
“Membunuh raja iblis, bukannya itu tugas pahlawan didunia itu?”
“Raja iblis itu adalah ketidak-seimbangan didunia itu. Bukankah kau tidak merasa aneh jika ada seseorang yang terus-terusan menang tanpa sekalipun pernah kalah.”
“Jangan-jangan.”
“Ya, raja iblis itu tidak pernah sekalipun kalah bahkan saat melawan sang pahlawan didunia itu. Oleh karena itu, ketidakstabilan terjadi.”
“Begitu…” Bahkan, tak pernah kalah itu juga termasuk ketidakstabilan. “Tunggu dulu dewa Sha, itu berarti aku…”
“Ketidakstabilan juga? Kau pikir begitu karena kau tidak pernah kalah, seperti itu.”
“Y-Ya, setidaknya begitu..”
“Jika kau berfikiran seperti itu, kau sudah salah besar. Sedari awal, aku sudah menghapus alasan ketidakstabilan itu sendiri, dan menggantinya dengan cap rusak.”
“Cap rusak?”
“Siapapun yang aku cap sebagai rusak akan langsung menghilang, begitulah ketidakstabilan didunia milikku bekerja.”
“Tapi, jika kau bisa melakukan ini, bukannya-…”
“Bukannya dewa lain juga bisa, dan kenapa mereka tidak melakukannya. Apa itu yang ingin kau tanyakan?”
“Seperti yang aku duga, tidak ada yang tidak diketahui oleh dewa.”
“Jika kau berniat berkata seperti itu, kau seharusnya sadar dari awal.”
“Sadar?”
“Setiap dunia memiliki system yang berbeda-beda, dan juga dewa yang duniapun berbeda. Mungkin saja system yang aku gunakan ini tidak cocok dengan dunia dewa lain, dan malah membuat masalah baru yang lebih besar jika digunakan didunia lain.”
“Begitu, ya.”
“Sepertinya hanya itu saja untuk sedikit informasi menganai dunia berikutnya, dan sisanya akan aku katakan saat kau akan pergi.”
“Baiklah.”
“Oh, ya… Dan 1 hal lagi.”
“Huh? Apa?”
“Selamat.”
Mendengar hal itu dari dewa Sha, entah kenapa itu membuatku tersenyum. “Terima kasih.”
“Kalau begitu, sampai jumpa dipertemuan selanjutnya.” Dewa Sha menjeltikkan jarinya.
_____________________
Perlahan aku mulai membuka mata. “Ahh…” Rasa sakit diseluruh tubuhku.
“Hi-chan syukurlah, kau sudah sadar.” Rin, saat aku melihat ke arahnya.
'Dia, menangis.' Tubuhku terasa sangat sakit dan aku tak bisa menggerakkan tubuhku. 'Mungkin ini efek samping karena aku berlebihan.' Kekuatan besar, membutuhkan bayaran yang besar pula. Jika hanya seperti ini, sepertinya tidak masalah. Merasakan rasa sakit dan tubuhku tidak bisa bergerak, aku rasa ini sedikit mendingan daripada harus kehilangan nyawa jika menggunakan kekuatan sebesar itu.
Rin sedang mengobatiku menggunakan sihir penyembuh, dan sepertinya aku akan sedikit membaik.
__ADS_1
Beberapa hari setelah itu.
Pagi hari, kamar
“Ini sarapannya.” (Sia)
“Maaf, ya. Aku merepotkanmu lagi.”
“Tidak masalah, aku melakukan ini karena keinginanku sendiri.”
“Terimakasih.” Keadaan tubuhku masih belum pulih, meskipun rasa sakit ditubuhku sudah hilang tapi aku masih belum bisa menggerakkan tubuhku sama sekali. Aku hanya bisa berbaring diatas kasur dan tak bisa melakukan apa-apa.
“Sayang, buka mulutmu.” Sia menyuapiku. Ini memang sedikit memalukan, tapi karena aku tidak bisa bergerak mau bagaimana lagi.
“Ha…” Dan lagi, setelah Ai, Sia juga ikut merubah cara panggilannya padaku.
“Ada apa?”
“T-Tidak ada apa-apa.”
“Begitu… Ayo, buka mulutmu lagi. Aaamm...” Dan kegiatan ini, sudah berlangsung selama aku tidak bisa menggerakkan tubuhku.
Beberapa lama kemudian
“Terima kasih atas makanannya.”
“Oh ya, sayang apa ada yang kau inginkan lagi?”
“Hmm… Tidak ada. Inori, kemana dia? Mulai kemarin, aku tidak melihatnya.”
“Ah. Dia sedang belajar, katanya akan ada praktek di sekolahnya. Makanya dia belajar dengan giat bersama teman-temannya.”
“Jika kau membutuhkan sesuatu, panggil aku, ya. Aku akan kembali mengerjakan pekerjaanku dulu.”
