
Hari - Tanggal -
Pagi hari, jam - -.- -
Hari kedua latihan sebelum Garden pergi untuk menjalankan misinya.
Aku masih di latih oleh Garden seperti kemarin, mengangkat pedangku dengan kedua tanganku. Dan untuk hari kedua ini, rasanya aku sudah mulai terbiasa mengangkat pedang memakai kedua tanganku, karena, kemarin aku megangkat pedangku dengan kedua tanganku dari pagi hingga sore hari. Oleh karena itu aku sudah mulai terbiasa dengan berat pedangku sekarang.
"Baiklah bocah, sepertinya kau sudah terbiasa dengan pedangmu itu. Sekarang ayo kita coba latihan bertarung."
"Baiklah."
Aku mulai menyiapkan diriku.
Garden mengambil pedangnya dan dengan cepat menyerangku dari bagian kanan secara horizontal.
Aku melompat ke arah belakang, dan sebuah sembusan angin yang cukup kecang terjadi karena tebasan Garden yang cukup kuat.
"Woy Garden!! Apa kau berniat membunuhku?!!"
"Membunuh?"
"Untung saja aku menghindar, jika tidak pasti tubuhku sudah terbelah dua sekarang."
"Hahaha. Kau terlalu berlebihan bocah, padahal itu hanya sedikit dari kekuatan yang aku gunakan."
"Sedikit saja sudah seperti itu, apalagi kekuatan penuhnya. Gak kebayang kekuatan orang ini." pikirku.
"Ayo sekarang kau tak usah pakai kekuatan, agar kekuatantanku bisa seimbang denganmu."
"Hmmm. Sepertinya boleh juga. Baiklah kalau begitu, aku tak akan menggunakan sedikitpun kekuatanku."
"Baiklah, aku duluan menyerang."
"Silahkan saja."
Aku mulai berlari ke arah Garden dan kemudian melompat menyerang dari bagian atas kepala, dan dengan mudah Garden menghindarinya dengan memiringkan badannya ke arah kanan.
Kemudian aku melancarkan serangan keduaku saat aku kembali menyentuh tanah dan menyerang secara horizontal dari bagian kiri ke ke kanan dengan cukup cepat.
Ctangg. Suara dua pedang yang beradu.
Garden menahan serangan keduaku dengan pedangnya.
Buggg. Suara pukulan.
Garden menendangku tepat di bagian perut dan alhasil aku terpental beberapa meter.
Saat terpental pedang yang aku pengang terlepas dari tanganku, lupakan hal itu. Aku memengang perutku yang kesakitan, dan mungkin ini akan membuatku sulit untuk BAB.
"Ahhhgggg."
"Sudah cukup dulu latihan bersamaku kali ini. Kau latihan saja sendiri. Aku ada urusan sebentar."
Garden pun pergi meninggakanku yang sedang kesakitan.
Beberapa menit kemudian, perutku yang sakit tiba-tiba saja rasa sakit itu hilang. "Ini pasti berkat Leona yang sudah menyembuhkan Rin. Terima kasih Leona, sudah menyembuhkannya." pikirku.
Kemudian aku melanjutkan latihan dan juga melakukan beberapa percobaan.
Sore hari, jam - -.- -
"Yeeeaaaahhhh. Akhirnya berhasil."
Aku begitu gembira karena usaha dalam melakukan percobaanku telah berhasil.
Dari pagi hingga sore hari ini, yang aku lakukan adalah latihan dan terus saja latihan. Dan karena latihan itu pula aku menjadi sedikit lebih paham cara untuk mendapatkan sebuah skill milikku sendiri.
Keesokan harinya.
Hari - Tanggal -
Pagi hari, jam - -.- -
Hari terakhir Garden melatihku dan setelah itu, Garden harus pergi untuk beberapa waktu karena harus menjalankan misinya dengan kelompok yang cukup besar.
Dan masih dalam latihan yang sama. Aku masih mengayunkan pedang.
Setelah beberapa saat aku berhenti dan berusaha mengajak mengajak Garden untuk latihan bertarung bersama. Tapi itu semua hanya alasan, karena sebenarnya aku ingin mencoba sebuah trik baru yang aku buat kemarin.
"Garden, bagaimana kalau kita latihan bertarung. Lagipula sekarang adalah hari terakhir kau melatihku."
"Baik-baik. Kalau itu maumu."
