Watashi No Hanayome

Watashi No Hanayome
19


__ADS_3

Siang hari, jam - -.- -


"Apa ini?!!! (terkejut)"


450 budak lainnya terlihat sangat tak terurus, dan dari sekian banyaknya budak, disana juga ada anak-anak yang juga menjadi budak. "Kejam, sampai memperlakukan mereka seperti ini." pikirku.


Akupun memulai apa yang menjadi tujuanku membeli semua budak milik mereka. "Dengan menyebut nama dewa, aku memerintahkan kalian untuk bebas dari segel perbudakan, dan mulai saat ini, kalian bukan budak lagi."


"Ahhhh!!!!" (para budak menjerit kesakitan)


Berbeda dengan yang tadi, setelah aku selesai mengucapkan kalimat ini, mereka semua langsung merasa kesakitan.


--------- Beberapa menit kemudian ---------


Mereka semua berhenti menjerit. "Hah, sepertinya sudah selesai." pikirku.


"Baiklah, mulai saat ini, kalian semua bukan budak lagi, jadi nikmatilah hidup kalian."


"Terima kasih, tuan."


Mereka semua berterima kasih padaku dan mereka kelihatan sangat bahagia. Dan aku merasa cukup senang melihat mereka semua tersenyum seperti itu. "Sekarang kalian bisa melakukan apa yang kalian ingin lakukan."


"Terima kasih, tuan." Setelah itu, mereka semua pergi meninggalkan guild ini.


"Ha, sepertinya hari ini adalah hari yang sangat merepotkan untukku."


Setelah itu, aku pun segera keluar dari guild dan berjalan keluar dari tempat ini.


--------- Beberapa menit kemudian -------- 


Aku sampai di ujung dalam terowongan, dan aku pun membuka pintu masuk menuju ke bar yang berada tepat di ujung terowongan ini.


Kreekk. (pintu terbuka)


Rin tengah tidur dengan posisi duduk di sebuah kursi yang ada di sini, dan juga sang bayi yang juga tertidur dengan sangat pulas.


Aku tak tega untuk membangunkannya sehingga aku memutuskan menungu Rin untuk bangun dengan sendirinya.


--------- Beberapa menit kemudian --------


Aku sedang melihat-lihat kartu baru yang di berikan oleh resepsionis tadi.


"Hi-chan. (menguap) Kau sudah kembali.... (mengucek kesua matanya)"


"I-iya. (kaget dan langsung menyembunyikan kartu di katong saku)"


Bayi yang di pegang oleh Rin masih tertidur pulas. "Tadi, aku melihat banyak sekali wanita yang keluar dari dalam ruangan ini. Sebenarnya ada apa di dalam?"


"Sebaiknya aku tak memberitau kejadian tadi pada Rin." pikirku.


"Tidak ada apa-apa. Sudahlah, jangan bahas hal itu."


"Baik, oh ya Hi-chan."


"Ada apa?"


"Informasi apa yang kau dapatkan di guild?"


Aku lupa hal itu, aku terlalu fokus membeli dan membebaskan semua budak yang ada di guild, sampai lupa tujuanku yang sebenarnya untuk mencari informasi tentang kerajaan ini dari guild.


"Ahh, aku tak dapat informasi apa-apa di guild." Aku berkata seperti itu, karena aku rasa itu adalah kata yang sangat tepat menurutku. 


"Oh, begitukah. Ya sudah."


Sepertinya Rin percaya, dan itu membuatku sedikit lebih tenang. "Rin, apa kau tidak lapar?"


"Hah? (tak dengar)"


"Bagaimana kalau kita makan dulu, siapa tau kita bisa mendapatkan sedikit informasi nanti."


"Baiklah."


Aku pun keluar menuju ke bar yang ada di bagian depan ruangan ini untuk menemui tuan Hans. 


---------- Beberapa saat kemudian ---------


Aku sampai di bar dan melihat tuan Hans sedang melayani pelanggan yang ada di bar ini. "Tuan, Hans."


