Watashi No Hanayome

Watashi No Hanayome
61


__ADS_3

3 minggu sudah berlalu sejak malam itu.


Siang hari, 01,22


“Haa, kemampuan kalian tidak bertambah sedikitpun. Aku sangat kecewa pada kalian.” Aku baru selesai menghadapi guardian dari kubu Shirayuki, dan entah kenapa mereka sama sekali tidak menunjukkan perkembangan sedikitpun. Mereka sudah bagus dalam kerja sama, dan juga dalam hal kekuatan, tapi mereka terlihat seperti meragukan satu-sama lain dan itu yang membuat kemampuan mereka terhambat. “Haa, sudahlah.” Aku pergi meninggalkan mereka.


Sore hari, 16,43


Saat ini aku tengah melatih Shirayuki ditempat biasa.


Swutt


Ia melanjcarkan serangan sembari menghindari seranganku. Bisa dibilang kalau kemampuan Shirayuki saat ini sudah jauh berkembang dibandingkan mereka.


Setelah latihan.


“Kau sudah cukup berkembang.”


“Terimakasih, itu karena kau yang melatihku.”


Suasana hening selama beberapa menit karena tidak ada bahan pembicaraan.


“Akarui-san..”


“Ada apa?”


“Kapan kau akan pergi?”


“Hmm, setidaknya masih tersisa waktu sekitar 1 bulan lagi.”


“Begitu...”


“Oh, ya. Tentang hadiah perpisahan, apa yang kau inginkan?”


“Tidak tau, aku tidak bisa memilih.”


“Begitu. Kalau begitu, aku harap kau bisa memilihnya saat sebelum aku pergi.”


“Kenapa?”


“Huh?”


“Kenapa kau harus pergi.”


“Eh?”


“Baiklah, aku sudah mendapatkan apa yang aku inginkan.”


“Apa?”


“Ajak aku bersamamu?”


“Eh? Jangan ngawur, lagipula kenapa kau ingin ikut denganku?”


“Aku tidak mau yang lain, aku mohon saat kau pergi ajak aku bersamamu.”


“Aku tidak bisa mengabulkan permintaan itu. Kau bisa meminta hal lain selain hal itu.”


“Aku mohon...”


“Tidak, sudahlah. Ayo kembali.” Aku tak bisa untuk mengabulkan keinginannya itu, yang pasti hal itu tidak mungkin.


Malam hari, 20,22


Malam ini adalah malam yang tenang seperti biasa. “Haa, masih belum ada, ya.” Tidak ada apartemen yang kosong selama beberapa minggu ini. Jika aku tidak menemukan apartemen, kemungkinan selama sebulan ini aku akan tetap tinggal disini sampai aku kembali keduniaku.


“Akarui-san, ini tehnya.”


“Maaf selalu merepotkanmu.” Meskipun aku selalu bilang untuk tidak membawa apapun padaku, ia masih terus saja membawakan segelas teh untukku. Padahal indera perasaku masih belum pulih, dan aku tidak bisa merasakan apapun.


“Akarui-san, apa aku tidak bisa ikut denganmu?”

__ADS_1


“Jawabanku masih sama, aku tidak bisa melakukan itu.”


“Memangnya, kemana kau akan pergi. Apa tempatnya sangat jauh, apa tempatnya sangat berbahaya?”


“Haa... Sebelumnya, aku ingin menanyakan sesuatu padamu. Kenapa kau ngotot ingin aku tidak pergi, dan kenapa kau juga ingin pergi bersamaku?” Hal itu yang aku cukup penasaran, padahal pertemuan kami baru beberapa bulan. Tapi, kenapa dia bisa bicara seperti itu.


“Karena kau, mirip dengan kakakku.”


“Kakakmu?” Jika diingat, aku sama sekali tidak mirip dengan Ken, bahkan aku dan dia sangat berbeda.


“Kau baik, perhatian, ramah, dan juga kau begitu peduli pada orang lain. Sifatmu itu sangat mirip dengan kakakku.”


Aku tak tau ia menilaiku darimana, tapi yang pasti aku sama sekali tidak pernah menunjukkan sikap itu pada siapapun didunia ini. “Sepertinya kau salah orang.”


“Tidak, mana mungkin aku salah orang.”


“Haa, sudalah.” Berdebat dengan seorang gadis hanya akan membuang-buang waktu.


“Akarui-san, aku menginginkan sesuatu untuk hadiah kepergianmu.”


“Huh? Apa itu?”


“Maukah kau men... Awww.” Aku menjitak dahinya. “Aku belum selesai.”


“Pilihlah hadiah lain, aku tidak akan mengabulkannya jika keinginanmu seperti itu.”


“Haa, baik..”


Aku kembali menikmati malam yang tenang ini, sembali menikmati teh yang tidak berasa ini. 'Dewa Sha, kapan bencananya akan dimulai?' Ini sudah begitu lama, tapi bencana yang disebutkan oleh dewa Sha masih belum muncul juga.