Garden yang sedang duduk kemudian berdiri lalu mengambil pedangnya dan kemudian bersiap.
Begitu pula aku, aku juga bersiap-siap untuk menggunakan trik yang aku coba kemarin untuk aku pakai sekarang, aku memengang pedangku dengan kedua tanganku layaknya seorang samurai.
"Baiklah, kau bisa mulai kapanpun." (Garden)
"Baiklah, aku mulai."
Aku tidak berlari, melainkan maju secara perlahan dan saat aku rasa sudah cukup, aku mulai melancarkan serangan.
Hyaaaa!!!
Aku memulai serangan pertamaku secara vertikal, dan masih sama, Garden menghindari seranganku dengan menyampingkan tubuhnya ke arah kanan.
Setelah itu aku bersiap menyerangnya secara horizontal dari arah kiri ke kana dengan cepat.
"Serangan seperti itu tak akan berguna untukku, bocah."
Kemudian aku melompat kebelakang untuk memulai trik milikku.
Aku mulai berlari ke arah Garden dan melancarkan serangan bertubi-tubi.
Garden dengan mudahnya menangkis semua seranganku. Dan Garden membalas dengan mengayunkan pedangnya secara vertikal.
Dan aku bisa menghindar dari serangan miliknya dan trikku mulai digunakan.
"Teknik tiga tebasan"
Setelah itu, aku mulai menarik nafas panjang, dan mulai menyerang Garden tanpa membuang nafas.
__ADS_1
Serangan pertamaku tertuju pada bahu kanan Garden secara lurus. Tapi Garden dengan mudah menghindarinya.
Setelah itu, aku memulai serangan kedua, aku menyerang bagian perut secara horizontal dari kiri ke kanan dengan cepat dan Garden menepis seranganku yang kedua dengan pedangnya.
Serangan ketiga, aku menyerang dari bagian atas kepala dengan kuat. Tapi Garden masih bisa menahannya dengan mengangkat pedangnya memakai kedua tangannya.
"Hebat juga kau bocah. Sepertinya latihan ini membuahkan hasil." Garden tersenyum.
Ha, ha, ha, ha.
Akupun membuang nafasku, dan nafasku mulai terengah-engah.
Aku jatuh terduduk karena terlalu lelah. Sedangkan Garden terlihat baik-baik saja.
"Lumayan juga seranganmu barusan bocah. Dan bagaimana kau memiliki sebuah skill dalam waktu yang sangat singkat? Apa kau punya keterampilan?"
"Apa maksudmu?"
"Ya, apa kau pernah mendapatkan sebuah latihan yang membuatmu menjadi sedikit lebih kuat sebelum di panggil ke dunia ini?"
Aku berfikir.
"Sepertinya hasil dari latihan bela diriku di bumi bisa aku gunakan di dunia ini." pikirku
Aku hanya tersenyum karena tak ingin menjawab pertanyaan Garden.
Garden pun mengabaikannya dan kemudian duduk. Dan aku memasukkan pedangku ke dalam saya. Setelah itu aku menanyakan beberapa hal pada Garden.
"Hey Garden."
"Ada Apa bocah?"
"Apa di dunia ini, anak usia 17 tahun masih belum memiliki pasangan?"
"Kenapa kau bertanya hal itu?"
"Waktu itu itu, aku melihat ekspresi Felix sangat terkejut setelah mendengar bahwa aku sudah punya pasangan."
Garden tertawa. "Hahahaha. Iya, hal itu memang benar. Biasanya anak usia 17 tahun di dunia ini masih belum memiliki pasangan, dan seharusnya anak laki-laki dengan usia minimal 19 tahun atau lebih baru bisa mempunyai pasangan. Tapi, itu tak ada hubungannya denganmu karena kau dari dunia lain."
"Jika laki-laki berumur 19 tahun baru bisa mempunyai pasangan, bagaimana dengan usia anak perempuan?"
"Untuk anak perempuan, sepertinya 17 tahun."
"Hmmmm. Begitu. Tunggu dulu!!! Berarti, umur Leona itu 17 tahun?!"
"Hahahaha.... Tentu saja. Apa kau kira Leona itu masih anak-anak?"
"Iya.
"Ingat bocah. Jangat tertipu dengan penampilan. Di dunia ini banyak hal yang mengejutkan."
"Hal mengejutkan? Apa maksudmu?"
"Hey Garden, waktunya berangkat!"
Tiba-tiba Leona datang ke tempat latihan kami.
