
Aku dan Rin keluar dari ruangan itu dan melihat Garden sedang duduk santai di salah satu tempat duduk yang ada di Guild bersama Leona dan sepertinya luka yang ada di tubuh mereka sudah di sembuhkan.
"Yo bocah, bagaimana? Apa sudah selesai?"
"Iya sudah."
"Kalau begitu, ambil ini!"
Garden melemparkan pedangku yang aku titipkan padanya langsung ke arahku.
"Waaaaaaa. Kampret orang in-"
Gubbrakkk.
Aku jatuh karena karena ulah pedangku sendiri yang Garden lemparkan padaku. Dan tiba-tiba saja aku menjadi perhatian banyak orang yang ada di dalam Guild.
"Memalukan." Ucap Rin dengan nada suara yang cukup kecil.
Meskipun begitu aku masih bisa mendengar ucapan Rin. Dan entah kenapa rasanya hatiku seperti di tembak oleh meriam hingga hancur berkeping-keping.
"Ahhhhh. Aku tak sanggup hidup lagi. Setelah aku melakukan hal yang memalukan di depan seorang gadis cantik, dan gadis itu mengataiku 'memalukan' aku tak punya semangat lagi." pikirku saat Rin untuk pertama kalinya mengatakan aku memalukan.
"Ehemm." (Garden)
Saat Garden berpura-pura batuk, tiba-tiba saja orang-orang yang melihatku memalingkan pandangannya.
"Apa kau bisa berdiri bocah?"
"Iya." aku menjawab dengan nada yang tak bersemangat. Dan berdiri sambil memengang pedangku dengan kedua tanganku, lagi.
"Baiklah. Kalau begitu, kita cari penginapan dulu." (Garden)
"Ayo!" (Leona)
"B-baik." (Rin)
Aku tak berbicara apapun lagi setelah itu.
Kamipun keluar dari Guild dan mencari sebuah penginapan.
Sore hari, jam - -.- -
Hampir 2 jam kami mencari sebuah penginapan, mungkin.
Dan akhirnya kami sampai di sebuah penginapan yang cukup layak.
Kami masuk dan ada seorang gadis yang menyambut kami saat kami masuk ke dalam penginapan itu.
"Selamat datang, tuan. Ada yang bisa saya bantu?" (Gadis penjaga penginapan)
"Pesan dua kamar." (Garden)
"Baik, tuan. Akan segera kami siapkan dua kamar untuk anda." Gadis itu kemudian pergi.
"Dua?"
"Iya, kau tidur bersamaku dan Leona bersama pasanganmu."
"Ohhh, begitu." Wajahku sedikit lesu.
Kemudian Garden menyeretku agak jauh dari Leona dan juga Rin.
"Hey bocah, apa kau tak mau tidur denganku?"
"Eh? Ehhhhhh?!!"
"Tunggu dulu, ada berapa kasur yang ada di penginapan ini?"
"Setiap kamar hanya ada satu kasur."
"Tidakkkkkk!!!"
"Aku menolak!!"
"Hahahaha. Tenang saja bocah, aku cuma bercanda. Hampir seluruh penginapan menyediakan dua buah kasur. Jadi, kau tenang saja, tak perlu khawatir."
"Huh, begitu, syukurlah." Aku lega.
Tiba-tiba gadis penjaga penginapan itu kembali menghampiri kami, lagi.
"Kamar anda sudah siap, tuan. Silahkan ikuti saya." (Gadis penjaga penginapan)
Kamipun mengikuti gadis itu. Gadis itu membawa kami ke ruangan paling ujung yang ada di lantai dua.
"Ini kamar anda, tuan." (Gadis penjaga penginapan)
Kamar kami berhadapan dan sebelum gadis penjaga penginapan itu pergi, Garden memberikan uang sewa untuk kamar ini. Aku melihat Garden memberikan dua koin tembaga dan juga dua koin perak pada gadis penjaga penginapan itu, setelah itu gadis penjaga penginapan itu pergi.
Kami masuk ke kamar kami masing-masing.
Di dalam kamar ini, aku melihat dua tempat tidur dan sebuah selimut untuk masing-masing tempat tidur dan juga sebuah meja yang berada di tengah dengan lilin di atasnya sebagai penerangan.
"Haaaah. Untung tempat tidurnya ada dua."
"Benarkan, kau tak usah khawatir."
*****
Malam hari, jam - -.- -
Di sebuah penginapan tepatnya kamarku dan Garden.
