
Pagi hari, jam - -.- -
Hari ini adalah hari terakhir sebelum ritual pemanggilan dimulai, dan hari ini rencanaku adalah bermalas-malasan seharian penuh.
Dan persis seperti yang aku inginkan. Saat aku membuka mata, aku tak merasakan kejadian seperti hari kemarin. Ya, karena aku sudah memberitahu mereka semua kemarin saat selesai makan malam, untuk tak mengangguku hari ini, karena aku sedang mengatur sebuah rencana. Padahal sebenarnya aku hanya ingin bermalas-malasan saja hari ini.
"Ah, sudah siang rupanya." ini adalah pertama kalinya aku bangun cukup siang, dan aku merasa cukup senang, karena selama aku berada di dunia ini, aku selalu bangun pagi dan bahkan kadang bangun sebelum matahari terbit.
"Hi-Hiroaki, a-apa kau ada di dalam? (diluar kamar)"
"Itu suara Emilia, apa yang dia lakukan tidak biasanya dia ke kamarku? Lagipula, aku sepertinya sudah bilang kemarin pada semuanya untuk tak mengangguku hari ini." pikirku. "Ada apa Emilia?"
"Apa aku boleh masuk?"
"Silahkan."
Kreeekk.
Emilia masuk ke dalam kamarku, dan aku masih dalam keadaan berbaring di kasur. "Ada apa Emilia, tidak biasanya kau datang ke kamarku, apa ada hal penting yang ingin kau bicarakan?"
"Ehh... A-aku hanya ingin mengembalikan ini." Emilia memberikan kartu petualang milikku.
"Oh, terima kasih." aku ingat kalau aku sudah memberikan kartu petualangku pada Rin dan lupa untuk mengambilnya kembali. "Bagaimana dengan imbalannya?"
"Ini. ini imbalannya." Dia kembali memberikan satu kantong koin kepadaku.
"Kau ambil saja, kau pasti memerlukan sesuatu,'kan."
"Koin ini, untukku? Tapi, ini 'kan imbalan milikmu..."
"Untuk saat ini, aku tak memerlukan apa-apa, jadi kau bisa gunakan koin itu untuk membeli kebutuhan perlengkapan untuk yang lainnya."
"Yang lainnya?"
"Iya, Lia sepertinya juga butuh sebuah perlengkapan. Lagipula, sepertinya Lia memiliki kemampuan tersembunyi." aku mengatakan itu karena, aku baru pertama kali melihat sihir yang bisa membuat orang melayang dan mungkin itu termasuk sihir yang spesial. Dan aku harus menayakan hal itu pada dewa Sha.
"Oh, begitu. Baiklah. H-Hiroaki, apa kau sudah makan?"
Baru pertama kali ada orang yang menanyakan hal seperti itu padaku. "Eh, ku? Aku beluma..."
"Bagaimana kalau kita makan di luar?"
"Hah? Makan di luar?" Emilia mengajakku makan di luar, padahal ada ruang makan yang sangat mewah di penginapan ini.
"Apa kau tidak mau?" Ia terlihat murung.
"B-bukan begitu, tapi-..." aku tak berniat menolak tawarannya, tapi jika aku ikuti kemauannya, rencanaku untuk hari ini akan sia-sia.
"Kalau begitu, kau sebaiknya segera bersiap-siap, aku akan menunggumu di luar."
"Ada apa dengan Emilia hari ini?" hari ini Emilia kelihatan berbeda, dan yang lebih penting. Rencana bersantai selama seharianku lenyap sudah.
Karena Emilia sudah mengajakku, mau tak mau aku harus menurutinya. Akupun bersiap-siap, mandi dan sebagainya.
------- 10-15 menit kemudian -------
Aku sudah bersiap-siap, dan karena aku hanya akan berjalan di dalam kerajaan, sepertinya aku tak perlu membawa pedangku. Baju yang aku gunakan sekarang adalah seragamku, entah kenapa setelah aku selesai mandi baju ini terlihat seperti baru selesai di cuci, padahal tak ada seorangpun yang masuk ke kamarku sebelumnya.
