
Setelah beberapa saat kami berjalan, akhirnya kami sampai di tempat paling ujung dari gua ini. dan juga asal cahaya itu.
"Apa ini?!"
Sebuah tempat yang agak luas berada di dalam gua ini dan banyak tumpukan batu besar yang berserakan di dalam gua. Aku juga melihat sebuah pedang berwarna biru cerah tertancap di tanah, dan cahaya yang aku lihat tadi adalah pantulan cahaya dari sinar matahari yang tepat mengenai pedang itu, tak jauh dari tempat pedang itu, aku juga melihat sebuah sarung pedang yang berwarna biru.
Karena di dasari rasa penasaran, akupun mendekati pedang itu. Dan setelah sampai.
"Apa ini sebuah pedang legendaris, dan mungkin jika aku bisa menarik pedang ini, aku bisa menjadi pahlawan seperti yang ada di anime-anime." gumamaku sambil tersenyum kecil.
Rin hanya melihat dari kejauhan, entah apa yang dipikirkan gadis itu.
Aku pun menarik pedang yang tertancap itu, dan dengan mudahnya aku menarik pedang itu tanpa sebuah kesulitan yang berarti.
"Ehhh? Kok langsung tercabut? Apa benar ini pedang legendaris? Biasanya, di anime-anime butuh sebuah kekuatan yang cukup besar untuk bisa menarik sebuah pedang legendaris yang tertancap, tapi kenapa ini sangat mudah." pikirku
Aku membandingkan barat pedangku dan pedang yang aku cabut barusan.
"Pedang ini cukup ringan dibandingkan dengan 'Shirame' pedangku." gumamku
Setelah itu, aku berjalan untuk mengambil sarung pedang yang aku duga adalah milik pedang ini karena warna pedang dan sarung pedangnya sama.
Dan tepat setelah itu, Rin berlari mendekat ke arahku dan bersembunyi di belakang punggungku.
"A-ada apa Rin?!" Ucapku dengan sedikit gugup.
"I-itu."
Rin menunjuk ke arah jalan keluar. Aku melihat dengan teliti, dari kejauhan di jalan keluar gua ini, aku melihat 3 hewan iblis yang ada di luar sudah masuk ke dalam gua ini.
"Waaaahhhh!!! Bagaimana ini?!!"
Aku mulai panik karena mungkin jalan satu satunya adalah bertarung untuk bisa menyelamatkan diri, karena di sini sudah tak ada jalan untuk kabur lagi.
Akupun mempersiapkan pedangku. Karena pedangku cukup berat, jadi aku memakai padang yang aku cabut barusan dan juga karena beratnya cukup ringan itu mungkin akan memudahkan pergerakanku.
Grooarrr. Anggap saja suara hewan.
Hewan iblis itu semakin mendekat.
"Rin! Sebaiknya kau segera sembunyi."
"T-tapi..."
"Sudah! Sembunyi saja!"
Setelah itu, Rin pun bersembunyi di salah satu tumpukan batu yang ada di dalam gua ini.
"Layaknya seorang pahlawan, aku menyuruh Rin untuk bersembunyi, padahal sebenarnya aku juga ketakutan. Tapi tak apa, ini juga untuk melindungi seorang gadis." gumamku.
Hewan iblis itu pun sampai dan langsung melihat ke arahku, dan seketika itu 3 hewan iblis itu menyerangku secara bersamaan.
Aku panik dan tak tau harus apa, tiba-tiba saja dengan reflex aku langsung melompat.
Aku melompat cukup tinggi hingga hampir sampai di antara langit-langit gua ini. "Waaahh!! Tingggggiiiiii!!" aku terkesan sekaligus terkejut, karena aku tak tau kalau aku punya bakat dalam melompat.
Dan di saat yang sama 3 hewan iblis yang berada di bawahku membuka mulut mereka dan hendak menelanku.
Aku sekali lagi panik, dan aku memejamkan mataku sambil menebaskan pedang yang aku pegang secara asal-asalan (karena ringan) ke arah ke tiga hewan iblis yang berada tepat di bawahku.
