Watashi No Hanayome

Watashi No Hanayome
32


__ADS_3

Tinggg... Tinggg... Tinggg...


Pagi hari, jam 06.00


Suara menara jam berbunyi, dan ternyata teknologi yang aku buat sudah sampai ke benua ini. "Hoamm. Sepertinya aku kemarin tidur terlalu malam." Kemarin aku mendengar cerita Sia tentang kenapa ayahnya mengikuti apa yang dikatakan oleh petinggi kerajaan.


Dan kesimpulan yang aku ambil dari apa yang Sia sudah ceritakan padaku itu adalah, kalau sebenarnya para petinggi tidak suka kalau ayah Sia yang menjadi raja, dan seharusnya kakak dari ayah Sia'lah yang seharusnya menjadi raja di kerajaan ini. Aku tak tau kenapa kenapa, tapi yang pasti ini bukanlah hal yang baik, mengingat para petinggi memengang peran yang cukup penting untuk keberlangsungan kejayaan sebuah kerajaan.


Aku segera bergegas untuk bersia-siap, dan pagi ini aku berencana untuk jalan-jalan mengelilingi kerajaan ini. Karena kerajaan ini lebih kecil dari kerajaan milikku, aku rasa tidak akan membutuhkan waktu lama untuk melihat apa saja yang ada di kerajaan ini yang tidak ada di kerajaanku.


------- 10-15 menit bersia-siap --------


Aku sudah selesai bersiap-siap, dan aku juga sudah siap untuk melakukan kegiatan pagi ini. "Hiro, apa kau sudah bangun?" (Sia) Suara Dia terdengar sedang mengetuk pintu kamar.


"Aku sudah bangun.. Tunggu sebentar, aku akan segera keluar."


"Baiklah."


Aku mengambil pedangku yang selalu aku taruh di bawah kasur, dan setelah itu ajkupun keluar dari kamar. "Bagaimana tidurmu? Apa tidurmu nyenyak?"


"Ya, lumayan."


"Begitukah.."


"Kalu begitu, pagi ini kita akan pergi kemana?" Karena Sia kemarin bilang kalau ia akan memanduku untuk berkeliling kerajaan ini, dan akupun menerima tawarannya.


"Hmmm. Bagaimana kalau kita, ke kota dulu. Tempat di sana cukup menarik untuk di kunjungi."


"Oh, begitukah. Baiklah, kita pergi kesana dulu saja." Kamipun berangkat menuju ke kota yang ada di kerajaan ini.


------- setelah hampir 30 menit berjalan ---------


Dan tepat seperti dugaanku, aku sudah sampai hanya dengan waktu lebih dari 30 menit saja. "Ehh. Jadi ini kota yang ada di kerajaaan ini, ya." Aku cukup terkejut karena kta yang ada di kerajaan ini cukup besar. Ya, meskipun tidak sebesar kota yang ada di kerajaanku. 


"Akarui, kesini."


Aku menghampiri Sia yang berada agak jauh di depanku. "Ada apa Sia?"


"Bagaimana kalau kita kesana?" Sia menunjuk ke arah sebuah bangunan menara jam.


"Apa boleh?" Aku menanyakan itu karena aku melihat ada penjaga yang menjaga pintu masuk untuk naik ke atas menara jam.


"Tenang saja, pasti boleh 'kok."


"Ya sudah." Aku mengikuti apa yang dia inginkan, lagipula aku tak begitu tau dengan tempat ini.


------- Beberapa menit kemudian --------


"Wahh. Keren juga disini." Aku tak menyangka kalau di atas ini aku akan dapat melihat hampir seluruh bagian dari kota ini.


"Bagaimana, bagus bukan. Menara ini meniru menara seperti yang ada di kerajaan Riel. Aku cukup kagum dengan raja Riel, padahal kerajaanya tergolong kerajaan baru, tapi ia sudah bisa membuat kerjaannya berkembang sangat pesat."


