
Pagi hari.
“Sayang, cepat bangun ini sudah pagi.”
“Hmmmm. Aku masih…” Aku sangat kelelahan akibat pertarungan itu, tenagaku seperti terkuras. Mungkin itu akibat aku yang belum terbiasa menggunakannya. “Sebentar lagi…” Tapi... 'Tunggu sebentar!! Bukannya kemarin aku tidur sendiri.' Perlahan aku membuka mataku. “Kyaaaa” Aku melompat keluar dari kasurku. “A-Apa yang kau lakukan disini.” Yang tidur di sebelahku adalah Ai.
“Wajah tidurmu sangat lucu, jadi aku tidak sengaja menatapnya.”
Akibat apa yang Ai lakukan, aku sudah tidak mengantuk lagi. “Aku akan mandi dulu, Ai kau bisa tunggu diluar.”
“Ehhh, aku ingin membasuh punggungmu.”
'Hmmm, bagus juga nih.'
“Tidak perlu, aku bisa melakukannya sendiri.”
“Ayolah, hanya sekali saja. Aku mohon…”
Adegan seperti ini, tidak boleh terjadi.
“Ehh… Ai, ada apa denganmu? Kau terlihat berbeda hari ini?” Ya, sikapnya barusan tidak seperti dirinya, ada sesuatu yang aneh.
“Tidak ada, aku baik-baik saja.”
“Benarkah?”
“Tidak juga.”
“Ha…” Ini yang membuatku tidak mengerti perasaan seorang gadis. “Ada apa, jika ada sesuatu katakan saja.”
“Apa kau ingin menuruti apa yang aku inginkan?”
“(menelan ludah) Eh… Apa itu sesuatu yang berbahaya?”
“Tidak, ini sama sekali tidak berbahaya.”
“Hmm… Kalau begitu, baiklah. Katakan saja.” Tiba-tiba ia mendekat ke arahku. “A-Ai, apa yang ingin kau lakukan?”
Tubuhnya bersentuhan dengan tubuhku. Lalu ia mulai menekankan tubuhnya padaku. “A-Ai, ada apa?” Ini membuatku sedikit panik.
“Hari ini, aku ingin dimanja olehmu. Hanya hari ini saja.”
Menengar hal itu, kepalaku kosong.
'Hehehe... Seneng amat hari ini.'
---------------------------
“Bagaimana apa kau suka?”
“Wah, ini sangat menyenangkan.” Aku kira ia meminta apa, ternyata ini yang dia maksud. Ai ingin pergi ke kerajaan Sylv. Ia bilang kalau ada sesuatu yang ingin ia beli disana. “Bisa pergi berdua denganmu, ini membuatku sangat bahagia.”
“Begitu…” Dari atas punggung naga Shura, Ai bisa melihat hal yang belum ia lihat sebelumnya.
“Terimakasih sudah menuruti keegoisanku ini.”
“Tidak masalah.” Selama bukan hal yang mustahil, jika aku bisa melakukannya maka aku akan lakukan.
---------------------------
“Dewa Sha, bagaimana dengan tugas selanjutnya.”
“Aku sudah menyiapkannya.”
__ADS_1
“Dewa Sha, apa kau serius akan memberinya tugas itu?”
“Dewa Yu, kau tak perlu khawatir. Aku yakin dia pasti bisa, lagipula dewa Wan juga sudah memberinya berkat.”
“Dewa Wan, ya.”
>> Dewa Wan, dewa yang menjaga dunia yang akan di datangi oleh Hikari selanjutnya.
“Dengan begitu, mungkin dia bisa sedikit tenang. Lagipula berkat yang diberikan dewa Wan, aku rasa itu cukup ampuh jika di gunakan di dunianya.”
“Begitu… Kapan kau akan melakukannya?”
“Saat ini, waktunya masih belum pas. Mungkin aku akan memberinya waktu sebentar lagi. Lagipula, dia baru saja kembali.”
-----------------------
Sore hari, Kerajaan Sylv
“Ai, apa kau sudah dapat apa yang kau cari?”
“Belum, aku masih mencarinya.” Setelah sampai disini, kami langsung menjajal seluruh toko yang ada disini untuk mencari apa yang diinginkan oleh Ai.
Setelah cukup lama
“Aku menemukannya. Aku ingin membeli ini.”
“Kau memiliki selera yang cukup bagus nona.” (penjual)
“Hm… Buku?”
“Bukan, ini bukan buku biasa. Konon buku ini bisa meramalkan masa depan.”
“He.. Begitu.” Sepertinya itu buku yang sangat menarik. “Ambil saja, aku yang akan membayarnya.”
------------------------
“Hmm… Apa hanya itu yang kau inginkan?”
“Iya.”