Dengan mata tertutup aku berhasil mendarat dengan sempurna. "Apa aku sudah dimakan?" ucapku yang sedang memejamkan mataku.
"Apa ini?" aku merasakan sesuatu dengan pijakan kakiku dan aku memutuskan untuk membuka mataku.
"Waaaa!!! Apa yang terjadi?!" Saat aku membuka mataku, aku melihat semua hewan iblis itu sudah terbelah menjadi beberapa bagian dan yang di pijak kakiku sekarang adalah sebuah lantai darah dari darah semua hewan iblis yang terbelah itu dan juga mereka tak memulihkan diri beda dengan yang aku lawan bersama Garden waktu itu.
Aku mulai kebingungan dengan apa yang telah terjadi di sini. "Apa ini adalah kekuatan pedang ini?" gumamku.
Kemudian aku mencoba menebaskannya ke arah dinding di dalam gua ini, tapi tak terjadi apa-apa. "Jika bukan karena pedang ini, jadi ini ulah siapa?" gumamku.
Aku melihat Rin yang sedang bersembunyi di salah satu batu yang ada di gua ini. Dan aku rasa bukan dia yang melakukannya, jadi siapa yang melakukannya? Sebenarnya aku penasaran jika buka kekuatan pedang ini, ulah siapa ini atau apa ada orang lain di gua ini selain kami?
"Rin, sekarang sudah aman, kau bisa keluar."
Tiba-tiba saja bau busuk mulai tercium dari bangkai iblis ini, baunya sudah sangat menyengat padahal baru beberapa menit setelah hewan iblis ini mati dan baunya busuk sudah tercium seperti bangkai yang telah berhari-hari mati.
Aku mengambil pedangku dan juga keranjang yang berisi ekor **** hutan, dan tak lupa juga aku mengambil pedang yang aku gunakan tadi bersama dengan sarung pedangnya. Setelah itu aku dan Rin berlari keluar dari gua itu karena bau busuknya sudah sangat menyengat.
Tak lama kemudian aku sampai di luar gua dan bau busuk hewan iblis itu sudah tak tercium lagi.
"Ambil ini Rin." aku memberi Rin pedang yang aku cabut tadi, karena tidak terlalu berat aku berikan saja pada Rin, siapa tau dia bisa memakainya.
"Kenapa kau berikan padaku?"
"Sudah ambil saja."
"B-baiklah."
Rin mengambil pedangnya. Dan setelah itu, kami kembali ke kota untuk mengantarkan ekor rusa hutan ini dan menerima imblan atas keberhasilan misi yang kami kerjakan.
*****
Sore hari, jam - -.- -
"Ahhhhhh!!! Akhirnya sampai juga!! Apa di dunia ini tidak ada yang namanya kendaraan?" Keluhku.
3 jam kami berjalan dan akhirnya kami sampai di depan gerbang masuk kota. Dan di depan gerbang kota, ada 2 orang penjaga yang sedang berjaga.
"Hey anak muda, apa yang kau bawa itu?" (Penjaga gerbang 1)
Penjaga itu melihat ke arah keranjang yang sedang aku bawa.
"Ini? Ini ekor rusa hutan. Ini akan aku berikan ke guild untuk bukti bahwa misiku sudah selesai." Balasku.
"Baiklah, hati-hati di jalan." (Penjaga gerbang 2)
"Baik."
Akupun pergi masuk ke dalam kota.
Di kota.
Semua orang yang ada di jalanan melihat kami, entah apa yang mereka pikirkan. Dan jika saja ada Garden disini, dia pasti bisa memjawab pertanyaanku yang satu ini. 'Kenapa mereka melihatku?' Itulah pertanyaan yang akan aku tanyakan pada Garden. Tapi sayang, Garden pergi untuk sementara waktu karena ia sedang menjalankan misi tingkat atas. Dan untuk sekarang, aku hanya bisa terus berjalan dan berusaha untuk menghiraukan mereka semua.
Beberapa menit kemudian.
Akhirnya kami sampai di guild, dan masih saja banyak mata yang tertuju pada kami. Aku mengabaikan hal itu dan dengan cepat menghampiri resepsionis dan memberikan ekor rusa hutan itu.