"(melihat ke arahku) Oh, kau sudah kembali rupanya."


"Iya. (aku menghampiri tuan Hans) Aku ingin bertanya sesuatu pada anda."


"Ada apa?"


"Aku ingin mencari tempat makan, apa kau tau dimana itu." Ya, mengingat ini adalaah sebuah bar, tak mungkin tempat ini menyediakan makanan.


"Oh, tempat makan, ya. (berfikir) Sepertinya, tempat seperti itu. Kau tinggal lurus saja saat keluar dari tempat ini, nanti kau akan menemukan tempat makan yang kau cari."


"Baiklah, terima kasih tuan Hans."


"Ya sama-sama."


Meskipun ia tak memberi tau di mana letak pasti tempat makan itu, aku cukup berterima kasih karena ia mau memberitahuku.


Aku pun keluar dari bar ini, dan berjalan sesuai apa yang dikatakan oleh tuan Hans.


---------- Beberapa menit kemudian ---------


Aku cukup kebingungan dengan kerjaan ini, karena tempat makan yang dikatakan oleh tuan Hans, tidak ada di tempat yang ia katakan padaku. Aku hanya melihat sebuah toko dengan zirah yang dipajang di depan toko, dan yang pasti itu bukan tempat makan yang aku cari. 


Tapi, aku cukup heran, karena cukup banyak orang yang keluar masuk toko itu. "Apa akan ada perang? Kenapa banyak yang memasuki toko perlengkapan senjata itu?" pikirku. Ya, kalau di pikir-pikir hal itu bisa saja terjadi, mengingat kalau cukup banyak orang yang keluar masuk toko itu. Dan karena penasaran aku pun berjalan mendekati toko itu untuk melihat ada apa sebenarnya di dalam toko itu.


Kreekkk. (membuka pintu)


"Selamat datang, tuan. Ada yang bisa saya bantu?" (pelayan lk D-H)


Aku cukup terkejut, karena di dalam tempat ini tak hanya menyediakan perlengkapan, tapi juga ada sebuah restoran yang menyatu dengan tempat perlengkapan ini. Dan pantas saja banyak orang yang keluar masuk ke toko ini.


"Tuan, ada yang bisa saya bantu?"


"Ehh. Aku ingin memesan makanan."


"Baiklah, tuan. Anda bisa duduk di tempat yang anda suka."


"Baik."


Aku pun duduk di tempat yang kosong bersama dengan Rin, dan beberapa saat kemudian pelayan itu kembali menghampiriku lagi. "Silahkan, tuan. (memberi buku menu)"


Dan karena aku masih tak tau tentang tulisan yang ada di dunia ini, aku menggunakan kalimat legendarisku. "Aku ingin memesan makanan istimewa yang tersedia di tempat ini."


"Baiklah, tuan. Kalau anda, nyonya. (melihat ke arah Rin)"


"Aku juga memesan itu."


"Baiklah,  tolong tunggu sebentar. (pergi)"


-------- Beberapa menit kemudian -------


"Maaf membuat anda menunggu, ini pesanannya. (menaruh makananya di atas meja) Semuanya 20 koin perak."


"Ini (memberinya koin)" (Rin)


Dan lagi-lagi Rin memberi koin pada pelayan itu, dan hal itu membuatku cukup penasaran. "Terima kasih, nyonya. (pergi)"


"Nah.. Hi-chan ayo kita makan."


"Baiklah."


Tepat sebelum aku makan, bayi yang di pengang oleh Rin bangun. "Sepertinya bayi ini sudah bangun." (Rin)


"Kalau begitu, pesan saja makanan untuk bayi ini juga."


"Baiklah, pelayan!!!" (Rin)


Pelayan itu kembali menghampiri meja kami. 


"Ada apa, nyonya?"


