
Pagi hari,
“Hiroaki, bangun ini sudah siang.”
Aku perlahan membuka mata. “Emi, ya. Beberapa menit lagi. Aku sangat menangtuk.” Setelah menderita kehabisan mana tubuhku menjadi sangat lemah, dan karena itu aku sangat lelah hari ini. “5 menit lagi.” Aku kembali memejamkan mataku.
“Hiroaki, ayo bangun.” Emilia terus menggoyangkan tubuhku. “Ayo bangun..”
“Haa. Baik baik.” Aku bangun dari tempat tidur yang sangat nyaman ini.
“Aku akan menunggumu di ruang makan. Sebaiknya kau segera menyusul.”
“Baik.” Emilia pergi. “Ha.. makan, ya.” Entah kenapa aku merasa tidak lapar, itu mungkin karena aku masih belum bisa merasakan rasa makanan sampai hari ini.
Ini sudah beberapa hari setelah aku kembali dari tugas yang diberikan oleh dewa Sha, selain karena efek indra perasa yang belum pulih, aku juga sangat malas karena kehabisan mana.
“Haa, tidur saja ah.” Aku kembali tidur.
Setelah cukup lama. Sfx : pintu terbuka.
“Ahh, bisa tolong jangan ganggu aku, aku sedang tidak enak badan.” Aku perlahan membuka mata dan melihat siapa yang datang. “Ah. Ai, ada apa?” Kelihatannya, dia sudah baik-baik saja.
“Sayang, kau tidak ikut sarapan? Apa yang terjadi padamu?”
“Aku hanya malas saja, lagipula aku sedang tidak lapar.”
“Begitu. Oh ya, ada sesuatu yang ingin aku tanyakan.”
“Huh? Apa?”
“Apa indra perasamu hilang?”
“Huh?” Aku terkejut ia mengetahuinya. “Eh, i-iya.”
“Begitu.” Sepertinya ada sesuatu yang terjadi padanya.
“Ai, ada apa?”
“T-Tidak ada apa-apa.”
Saat ia berkata seperti itu, ada yang aneh dan aku putuskan untuk mengingat semua kejadian yang sudah terjadi. ‘Bagaimana dia bisa tau.’ Setidaknya hal itu yang harus aku ketahui, karena aku belum pernah bilang pada siapapun tentang hal ini saat aku sampai disini.
Beberapa saat kemudian
“Begitu ternyata.” Aku mengingat sesuatu. “Ai. Maaf, seharusnya aku menyadari hal ini lebih cepat.”
“Eh? Ada apa?”
Aku menghubungi dewa Sha. ‘Dewa Sha, aku butuh bantuanmu.’
‘Bantuan apa, cepat katakan aku sedang sangat sibuk.’
‘Tentang Ai.’ Aku menjelaskan panjang lebar apa yang terjadi.
‘Hmm. Benar juga, baiklah… Sudah selesai. Sudah, jangan ganggu aku lagi, aku super sangat sibuk.’
‘Haa, baik-baik.’ Dewa Sha menutup telepatinya.
Efek pasangan, setidaknya itulah yang terjadi padanya. Dan karena itu aku meminta dewa Sha untuk menghilangkannya sama seperti sebelumnya.
“Haa, sudah. Ai, sebaiknya kau istirahat saja.”
“Baik. Lalu, bagaimana denganmu? Kau belum sarapan?”
“Tenanglah, aku akan melakukannya nanti. Sekarang, aku ingin tidur dulu.”
“Baiklah.” Ai pergi, dan aku kembali memejamkan mata lalu tidur.
---------------
“Tempat apa ini?” Sebuah tempat yang begitu besar. Dan disana aku melihat orang-orang saling bertarung dengan sekuat tenaga. “Apa ini?”
Mereka bertarung, dan setiap petarung yang kalah menghilang dari tempat ini. “Dunia macam apa ini?” Dunia yang penuh dengan pertarungan.
----------------
Sore hari.
Aku perlahan membuka mata, dan mulai bangun dari tempat tidurku. “Mimpi?” Itu bukan terlihat seperti mimpi, melainkan sebuah pertanda.
“Papa.”