"Ini." ucapku pada resepsionis sambil memberikan keranjang yang berisi ekor rusa hutan.
"Hmmmm. 3 ekor rusa hutan. Baiklah, silahkan tunjukkan kartu anda dan pasangan anda." (Resepsionis)
"Baik." aku memberikan resepsionis itu sebuah kartu berwarna hitam yang di berikan oleh Alice kemarin.
Beberapa saat kemudian.
"Ini imbalan untuk misi anda, semuanya 24 koin perak." resepsionis itu memberikan koin imbalan misi pada kami yang di taruh di atas mejanya dan juga kartu kami.
"Baik." aku pun mengambil koin itu dan juga kartu milikku dan Rin.
Dan masih dalam keadaan yang sama, seluruh orang (kecuali resepsionis) melihat kami, entah apa yang mereka pikirkan.
"Kenapa mereka melihatku?" gumamku.
"Sebenarnya mereka tidak melihat anda" (Resepsionis)
"Apa maksudmu?"
"Sebenarnya mereka semua melihat ke arah pasangan anda yang ada di belakang anda."
"Kenapa mereka melihat Rin." Aku mulai cemburu.
"Mereka semua melihat pedang yang di bawa pasangan anda. Apa anda tau tentang kisah raja pertama yang pernah melihat dewa?"
"Iya, aku tau."
"Konon, salah satu pedang yang di bawa dewa itu adalah pedang berwarna biru cerah bagaikan sebuah berlian dan juga memiliki penutup pedang berwarna biru persis seperti yang di pegang oleh pasangan anda. Dan juga, pedang itu memiliki kekuatan yang luar biasa, karena pedang itu dibuat kangsung oleh dewa."
"Ohhh. Jadi itu sebabnya mereka terus melihat ke arah kami."
"Iya, anda benar."
Tiba-tiba saja terbesit sebuah ide di kepalaku.
Aku berteriak.
"APA YANG KALIAN LIHAT?! APA KALIAN KAGUM DENGAN PEDANG BUATANKU?!"
"Apa? Buatanya?" (Orang-orang dalam guild)
"BENAR!! INI ADALAH PEDANG BUATANKU, BAGUS BUKAN!"
"Hah. Ternyata hanya pedang buatan, aku kira itu pedang legendaris." (Orang-orang dalam guild)
Setelah mendengar itu, seluruh orang yeng melihat ke arah kami langsung mengabaikan kami.
__ADS_1
"Waaaa. Ternyata berhasil." Gumamku sambil tersenyum kecil.
Setelah itu, aku dan Rin pergi keluar dari guild menuuju ke tempat penginapan dan entah kenapa, di tengah perjalanan kami menuju ke penginapan tak ada lagi orang yang memperhatikan kami, lagi.
Beberapa menit berjalan, akhirnnya kami sampai di penginapan yang di sewa oleh Garden.
Aku melihat 3 gadis sedang berbincang bincang, dan juga aku sedikit mendengar pembicaraan mereka.
"Apa kau mau ikut, aku akan pergi ke pemandian air panas nanti?" (Perempuan 1)
"Waahh. Aku akan ikut." (Perempuan 2)
"Pemandian, ya. Aku ikut!" (Perempuan 3)
"Baiklah, nanti kita semua pergi bersama." (Perempuan 1)
"Baik!" (Perempuan 2 dan 3)
Setelah itu, gadis-gadis itu pergi.
"Apa di dunia ini, ada pemandian air panasnya juga?" Gumamku.
Aku masuk ke dalam penginapan, dan di dalam penginapan ada seorang gadis yang sedang menyapu penginapan ini dan gadis ini beda dengan gadis yang pernah aku temui pertama kali saat masuk ke dalam penginapan ini bersama Garden.
Gadis itu berhenti menyapu. "Selamat datang tuan, ada yang bisa saya bantu?" Ucap gadis itu sambil tersenyum.
Sepertinya dia tidak tau kalau aku sudah menginap di sini. Dan aku putuskan untuk bertanya tentang pemandian air panas yang ada di sini.