“Hm… Ai, apa isi didalam buku itu.” Jika buku itu bisa meramalkan masa depan, pasti ada sesuatu yang akan terjadi saat seseorang membuka buku itu.
“Baiklah.” Ai kemudian membuka buku itu.
“Hm… Apa maksudnya ini?” Saat Ai membuka buku itu, di dalamnya terdapat sebuah gambar bintang kecil. “Ai, apa kau tau apa maksudnya?”
“Aku tidak tau, aku baru pertama kali melihat yang seperti ini.”
“Pertama kali? Apa kau sebelumnya juga pernah mempunyai buku ini?”
“Iya, tapi itu dulu… Itu sudah sangat lama.”
“Begitu.” Jadi itu tujuannya membeli buku itu. “Mungkin bukan sesuatu yang penting, mungkin saja itu menandakan kerajaan kita yang baru saja kita bangun.”
“Ya, itu mungkin saja. Binta kecil ini, mungkin semakin-lama akan semakin membesar, begitu juga dngan kerajaan kita.”
-----------------------
“Ai, apa kau yakin sudah tidak ada hal lain yang kau inginkan?”
“Tidak ada, ini sudah sangat cukup untukku. Lagipula seharian ini aku bersama denganmu, tak ada yang lebih aku inginkan selain hal itu.”
“Begitu. Ya sudah, Shura.”
__ADS_1
Groaaarrrr
Kami kembali.
-----------------------------
“Dewa Sha, semua persiapannya sudah kau siapkan. Kapan kau akan memanggil manusia itu?”
“Ini belum saatnya, bersabarlah dewa Wan. Saat waktunya tiba, aku pasti akan memanggilnya.”
“Dewa Sha, ada yang seseorang yang mencarimu.” (Dewa Yu)
“Mencariku? Dewa Yu, siapa?”
“Seorang gadis manusia, atau lebih tepatnya gadis setengah dewa.”
“Ah… Aku harus kembali, saat waktunya tiba aku akan segera memanggilnya.” Dewa Sha pergi.
“Dia dewa yang cukup sibuk, ya.” (dewa Yu)
“Hanya bermain-main dengan seorang gadis, apa yang sebenarnya dewa Sha pikirkan.”
“Entahlah… Tapi, sudah lama sekali aku tidak melihatnya senang seperti itu. Jika itu membuatnya senang, itu tidak masalah. Lagipula dia adalah seorang dewa.”
“Hahaha… Dibandingkan dengan seorang ayah, kau sudah mirip seperti ibunya saja.”
“Begitukah… (tersenyum) Mungkin kau benar juga.”
“Dewa Yu, apa kau merasa bertanggung jawab atas apa yang terjadi padanya?”
“Ya… Andai saja waktu itu aku lebih memerhatikan dunia itu, pasti kejadian itu tidak akan pernah terjadi. Dan aku yakin dewa Sha bisa hidup bahagia.”
“Dia memang mahluk dari duniamu yang hancur itu, tapi kenapa kau sampai menjadikannya seorang dewa?”
“Kau mengetahuinya, ya. Dewa Wan, apa kau pernah mendengar tentang dewa penyendiri.”
“Ya…”
“Itu adalah aku, seandainya dulu julukan itu tidak ada padaku. Mungkin saja…”
“Sudahlah… Aku tak ingin mendengar apapun lagi. Lagipula dia sudah bahagia dengan keadannya sekarang, itu sudah cukup untuk menebus kesalahanmu.”
“Ya, mungkin saja kau benar. Lagipula dia adalah MC di dunia itu, jika dia mendapatkan perlakuan yang berbeda, aku rasa itu tidak masalah.”
--------------------------
“Sayang, bagaimana kalau kau membuka buku ini juga.”
“Eh, aku? Kenapa?”
“Aku ingin tau, masa depan seperti apa yang bisa diperlihatkan oleh buku ini jika kau membukanya.”
“Baiklah.” Aku memang tak berencana untuk menolaknya, lagipula aku juga sedikit penasaran.
Aku mengambil buku yang Ai pegang. Dan saat aku membukanya. “Apa maksunya ini?(bingung)” Aku tak begitu paham dengan hal seperti ini, dan dengan apa yang ada di dalam buku ini. Aku juga tak mengetahuinya. “Ai, apa kau mengetahui? Ai, apa yang terjadi denganmu.” Tiba-tiba saja Ai memeluk erat tubuhku. “Ai, ada apa?”
“Aku, aku tidak akan membiarkanmu pergi.”
“Pergi, aku tidak akan kemana-mana.”
“Benarkah?”
“Iya." Setidaknya untuk saat ini. Tapi, apa yang membuatnya melakukan hal itu. Sebuah gambar pedang dengan darah di bilahnya. Aku tak tau apa artinya, tapi jika melihat reaksi Ai, itu pasti adalah sesuatu yang buruk.
__ADS_1