'Bersabarlah.'


'Berikan aku waktu tepatnya.'


'Rahasia, saat waktunya tiba kau akan mengetahuinya. Sudahlah.' Dewa Sha menutup telepatinya.


“Ha.."


“Tidak ada apa-apa.”


Beberapa menit kemudian


“Akarui-san, ada sesuatu yang aku inginkan.”


“Hmm? Apa itu, jika keinginan yang mustahil aku tidak bisa mengabulkannya.”


“Boleh aku memanggilmu dengan namamu.”


“Hm? Apa itu permintaanmu untuk hadiah perpisahaan?”


“Tidak, ini hanya permintaan biasaku. Untuk permintaan itu, aku masih belum mendapatkan apa yang aku inginkan.”


“Silahkan saja, panggil saja aku sesukamu.”


“Benarkah, kalau begitu. Kau boleh memanggilku Amane.”


“Terserah.” Entah kenapa, dengan hal se sepele itu ia terlihat cukup senang.


“Hiroaki, Hiroaki, Hiroaki...”


“Haa.” Mendengar namaku disebutkan secara terus menerus, aku hanya bisa menghela nafas.


Esoknya.


Pagi hari, 09,22


Tidak ada yang aneh disekolah, Sylvi Angelia dan juga Koujo Kotaro masuk seperti biasa dan juga belajar seperti biasa. “Haa, hari ini sangat tenang.” Tak ada alarm peringatan yang berbunyi, dan meskipun berbunyi para monster itu memilih untuk menghindariku.


“Bencana, ya.” Entah kapan bencana yang dibicarakan oleh dewa Sha akan dimulai, dan karena aku tidak tau kapan tepatnya aku hanya bisa menyiapkan Amane untuk bisa menghadapi bencana itu.


Sore hari, 17.39

__ADS_1


Latihan rutin sudah selesai. “Hiroaki, ini minuman untukmu.”


“Huh? Ada apa, tidak biasanya. Apa kau salah makan?” Entah kenapa sikapnya begitu berbeda hari ini.


“Tidak sopan, aku sama seperti biasa. Hanya saja hari ini aku sangat senang.”


“Huh? Ada apa? Apa kau sudah tau apa keinginanmu?”


“Tidak bukan itu, coba tebak lagi.”


Main tebak-tebakan, aku tidak ingin ini berlanjut. “Sudahlah, ayo kembali.”


“Ehh, jangan begitu, ayo tebak.”


“Aku tidak punya waktu untuk menebaknya.”


“Hee, ayo tebak.”


Beberapa menit kemudian.


Ditengah perjalanan kembali.


“Ayo tebak...”


“Haa, sudah hentikan.” Mulai tadi ia terus memaksaku untuk menebak, dan mulai tadi juga aku sudah menolaknya.


“Yo, kita bertemu lagi.”


“S-Siapa mereka?”


“Yo, lama tak jumpa. Apa kalian datang untuk bermain denganku lagi.”


“Haha, kali ini kami pasti akan mengalahkanmu.”


“Mundur kalian, jangan melangkah sedikitpun atau akan aku tembak.” Amane menggunakan Guardiannya, dan mengarahkannya pada mereka.


“Cepatlah pergi dari sini, mereka bukan lawan yang bisa kau tangani.”


“Tapi, bagaimana denganmu?”


“Aku akan baik-baik saja. Sebaiknya kau segera pergi.”


“Tidak, aku akan bersama denganmu.”


“Haa.” Melawan mereka memang cukup mudah, tapi jika sembari melindungi Amane itu akan cukup sulit.


“Hoo.. Onii-san, bagaimana kalau kau juga ajak gadis itu bermain. Mungkin saja permainannya akan semakin menarik.”


“Hiroaki...”


“Haa.” Terpaksa aku harus menggunakan jurus jitu untuk mengatasi hal seperti ini. “Amane, cepatlah kembali. Kau bisa terluka jika berhadapan dengan mereka.”


“Huh?”


“Cepat.”


“Bisa ulangi.”


“Cepat kembali?”


“Bukan itu, tapi... Namaku...”


“Amane.” Mendengar aku berkata seperti itu, ia terlihat cukup senang.


“Baiklah, aku akan kembali. Tapi, kau harus janji akan kembali dengan selamat.”


“Tenang saja. Tunggu saja kepulanganku.”


“Baik.” Amane pergi, dan sepertinya rencanaku berhasil.


“Baiklah, dimana tempat yang ingin kalian pilih?” Hari ini, 28 hari sebelum kembali. Aku kembali bertarung melawan guardian yang sudah jauh berkembang dibandingkan dengan guardian yang pernah aku lawan sebelumnya, dan ini menjadi kali ke 2 pertempuran kami. Setidaknya itulah yang terjadi...

__ADS_1


__ADS_2