Rin pun memesan makanan untuk sang bayi. Dan beberapa menit kemudian pelayan itu membawa makanan bayi itu dan menarunya di ata meja makan. "5 koin perak, nyonya."

__ADS_1


Rin pun memberinya koin, dan pelayan itu pergi.


"Ayo sekarang kita makan."


"Baik." (Rin)


Meskipun berkata seperti itu, Rin lebih mendahulukan si bayi dibanding dirinya sendiri. "Ha. (menghelaa nafas)"


"(melihat ke arahku) Ada apa Hi-chan?"


"Tidak ada apa-apa."


"Begitu.." Rin melanjutkan memberi makan si bayi.


-------- 10-15 menit kemudian ---------


Aku sudah selesai makan dan Rin pun sudah selesai memberi si bayi makan. "Rin, sebaiknya kau makan dulu."


"Baiklah."


Rin pun makan, dan bayi yang di pegang olehnya mulai tertidur kembali karena sudah kenyang.


--------- Beberapa menit kemudian ---------


Rin selesai makan dan ia hanya makan sedikit, aku tak tau penyebabnya kenapa ia makan sedikit. "Apa dia sedang diet?" pikirku. Ya, mengingat kalau ia belakangan ini makan cukup sedikit.


"Ayo Rin, kita pergi."


"Baiklah."


Aku dan Rin keluar dari tempat makan ini.


--------- Beberapa menit berjalan --------


"Sepertinya, sangat sulit mendapatkan informasi di kerajaan ini." pikirku


Dan tiba-tiba.


"Aku sudah menemukannya, pasanganku. (memengan tangan kananku)" (???)


"Ehhh?!! (terkejut)" Aku terkejut, itu sudah jelas. Karena seorang wanita cantik dengan rambut coklat panjang dan ia juga membawa sebuah busur, tiba-tiba saja memengan tangan kananku dan berkata 'Aku sudah menemukannya, pasanganku' sudah wajar aku terkejut. Lagipula aku belum pernah bertemu dengannya.


"Apa yang kau katakan?(bingung)"


"Ternyata benar apa yang dikatakan oleh sang peramal, kalau aku akan bertemu dengan pasanganku di kerajaan Roman."


Dari ucapan wanita ini, aku medapatkan sedikit informasi yang sangat penting, kalau kerajaan ini bukan kerajaan yang aku tuju. "Peramal? (bingung)"


"Hi-chan, siapa wanita ini? (melihatku dengan tatapan yang menakutkan)"


"Aku tak tau? (panik) Siapa kau?"


"Aku Emilia, aku adalah orang yang akan menjadi pasanganmu." (Emilia)


"Haaaa!!! Apa yang kau katakan?!!"


"Beberapa hari lalu, aku bertemu dengan peramal dan peramal itu meramalku, dan ia bilang kalau aku akan bertemu pasanganku yang membawa 2 pedang yang salah satu pedangnya berwarna biru di kerajaan Roman. Oleh karena itu, aku bergegas pergi dari kerajaan Laurent (di benua manusia) dan langsung ke kerajaan ini."


"*-*-*-tunggu dulu. (melepas pengangan tangannya) Kau mungkin salah orang, aku sudah punya pasangan. (menunjuk ke arah Rin)"


"Hah. (bingung) Tapi, mana tanda milikmu? Kau pasti berbohong."


"Ahh, sudahlah. Ayo Rin kita pergi. (pergi)"


"Iya."


Akupun pergi meninggalkan gadis bernama Emilia itu. "Tunggu, jangan pergi. (mengikutiku)"


--------- Beberapa menit kemudian -------


Emilia masih saja mengikutiku. "Kenapa kau masih saja mengikutiku? (kesal)"


"Karena kau adalah pasanganku?"


Rin melihatku dengan tatapan menakutkan, lagi. "Tidak-tidak-tidak, aku sudah punya pasangan."


"Tapi-"


Setelah mengatakan itu, aku dan Rin langsung pergi. Dan sepertinya Emilia tak mengikutiku lagi.