"Apa kamu tau dimana letak pemandian air panas di kota ini?"
"Ohhh. Letaknya cukup dekat dengan guild, tuan. Anda tinggal berjalan sedikit ke arah timur dan anda akan menemukan sebuah rumah yang cukup sederhana, dan di sanalah tempat pemandian air panas itu berada. Apa tuan berniat ingin kesana?"
"Iya."
"Lebih baik tuan segera bergegas, karena mulai dari sore hingga malam hari, biasanya pemandian itu lumayan ramai. Dan juga, jika anda seorang petualang, ada tempat pemandian khusus untuk para petualang."
"Hmmmm. Tempat khusus untu para petualang? Kira-kira biayanya berapa, ya?" gumamku.
"Tenang saja tuan, tak ada biaya untuk orang yang ingin mandi di pemandian itu."
"Wihhh... Ternyata dia denger gumamanku." aku cukup kaget karena ia bisa mendengar gumamanku yang dengan suara cukup kecil. "Jadi, pemandian itu tidak akan menarik biaya apapun?"
"Benar tuan."
"Wahh. Kalau begitu, tunggu apalagi. Ayo Rin, kita berangkat sekarang."
"T-tunggu dul-."
Sebelum Rin menyelesaikan kata-katanya, aku langsung keluar dari penginpan, dan bergegas menuju ke tempat pemandian air panas itu. Rin mengejarku yang berada agak jauh di depannya.
Aku berangkat ke pamandian tanpa menaruh padangku terlebih dahulu di penginapan, dan mungkin hal itulah yang ingin Rin katakan padaku tadi.
--------- Beberapa menit berjalan ---------
Akhirnya kami sampai di tempat pemandian air panas. Aku melihat sebuah bangunan dengan arsitektur rumah kuno seperti yang ada di jepang.
Aku masuk ke dalam, di dalam, tempatnya cukup bersih dan juga ada ruangan yang cukup luas, ada sebuah pintu di bagian tengah ruangan ini, aku tak tau ruangan apa itu, mungkin itu adalah ruangan ganti.
Tiba-tiba, datang seorang wanita yang memakai pakaian berwarna bitu yang mirip dengan yukata dan baju yang di pakainya tidak ada corakmaupun gambar sedikitpun (polos), menghampiri kami, sepertinya dia adalah salah-satu pelayan yang ada di pemandian ini.
"Apa tuan dan nyonya ingin berendam di pemandian ini? Jika benar, Anda bisa menggunakan ruangan itu untuk mengganti pakaian yang anda gunakan sekarang."
Pelayan itu menunjuk ke arah pintu yang ada di tengah ruangan ini, sudah ku duga.
"B-baik."
"Dan anda juga bisa menitipkan pedang anda, jika anda tidak keberatan."
"Untuk pedang, biar aku sendiri yang membawanya."
"Baiklah tuan."
Aku segera masuk ke ruangan dan aku juga melihat Rin sedang di tuntun oleh pelayan itu ke ruangan yang lain.
Di dalam ruangan ini, banyak sekali baju yang bisa aku gunakan, tapi semua baju yang ada di ruangan ini semuanya berwarna putih polos. Akupun memilih baju yang akan aku gunakan.
2 menit kemudian.
Aku selesai memilih dan juga memakai baju yang ada di ruangan ini. Dan untuk pakaian milikku, aku tak tau harus apa, karena bau dan darah bekas hewan iblis itu masih sedikit melekat di bajuku, dan lagi pula bajuku juga sudah lumayan kotor.
Karena tak tau harus apa, akupun keluar dari ruangan itu sambil membawa pedangku.
Di luar ruangan, aku melihat pelayan yang berbeda tengah berada di depan ruanganku.
"A-anu? Dimana Rin?" tanyaku pada pelayan itu.
"Oh begitu." Dan di saat yang sama. "A-apa kau bisa membersihkan pakaian milikku?" Aku menawarkan diri.
"Ahh??" si pelayan kebingungan.
"Ettooo. Pakaianku kotor, apa kamu bisa membersihkannya?"