Aku sedang tidur-tiduran dan Garden sedang membersihkan pedangnya yang terlihat kotor akibat darah dari hewan iblis yang telah kami bunuh kemarin.
"Hey Garden."
"Ada apa bocah?" jawabnya dengan wajah datar.
"Bisa ajari aku bertarung besok?"
"Baiklah."
Aku cukup senang karena tanpa pikir panjang Garden mau mengajariku. Dan ada hal lagi yang ingin aku tanyakan, sesuatu yang sempat di ucapkan oleh Alice tentang 'Sakusha'.
"Garden, aku mau tanya? Apa kau tau Sakusha itu apa?"
Garden tiba-tiba berhenti membersihkan pedangnya. Ya, karena sudah bersih.
"Hmmm. Bagaima menjelaskannya, ya."
__ADS_1
Aku melihat Garden agak ragu untuk menjawab pertanyaanku atau mungkin bukan karena itu.
"Begini saja. Sakusha itu adalah dewa di dunia ini, konon dia tinggal atau berada di salah satu gua yang ada di dunia ini."
"Kalalu dia dewa, kenapa ada yang tau kalau Sakusha itu ada di salah satu gua yang ada di dunia ini? Apa ada yang pernah melihatnya?"
"Sebenarnya ada satu orang yang pernah melihatnya."
"Siapa?"
"Dia adalah raja pertama yang menguasai kerajaan ini. Dulu, sang raja pertama pernah tersesat di dalam hutan yang lebat, dan di dalam hutan itu, ia melihat sesosok laki-laki yang tubuhnya terus mengeluarkan cahaya yang sangat terang dan ia juga membawa tiga buah pedang masuk ke dalam sebuah gua. Dan saat sang raja mengikutinya masuk kedalam gua itu, ia tak menemukan apa-apa di dalam gua itu. Dan bahkan laki-laki yang masuk ke dalam gua itu juga menghilang. Dan sesampainya di kerajaannya dia menceritakan hal itu dan sampai sekarang cerita raja pertama itu di anggap sebagai bukti bahwa dewa telah turun ke dunia ini."
"Kenapa dewa itu di beri nama Sakusha?"
"Entahlah, mungkin karena gua yang di masuki dewa itu adalah gua Sakusha, dan dewa itu di beri nama Sakusha. Aku juga tak tau alasannya."
"Hmmm. mencurigakan. Tapi tak apalah, lagi pula aku tidak begitu peduli tentang hal ini. Oh ya, aku mau tanya lagi."
"Silahkan saja."
"Ini soal Felix."
"Ada apa dengan Felix?"
"Aku tak melihat pasangannya? Kemana pasangannya?"
"Ohh, Felix itu tidak punya pasangan."
"Bagaimana bisa? Aku kira cuma orang yang berhubungan dengan pemerintah yang tidak punya pasangan. Ternyata Felix juga."
"Oy oy. Dimana kau dapat pemikiran seperti itu bocah. Felix tidak punya pasangan itu bukan karena ia berhubungan dengan pemerintah, justru sebaliknya, ia sama sekali tak ada hubungannya dengan pemerintahan."
"Terus, kenapa dia bisa sampai tak memilki pasangan?"
"Karena, hampir setiap hari ia hanya mengurung diri di tempat kerjanya. Oleh karena, itu dia tak memiliki pasangan."
"Apa hubungannya? Kerja dengan mendapatkan pasangan?"
"Orang yang memiliki pasangan, pasti ia sudah mengalami kejadian tertentu kenapa ia bisa memilki pasangan. Dan itu tidak berlaku untuk Felix, yang selalu mengurung dirinya. Oleh karena itu, sampai saat ini Felix masih belum punya pasangan. Karena sangat sulit untuk menemukan pasangan bagi orang yang tidak pernah keluar seperti Felix."
"Oh begitu, kah."
"Ya sudah, sebaiknya kau segera tidur. Kau besok ada rencana untuk latihan bersamaku pagi-pagi sekali, 'kan."
"Baiklah."
Akupun tidur dengan selimut yang menutupi tubuhku agar tak kedinginan.
Tengah malam, jam - -.- -
Kreeeeekkk. Suara pintu kamar terbuka.
Dengan keadaan setengah sadar aku sedikit membuka mataku, aku melihat pintu kamar yang aku tempati terbuka. "Ahhhh, mungkin itu Garden yang lagi kebelet." pikirku.
Setelah itu aku kembali menutup mataku dan tidur.