Tapi, aku cukup senang karena aku tak perlu memakai baju yang lain.
------- Beberapa menit kemudian ---------
[ Di luar penginapan ]
Aku keluar dari penginapan dan menghampiri Emilia yang sudah dari tadi berada di luar penginapan. "Maaf membuatmu menunggu."
"T-tidak apa-apa kok."
"Eh..? Kenapa aku membuat seorang wanita menunggu, bukannya seharusnya aku yang menunggunya bukannya dia. Ahh.. Biarlah, lagipula ini adalah dunia lain, dan aku juga tak begitu peduli dengan hal sepele seperti itu." pikirku.
Aku hanya melihat Emilia seorang dan tak melihat Rin dan yang lainnya. "Kemana Rin dan yang lainnya?"
"Mereka bilang, kalau mereka ingin membeli sesuatu."
"Oh.. Begitu."
"Tidak seperti biasanya Rin pergi berbelanja. Lagupula, apa yang dia beli?" pikirku.
"Sekarang, kita akan makan dimana?"
"Eh... Kalau itu.. (bingung)"
Sepertinya Emilia tidak tau akan makan dimana. "Sungguh merepotkan."
"Ayo kita keliling dulu."
"Baik."
Kamipun berkeliling kerajaan ini untuk mencari tempat makan.
--------- Beberapa menit kemudian ---------
Entah kenapa, Emilia kelihatan cukup senang hari ini. "Emilia, ada apa denganmu?"
"Eh.. (bingung)"
"Kau kelihatan cukup senang, apa yang sudah terjadi?"
"Eh.. Itu... Itu... Karena.."
Kelihatannya Emilia tudak ingin menjawab pertanyaanku. "Sudahlah, lupakan saja pertanyaanku barusan." lagipula dia tidak mungkin menjawab pertanyaan itu.
"Baiklah."
--------- Beberapa saat kemudian --------
Kami sampai di tempat makan yang kelihatan cukup mewah. "Emilia, bagaimana dengan itu. (menunjuk ke arah rumah makan)"
"Di-disana?"
"Ada apa? Apa kau tidak mau?"
"(menggelengkan kepala) B-bukan begitu. Hanya saja, disana cukup mahal."
"Oh begitu.. Kalau begitu, mau mencari tempat makan yang lain?" lagipula saat ini aku sedang tak membawa kartu milikku, dan aku tak bisa merasakan makanan di rumah makan mewah itu.
"Baiklah."
Kamipun kembali berjalan mencari tempat makan.
--------- Beberapa menit kemudian, lagi ---------
Aku melihat tempat makan yang lebih sederhana dibandingkan dengan yang tadi. "Emilia, bagaimana dengan yang itu? (menunjuk ke arah tempat makan)"
"Kalau disana, sepertinya bisa."
"Baiklah, kita akan makan di sana."
Kamipun memutuskan untuk makan di sana.
-------- Beberapa saat kemudian --------
Saat ini kami sedang duduk berhadapan di sebuah meja tempat makan ini. Pelayan demi-human menghampiri meja kami. "Ini menunya, tuan, nyonya."
"Ah... Terima kasih." akupun melihat isi menu itu. "Ah, sial.. Aku lupa kalau aku tidak bisa membaca tulisan yang ada di dunia ini. Bodohnya aku." pikirku. Aku melihat Emilia sedang memilih untuk memesan sesuatu, dan aku memiliki sebuah ide cemerlang.
"Emilia, kau mau pesan apa?"
"Eh.. A-aku..? Kalau kau Hiroaki, mau pesan apa?"
"Ah.. Karena semuanya kelihatan sangat enak, aku tidak bisa memilihnya." tentu saja aku berbohong, padahal aku hanya tidak bisa membaca semua menunya.
"Oh begitukah.."
"Jadi, aku ingin memesan seperti apa yang dipesan olehmu saja."
"A-a-apa yang ak-aku pesan.. (gugup + wajah memerah)"
__ADS_1
Wajah Emilia memerah. "Ada apa denganmu Emilia? Apa kau sakit?"