"Ha. (menghela nafas) Sepertinya, gadis itu sudah tak mengikutiku lagi." AKu cukup tenang karena gadis bernama Emilia itu tak mengikutiku lagi.


--------- Beberapa menit kemudian -------


"Hi-chan, kita mau pergi kemana?"


"Eeeeh?! (bingung)" Aku hanya berjalan kesana kemari tanpa tau arah tujuan, karena aku tak bengitu mengelan dunia ini, aku cukup kesulitan.  "Dewa Sha... Dewa Sha.. Dewa Sha." Dan dewa Sha pun tak menjawab panggilanku. "Ada apa dengan Dewa itu, biasanya di selalu ada saat aku membutuhkan bantuannya." pikirku.


Dan saat ini, aku sedang kebingungan kemana aku harus pergi. "Bagaimana aku akan pergi ke kerajaan Chamos kalau aku saja tak tau dimana tempatnya." dan tepat saat ini, tak ada seorangpun yang bisa di tanyai (karena tak ada orang di daerah ini).


"Aku bisa membantumu pergi ke kerajaan Chamos." (???) Sebuah suara tiba-tiba terdengar dari arah belakangku, dan aku sudah tau kalau suara itu adalah suara gadis yang menyebutnya pasanganku (Emilia). 


"Kenapa kau masih mengikutiku? Dan lagi, kenapa kau tau kalau aku akan pergi ke kerajaan Chamos? Apa kau menguping pembicaraanku tadi?"


"Tidak. (berjalan mendekat ke arahku) Aku juga di beri tau oleh peramal tentang hal ini."


"Ha!! (tak percaya)" 


"Jika memang benar, hebat sekali peramal itu. (kagum)" pikirku.


"Hi-chan, bagaimana kalau kita minta bantua padanya saja?"


"Ha, tapi-."


"Apa kau tau dimana letak kerajaan Chamos itu berada?" (Rin)


"Tapi Rin."


"Sudahlah Hi-chan. (marah) Jangan egois, terima saja bantuannya."


"Ha, baiklah. (pasrah) Kalau begitu, ayo cepat." Mau tak mau aku harus menerima bantuanya, karena Rin sudah marah padaku, dan jika dibiarkan mungkin akan membahayakan.


"Baik. (tersenyum)" (Emilia)


Aku pun mulai berjalan. "Ano." (Emilia)


"Ada apa lagi? (berbalik melihat ka arah Emilia yang berada d belakangku)"


"Kerajaan Chamos berada di sana. (menunjuk ke arah sebaliknya)"


Rin sedikit tertawa. "Oh, begitukah. Kalau begitu, ayo." Sebenanya aku merasa malu, tapi aku barusaha untuk bersikap seolah tak terjadi apa-apa.


--------- Beberapa jam berjalan --------


Sore hari, jam - -.- -


{Area bagian hutan selatan kerajaan Roman: Benua demi-human, menuju ke kerajaan Chamos}


Emilia berada di paling depan sebagai penunjuk jalan, karena ia tau dimana letak kerajaan Chamos. "Um.. Kalau boleh tau, siapa nama kalian?" (Emilia)


Dasar gadis ini, dia bahkan tak tau namaku dan sudah mengaku-ngaku kalau aku akan menjadi pasangannya. "Namaku Rin, dan dia (melihat ke arahku yang berjalan di belakang Rin) Hiroaki.."


"Eh?"


"Baiklah, Rin, Hikari. (tersenyum)" (Emilia)


"Haa."


"(melihat ke arahku dan matanya berkaca-kaca) Tidak boleh~?" (Emilia)


Melihat hal itu, sebenarnya aku merasa engan, tapi-. "Terserah kau saja."


"Baiklah, Hiroaki."


"Ha. (menghela nafas panjang)"


-------- Beberapa menit setelah itu ------


"Rin, nama bayi itu siapa?"