Pagi hari, jam - -.- -
Dalam keadaan mataku yang masih tertutup aku merasakan sesuatu yang lembut di pengang oleh salah satu tanganku. "A-pa i-ni? Lembut~" aku mencoba menggerakkan tanganku.
"Ah~" (??)
Aku mendengar suara desahan kecil, dan karena desahan kecil itu akupun membuka mataku perlahan.
"Eh? Ehhhhhhh?!!"
Dengan refleks yang cukup cepat aku segera melompat keluar dari kasur tempatku tidur karena Rin sedang tidur di kasurku. Aku melihat sekeliling dan aku sama sekali tak melihat Garden.
Tiba-tiba Rin membuka matanya dan bangun dari tidurnya.
"Pagi Hiroaki." Ucap Rin sambil mengucek matanya dengan tangannya, dia kelihatan sangat manis saat baru bangun tidur.
"Pagi juga. Ehhhh, bukan itu!! Kenapa kau ada di tempat tidurku?!"
"Mungkin, aku tidur sambil berjalan, he~." jawab Rin sambil tersenyum.
"Haaaa!!"
Gubbrakkk. Suara pintu terbuka.
Aku mendengar suara pintu kamarku yang terbuka, dan Garden masuk ke kamarku.
"Woy bocah, apa kau sudah siap! Ayo kita latihan sekarang!"
Tiba-tiba Garden langsung menarikku keluar dari kamar.
Saat aku sudah berada di luar kamar
"Tunggu dulu! Aku lupa pedangku!"
Garden melepaskanku.
"Ya sudah, cepat ambil akan aku tunggu di bawah."
"Baiklah."
Garden turun ke lantai bawah dan aku kembali ke kamar untuk mengambil pedangku yang ketinggalan di kamar
Saat aku masuk kembali ke kamar, aku melihat Rin yang kembali tertidur dengan lelap.
"Waaaahh, imutnya wajah tidurnya. Aku tak ingin kesempatan seperti ini terlewat begitu saja, tapi. Aku harus segera latihan sekarang. Selamat tinggal kesempatan emasku." gumamku.
Aku mengambil pedangku yang aku taruh di bawah kasur dan pergi meninggalkan kamar. Tapi, sebelum itu, aku menutupi tubuh Rin dengan selimut yang ada di kamar, dan baru aku pergi.
Aku turun ke lantai bawah dan aku melihat Garden sedang berada di depan pintu masuk penginapan. Akupun menghampirinya.
"Aku sudah selesai Garden."
"Baiklah, ayo kita mulai latihan pagi ini."
"Baik."
Garden berjalan ke belakang penginapan dan aku mengikutinya.
Saat aku berada di belakang penginapan aku sedikit terkejut. Aku melihat tempat yang cukup luas ada di belakang penginapan ini.
"Baiklah, kita mulai latihan disini. Ambil pedangmu bocah."
"Baik."
__ADS_1
Aku membuka dan mengeluarkan pedangku dari saya. Saat aku membukanya, aku sedikit membandingkan berat pedang dan saya, ternyata berat pedangku lebih berat daripada saya'nya.
[Note: Saya adalah sarung pedang.]
"Coba angkat pedangmu dengan satu tangan."
Aku mencoba apa yang dikatakan Garden. Tapi, meskipun beban pedangku sedikit lebih ringan dari sebelumnya, aku masih tidak sanggup mengangkatnya dengan satu tanganku.
"Hmmmm. Baiklah, coba gunakan dengan kedua tanganmu."
Aku mencoba mengangkatnya dengan kedua tanganku. Dengan sedikit kesulitan akhirnya aku bisa mengangkat pedangku.
"Baiklah aku akan mulai."
Tiba-tiba Garden mengambil pedangnya yang ada di punggungnya dan menyerangku.
"Ehhhhh!!! Tunggguuuu dul-"
Ctanggg. Suara dua pedang yang beradu.
Pedangku melayang dan aku jatuh terduduk karena serangan Garden.
"He... Sepertinya ini terlalu cepat untukmu, bocah."
"Sudah jelassss!!"
"Hahahaha. Baiklah, kita mulai latihan dasar dulu. Cepat ambil pedangmu dan lakukan apa yang sudah aku katakan tadi."
"Baiklah."
Aku mengambil pedangku yang jatuh tak jauh dari tempatku dan Garden berada.
Aku kembali mengangkat pedangku dengan kedua tanganku.
"Baiklah. Sekarang coba kau ayunkan pedangmu agar kau terbiasa dengan berat pedangmu."
"Baik."