“Eh?” Tanpa kusadari, ada seseorang yang tertidur pulas disampingku. “Inori kah..” Tak ingin mengnggu tidur pulasnya, aku perlahan pergi dari kamar. “Haa.” Untuk sekarang, setidaknya rasa kantukku sudah hilang.
“Hikari, kau sudah bangun.”
“Emi.” Aku bertemu dengan Emilia di jalan. “Ya, aku baru saja bangun.”
“Hiroaki. apa kau sakit atau semacamnya?”
“Huh, memangnya ada apa?”
__ADS_1
“Tidak ada, hanya saja, karena kau sering menghabiskan waktu untuk tidur. Aku jadi berfikiran seperti itu.”
“Ahh. Maaf sudah membuatmu khawatir.”
“A-aku bukannya khawatir denganmu. Hanya saja…”
“Aku baik-baik saja. Sudah dulu, aku ingin makan sesuatu.”
“Ehh. Kalau begitu, bagaimana kalau aku yang siapkan.”
“Eh?”
Beberapa lama kemudian, di ruang makan.
“Hiroaki, ini makanannya.” Emilia menyajikan cukup banyak makanan untukku.
“Wah, ini semua kelihatan sangat lezat. Apa kau yang membuat semua ini?”
“T-tentu saja. Jadi, aku harap kau menyukainya.”
“Begitu. Terimakasih.” Meskipun begitu, aku tak tau apa aku bisa merasakan rasa dari makanan ini atau tidak. “Selamat makan..”
Setidaknya aku harus memberiknya komentar yang baik.
“Hiroaki, bagaimana rasanya? Hiroaki, ada apa?”
“T-tidak ada apa-apa.. makanan ini sangat enak, sangat-sangat enak.”
“Benarkah, terimakasih.” Indra perasaku kembali, mungkin dewa Sha yang menyembuhkannya.
Sudah lama sejak terakhir kali aku merasakan rasa dari makanan, dan hari ini aku bisa merasakan rasa makanan dan ini membuatku bahagia.
Sejujurnya, aku sudah hampir lupa dengan semua rasa makanan. Dan karena ini, aku jadi ingat kembali semua rasa yang hampir aku lupakan itu.
Beberapa lama kemudian.
“Terimakasih atas makanannya.” Entah kenapa aku bisa menghabiskan semua makanan ini. Mungkin karena aku sudah lama tidak mersakan yang namanya kenikmatan dari makanan. “Emi, ada apa?”
“Tidak ada apa-apa.(tersenyum)”
Sore hari
“Sia, tentang dokumen ini. Hi-chan, ada apa?”
“Tidak ada apa-apa, aku hanya ingin mampir sebentar.” Karena tidak ada tujuan, aku sengaja datang ke ruang administrasi untuk melihat Sia, dan Rin. “Apa aku mengganggu?”
“T-Tidak.”
“Rin, tentang dokumen itu.”
“Ah. Maaf, ini dokumennya.”
Mereka berdua kelihatan cukup sibuk. “Rin, Sia, bukannya akan lebih baik kalau ada yang membantu meringankan pekerjaan kalian?”
“Haaa, tentang hal itu.”
“Huh?” Mereka menjelaskan padaku.
Beberapa menit kemudian.
“Begitu.” Mereka kesulitan untuk mencari orang yang cocok yang bisa membantu mereka, dan karena mereka masih belum menemukannya oleh karena itu mereka mengerjakan tugas ini sendiri. “Maaf, ya. Aku tidak bisa membantu.”
“Tidak usah khawatir, pekerjaan ini lebih ringan dibandingkan dengan pekerjaan yang kau lakukan.”
Aku sedikit bingung, padahal jika diingat aku sama sekali tidak pernah melakukan apapun. “Ahh, bagaimana ini?”
“Sia, ada apa?”
“Aku lupa mengantarkan berkas ini, jika berkas ini tidak segera diantar pembangunan ini akan terhambat.”
“Hi-chan, bisa tolong antarkan berkas ini.”
“Eh? Aku?”
“Iya. Aku dan Sia sangat sibuk, Emilia sedang istirahat. Oleh karena itu, tolong.”
“Haa, baiklah.”
“Kalau begitu, ini.” Sia memberiku sebuah berkas.
“Mau aku antarkan kemana berkas ini?”