"T-t-tidak, a-aku tidak apa-apa... Aku akan memesan ini saja. (menunjuk ke salah satu menu)"
"Kalau begitu, aku pesan itu juga."
"Baiklah, tuan, nyonya. Mohon tunggu sebentar. (pergi)" pelayan itu pergi.
-------- Beberapa menit kemudian ----------
Pelayan itu kembali. "Maaf membuat anda menunggu, ini pesanan anda. Silahkan dinikmati."
"Terima kasih." (Emilia)
Kamipun memakan makanan yang kami pesan.
--------- 10-15 menit kemudian --------
Aku sudah seleai makan dan begitu pula dengan Emilia, dan aku rasa, rasa dari makanan yang aku bakan barusan tidak buruk juga.
"Semuanya, 50 koin perak, tuan, nyonya."
"Ini." Emiliapun membayar menggunakan koin yang aku berikan padanya tadi.
Setelah menerima bayaran, pelayan itu membersihkan meja kami dan setelah itu pergi.
Saat aku melihat wajah Emilia, aku melihat ada sedikit sisa makanan yang menempel di wajahnya. "Emilia..." Aku mengambil sisa makanan itu dan membuangnya.
"Huh??"
"Sekarang sudah bersih..."
Wajah Emilia memerah lagi."Emilia, ada apa denganmu? Apa kau sakit?" akupun menyentuh dahinya dengan tanganku, dan memastikan ia sakit atau tidak.
"Hmmm. Tidak panas, ada apa denganmu?"
"Ha. A-a-a-ak-..."
"Ada apa?"
"Ak-ak-..."
"Woy Emilia, ada apa denganmu?! (panik)" tiba-tiba saja Emilia pingsan.
"Apa makanan disini memiliki efek samping? Tapi, jika begitu. Kenapa aku masih baik-baik saja?" pikirku.
Aku mencoba membangunkan Emilia. "Emilia, bangun. (menggerakkan tubuh Emilia)" Emilia masih belum sadar juga.
Dan karena cukup banyak orang yang ada di tempat makan ini melihat ke arahku, aku merasa tak nyaman. Dan aku memutuskan untuk menggendong Emilia kembali ke penginapan.
--------- Beberapa menit kemudian ---------
Siang hari, jam - -.- -
"Eh? Apa benar ini jalannya?" saat ini, aku sedang dalam kondisi yang cukup sulit, karena aku sekarang sedang tersesat.
Aku terus berjalan mencari jalan yang tepat menuju ke penginapan. Dan saat ini, orang-orang di jalan tengan menatapku dengan tatapan aneh karena aku sedang menggendong Emilia yang pinsang. "Woy woy woy woy, ayolah, berhenti menatapku dengan tatapan seperti itu." pikirku.
---------- Beberapa menit kemudian -----------
"Ah, siall, sepertinya aku sudah tersesat." aku berada di tempat yang tak pernah aku kunjungi sebelumnya. "Tempat apa ini? Aku tak tau ada tempat seperti ini di kerajaan ini."
Sebuah pemukiman kumuh yang berada agak jauh di dalam kerajaan, dan di tempat ini tak banyak orang yang beraktifitas atau mungkin, memang tak ada yang beraktifitas di daerah ini, dan hal itu membuat tempat ini kelihatan cukup seram.
"Tempat ini cukup seram, sebaiknya aku segera pergi dari tempat ini." akupun pergi meinggalkan tempat yang cukup menyeramkan ini.
-------- Beberapa menit kemudian --------
Aku berhasil keluar dari tempat itu, dan aku masih tersesat.
"Di-dimana aku?" (Emilia) Emilia sudah sadar.
"Emilia, kau sudah sadar."
"H-H-Hiroaki! A-pa yang sudah terjadi?"
"Kau tadi pingsan, jadi aku menggendongmu dan berniat kembali ke penginapan."