Aku merasa cukup malu saat ia memuji raja Riel, ya walaupun sebenarnya aku adalah raja Riel. "Apa kau tak terlalu berlebihan memuji raja Riel?" Menurutku, kata-katanya barusan itu berlebihan.


"Aku rasa tidak. Semua orang pasti mau dipimpin oleh seorang raja seperti raja Riel. Sebenarnya aku cukup iri dengan orang yang hidup bahagia di kerajaan Riel."


"Kenapa kau tidak pindah saja kesana?" Aku menyarankan seperti itu, karena ia terlihat tidak suka berada di kerajaan milikknya sendiri.


"Aku sudah pernah mencobanya. Tapi, karena aku tak punya kenalan disana, aku jadi kesulitan untuk tinggal di kerajaan Riel, dan pada akhirnya aku hanya bisa bertahan selama 10 hari saja."


"Begitu, ya. Sepertinya memang sulit jika kau tidak punya seseorang yang kau kenal, ya."


"Ya, begitulah." Sepertinya Sia sangat ingin tinggal di kerajaanku, tapi untuk saat ini aku tak bisa melakukan apa-apa, karena aku harus menyembunyikan identitasku sebagai seorang raja dan bisa gawat kalau sampai ada yang tau kalau aku adalah seorang raja.


"Hey Sia. Kita mau pergi kemana lagi?"


"Ehh. Bagaimana kalau-...."


Ting ting ting ting ting.


Tiba-tiba saja terdengar suara bel, dan semua orang yang ada di sini mulai panik. "Ada apa ini?!"


"Sepertinya ada masalah." 


"Masalah?"


"Perhatian!! Ratusan gerombolan hewan iblis, mulai bergerak kemari. Seluruh penduduk diharap untuk segera di evakuasi secepatnya." (prajurit)


"Hewan iblis?" Dan tak hanya itu, prajurit itu bilang kalau ada ratusan gerombolan hewan iblis yang sedang menuju ke kerajaan ini. 


Tiba-tiba saja Sia beranjak turun dari menara ini. "Sia, apa yang akan kau lakukan?"


"Aku akan menyelamatkan kerajaan ini, meskipun aku tidak suka hidup disini, tapi di sini adalah tanah tempat kelahiranku. Aku akan menjaganya meskipun aku harus mempertaruhkan hidupku." 


Aku cukup kagum dengan tekat kuatnya, tapi akub tidak yakin kalau dia akan bertahan saat ia melawan gerombolan hewan iblis itu. "Aku akan membantumu." Lagipula waktu itu, ia terlihat ketakutan saat sedang dikepung oleh gerombolan hewan iblis, dan aku cukup khawatir dengan hal itu.


"Tapi, kau hanya orang asing disini."


"Terus? Apa ada masalah dengan itu?"

__ADS_1


"Kami membutuhkan lebih banyak orang yang bisa bertarung melawan hewan iblis!!" (prajurit)


"Lihat, sepertinya mereka masih kekurangan orang. Lagipula aku belum selesai mengelilingi kerajaan ini, akan gawat kalau kerajaan ini sampai hancur sebelum aku bisa melihat hal menarik apa saja yang ada di kerajaan ini."


"Tapi..."


"Sudahlah. Ayo kita ikut berkumpul juga." Aku bergegas turun dari menara jam, dan ikut berkumpul dengan para prajurit dan juga petualang yang ingin membasmi hewan iblis itu. Ya, meskipun ini bukanlah sebuah quest pembasmian, dan karena itu pula pastinya aku tidak akan mendapatkan imbalan apapun. Dan ini berarti, aku membantu kerajaan ini dengan senang hati (tanpa bayaran apapun).


"Baiklah. Para pejuang, saat ini kita sedang dalam krisis besar ratusan gerombolan hewan iblis sedang menuju ke sini, dan tugas kita adalah mengalahkan mereka semua. Dan total semua hewan iblis itu adalah 5000 ekor."


"Apa!!! (terkejut) 5000 ekor!" (???)