Aku mengayunkan pedangku dari atas kepala ke arah depan badanku dan terus mengulanginya.
10 menit kemudian, mungkin.
Aku terkapar di tanah karena kelelahan, setelah mengulang-ulangi gerakan itu terus menerus. Aku melihat sekeliling dan aku tak menemukan Garden. Jadi, aku putuskan untuk istirahat sebentar.
Tak lama kemudian.
"Woy bocah. Apa kau sudah selesai latihannya?"
Garden datang sambil membawa air dan juga dua buah roti.
"Ini ambil."
Garden memberikan air dan juga roti yang ia bawa padaku.
"Makasih."
Akupun langsung memakan roti yang di berikan padaku.
"Bagaimana latihanmu bocah?"
"Lumayan."
"Ada yang ingin ku beritahu padamu."
"Apwa?" jawabku sambil mengunyah roti.
"Aku hanya bisa melatihmu untuk 3 hari ke depan."
"Kenapa?"
"3 hari lagi semua petualang tingkat tinggi akan barkumpul untuk menjalankan misi yang cukup sulit. Jadi, manfaatkanlah 3 hari kedepan untuk latihan bersamaku dan setelah itu aku akan pergi untuk sementara waktu. Dan sebelum misi itu selesai, aku mungkin tak akan kembali."
"Begitu, ya. Oh ya, kalau boleh tau, berapa peringkatmu saat ini?"
"Peringkatku itu S."
"Peringkat S? Memangnya ada berapa peringkat untuk seorang petualang?"
"Ada 7 peringkat. Mulai dari petualang pemula atau peringkat D. Petualang senior atau peringkat C. Petualang master atau peringkat B. Petualang elite atau peringkat A. Petualang tingkat atas atau peringkat S. Petualang tingkat kesatria atau peringkat SS. Dan peringkat terakhir adalah petualang tingkat legenda atau peringkat SSS. Dan konon hanya ada satu pasangan yang berhasil sampai di peringkat tertinggi atau petualang tingkat legenda. Dan untuk sampai di peringkat legenda, harus menyelesaikan sebuah misi tersulit yang pernah ada."
"Apa misi tersulit itu?"
"Entahlah, aku belum sampai ke tingkat setinggi itu, dan aku juga tak tau banyak tentang misi itu. Dan satu hal yang pasti tentang misi itu."
"Apa?" Aku mulai penasaran
"Misi itu sangat sulit dan mungkin butuh lebih dari 100 pasangan petualang tingkat S untuk bisa menyelesaikan misi itu."
"Hmmm."
"Oh ya, dan juga, tak ada yang tau nama dari pasangan yang mencapai peringkat SSS itu, jadi mereka di beri sebuah julukan 'Ksatria Petarung' karena kehebatan pasangan itu dalam bertarung dan juga, hampir mustahil untuk mengalahkan pasangan itu karena kehebatan pasangan itu."
"Apa, pasangan itu benar-benar kuat?"
"Sudah jelas, bahkan ada yang membandingkan kekuatan pasangan itu, hampir sama dengan kekuatan seratus atau bahkan lebih para petualang kelas SS."
"Berarti, mereka adalah yang terkuat di dunia ini?" pikirku
Dan tanpa sadar roti yang di berikan Garden padaku sudah habis.
"Hey bocah, lebih baik kau lanjutkan saja latihanmu."
"Baik."
Aku minum dan kembali melanjutkan latihan yang aku lakukan tadi.
"Oh ya, Garden."
"Ada apa bocah?"
"Apa kau bisa mengajariku membaca. Waktu aku mendaftar menjadi petualang, aku di beri sebuah kertas oleh Alice dan aku tak bisa membaca tulisan yang ada di kertas itu. Dan lagipula, mungkin kalau aku tak bisa membaca tulisan yang ada di dunia ini, aku akan kesulitan untuk mencari quest yang akan aku kerjakan nanti."
"Oh, untuk masalah itu, Leona sepertinya sudah memberi sihir untuk pasanganmu agar bisa memahami tulisan yang ada di dunia ini."
"Kapan Leona melakukannya?"
"Mungkin saat kita pergi duluan ke kota dan meninggalkan mereka berdua. Tenang saja bocah, Leona itu biasanya selalu selangkah lebih cepat. Oleh karena itu, kau tak usah khawatir. Suruh saja pasanganmu membacakan quest yang ingin kau kerjakan."
"Baiklah kalau begitu."
__ADS_1
Akupun melanjutkan latihan hari pertamaku.
Bersambung