"Eh, kalau itu..." sebenarnya aku sangat malu untuk mengatakannya, tapi, demi kepentingan bersama aku harus mengatakannya.
"Ada apa Hiroaki?"
"Sepertinya, aku tersesat."
"Apa?!"
"Jadi, karena kau sudah bangun. Emilia, apa kau tau jalan kembali ke penginapan?"
"Ka-kalau itu, aku tau."
"Kalau begitu, aku akan memurunkanmu dan kau bisa tunjukkan jalannya." akupun menujunkan Emilia, tapi...
"T-tunggu."
"Ada apa Emilia?"
"A-aku tidak punya tenaga untuk berjalan. J-jadi, a-apa kau mau tetap menggendongku?"
"Jika seperti itu, apa boleh buat." aku tetap menggendong Emilia.
"T-terima kasih."
"Tidak apa-apa. Kau bisa menunjukkan jalan kembali sekarang?"
"I-iya."
Akupun mengikuti petunjuk yang Emilia berikan padaku.
-------- Beberapa menit berjalan --------
Aku sampai di sebuah taman yang cukup besar yang ada di kerajaan ini. "Eh. Ternyata, di kerajaan ini ada taman, ya." aku cukup terkejut, karena di dunia ini juga ada taman di tengah pemukiman.
"Hiroaki, apa ini pertama kalinya kau melihat taman."
"Tidak juga."
"Oh begitu. Hiroaki, kau bisa turunkan aku sekarang."
"Kenapa? Apa kau sudah tidak apa-apa?"
"B-bukan begitu. Tapi, kita sekarang menjadi perhatian orang sekarang."
"Eh? Apa benar begitu?" saat aku melihat sekeliling, aku memang menjadi perhatian orang yang ada di sekitar. "Baiklah, aku akan menurunkanmu"
Akupun menurunkan Emilia. "Baiklah, ayo kita kembali ke penginapan." akupun berjalan, dan Emilia masih terdiam melihat taman itu.
"Sepertinya, Emilia tertarik dengan taman itu. Lagipula hari masih siang, jadi aku rasa tidak apa-apa." pikirku. "Hey Emilia, apa kau mau pergi ke taman itu?"
"Eh? T-tidak a-aku-..." Emilia menundukkan kepalanya.
"Kalau begitu, bagaimana kalau kita mampir sebentar..." akupun memengang tangan Emilia. "Ayo."
"T-tung-..."
Aku menarik tangan Emilia dan berjalan menuju ke arah taman itu.
--------- Beberapa saat kemudian ---------
"Wah.. Taman ini ternyata besar juga jika dilihat dari dekat. (melihat ke arah Emilia) Emilia ada apa denganmu?" Emilia menundukkan kepalanya, aku tak tau kenapa ia melakukan itu. Tapi, jika seperti itu, sia-sia saja aku mengajak Emilia kemari, jika dia tak melihat taman ini, padahal ia kelihatan ingin ke taman ini tadi.
"Emilia, ada apa denganmu? Apa kau tidak suka dengan taman?"
"B-bukan begitu, hanya saja..."
"Ada apa?"
"D-disini tempat, para pasangan untuk bersantai."
__ADS_1
"Jadi, apa kau ada masalah dengan itu?"
"K-kalau i-itu..."
Aku pikir, kalau Emilia itu bukannya tidak suka dengan taman, melainkan ia tidak percaya diri karena ikatan pasangan diriku dengan Emilia adalah pasangan tanpa tanda. "Apa kau tidak berani untuk datang ke taman ini, karena kau tak punya tanda pasangan?"
"B-bukan begitu-..."
"(memengang kepala Emilia) Kau tenang saja, kau ini adalah pasanganku dan apapun yang terjadi kau tetap pasanganku. Meskipun tanpa tanda pasangan seperti pasangan lainnya, kau tetap pasanganku."
"Ahhh... Aku mengatakan sesuatu yang memalukan." pikirku.. Aku mengatakan hal yang memalukan pada Emilia, dan parahnya lagi.. Saat ini, aku sedang dilihat oleh orang-orang yang ada disini, dan itu cukup memalukan.