"Baiklah!!"
"Oh soal itu. Karena ada beberapa masalah, jadi misi kami di percepat. Ayo Garden, sebaiknya kita harus bersiap-siap."
"Oh ya, ada satu hal lagi yang harus aku bilang padamu, bocah."
"Apa?"
"Sebaiknya kau mulai mencari quest, karena tak akan ada yang membantumu saat aku pergi."
"Baik."
"Oh ya Hiroaki. Rin sudah menunggumu di depan penginapan. Sebaiknya kau bergegas!"
"Baik."
Setelah itu, Garden dan Leona pergi. Sedangkan aku pergi ke penginapan untuk menemui Rin.
Setelah itu, aku sampai di depan penginapan dan melihat Rin sedang berdiri di depan pintu penginapan.
"Rin, ayo kita ke Guild."
"Baiklah."
Aku dan Rin pergi ke Guild.
Setelah beberapa menit berjalan, akhirnya kami sampai. Dan di dalam Guild suasananya sangat ramai, karena berbagai ras tengah berkumpul di tempat ini untuk menjalankan sebuah misi.
Aku dan Rin pergi melihat misi yang ada di papan yang berada di dekat meja resepsionis. Di papan itu banyak sekali kertas misi yang ditempelkan di papan, dan karena saking banyaknya aku sampai bingung.
"Rin, bisa kau carikan misi untuk kita kerjakan?"
Karena aku tak bisa membaca tulisan yang ada di dunia ini, jadi aku serahkan urusan ini pada Rin.
"Huh? Baiklah."
Rin melihat semua kertas yang di tempelkan itu.
"Bagaimana dengan ini?"
Kemudian ia menunjuk sebuah kertas dengan gambar rusa hutan besar dengan sebuah tanduk di kepalanya.
"Apa isi misi itu?"
"Hmmmm. Membunuh 10 rusa bertanduk. dan tempatnya ada di bagian utara dari kerajaan ini, misi ini juga berperingkat A, dan juga bayarannya cukup besar 5 koin tembaga. Dan sebagai buktinya kita harus membawa 10 tanduk rusa itu."
Meskipun bayaranya tinggi, jika 2 v.s 10 pasti bisa bahaya, atau mungkin 1 v.s 10 karena Rin tidak mungkin bisa ikut bertarung.
"Emmm. Rin, bisa pillih yang lain. Aku rasa misi itu lumayan sulit."
"Baik."
Rin kembali mencari lagi.
Setelah cukup lama mencari, akhirya ia menemukan sesuatu.
__ADS_1
"Bagaimana dengan ini, Membunuh 3 rusa hutan, tempatnya ada di bagian selatan dari kerajaan ini, cuma ini satu-satunya misi tingkat rendah yang bisa aku temukan. Bayarannya juga cukup sedikit, hanya 8 koin perak untuk setiap ekor rusa hutan. Dan sebagai buktinya, kita harus membawa 3 bagian ekor dari masing-masing rusa hutan itu."
"Baik, kita ambil ini saja."
"Baiklah, kalau itu maumu."
Meskipun bayarannya lumayan, tapi menurutku ini adalah misi yang cukup aman untuk pemula sepertiku.
Kemudian Rin mengambil kertas misi itu dan menyerahkannya pada resepsionis yang sedang berjaga.
"Kami ingin mengambil misi ini." (Rin)
"Baiklah." (Resepsionis)
Setelah itu kami pergi ke tempat rusa hutan itu berada, tepatnya di bagian selatan dari kerajaan ini.
-------- HUTAN LUAR DI BAGIAN SELATAN KERAJAAN MANUSIA --------
siang hari, Jam - -.- -
"Ahhhhhh!!! Akhirnya sampai juga!"
Setelah hampir 3 jam barjalan, akhirnya aku dan Rin sampai di tujuan.
Sebuah hutan lebat yang berada di bagian selatan kerajaan adalah tempat para rusa hutan berkumpul dan juga ada beberapa monster lainnya.
"Sebaiknya kita harus bergegas, sebelum hari gelap." (Rin)
"Baik."
Kami pun masuk ke dalam hutan itu. Di dalam hutan ada sebuah jalan kecil, mungkin itu bertujuan agar para perualang tidak tersesat.
Setelah beberapa lama kami masuk semakin dalam ke hutan ini, aku melihat sebuah gua yang cukup besar berada di dalam hutan ini.
