Watashi No Hanayome

Watashi No Hanayome
69


__ADS_3

“Eh?”


“Sebelum indera perasaku hilang, aku sempat mencobanya dan rasanya sangat buruk. Aku bahkan tidak sanggup memakannya meskipun hanya segigit.”


“Begitu, ya.” Ia memastikan hal itu dariku.


“Hiroaki, kau tidak bisa merasakan rasa makanan yang kau makan?”


“Haa, karena kau sudah menguaknya, tidak perlu aku sembunyikan lagi. Ya, aku memang sudah cukup lama kehilangan indera perasaku.”


“Sejak kapan?”


“Setidaknya kurang dari 3 bulan yang lalu.”


“T-tiga bulan. Jadi, selama itu kau...”


“Ya, makanan yang aku makan semuanya tidak memiliki rasa.”


“Apa kau sudah kerumah sakit?”


“Tidak, tapi setidaknya itu tidak dibutuhkan olehku.”


“Kenapa?”


“Belum saatnya aku mengatakannya, tapi yang pasti. Dalam beberapa hari, indera perasamu pasti sudah akan kembali, atau mungkin bisa lebih cepat.”


“Lalu, bagaimana denganmu?”


“Setidaknya, aku sudah terbiasa dengan hal ini. Kau tak perlu khawatir.” Sudah lebih dari 2 bulan aku mengalami hal ini, dan sudah wajar kalau aku sudah mulai terbiasa.


“Meskipun begitu... Aku yang baru saja mengalaminya sudah merasa tidak nyaman, lalu bagaimana denganmu yang sudah berbulan-bulan tidak bisa merasakan apapun.”


“Kau mengkhawatirkanku?”


“Eh, t-tidak. Hanya saja... Awww.”


“Jika begitu, sebaiknya kau cemaskan dirimu sendiri. Tidak perlu mencemaskanku.”


“Tapi...”


“Sudahlah.”


“Hiroaki, kau mau kemana?”


“Jalan-jalan sebentar, mencari angin.”


“Kalau begitu, aku ikut.”


“Haa, terserah kau saja.”


Beberapa lama setelah itu.


“Nee Hiroaki, kita mau pergi kemana?”


“Entahlah.”


“Begitu, ya sudah.” Amane terus mengikutiku, tanpa tau tujuanku aku akan kemana.


Beberapa lama setelah itu.


“Hiroaki, tempat apa ini?” Aku berjalan menuju ke gang yang kumuh, dan juga sedikit berbahaya.


“Jika kau takut, kembalilah.”


“T-Tidak, aku tidak takut. Aku hanya sedikit terkejut saja tadi.”


“Begitu, ya sudah.”


Beberapa saat kemudian.


“KYAAA!!!”


“Huh? Ada apa?”


“A-Ada tikus.”


“Jika kau takut, kau boleh pergi.”


“M-Maaf.” Kami kembali melanjutkan perjalanan.


Dan setelah cukup lama, akhirnya kami keluar dari gang dan berada disisi lain tempat ini. “Tempat apa ini?” Terdapat sebuah rumah tua besar disini. “Hikari tunggu, jangan tinggalkan aku.”

__ADS_1


Kami memasuki rumah tua itu. “Rumah ini terlihat sangat rapuh.”


“Kau takut?”


“Sedikit.”


“Begitu.” Aku mulai menarik nafas.


“Hiroaki, ada apa?”


“KALIAN SEMUA, KELUARLAH!! JIKA TIDAK, AKU AKAN MENCARI KALIAN SATU-PERSATU ATAU JIKA PERLU AKU AKAN MENGHANCURKAN MARKAS KALIAN INI AGAR KALIAN MENUNJUKKAN DIRI KALIAN.”


Beberapa saat kemudian, perlahan mereka mulai menunjukkan diri mereka. “Hiroaki, mereka.”


“Lama tidak berjumpa, dan sepertinya kalian menepati janji kalian.”


“Kenapa kau kemari, apa yang kau inginkan, dan bagaimana kau bisa tau tentang tempat ini?”


“Apa aku perlu menjawab pertanyaan kalian itu? Haa, sudahlah. Jawabannya mudah, jika kalian bisa tau tempatku bagaimana aku tidak mengetahui tempat kalian.”


“Kau.”


“Luz, tenanglah.”


“Key, bagaimana ini?”


“Kita dengarkan dulu apa yang dia inginkan.”


“Pilihan yang bagus, kalau begitu.. Amane, bisa kau keluar sebentar.”


“Eh, kenapa?”


“Ini adalah pembicaraan yang tidak boleh kau dengar.”


“Tapi... Awww.” Aku menjitak dahinya.


“Sudah, lakukan saja.”


“Baiklah.” Amane keluar.


“Kenapa kau...”


“Huh, ada masalah?”


“Aku ingin bertanya, seberapa banyak yang kalian tau mengenai hal yang akan terjadi 2 minggu kedepan.”


“Huh? Apa yang kau katakan?”


“Jangan berpura-pura tidak  tau, aku yakin kalian sudah mengetahuinya. Sesuatu yang besar akan terjadi, seperti itu...”


“Key, orang ini.”


“Apa yang sebenarnya kau inginkan?”