__ADS_1


Emilia menanyakan sesuatu yang tak pernah terpikirkan olehku. "Eeeeh, hmmm?"


"Inori." (Rin)


"Wah, namanya Inori, ya?"


"Hah?! (bingung + kaget)" Aku tak tau kalau Rin sudah memberikannya nama dan yang lebih penting bayi itu laki-laki atau perempuan.


Grrrr. (suara hewan)


Tiba-tiba terdengar suara hewan yang menggerang dari arah depan. "Suara apa itu? (waspada)"


Suara itu semakin mendekat, dan mendekat.


Kumpulan hewan iblis berada tepat di depan kami. "A-apa ini? Kenapa banyak sekali hewan iblis disini?"


"Rin, Hiroaki. Ayo cepat kesini!!" 


Akupun mengikuti Emilia yang berjalan memutari hewan iblis itu, dan anehnya, hewan iblis itu tak menyerang kami. "Apa yang-"


"Jangan berisik. (suara pelan)"


"Baik."


Akupun tak bersuara sedikitpun begitu pula dengan yang lain. Tiba-tiba.


"Huwaaaa!!!!" (Inori)


"Rin, Hiroaki. Ayo lari. (berlari)" 


Setelah mendengar Inori menangis, seketika kumpulan hewan iblis itu mengejar kami dan kamipun berlari sekuat tanaga.


---------- Beberapa menit berlari -------


Kumpulan hewan iblis itu terus saja mengejar kami, dan aku berada di belakang Rin sedangkan Emilia yang berada di depan. 


Aku melihat Rin seperti sudah kelelahan. Akupun menghentikan langkahku. "Kalian pergi saja duluan, aku akan menghadang mereka!!" Aku bertindak layaknya seorang pahlawan, padahal aku sendiri takut.


"Tapi hi-chan-."


"Sudah! Jangan khawatirkan aku, aku akan baik-baik saja!! Kau pergi saja dulu!"


"Baiklah."


Rin pun pergi.


Aku menghubungi dewa Sha. "Dewa Sha aku butuuh bantuanmu."


Untuk beberapa saat, tak ada balasan dari dewa Sha.


"Oh.. Ada masalah apa?"


"Aku butuh bantuanmu."


"Tebas saja mereka manggunakan pedang Naga biru milikmu itu."


"Hah, pedang naga biru?" Aku tak ingat kalau aku punya sebuah pedang dengan nama seperti itu.


"Itu pedang yang kau cabut di dalam gua, itu adalah pedang naga biru, salah satu pedang buatanku, dan juga merupakan salah satu pedang yang terkuat yang pernah aku buat."


"Begitukah? Tapi, saat aku pakai, senjata ini sama seperti senjata bia- Eh. Tunggu dulu." Tidak, kalau di ingat-ingat, pedang ini bisa dengan mudah membelah hewan iblis seperti saat pertama kali aku menggunakannya untuk membunuh hewan iblis yang masuk ke dalam gua.


"Ya, apa kau ingat sekarang."


"Iya, aku ingat." Pedang ini memang luar biasa hebat.


"Sekarang, coba kau gunakan untuk melawan monster itu."


"Baiklah."


Akupun mengambil pedang naga biru yang baru aku tau namanya dari dewa Sha. Yang selalu aku bawa di punggungku.


"Sekarang coba serang salah satu hewan iblis itu."


"Baiklah."


Akupun berlari ke arah kumpulan hewan iblis itu, dan saat aku berlari, entah kenapa rasanya tubuhku sangat ringan. 


Srhaaasshh. (tebasan)


Akupun menebas salah-satu hewan iblis itu, dan di luar dugaan, bukan hanya satu, tapi hewan iblis lain yang berada tepat di belakang hewan iblis yang aku tebas pun ikut terpotong menjadi potongan kecil.


"Wah. (terkejut) Kuat sekali." Ini melebihi apa yang aku bayangkan.