Grwaaaaaaa. Anggap suara hewan
Aku mendengar suara hewan yang cukup dekat. Kami memutuskan untuk menghampirinya siapa tau itu adalah rusa hutan target kami.
Saat kami sudah berada cukup dekat, kami melihat 3 rusa hutan sedang saling bertarung, dan itu sangat menguntungkan untukku. Karena aku tak perlu berhadapan langsung dengan 3 hewan itu sekaligus.
Rusa hutan itu saling menyerang satu sama lain, dan aku hanya melihatnya dari kejauhan. Meskipun begitu, pertarungan para rusa itu cukup sengit juga.
Setelah hampir setengah jam menunggu akhirnya hanya tinggal 1 ekor rusa hutan yang tersisa dan juga kelelahan karena pertarungan itu. Dan tanpa basa basi, aku langsung maju.
"Hyaaaaa!!!" teriakku sambil berlari mendekat ke arah rusa hutan itu.
Aku mengambil pedangku dan dengan cepat menebas rusa hutan itu tepat di bagian perutnya.
Shaaasshh.
Darah rusa itu mulai keluar di daerah bekas tebasanku. Setelah itu, semua rusa yang tadi sedang bertarung, sekarang sudah tumbang.
"Hah... Ternyata ini cukup mudah." Gumamku
Setelah itu, aku memotong bagian ekor dari masing-masing rusa itu untuk menukarkan dengan koin.
Beberapa saat kemudian, aku sudah selesai memotong semua ekor ruaa itu, Tapi, aku melupakan hal yang cukup penting, yaitu.... "Jika aku membawanya seperti ini maka aku pasti akan menjadi pusat perhatian orang-orang di kota." pikirku.
"Pakai saja ini."
Tepat setelah itu, Rin memberikanku sebuah keranjang yang cukup kecil.
"Wahh, terima kasih Rin."
Aku mengambil keranjang kecil itu dan meletakkan bagian ekor rusa itu kedalam jeranjang.
Dan setelah itu, entah kenapa aku merasakan ada bahaya yang akan mendekat dan dengan cepat, aku menarik tangan Rin dan berlari meninggalkan tempat mayat **** hutan itu.
Aku berlari dan memilih untuk berlindung di dalam gua yang aku lihat tadi.
"Ada apa Hiroaki?"
"Aku merasa ada bahaya yang akan datang"
"Bahaya? Apa maksu-"
Grwaaaaaaaa!!!! Suara monster hutan.
Dari dalam gua aku mendengar suara raungan hewan yang cukup keras, dan ternyata dugaanku benar.
Aku mencoba memberanikan diriku untuk melihat keluar, untuk mencari tau sebenarnya hewan apa itu.
Saat aku mencoba berdiri, tiba-tiba Rin memengang bajuku.
"Hiroaki, ja-jangan pergi."
Ini adalah kedua kalinya aku melihat wajah Rin yang sedang ketakutan.
"Tidak apa-apa. Aku cuma ingin melihat hewan apa yang sedang ada di luar itu." jawabku dengan tenang.
Aku melepaskan tangannya dari bajuku, dan dengan perlahan aku berlajan keluar dari gua untuk melihat hewan apa yang tadi meraung cukup keras itu.
Tak lama kemudian, aku pun sampai di mulut gua dan sedikit melihat keluar.
Setelah melihat, dengan cepat aku memalingkan pandanganku ke dalam gua.
"Cih. Sialll!!! Kenapa harus hewan itu lagi!!"
Aku kembali memasuki gua.
Saat aku melihat keluar gua, aku melihat hewan yang pertama kali aku temui saat aku berada di dunia ini bersama Rin. Hewan iblis, sedang berada di dekat gua yang kami tempati dan bukan hanya satu melainkan ada 3 hewan iblis yang sedang memakan bangkai rusa hutan yang terbunuh tadi.
Aku pun sampai di tempat Rin.
"Sebaiknya kita harus masuk lebih dalam ke gua ini."
"Kenapa?"
"Sudah ikut saja. Jika kita tetap berada di sini bisa bahaya."
"Baiklah."
Kamipun masuk lebih dalam ke dalam gua itu. dan di dalam sangat gelap.
__ADS_1
Aku melihat sebuah cahaya berwarna biru terang cukup jauh di depan kami, dan karena aku penasaran. Jadi, aku putuskan untuk melihat cahaya apa sebenarnya itu.
Bersambung.