5000 ekor hewan iblis memanglah jumlan yang sangat besar, tapi aku tak menyangka kalau reaksi mereka akan seperti ini. "Hey Sia.."


"Ada apa Hiro?"


"Apa para petualang yang ada di sini pernah melawan hewan iblis?"


"Quest untuk membunuh hewan iblis memang banyak, tapi para petualang di kerajaan ini biasannya membentuk sebuah party untuk bisa membunuh 1 hewan iblis saja."


Jadi itu alasan mereka sangat terkejut. Berbeda dengan ras manusia, ras Elf membutuhkan beberapa orang untuk bisa membunuh 1 hewan iblis, sedangkan ras manusia hanya membutuhkan 1 tebasan untuk bisa membunuh 1 hewan iblis. Sungguh perbedaan kekuatan yang sangat jauh. Tapi menurutku, ras Elf memiliki kelebihan dalam hal mengendalikan sihir. Itu terbukti dengan Kimi yang sudah membuatku tidak bisa bergerak menggunakan sihir miliknya.


"Baiklah para pejuang.. Maju!!!!" Seluruh orang yang berkumpul maju keluar untuk membasmi 5000 hewan iblis, dan untuk jumlah aku rasa kita ini kalah jumlah. Mungkin hanya ada 200 petualang yang ikut dalam pertempuran ini sedangkan yang lainnya melarikan diri karena takut mati. Ya, itu wajar saja karena kalau kau mati semuanya akan berakhir.


------- Beberaa menit kemudian ------


[Benua Elf : Hutan selatan, kerajaan Gien]


Ternyata benar apa yang dikatakan prajurit itu, ada sekitar 5000 hewan iblis di dalam hutan ini. "Pejuang, jangan takut. Dewa akan melindungi kita."


"Ahh.. Dewa, ya." Bicara tentang dewa, apa yang sedang dewa Sha lakukan saat ini, ya. Aku cukup penasaran dengan hal itu.


Hyaaaa!!


Para petualang mulai maju untuk menghabisi hewan iblis yang ada di hutan ini. "Hiro, ayo kita maju juga."


"Ya." Sebenarnya aku sedikit tidak bersemangat karena hampir semua orang yang ada dimedan tempur ini tidak pernah melawan hewan iblis, dan aku menduga kalau ini akan menjadi lebih buruk lagi.


--------- Setelah lebih dari 30 menit bertarung -------


"Bagian sini sudah bersih. Sekarang bagian yang itu." Dengan kemampuanku saat ini, setidaknya aku sudah membunuh sekitar 1000 hewan iblis. Dan yang lainnya, sebenarnya aku sedikit khawatir dengan mereka, karena mereka tidak punya pengalaman yang cukup dalam hal ini, dan bisa jadi mereka hanya akan menjadi santapan hewan iblis ini.


"Tidaakkk!!" (???)


Aku mendengar suara teriakan dan suara itu tak asing bagiku. "Sia.." Aku bergegas menuju ke asal suara itu karena itu adalah suara Sia. Lagipula, saat aku maju untuk mengabisi gerombolan hewan iblis, aku tak sengaja meninggalkan Sia sendiri.


------- Beberapa saat kemudian -------


"Rapalan sihir? Siapa yang merapal sihir itu?" Aku tak melihat orang yang merapalkan matra itu, dan aku hanya bisa mendengar mantra rapalannya saja.


Seorang Elf laki-laki tiba-tiba muncul diantara pepohonan, dan perlahan mendekati Sia. "Apa kau tak apa-apa calon istriku." (???)


"Hentikan itu, aku bukan calon istrimu!!"


"Hahaha. Tenanglah, kau tak perlu marah seperti itu, kau itu sudah di jodohkan denganku."


"Ohh, jadi dia orang yang dijodohkan oleh ayahnya. Seperti yang dikatakan olehnya kemarin padaku." Aku cukup terkejut melihat calon suami Sia, ia terlihat sangat sombong dan angkuh itu mengingatkanku kepada seseorang.


