
“Selamat datang.”
“Dewa Sha, bagaimana aku bisa ada disini? Bukannya aku barusan ada didunia dewa Wan.” Tiba-tiba saja aku kembali ketempat dewa Sha tempat awal aku pergi, dan ini jelas membuatku sangat bingung.
“Sebelumnya, aku ingin kau tenang dan mendengarkan apa yang akan aku katakan.”
“Dewa Sha, ada apa? Apa yang terjadi.” Saat aku melihat sekeliling, aku sama sekali tidak melihat dunia yang aku datangi barusan.
“Kau gagal.”
“A-Apa? Aku gagal, tapi bagaimana bisa?” Aku sangat yakin kalau aku sudah berhasil.
“Mudah saja. Waktumu diduniaku sudah habis, dan kelompok yang kau tugaskan itu, mereka saat ini sudah mati. Jadi, tidak ada lagi yang perlu dipertahankan dari dunia itu.” (Dewa Wan)
“T-Tunggu dulu. Waktu? Apa maksudnya itu?”
“Kekuatan, atau berkat yang aku berikan akan mengambil sebagian waktu yang aku berikan padamu.”
“Tunggu sebentar… Aku sama sekali tidak pernah tau hal ini sebelumnya.”
“Kau seharusnya tau, kekuatan yang besar itu juga membutuhkan pengorbanan yang besar pula. Itu berlaku untuk kedua pedang yang ada padamu itu.”
“Kedua pedang, Shirame dan Ryuga.”
“Ya, apa kau merasakan sesuatu. Saat ini, apa yang membuatmu berbeda dengan sebelumnya.”
“Apa? Itu tentu saja, aku lebih kuat dibandingkan dengan aku yang dulu.”
“Ya, itu memang benar. Tapi, apa kau merasakan hal lain?”
“Hal lain? Apa maksudnya?”
“Apa kau sadar, sudah berapa banyak orang yang kau bunuh didunia milikku?”
“M-Membunuh? A-Aku?!” Aku begitu terkejut mendengar hal itu.
“Dewa yang mengawasimu juga tidak menyadarinya. Kau sudah hampir kehilangan sisi kemanusiaanmu, jika kau melanjutkannya, kau akan mendapatkan masalah yang cukup serius didalam kehidupanmu.”
“Aku. Tapi, bagaimana dengan mereka? Orang-orang yang ada didunia itu, jika aku gagal itu berarti.”
“Hiroaki, tenang saja. Biarkan dewa Wan yang mengatasinya, lagipula kau itu hanyalah utusan. Jika kau gagal itu tidak masalah.”
“Tidak masalah. Jika aku gagal, maka seluruh hidup orang yang ada didunia yang tertapat ketidakstabilan akan hilang. Apa kau bilang itu tidak masalah.”
“Hiroaki. Dengarkan ak-…”
“Aku sudah gagal, aku gagal dalam menyelamatkan mereka.”
“Hiroaki-…”
“Padahal aku bisa menyelamatkan mereka, tapi aku gagal. Hanya aku yang bisa menyelamatkan mereka, tapi jika aku gagal… Nyawa mereka.”
“HIROAKII! (mengangkat suaranya)” Dewa Sha menggangkat suaranya, dan itu membuatku berhenti. “Dengarkan aku.”
“M-Maaf.” Ini pertama kalinya aku mendengar dewa Sha mengangkat suaranya, itu sangat menakutkan.
“Kau bisa membunuh atau melakukan apapun, lagipula dewa Wan sudah mengizinkannya. Apa kau ingat, kau boleh melakukan apapun didunia dewa Wan.”
__ADS_1
“Tapi, aku gagal.”
“Kegagalamu adalah keberhasilan untuk dewa Wan, setidaknya seperti itu.”
“Keberhasilan?”
“Kau melakukan sesuatu yang menakjubkan, dan itu membuat dewa Wan merubah pikirannya.”
“Hey, aku tidak ingat pernah berkata seperti itu.”
“Sudahlah yang penting, dewa Wan sudah berencana untuk merevisi dunia itu.”
“Merevisi?”
“Memperbaharui, kau kan tau kalau semua dunia yang ada ditempat ini bagaikan sebuah cerita.”
“Ya.” Kalau tidak salah dewa Sha juga pernah membahas tentang hal itu.
“Ketidakstabilan itu berasal dari luar dan kadang juga ada yang dari dalam, dan sudah tugas dewa itu bertugas untuk menbereskannya. Dan jika tidak bisa dibereskan, dewa yang menjaganya bisa saja menghancurkan atau memperbaharui dunia itu.”
“Jika bisa diperbaharui, kenapa dunia-…”
“Kenapa dunia-dunia sebelumnya dihancurkan, bukannya diperbaharui. Apa itu yang ingin kau tanyakan?”