"Oh.. Baiklah kalau begitu, tuan. Tapi sebelum itu, saya akan mengantarkan anda ke tempat pemandian terlebih dahulu."
"Baiklah."
Pelayan itu mengantarkanku ke tempat pemandian.
Setelah cukup lama berjalan.
Pelayan itu berhenti di tempat pemandian terbuka yang cukup mewah.
"Di sini, tuan."
"Baiklah, terima kasih."
"Tidak apa, tuan. Ini sudah menjadi kewajiban kami."
Setelah itu, pelayan itu pergi.
"Aku cukup heran, jika seorang petualang saja bisa mendapatkan perlakuan seistimewa seperti ini, kenapa tak banyak ras manusia yang tak menjadi petualang saja. Dan malahan aku melihat di kota, banyak sekali manusia yang hanya menjadi seorang pedagang." Pikirku.
Akupun masuk ke pemandian itu. Di dalam pemandian itu, aku melihat ada seorang laki-laki yang cukup tampan, menurutku. Dengan rambut coklat yang tak begitu pendek yang menurutku cukup kece, rambut yang sedikit panjang di bagian depan menutupi sebagian mata kanannya.
Dan juga, pemandian yang aku gunakan saat ini adalah jenis pemandian terbuka dengan desain yang cukup mewah, menurutku.
Dan aku melihatnya sedang mandi dan tanpa melepas pakaian yang ia gunakan. "Mungkin itu adalah tatacara untuk mandi di pemandian air panas ini." gumamku.
"Oh. Ada orang rupanya-" (laki-laki)
Laki-laki itu sadar akan kehadiranku.
"Jangan cuma berdiri di sana, silahkan." Sambungnya.
"Ah. B-baik."
"Kelihatanya orang ini cukup ramah." Pikirku.
Akupun masuk ke dalam pemandian air panas itu. Kehangatan air panas ini sangat pas, dan juga ditambah dengan pemandangan langit malam yang indah dengan banyak bintang membuat diriku menjadi lebih rilexs, dan rasa lelah yang sedang aku alami seketika hilang.
"Haaaa..." Aku menghela nafas panjang.
"Sepertinya kau baru saja mengalami hal yang cukup sulit."
Aku sedikit heran, kenapa dia bisa tau.
"Bagaimana kau bisa tau?"
"Itu cukup mudah. Semua orang yang datang ke pemandian ini pasti akan menghela nafas panjang bila sedang mengalami masalah yang cukup sulit. Makanya aku bisa tau."
"Ohhh. Seperti itu." Gumamku.
"Oh ya. Perkenalkan namaku Hiroaki." Entah kenapa, secara tidak sadar aku langsung memperkenalkan diriku pada laki-laki ini.
"Hiroaki, ya. Kalau begitu, panggil saja aku Sha."
"Baiklah."
Setelah itu kami membicarakan beberapa hal. Dan tanpa sadar, malam sudah semakin larut. Aku putuskan untuk menyudahi pembicaraan dan segera pergi dari pemandian yang sangat nikmat ini.
"Hari sudah semakin larut, sebaiknya aku harus segera kembali ke penginapan."
"Oh. Begitukah. Baiklah. Hati-hati di jalan."
"Baik. Dan juga, senang rasanya bisa mengobrol denganmu."
"Aku juga, sudah lama aku tak mengobrol selepas ini. Dan mungkin kita akan bertemu lagi secepatnya."
"Benarkah, kalau begitu, saat kita bertemu kembali mari kita mengobrol lagi." ucapku sambil tersenyum.
Setelah itu, akupun keluar dari pemandian itu dan saat aku berada di luar. Seorang pelayan yang mengantarkanku tadi berada di depan pemandian yang aku tempati.
"Ini pakaian anda, tuan." pelayan itu memberikan bajuku yang sudah di bersihkan padaku.
"Bagaimana bisa secepat ini?" Gumamku. Aku baru ingat kalau di dunia ini juga ada sihir. Dan untuk hal seperti membersihkan baju pasti di dunia ini menggunakan sihir juga.
__ADS_1
"Terima kasih." Ucapku pada pelayan itu.