"H-Hiroaki, (melihat ke arahku dan tersenyum) terima kasih, karena kau mau menjadi pasanganku."
"Tidak masalah." Emilia kelihatan lebih tenang dan yang lebih penting, ia tak menundukkan kepalanya lagi. "Bagaimana kalu kita berkeliling taman ini sebentar, setelah it baru kita kembali ke penginapan."
"Baik."
Kamipun berjalan-jalan di taman itu.
---------- Beberapa menit kemudian -----------
Setelah selesai berkeliling taman ini, kami pun segera kembali ke penginapan. Hari ini Emilia kelihatan cukup bahagia dan aku cukup senang dengan hal itu.
------ Di penginapan ------
Sore hari, jam - -.- -
"Ahhh. Akhirnya, aku bisa menikmati sisa-sisa hari berharga milikku." Saat ini, aku sedang berada di kamar, sendirian.
"*Hey, apa kau tidak lupa dengan besok?" telepati dewa Sha.
"Tentu saja, mana mungkin aku melupakannya."
"Baguslah kalau begitu. Tapi sebelum itu, ada sesuatu yang igin aku berikan padamu."
"Berikan padaku? Apa itu?"
Tiba-tiba sebuah kantung kecil ada di depanku. "Kantung apa ini?" Aku pun membukannya. "Bubuk pewarna? Untuk apa ini*?" Aku diberikan sekantung kecil bubuk pewarna warna hijau oleh dewa Sha.
"*Itu untuk penyamaranmu..."
"Penyamaran?"
"Iya, jangan bilang kau ingin menyusup ke istana dengan penampilan seperti itu."
"Oh benar juga." Yang dikatakan oleh dewa Sha memang benar, aku butuh sebuah penyamaran. "Tapi, kenapa harus bubuk pewarna?"
"Itu karena, ada sesuatu yang aku lupa beritahu padamu tentang pedangmu itu."
"Hey, sudah berapa banyak hal yang kau lupa beritahukan padaku. (kesal*)" Dewa Sha adalah dewa pelupa, dan aku cukup khawatir karena ia pasti melupakan sesuatu yang penting untuk disampaikan padaku.
"*Ahahaha, baiklah aku akan menjelaskan, apa yang aku lupa beritahu padamu itu."
"Baiklah, akan aku dengarkan."
"Pedang naga biru adalah pedang khusus..."
"Pedang khusus?"
"Hey, jangan memotong kata-kataku!! (kesal)"
"Ah, baik-baik*..."
"Wah, dia kesal.." pikrku.
"*Warna pedang naga biru akan akan berubah jika kau menaburkan bubuk khusus sesuai dengan warna bubuk yang kau taburkan."
"Jadi, bubuk warna ini..."
"Ya, bubuk itu adalah bubuk khusus, dan harga sekantung bubuk khusus itu mungkin setara dengan 50 koin platinum."
"APA!!! (terkejut) 50 koin platinum. Serius?"
"Serius. Sudah, lupakan masalah bisnis kecil ini dulu. Kita kembali ke pembahasan. Jika kau sudah mempunyai tenaga yang cukup, padang ini akan berevolusi."
"Berevolusi? Apa pedang ini akan berubah bentuk?"
"Sayangnya tidak. Pedang itu hanya akan berubah warna sesuai dengan kondisi emosimu."
"Berubah sesuai kondisi emosiku?"
"Ya, atau bisa dibilang, pedang yang mengikuti kondisi pemengangnya."
"Begitu.. Tapi, apa ada pengaruhnya terhadapku?"
"Tentu saja, saat pedang ini berevolusi, Kekuatan pedang ini akan naik 3 kali lipat."
"3 kali lipat, seberapa kuat itu?"
"Saat berevolusi, kekuatan pedang ini akan sangat dahsyat, dan jika dibandingkan kekuatanku sebagai dewa. Pedang ini memiliki setidaknya 0,50% kekuatan milikku."
