
"Papa..." Tanpa aku sadari, Inori melihatku dari kejauhan. "Papa!!"
"I-Inor-..."
Gubrakk
( Kerajaan Riel. )
Malam hari, jam 23.21
Inori berlari ke arahku dan langsung memelukku dengan erat hingga keseimbangan tubuhku tak bisa aku kendalikan. "Papa, papa sudah sampai. Apa tugas papa sudah selesai?"
"Y-Ya... Begitulah."
"Hiroaki, kau sudah kembali." Suara terdengar dari belakangku.
"Ah, Emilia. Ya, aku baru saja sampai."
"Kenapa sekarang?"
"Huh?"
"Bukannya kau akan kembali besok, tapi kenapa kau kembali sekarang?"
Yang dikatakan oleh Emilia itu benar, seharusnya aku kembali besok dan ini termasuk lebih cepat dari jadwal. "Entahlah, tiba-tiba saja dewa Sha menyuruhku untuk kembali. Dia bilang dia yang akan menyelesaikan sisanya."
"Begitu..."
"Nona Emilia!! Nona Emilia!!" Lia berlari dan terlihat begitu tergesa-gesa. "Nona Emilia-..." Tiba-tiba saja teriakannya berhenti setelah melihatku.
"Lia, ada apa?"
"Hiroaki-sama, anda sudah kembali."
"Iya, aku baru saja sampai."
"Hufftt... Syukurlah."
"Hmm? Ada apa?"
"Tidak, barusan aku melihat cahaya di kamar anda, dan saat aku melihat ke dalam."
"Iya.."
"Pedang anda tiba-tiba saja berada disana. Oleh karena itu saya segera mencari Nona Emilia dan juga Nona yang lain, karena saya ingin memberitahukan hal ini."
"Hmm... Begitu, ya. Jadi dewa Sha yang melakukan itu." Itu wajar, karena Lia tidak tau kalau kalau yang melakukan hal itu adalah dewa Sha. "Tapi..." Saat aku melihat ke luar, di luar gelap, padahal saat aku berada di kerajaan Anvil disana masih pagi.
"Nona Inori, anda sebaiknya segera tidur. Ini sudah malam."
"Tidak, malam ini aku mau tidur sama papa."
"Eh?!"
"Inori, hari ini papamu baru kembali dari perjalanan-..."
__ADS_1
"Aku mau tidur sama papa!!"
"Tapi, nona Inori.."
"Lia, sudahlah. Biarkan saja." Suara lain terdengar, dan suara itu adalah suara Sia.
"Mama Sia..." Melepaskan pelukannya, Inori berlari dan memeluk Sia. "Apa aku boleh tidur dengan papa?"
"Iya..." Mendengar hal itu, aku hanya bisa menghela nafas.
Aku perlahan mulai bangun. "Sia, apa kau serius?"
"Iya, lagipula Inori sudah lama tidak tidur bersama denganmu." Dengan mudahnya Sia berkata seperti itu. "Lagipula aku yakin kalau kau tidak akan melakukan hal yang macam-macam pada Inori. Benar'kan Inori.."
"Hal yang macam-macam? Papa, apa maksudnya hal yang macam-macam itu?"
"Ahhhhh!!! Baiklah-baiklah, Inori kau boleh tidur dengan papa. Tapi hanya hari ini saja."
"Yeeeyy... Makasih papa. Kalau begitu, aku akan memberitahu mama dulu.."
"I-Iya..." Setidaknya aku bisa mengalihkan pembicaraan ini.
Emilia mendekat ke arah Sia. "Sia, apa kau yakin?" (Emilia)
"Apa kau tega membiarkan senyuman bahagianya itu menghilang?"
Mendengar Sia berkata seperti itu, aku jadi teringat sesuatu. Jangan sampai Inori merasa menderita ataupun hal lain yang bisa membuat emosinya turun. Dan ternyata Sia juga menyadari hal itu, aku tak tau kapan tapi sepertinya Sia sudah mengetahui siapa Inori sebenarnya.
"Kalau begitu, aku akan kembali ke kamar..."
"Ah... Benar juga." Aku baru ingat kalau aku belum makan apapun, sejak bangun dari tidurku. "Lia, bisa kau siapkan makanan untukku?"
"Baik Hiroaki-sama." Lia pergi.
"Kemana Rin dan Ai?" Aku tak melihat mereka berdua disini.
"Mereka sedang mengerjakan beberapa tugas kerajaan yang belum selesai." (Emilia)
"Begitu, ya. Emilia, bisa kau katakan pada mereka berdua untuk segera beristirahat. Biar aku yang menyelesaikan sisanya."
"Baiklah." Emilia pergi.