“Ya.” Sia pergi. “Haa. Tenangnya jiwa, jika memiliki orang yang bisa diandalkan seperti mereka.”
Rin, kalau tidak salah dia hebat dalam bidang perdangan akibat dari ibunya yang seorang pedangang sukses, dan ia juga pandai dalam memanfaatkan sesuatu, tapi meskipun begitu ia adalah seorang yang pemalu. Setidaknya seperti itulah yang aku tau darinya.
Emilia. Waktu pertama kali bertemu dengannya, aku tak begitu tau dengan sikapnya, tapi setelah sejauh ini ternyata dia memiliki sifat yang cukup menyenangkan dan ia juag cukup malu-malu dalam mengungkapkan kejujurannya.
Sia. Meskipun terlihat pemalu, tapi sebenarnya Sia memiliki sifat yang mudah akrab dengan orang lain. Mungkin karena ia sempat menjadi seorang petulang dan bertemu dengan banyak orang.
Ai. Sampai saat ini, aku masih belum tau sifat aslinya. Aku tak tau kenapa, tapi sepertinya kata misterius cukup cocok dengannya. Sikapnya sering berubah-ubah, kadang pemarah, pemalu, aku sampai bingung. Tapi, Ai adalah seseorang yang bisa aku andalkan.
“Hiroaki-sama.”
“Ah Lia, ada apa?” Lia masuk kedalam kamar. Lia, seorang succubus. Entah kenapa waktu pertama mendengar hal tentang succubus didunia ini dari dewa Sha, aku merasa sedikit aneh.
“Hiroaki-sama, ada sesuatu yang aku inginkan.”
Ini tidak biasanya ia menginginkan sesuatu. “Ada apa? Katakan saja.” Karena ini mungkin pertama kalinya ia meminta sesuatu padaku, dan jelas aku merasa tidak enak jika harus menolak permintaannya itu.
“Hiroaki-sama, aku ingin pergi mengunjungi kampung halamanku.”
“Kampung halaman, ya. Silahkan, jika itu yang kau inginkan.” Aku rasa itu tidak masalah, lagipula Lia bisa menjaga dirinya sendiri.
“Terimakasih Hiroaki-sama.”
__ADS_1
“Ya, tapi… Kapan kau akan berangkat?”
“2 hari lagi.”
“Kalau begitu, saat kau sampai disana, sampaikan salamku pada orang-orang yang ada disana.”
“Ya, baiklah. Kalau begitu, saya permisi.” Lia terlihat begitu senang.
“Ha… Kampung halaman, ya. Sudah lama aku tak mendengar kalimat itu.” Tempat tinggal asliku berada di bumi, dan aku tak tau didunia mana itu. Tapi, sepertinya dewa Sha tau karena dulu dewa Sha bilang kalau ia bertemu dengan dewa yang menjaga dunia tempat tinggalku dulu.
“Ha…” Hidupku disini sudah lumayan menyenangkan. Tapi, entah kenapa ada sesuatu yang membuatku merasa tidak enak. Sesuatu perasaan, dan aku tak tau apa ini.
------------------
Ruang administrasi.
“Sia, bagaimana keadaannya?” (Rin)
“Saat ini dia sedang beristirahat.”
“Begitu..”
“Dia kehilangan begitu banyak mana yang ada ditubuhnya, mungkin untuk beberapa hari kedepan dia masih belum bisa menggerakkan tubuhnya akibat kehabisan mana.”
“Kehabisan mana, ya.” (Emilia)
“Kehabisa mana?” (Rin)
“Ah, kau belum tau, ya Rin. Kehabisan mana itu diakibatkan karena banyaknya jumlah sihir yang dikeluarkan. Mana juga berpengaruh terhadap tubuh, oleh karena itu jika mana habis maka secara otomatis tubuh tidak akan bisa digerakkan.” (Sia)
“Seperti itu. Jadi, butuh waktu berapa lama sampai Hi-chan benar-benar pulih?”
“Setidaknya, 2-3 minggu.”
“Tenang saja, Hiroaki pasti bisa pulih dengan cepat.”
___________________
“Ha… Sangat membosankan.”
“Sha, ada apa?”
“Tidak ada apa-apa. Aku hanya sedikit bosan saja.”
“Bosan, kenapa?”
“Banyak hal yang ingin aku lakukan, tapi entah kenapa aku malas untuk melakukannya.”
“Hmm… Bagaimana kalau kau menghampirinya dulu, sepertinya orang itu sedang sakit.”
“Ha… Ai, seperti biasa kau selalu perhatian dengan orang lain. Bahkan sejak didunia itu.”
“Tidak ada salahnya kan, lagipula sepertinya dia membutuhkan bantuanmu. Oh ya, dan ada 1 tempat yang ingin aku kunjungi. Apa boleh…”
“Tempat?”
“Iya.”
__ADS_1
“Baiklah. Setelah aku selesai dengannya, aku akan mengantarmu.”
“Terima kasih.”