"0,50% Serius*?" Angka 0,50% memang kelihatan sedikit atau bahkan sangat-sangat sedikit, tapi jika melihat kekuatan yang sebelumnya Rin gunakan waktu di misi pembasmian, dewa Sha bilang kalau kekuatan sebesar itu bahkan belum menyentuh angka 0,01% kekuatannya. Jadi, bisa dibayangkan, 0,50% betapa kuatnya angka sekecil itu.
"*Serius. Baiklah, hanya itu informasi yang lupa aku beritahukan padamu. Dan aku ingin menanyakan 1 hal padamu."
"Apa? Rencana?"
"Apa kau mempunyai sebuah rencana untuk bisa menyusup ke kerajaan besok?"
"Eh, kalau itu..."
"Apa kau tidak mempunyai rencana?"
"Apa sebuah rencana memang diperlukan saat ini?"
"Tentu saja. Saat ritual pemanggilan dimulai, seluruh istana akan penuh dengan penjaga, dan juga orang luar tidak akan diberi izin untuk masuk ke dalam istana sebelum ritual pemanggilan itu selesai di lakasanankan. Oleh karena itu, kau membutuhkan rencnana untuk menyusup ke istana. Dan karena saat ini kau tak memiliki rencana, aku akan membantumu besok tapi untuk kali ini saja aku akan membantumu. Dan untuk selanjutnya kau harus berusaha sendiri."
"Wah, terima kasih banyak dewa Sha*." Aku cukup terbantu karena dewa Sha mau membatuku besok.
"*Tapi ingat, kau harus bangun pagi dan jangan libatkan mereka dalam urusan ini."
"Mereka? Apa maksudmu. Rin, Emilia, Inori, dan Lia..."
"Ya, jika kau melibatkan mereka dalam masalah seperti ini. Aka terjadi sesuatu yang buruk yang akan menimpa mereka."
"Kalau untuk hal itu, kau tenang saja, dari awal aku memang tak berniat melihatkan mereka semua ke dalam masalah ini. Lagipula, mereka adalah keluargaku di dunia ini, dan aku tak akan membiarkan sesuatu yang buruk menimpa keluargaku."
"Baguslah kalau kau mengerti. Kalau begitu, sebaiknya malam ini kau segera tidur, karena besok adalah hari yang penting."
"Baiklah*.." (dewa Sha menutup telepatinya).
"Kalau begitu, sebaiknya aku harus bilang pada yang laninnya untuk tak mengangguku malam ini."
Grrrr. (perut berbunyi)
"Ahh... Sebaiknya aku makan dulu. Lagipula, mereka pasti ada di ruang makan sekarang, dan itulah saatnya aku bilang pada mereka untuk tak menggangguku besok." Akupun pergi ke ruang makan.
--------- Beberapa saat kemudian --------
Aku sampai di ruang makan dan aku melihat yang lainnya sudah ada disini. Aku duduk dan kemudian langsung makan.
Beberapa menit kemudian.
Aku sudah selesai makan, dan mungkin ini saatnya aku memberitahu pada mereka. "Rin, Emilia, Inori, Lia, ada yang ingin aku sampaikan pada kalian."
"Ada apa Hi-chan?"
"Aku ingin, kalian tak mengganggu besok."
"Ada apa Hiroaki?"
"Kenapa Hiroaki-sama tidak ingin di ganggu besok?"
"Sesuatu yang menjadi tujuanku datang ke kerajaan ini, akan aku lakukan besok. Dan aku akan senang jika kalian semua tak ikut campur."
"T-tapi, Hi-chan..."
__ADS_1
"Maaf atas keegoisanku Rin, tapi ini adalah permintaanku pada kalian semua. Aku harap kalian tidak menggangguku besok, dan akan lebih baik kalau besok kalian tetap berada di kamar." Akupun pergi dari ruang makan. "Maafkan aku. Aku tak ingin melibatkan kalian dalam masalah ini." Akupun kembali ke kamar, dan mempersiapkan segala sesuatu yang aku butuhkan untuk rencana mengagalkan ritual pemanggilan besok.
Bersambung