"Sia, ada apa?" Sia terlihat kebingungan.
"Eh? Tidak ada apa-apa, hanya saja. Bukannya kau tidak tau tulisan di dunia ini."
"Ah, benar juga." Aku melupakan hal itu. Tapi, karena aku sudah berkata seperti itu, mau bagaimana lagi. "Setidaknya aku akan mencoba semampuku."
"Begitu. Aku akan istirahat dulu."
"Ya, selamat malam."
"Selamat malam." Emilia kemudian pergi, dan disini hanya ada aku sendiri.
"Ha..." Sebenarnya sampai saat ini aku masih tidak mengerti cara untuk mengatur sebuah kerajaan, apalagi kerajaan ini sudah semakin berkembang, semua urusan kerajaan ini aku selalu menyerahkan pada mereka ber 4 dan di kerajaanku ini aku bagaikan hanya seorang raja yang tak berguna. Aku tak bisa mengurus kerajaan ini dengan benar.
__ADS_1
------- Beberapa menit kemudian -------
"Hiroaki-sama, makan malam anda sudah siap." Lia menghampiriku.
"Aku akan segera kesana. Kau istirahat saja, ini sudah malam."
"Baik, Hiroaki-sama." Lia pergi dan disini hanya ada aku sendiri.
"Haaa..." Tempat ini terasa begitu sepi sekarang, tak ada seorangpun disini. "Ha, sudahlah..." Aku bergegas untuk pergi ke ruang makan.
------- Setelah itu -------
"Ha... Rasanya sangat enak." Aku sudah selesai makan dan saat ini aku tengah dalam perjalanan menuju ke ruang kerja tempat dimana Rin dan Ai berada.
Tengah malam, Jam 00.05
Kreekk
Aku perlahan membuka pintu. "Huh?" Aku sedikit terkejut. "Rin, Ai..." Aku melihat mereka berdua yang tertidur begitu pulas.
"Mereka berdua terlalu bekerja keras." Aku mengambil selimut yang ada disini lalu menghampiri mereka berdua. "Maaf, ya. Aku selalu merepotkan kalian semua." Berbicara dengan suara pelan, aku perlahan menyelimuti Rin dan Ai yang sedang tertidur pulas.
"Huh?" Aku melihat kertas yang ada di atas meja kerja Rin. "Apa ini?" Meskipun aku tidak bisa membacanya, tapi di dalam kertas ini terdapat sebuah gambar beruang. "Monster?"
Aku kembali melihat kertas yang ada di atas meja kerja Rin, dan masih sama kertas yang aku lihat terdapat gambar yang sama seperti yang pertama kali aku lihat barusan.
"Serangan monster beruang." Itulah yang pertama kali aku pikirkan setelah melihat gambar itu. "Tapi, dimana?" Aku kembali melihat kertas itu.
"Hutan barat di dekat pemukiman, dan di utara dekat dengan area pantai." Itulah yang terdapat pada peta yang ada di kertas itu. "Aku akan memeriksanya." Aku bergegas pergi.
Sebelum itu, aku kekamar untuk mengambil pedangku. Tapi...
Kreeek
"Huh? Inori.." Inori tengah memeluk kedua pedangku itu sebagai guling, dan ia juga tidur cukup pulas. "Ha... Sudahlah."
Aku kemudian langsung bergegas pergi menuju ke tempat beruang itu berada.
---------------
Tengah malam, jam 01.23
Aku akhirnya sampai di tempat pertama, daerah hutan bagian barat. "Hm?" Disini sama sekali tidak ada apa-apa. "Apa yang terjadi?" Aku kembali mencoba untuk pergi ke tempat selanjutnya.
Tengah malam, jam 03.21
Beberapa jam berjalan, aku akhirnya sampai juga di tempat kedua, area pantai dan sama saja, disini tidak ada apa-apa. "Ha... Sepertinya aku sudah salah paham." Akupun berjalan kembali menuju ke istana, tapi.
Swuutttt
Aku segera menunduk dan sebuah anak panah tertancap di pohon yang ada disampingku. "Keluarlah, aku sudah tau keberadaanmu." Aku sudah cukup lama menyadarinya, tapi karena dia tidak bertindak jadi aku membiarkannya. Tapi... "Panah beracun, ya. Kalian berniat untuk membunuhku begitu."
Perlahan sosok dengan pakaian dan juga jubah hitam muncul dari balik bayangan. "Ini situasi yang cukup gawat." Aku tidak membawa pedangku, dan disisi lain mereka lebih banyak dari dugaanku. "Sepertinya ini akan sedikit membuatku kerepotkan. Ini sangat menyebalkan."
Bersambung....
__ADS_1