“Bersiap-siaplah, seperti yang sudah kalian tau. Monster sudah cukup lama tidak muncul kedunia ini, dan saat waktunya tiba goncangan besar akan terjadi. Aku hanya ingin kalian semua bersiap-siap untuk menghadapi goncagan itu.”


“Sebenarnya, seberapa banyak yang kau ketahui?”


“Bukannya aku yang seharusnya berkata seperti itu, bagaimana caranya kalian bisa mengetahui hal itu?” Hal ini, aku juga diberitahu oleh dewa Sha, kalau ada beberapa guardian yang sudah menyadari kalau bencana besar akan menimpa dunia ini. Dan saat berkata seperti itu, aku mencurigai mereka dan tebakanku sepertinya benar.


“Seseorang memberitahu kami.”


“Seseorang? Siapa?”


“Kalau tidak salah, namanya Koujo Kotaro.”


“Koujo Kotaro, ya.” Nama yang tidak asing bagiku.


“Tunggu, sebelum pergi, setidaknya kami ingin informasi yang lain sebagai ganti informasi yang kami berikan padamu.”


“Begitu..” Bisa disebut, kalau ini adalah barter. “Baiklah. Kalian bisa mengajukan 2 pertanyaan, dan aku akan menjawab sebisaku.” Meskipun begitu, aku tak mendapatkan informasi yang berharga dari mereka. Tapi, ini juga tidak akan membuatku rugi.


“Key.”


“Tenang saja, baiklah. Pertanyaan pertama, siapa kau sebenarnya?”


“Rahasia.”


“Kau!!”


“Setidaknya, untuk pertanyaan itu. Aku tidak bisa menjawabnya. Baiklah, pertanyaan kalian hanya tersisa 1. Manfaatkanlah dengan baik.”

__ADS_1


“Key, biar aku saja.”


“Luz, baiklah, aku serahkan padamu.”


“Apa saja yang kau ketahui tentang bencana itu, katakan semuanya.”


“Wah, kau rakus sekali. Tapi, baiklah aku akan menjawabnya.” Aku menarik nafas. “Bencana itu akan terjadi sekitar 2 minggu lagi, dan jika kemampuan kalian tidak berkembang sedikitpun, aku jamin kalian akan mengalami kekalahan.”


“2 minggu lagi, itu tepat seperti apa yang dikatakan olehnya.”


“Apa informasimu itu bisa dipercaya?”


“Ups, maaf. Aku tidak bisa menjawabnya, kesempatan kalian sudah habis. Kalau begitu, aku pergi dulu.” Aku keluar dari tempat.


Di luar.


“Hiroaki, apa sudah selesai?”


“Ya, sudah.”


“Nee, apa yang kau bicarakan didalam?”


“Hmm. Apa, ya...”


“Hee, ayolah, beritahu aku.”


“Sudahlah, ayo kembali. Ini sudah mulai larut.”


“Jangan mengalihkan pembicaraan.” Kami berjalan kembali pulang.


'Koujo Kotaro, ya.' Jika diingat, itu adalah nama si Shinigami itu. 'Seberapa banyak yang dia ketahui?' Dia begitu misterius, sampai-sampai aku sulit untuk menebaknya.


“Nee Hiroaki, aku lapar.”


“Huh? Bukannya tadi kau sudah selesai makan malam.”


“Aku masih lapar, aku tidak kenyang jika hanya makan sedikit seperti itu.”


“Haa, mau bagaimana lagi.”


Restoran.


“Selamat makan.”


“Hmm, enak.”


“Enak, ya.”


“Iya, ini sangat enak.”


“Begitu.” Sepertinya indera perasanya sudah kembali normal.


“Bagaimana dengan... Eh, indera perasaku kembali.” Ia terlihat senang begitu menyadari hal itu.


“Sudah, cepat lanjutkan makanmu.”


“Hiroaki, bagaimana denganmu? Indera perasamu, apa sudah kembali normal?”


“Tidak, mungkin butuh waktu untuk kembali normal.”


“Begitu.” Tiba-tiba saja ia berhenti makan.


“Ada apa?”


“Aku merasa tidak enak denganmu, disaat aku makan makanan yang enak, kau malah makan makanan yang tidak ada rasanya... Awww…”


“Sudahlah, makan saja. Jangan pedulikan aku.”


“Tapi...”


“Kalau begitu, semua makanan ini kau saja yang bayar, ya.”


“Eh? T-Tunggu, aku tidak membawa uang.”


“Kalau begitu, sudah makan saja.”


“B-Baiklah. Tapi, apa tidak apa-apa?”


“Sudah.”


“Baiklah.” Ia melanjutkan makan sembari sesekali melihat ke arahku.

__ADS_1


“Koujo Kotaro, ya.” Bergumam, aku begitu terkejut saat mendengar mereka mengetahui informasi tentang bencana itu darinya. 'Bagaimana dia bisa mengetahuinya.' Setidaknya, aku harus menyelidikinya terlebi dahuli. Tapi, sepertinya aku tak memiliki waktu untuk melakukan hal itu. '2 minggu lagi, apa aku masih memiliki waktu untuk melakukan hal itu.'


__ADS_2