu. Seperti yang aku duga sebelumnya, meskipun kerjasama dan kemampuan mereka meningkat setiap kali melawanku, aku selalu merasa kalau ada yang kurang dan ternyata itu. “Bilang pada mereka, jika ingin mengalahkanku. Setidaknya perbaiki hubungan kalian, jika tidak seperti itu meskipun bertahun-tahun kalian tidak akan bisa mengalahkanku.” Meskipun aku hanya punya waktu sekitar 2 bulan lagi.
Aku perlahan berjalan pergi. “Tunggu, apa aku boleh tau siapa namamu?”
“Akarui Hiroaki.”
“Akarui Hiroaki. Namaku Shirayuki Amane.”
“Shirayuki, ya.” Nama yang tidak asing bagiku, aku berhenti sejenak untuk mengingat-ngingat. “Shirayuki Ken.” Nama itu yang terlintas dipikiranku saat mendengar nama Shirayuki.
“Kau... Bagaimana kau tau.”
“Huh? Apa?”
“Kau barusan menyebut Shirayuki Ken, benarkan.”
“Eh? Y-Ya...”
“Apa kau kenalan kakakku?”
“Eh? Y-Ya, begitulah.” Jika diingat, Ken pernah bilang kalau dia mempunyai seorang adik. Tapi, aku tak menyangka kalau adiknya berada didunia ini.
“Begitu, ya. Kakakku meninggal beberapa tahun yang lalu akibat kecelakaan.”
“Begitu.” Ini sungguh kejadian yang tak terduga. Matahari sudah terbenam. “Sebaiknya kau segera pulang, sangat berbahaya bagi seorang gadis berjalan saat malam hari.” Sembari mengatakan hal itu, aku perlahan melangkahkan kakiku.
Malam hari, 20.21
Restoran.
__ADS_1
“Masih tidak ada rasanya.” Semua makanan yang aku makan, masih tidak terasa apa-apa. Padahal ini sudah lebih dari 1 bulan. “Sudahlah.” Mau bagaimanapun, aku harus memakannya agar perutku terisi. Meskipun ini sama saja seperti memakan angin.