"Tentu saja, pedang itu adalah pedang dengan jenis elemen angin. Oleh karena itu, pedang itu bisa memotong apa saja dengan potongan yang sangat kecil. meskipun kau hanya menganyunkan pedang itu sekali, pedang itu akan tetap memotong seperti angin."


"Waaaw. Luar biasa."


Aku kemudian terus menerus menyerang sisa hewan iblis yang masih hidup.


----------- Beberapa saat kemudian ---------


Jumlah dari kumpulan hewan iblis itu sudah semakin berkurang, dan hanya tersisa 3 hewan iblis saja saat ini.


Dan tiba-tiba saja.


"A-a-a-ada ap-a ini? (memengang dada dengan tangan kiri) Ha, a-aku."


Aku merasakan sakit di bagian dadaku, dan juga aku kesulitan untuk bernafas. "Ha, ha, ha. (terengah-engah) A-ada apa ini? Kenapa d-dadaku sakit?"


Akupun jatuh terduduk dan juga tubuhku seperti sudah kehabisa tenaga. "Oh, ada satu hal yang aku lupa untuk memberitaumu tetang pedang itu." (dewa Sha)


"Apa itu?"


"Pedang itu menggunakan stamina penggunanya untuk bisa mengeluarkan kekuatan pedang itu yang sebenarnya, dan jika staminamu lemah, maka, kau hanya bisa menggunakan pedang itu untuk beberapa saat dan setelah itu kau akan menjadi seperti ini."


"Kenapa kau tak memberitauku tentang hal itu dari awal."


"Aku'kan sudah bilang kalau aku lupa. Tapi, tenang saja, saat kau sudah mempunyai stamina yang sudah cukup, kau tak akan merasakan hal seperti ini saat kau menggunakan pedang ini. Dan untuk itu, kau harus banyak berlatih agar staminamu bisa lebih kuat lagi."


"Jadi, apa yang harus aku lakukan sekarang? (panik)" Mengingat kalau masih ada 3 hewan iblis yang tersisa, tentu saja aku merasa panik.


"Tenang saja, yang lain akan segera mambantumu."


"Yang lain? (bingung)"


"Hi-chan!!!"


"Hiroaki!!"


"Baiklah, sudah dulu." (dewa Sha) menutup telepatinya.


Rin dan Emilia kembali. "A-apa yang kalian l-lakukan? Ke-kenapa kalian kembali ke sini?"


"Kami khawatir dengan keadaanmu, dan kami memutuskan untuk membantumu."


"Uhuk, uhuk... (batuk)" Aku tak bisa berkata apa-apa lagi, karena tubuhku yang sudah mulai melemah dan aku tak bisa berbuat apa-apa lagi.


Salah-satu hewan iblis itu tiba-tiba berlari ke arahku, dan aku tak bisa berbuat apa-apa.


Suuutt. 


Hewan iblis yang ingin menyerangku tiba-tiba saja terjatuh dan mati dengan anak panah yang menancap cukup dalam di bagian kepala hewan iblis itu. Dan aku tau siapa yang melakukan hal itu, ia adalah Emilia. "(berlari menghampiriku yang sedang terbaring lemah) Kau tak apa-apa Hikari?"


"Emilia!! Awas di belakangmu!!" (Rin)


Satu hewan iblis berlari dengan cukup cepat menuju ke arah Emilia.


Swuuutt.


Dan dengan cepat juga, Emilia mengambil anak panah yang ia taruh di punggungnya dan mengarahkannya ke arah hewan iblis itu. 


Gubrakkk.


Tembakan Emilia mengenai bagian kepala hewan iblis itu, dan hewan iblis itu terkapar mati. Dan hanya tersisa satu hewan iblis, dan pandanganku semakin menghitam... 


"Emilia, awas!!" (Rin)


Hanya satu kata itu yang terdengar tepat sebelum aku pingsan karena kehabisan tenaga.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2