"Tapi, aku tidak suka dengamu. Berhentilah mengangguku."


"Hahaha. Sifat itulah yang aku suka darimu." 


"Woy kalian berdua.." Aku memanggil Sia sekaligus calon suaminya. "Apa kalian bisa berhenti berbincang-bincang, kita sedang berada di tengah pertempuran. Jika kau tidak ikut bertarung, sebaiknya menjauhlah dari sini."


"APA!!!! Benarinya kau berkata seperti itu padaku. Apa kau tau siapa aku?"


"Aku tak tau, dan aku juga  tak peduli."


"Aku adalah pangeran dari kerajaan Ality, namaku adalah Hard M. Ality. Aku adalah pangeran pertama di kerajaan Ality yang terhormat."


"Ohhh. Kerajaan Ality, ya. Kebetulan sekali." Ia mengatakan sesuatu yang menarik. Itu adalah kerajaan yang akan melakukan ritual pemanggilan beberapa hari lagi, dan aku tak menyangka akan bertemu dengan orang penting di kerajaan yang akan aku teror beberapa hari lagi. 


Dan entah kenapa saat ini aku mulai bersemangat. "Jika kau tak ikut membantu, sebaiknya kau pergi dari sini. Meskipun kau anggota kerajaan, di medan perang semua itu tidak akan berguna.


"Beraninya kau berkata seperti itu padaku!! Memangnya siapa kau, berani meremehkan kemampuanku?!(marah)"


"Ahh. Aku adalah seorang raja di kerajaan yang baru aku bangun." Mana mungkin aku mengatakan hal itu. "Aku hanya seorang petualang biasa. Tidak lebih dari itu."


Seekor hewa iblis tiba-tiba mendekat dengan cepat ke arahku dan juga pengeran sombong ini. "Wahai roh hutan-..." 


Pangeran sombong ini terlalu mengandalkan sihir yang membutuhkan waktu untuk merapalkan mantranya. "Terlalu lambat." Aku dengat cepat menebas hewan iblis yang mendekat dari kepala hingga terbelah menjadi 2 bagian menggunakan 'Shirame'.


"H-hebat. Dia menghabisi hewan iblis dengan satu tebasan." (para Elf yang lain) 


"Cih, sial.. Akan ku balas kau nanti, lihat saja." Pangeran Elf sombong itu pergi.


"Kau hebat Hiro, aku tak menyangka kalau kau bisa membunuh hewan iblis itu dengan mudah." (Sia)


"Ahh. Itu biasa saja 'kok." Entah kenapa aku merasa malu saat Sia berkata seperti itu. "Kalau begitu, aku akan pergi kesana dulu. Oh ya, sebaiknya kau segera berkumpul dengan yang lainnya." Karena aku melihat cukup banyak hewan iblis yang berkumpul di dekat sini aku memutuskan untuk membasmi mereka semua.

__ADS_1


"Baiklah, kau juga, hati-hati."


------- Setelah berjam-jam terus mengayunkan pedang -------


Sore hari, jam 15.44


"Ha ha ha ha.. Se-sepertinya aku sudah pada batasku." Saat ini aku sedang bersandar di salah satu pohon yang cukup besar yangada di hutan ini. Dan sepertinya, seluruh hewan iblis sudah berhasil aku kalahkan semuanya.


Mayat hewan iblis berserakan dimana-mana, dan jika dibiarkan seperti ini, mayat ini akan memancing hewan iblis yang lainnya untuk datang kemari. "Sepertinya, harus ada yang membakar semua mayat hewan iblis ini."


------ Setelah lebih dari 30 menit beristirahat ------


"Sepertinya tenagaku sudah pulih." Aku kemudian berdiri, dan memutuskan untuk kembali ke kerajaan Gien.


"Hiro!!! Hiro!!! Dinama kau, Akarui!!!" (Sia)


Aku mendengar suara Sia yang berteriak memanggil namaku. Akupun memutuskan untuk menghampirinya.