Setelah itu, pelayan itu pergi. Dan aku bergegas ke ruangan ganti yang aku gunakan tadi.
-------- Sekitar 2 menit kemudian ---------
Aku selesai mengganti baju dan keluar dari ruangan ganti itu. Di luar aku melihat Rin yang sedang menungguku, dan aku melihat pakaian yang ia gunakan sudah bersih, "Sepertinya pelayan itu juga membersihkan pakaian milik Rin." Gumamku.
"Kau sangat lama. Sebenarnya, apa sih yang kau lakukan di dalam?"
"Aku cuma 2 menit berada di ruang ganti, apa itu sudah lama?"
"Aku kira, laki-laki itu bisa lebih cepat. Ya sudah, ayo kita pulang sekarang."
"Baiklah."
Kami pun keluar dari pemandian itu, dan saat kami berniat keluar, ternyata banyak sekali orang yang sedang mengantri ingin masuk ke dalam pemandian ini.
Tepat seperti yang di katakan oleh penjaga penginapan itu, semakin malam semakin banyak orang yang ingin menikmati pemandian ini.
Aku dan Rin langsung pergi kembali ke penginapan. Di tengah perjalanan.
Grrrr. (Anggap suara perut yang kelaparan)
Aku merasa kelaparan, dan aku baru ingat kalau aku belum makan apa-apa sejak tadi pagi.
Di pinggir lajan aku melihat sebuah rumah makan yang sederhana. "Apa sebaiknya aku makan di sana dulu?" Gumamku.
Aku melihat Rin, sepertinya ia juga sedang kelaparan. "Bagaimana kalau kita makan dulu, sepertinya di sana ada tempat makan." Aku menunjuk tempat makan yang aku sebutkan tadi pada Rin.
(Rin) No coment.
"Baiklah, kita makan di sana saja."
"Lagipula, uang yang aku dapatkan dari misi tadi sepertinya kurang untuk makan di tempat yang lebih mewah lagi. Jadi sebaiknya, aku harus bisa berhemat." gumamku.
Aku dan Rin berjalan mendekati rumah makan itu. Kami masuk ke dalam, "Selamat datang, ada yang bisa saya bantu?" (pegawai)
Seorang pegawai laki-laki menyambut kami.
"Aku ingin pesan makanan."
"Baiklah. Silahkan duduk dulu."
Aku kemudian duduk.
Di dalam rumah makan ini, aku hanya melihat beberapa meja makan yang cukup sederhana dan juga, hanya ada beberapa pengunjung yang datang ke tempat ini. Aku rasa tempat ini tidak banyak memiliki pelanggan, menurutku.
Tak lama kemudian, pegawai laki-laki tadi memberikankun sebuah buku.
"Ini menunya, tuan. Anda bisa pilih."
"B-baiklah."
Aku membuka buku menu itu, dan aku tak tau menu apa yang di sediakan olehnya di rumah makan ini. Dan karena Rin bisa membaca bahasa yang ada di dunia ini, jadi aku serahkan masalah ini padanya.
"Anu. Rin. Bisa kau carikan menu yang tidak terlalu mahal, uang kita kan masih sedikit, dan lebih baik kita harus bisa berhemat." aku memberikan buku itu pada Rin.
"Baiklah."
Rin mengambil buku menunya, kemudian ia memilih.
-------- Beberapa saat kemudian --------
"Kami pesan ini saja." (Rin)
"Baiklah, nona. Akan segera kami siapkan."
Entah apa yang di pesan oleh Rin, aku tak tau apa yang di pesannya dan aku berharap makanan yang di pesan oleh Rin itu tidak terlalu mahal. Karena aku hanya memiliki 8 koin perak hasil dari menyelesaikan misi tadi.
--------- Beberapa menit berlalu ----------
Aku meliha pegawai itu membawa sebuah nampan dengan 2 jenis makanan yang di tutupi oleh sebuah penutup makanan yang terbuat dari alumunium dan juga dua buah minuman, aku tak tau apa itu.
"Maaf membuat anda menunggu, tuan."