“Di dekat gerbang timur, ada sebuah pembangunan. Kau bisa menyerahkannya pada orang yang ada disana.”
“Pembangunan, ya. Baiklah.”
“Hi-chan, kalau bisa tolong secepatkan kau antarkan. Mungkin saat ini mereka sedang membutuhkannya.”
“Baik.” Aku pergi dari sini. “Haa, jadi ini tugasku sebagai seorang raja.” Meskipun begitu, aku tak pantas untuk memprotesnya karena aku sama sekali tidak pernah melakukan apapun untuk perkembangan kerajaan ini. Yang mengembangkan kerajaan ini adalah mereka ber-4. “Haa, sudahlah. Sebaiknya aku bergegas.”
Beberapa lama kemudian.
__ADS_1
“Wahh, jadi pembangunan ini, ya.” Membangun sebuah perpustakaan umum, ya setidaknya itu cukup penting.
“Awas, hati-hati saat meletakkannya!!”
“Baik!!”
Disini mereka terlihat sangat sibuk, tapi aku harus mengantarkan dokumen ini karena dokumen ini sangat penting. Itu yang dikatakan Sia. “Haa.” Tapi, aku tak biasa memulai pembicaraan jadi aku cukup kebingungan kali ini.
“P-paduka raja.” Memberi hormat. “Apa yang paduka raja lakukan disini?”
Kebetulan sekali. “Aku datang untuk memberikan ini.” Aku memberikannya dokumen ini.
“Dukumen ini, terimakasih banyak paduka. Tapi, kenapa paduka sendiri yang membawanya?”
“Tidak ada alasan khusus. Kalau begitu, lanjutkan pekerjaan kalian.”
“Baik.”
Aku pergi. “Haa, hari ini sangat membosankan.” Ini lebih membosankan dari apa yang aku kira.
Istana, ruang administrasi.
“Hi-chan, apa berkasnya sudah kau antarkan?”
“Sudah.”
“Begitu, terimakasih.”
“Rin, Sia. Sebentar lagi waktunya makan malam, sebaiknya hentikan dulu pekerjaan kalian ini.”
“Tunggu, ini tinggal sedikit lagi.” (Rin)
“Iya, saat ini selesai kami akan segera menyusul.” (Sia)
“Rin, Sia. Hentikan pekerjaan kalian.” Mendengar aku berkata seperti itu, mereka berhenti.
“Hi-chan, ada apa?”
“Jika aku biarkan kalian akan lupa waktu, dan kalian akan lupa untuk makan. Jika seperti itu, kesehatan kalian akan terganggu.”
“Tunggu, ini tinggal sedikit lagi.”
“Sia, hentikan.”
“M-maaf.”
“Kalau begitu, ayo cepat keruang makan.”
“Baik.” Kami pergi bersama ke ruang makan.
--------------------
“Rin, Sia.. kalian disini. Apa pekerjaan kalian sudah selesai?” (Ai) Ai datang keruang makan, karena sebentar lagi waktunya makan malam.
“Sebenarnya belum, tapi…”
“Begitu. Sudahlah, sudah lama sekali kita tidak makan malam bersama seperti ini.” Ya, seperti yang dikatakan oleh Ai. Sejak aku kembali, moment seperti ini sudah hilang.
“Haa.”
“Ai, dimama Inori, dan yang lainnya?”
“Mereka sebentar lagi akan kemari.”
“Begitu.”
Beberapa menit kemudian.
Mereka semua sudah berkumpul disini. “Selamat makan.”
Dugg
Aku merasakan sesuatu yang aneh. “Hiroaki, ada apa?”
“Aku harus pergi.”
“Eh. Papa, mau kemana?”
“Ada hal yang lupa papa kerjakan.”
“Hi-chan, ada apa?”
“Tidak ada apa-apa. Kalian lanjutkan saja makan, saat sudah selesai aku akan kembali.” Aku pergi.
Beberapa menit kemudian
“Shura, lebih cepat!!”
Groaarrr.
“Siapa?” Pembatas yang aku pasang beberapa hari lalu untuk mencegah serbuah monster hancur, dan ini pasti ulah seseorang. “Haa, menambah pekerjaanku saja.”
__ADS_1