------- Beberapa saat kemudian ------


"Ada apa Sia? Kenapa kau berteriak begitu?"


"H-Hiro..." Sia menangis.


"Ehh.. A-a-a-ada apa???"


"Syukurlah kau tidak apa-apa."


"Memangnya ada apa Sia?" Ia terlihat sangat mengkhawatirkanku.


"Aku takut terjadi sesuatu padamu, para prajurit bilang kalau mereka tidak menemukanmu, dan kata mereka 'mungkin kau sudah dimakan oleh hewan iblis'." 


"Ahhh... Cerita yang mengharukan."


"Oleh karena itu aku memutuskan untuk mencarimu, dan aku bersyukur tidak terjadi apa-apa denganmu."


Entah kenapa Sia terlihat sangat khawatir denganku, padahal aku ini bukan siapa-siapanya. "Ayo kita kembali ke kerajaan sekarang. Hari sudah mulai sore, dan mungkin saja akan ada monster lain yang akan menyerang."


"B-baiklah."


Akupun pergi kembali ke kerajaan bersama dengan Sia.


------- Di tengah perjalanan --------


Karena aku sedikit khawatir dengan mayat hewan iblis itu, aku memutuskan untuk bertanya pada Sia. "Hey Sia."


"Apa apa?"


"Bagaimana dengan mayat hewan iblis yang ada di dalam hutan? Apa tidak sebaiknya semua mayat itu kita bakar saja."


"Jika kita melakukan itu, hutan juga akan ikut terbakar." Benar juga yang dikataka Sia, aku tak memilikrkan hal itu sebelumnya. "Lagipula, mayat itu akan dimakan oleh pohon-pohon yang ada di hutan ini.


"Pohon yang memakai bangkai hewan iblis, kedengarannya menyeramkan. Aku baru tau kalau ada sesutau seperti itu."


"Ya, hutan ini adalah sebuah berkat. Kami para elf biasanya menggunakan hutan ini sebagai benteng hidup saat terjadi serangan seperti kali ini."


"Oh begitu.." Sepertinya peran hutan untuk ras Elf sangat banyak.


"Ya, tapi hanya orang-orang kerajaan saja yang bisa menggunakan sihir untuk bisa membuat pohon-pohon ini bergerak."


"Oh. Apa persis seperti yang dilakukan laki-laki itu sebelumnya?"


"Iya."


"Oh ya, kau 'kan juga dari keluarga kerajaan. Kenapa kau tak menggunakan sihir itu juga?"


"A-aku masih belum bisa."


"Belum bisa?"


"Iya, kemampuan sihirku masih belum cukup untuk bisa menggunakan sihir seperti itu."


"Ohh. Jadi begitu, ya."


------ Setelah cukup lama berjalan ------


Sore menjelang malam (petang) hari, jam 17.32


Kami sampai di depan gerbang masuk ke dalam kerajaan. "Tuan putri Sia, paduka raja menghkawatirkan anda. Anda harus segera kembali ke istana secepatnya." (prajurit)


"Baiklah." Kamipun berjalan kembali ke istana.


------- Sekitar 20-25 menit kemudian ------- 


Kami sampai di istana, dan saat ini aku sedang berada di ruang tahta bersama dengan Sia, dan aku juga melihat pangeran sombong itu juga ada di ruangan ini. "Yang mulia, hamba mohon keadilanmu. Dia, sudah menjelekkan namaku dan juga membuatku malu dihadapan para ksatria Elf saat berada di hutan." (Hard)


"Ehhh...? Apa yang dia katakan barusan, mempermalukan? Sejak kapan aku mempermalukan dia?" Aku tak ingat kalau aku pernah mempermalukan pangeran sombong ini.


"Hamba mohon, yang mulia. Apakah anda terima calon menantu anda di permalukan seperti ini?"

__ADS_1


"Woy woy woy, sepertinya ini sudah berlebihan."


Bersambung


__ADS_2