Pegawai itu menaruh pesanan yang di pesan oleh Rin di meja, dan membuka penutupnya.
Saat pegawai itu membuka penuutup makanan itu, aku cukup terkejut melihat makanan apa yang di pesan oleh Rin, sebuah makanan yang cukup mewah.
"Ini pesanan anda, nona. Dua makanan spesial yang tersedia di sini."
"Busett dahhh!!! Aku suruh untuk memesan makanan yang tak mahal. Tapi, Dia malah memesan makanan spesial, dua lagi. Apa uangku akan cukup untuk membayar makanan ini." Gumamku dengan sedikit panik.
"Baiklah, tuan semuanya..." (pegawai)
"Habislah sudah. Bagaimana aku akan membayarnya?!!" Gumamku.
"3 koin perak." (pegawai)
"Ehh."
"Ada apa, Hikari?" (Rin) tanyanya dengan kemingungan.
"Ya, tidak apa-apa."
Aku memberi pegawai itu 3 koin perak yang aku dapatkan tadi.
Setelah aku memberinya 3 koin perak, pegawai itu pergi, dan aku masih penasaran sebenarnya kenapa makanan spesial harganya sangat murah, apa rasanya tidak enak.
"Hikari? Jangan cuma diam saja, ayo dimakan."
"Ahhh. Iya."
Aku pun memakan makanan yang di pesan Rin itu. Saat aku memakannya. "Enak.." Gumamku.
Aku rasa makanan ini rasanya sangat enak, dan aku cukup heran, kenapa makanan ini hargannya sangat murah padahal rasanya sangat enak, aku kira makanan ini harganya akan sangat mahal.
"Ada apa, Hikari? Apa makannya tidak enak?"
"Ah. Tidak apa-apa. Makanannya sangat enak."
"Begitu.. Ya sudah." Rin lanjut makan.
------- Beberapa menit kemudian --------
Makanan dan minuman yang ada di meja semuanya sudah habis.
"Ahhh. Aku sudah kenyang. Bagaimana denganmu, Rin?"
(Rin) no coment.
"Sepertinya dia juga sudah kenyang." Gumamku.
Aku kemudian berdiri. "Rin. Ayo kita kembali ke penginapan sekarang. Sekarang sudah larut."
"Baik." Rin kemudian berdiri.
Aku berjalan keluar dari rumah makan itu, dan Rin mengikutiku dari belakang.
"Uangku hanya tinggal 5 koin perak, sepertinya ini akan cukup untuk sarapan besok." Pikirku.
"Ne. Hikari."
"Eh. Ya. Ada apa?"
"Untuk sarapan besok, kita datang ke sana lagi saja."
"Eh, kenapa?"
"Uh. Makanan di sana harganya sangat murah, dan juga rasa makanannya juga sangat enak. Jadi, bagaimana? Besok kita sarapan di sana saja."
"Hmmm... Baiklah."
------ Hampir 10 menit berjalan, mungkin ------
Akhirnya kami sampai di depan penginapan. Kami langsung masuk ke dalam, dan di dalam, masih ada pelayan yang tadi sore aku temui sebelum datang ke tempat pemandian.
"Ah. Tuan datang lagi. Ada yang bisa saya bantu?"
Aku cukup terkejut, karena ia masih mengingatku.
"Emm. Aku ingin kembali ke kamarku." Aku mengatakannya sambil tersenyum.
"Ahh.. Jadi tuan adalah pelanggan di penginapan ini?"
"Hmm. Ya, begitulah."
"Maaf, tuan. Saya tidak tau kalau tuan adalah pelanggan di penginapan ini."
Aku tak tau kenapa ia meninta maaf. Tapi, sepertinya pelanggan di penginapan ini cukup di hormati.
"Eh. Ahh. Ya, tak apa-apa."
Setelah itu, pelayan itu pergi dan akupun kembali ke kamarku, dan Rin kembali ke kamarnya.
__ADS_1
Karena tak ada teman bicara, aku putuskan untuk langsung tidur. Dan aku tak tau kalau besok akan ada suatu bencana yang akan mendatangi kerajaan ini.
------ Bersambung -------