“Ya.”
“Itu karena, memperbaharui dunia itu adalah hal yang cukup sulit, dan juga membutuhkan waktu untuk melakukannya. Sedangkan seorang dewa bisa saja memiliki lebih dari 2 dunia yang harus ia awasi. Oleh karena itu dunia yang sudah tidak stabil dihancurkan, karena jika diperbaharui dewa itu harus fokus dengan itu dan akibatnya dunia lain yang dewa itu jaga akan mengalami ketidakstabilan dari dalam.”
“Begitu...” Aku baru mengetahui hal ini.
“Dan ketidakstabilan yang kau berusaha hentikan ini adalah dari dalam.”
“Untuk itu, kau tidak perlu khawatir.”
“Kau tidak perlu khawatir, manusia biasa sepertimu tidak akan tau apa yang dewa hebat sepertiku bisa aku lakukan. Setidaknya sebelum kau menjadi seorang dewa, kau tidak akan tau apa yang bisa dewa seperti aku lakukan. Hahahaha…” Perlahan dewa Wan pergi.
“Tugasmu sudah selesai, apa kau mau kembali?”
“Ya, tolong dewa Sha.”
“Baiklah, jika ada tugas berikutnya aku akan kembali memanggilmu.”
“Ya, terima kasih.”
“Oh, ya… Selamat.” Dewa Sha mengucapkan selamat padaku, dan aku tak tau ia mengucapkannya karena apa. Setidaknya untuk saat ini tak mengetahui maksudnya.
____________________
Tengah malam.
“Hiroaki, kau sudah kembali.”
“Ah, Emilia…” Orang yang pertama kali aku temui saat kembali adalah Emilia. “Yang lainnya, kemana?”
“Sia, dan Rin sedang ada diruang administrasi. Sedangkan Ai sedang beristirahat.”
“Begitu…”
__ADS_1
Grrrrr… Sfx : Suara perut.
“Apa kau lapar?”
“Ah…” Aku baru ingat kalau aku belum makan apapun saat datang kedunia itu.
“Tunggu sebentar, aku akan menyiapkannya.”
“Terimakasih.”
----------------------
“Bagaimana? Apa rasanya enak?”
“Ya, sangat enak.” Makanan yang disiapkan oleh Emilia, rasanya sangat enak. Mungkin karena ini adalah makanan yang masuk ke dalam perutku selama beberapa hari terakhir.
“Begitu, terimakasih… Hiroaki, ada yang ingin aku tanyakan padamu.”
“Apa itu?”
“Sebelum itu, kau makan dulu. Aku tidak enak jika berbicara sambil makan.”
“Benar juga.”
Setelah selesai makan.
“Emilia, apa yang ingin kau tanyakan?”
“Hiroaki, sebenarnya. Kau pergi kemana? Dan apa yang kau lakukan?”
“Eh? E-Emilia, ada apa?”
“JAWAB!”
Sikap Emilia membuatku sedikit takut. “(menelan ludah) B-Baiklah. Aku akan jawab. Sebenarnya…” Akupun menceritakan semuanya. Lagipula dewa Sha tidak bilang kalau aku tidak boleh menceritakannya pada orang lain, jadi aku rasa tidak masalah.
Setelah cukup lama.
“Begitulah ceritanya. Apa kau sekarang mengerti keadaanku.”
“Ya, aku mengerti. Tapi… Pergi kedunia lain, bukannya itu sangat berbahaya untukmu.”
“Berbahaya, ya.” Aku sama sekali tidak pernah berfikiran seperti itu sebelumnya, dan sepertinya tak pernah terlintas pemikiran hal itu dikepalaku.
“Sebelumnya aku minta maaf padamu…”
“Huh? Ada apa? Kenapa kau meminta maaf padaku?”
“Ya, aku ingin mengatakan hal ini. Tapi, saat ini entah kenapa sikapmu saat ini sudah berubah.” Mendengar hal itu, entah kenapa aku merasakan sesuatu yang bergejolak didalam tubuhku.
“B-Begitu, ya.” Aku tak tau kalau aku juga akan terlihat berbeda dimata Emilia, dan mungkin saja aku terlihat berbeda dimata yang lain. “Emilia, aku minta bantuanmu. Tolong bantu aku kembali seperti semula.”
“Baiklah.”
“Apa kau serius?”
“Tentu saja… Lagipula, sudah menjadi tugas seorang istri mengikuti apa keinginan suaminya, kan. (tersenyum)” Entah kenapa melihat senyumannya, membuatku merasakan sesuatu yang berbeda.
__ADS_1
“Terima kasih…” Dan dimulailah pelatihanku, untuk mengubah kembali sikapku.