
"Tapi sebelum itu, aku harus mencari penginapan dulu."
Akupun berjalan berkeliling untuk mencari penginapan, dan karena aku tak tau tentang tulisan yang ada di dunia ini, itu membuatku cukup kesulitan untuk menemukan sebuah penginapan.
--------- Hampir 1 jam mencari penginapan -------
Aku mulai putus asa dalam mencari sebuah penginapan.
Tiba-tiba seorang gadis dengan rambut berwarna biru dan matanya berwarna coklat serta memakai baju zirah yang cukup keren menurutku, dan juga ia mempunyai wajah yang cukup cantik. Datang menghampiriku. "Kau kelihatan sedang kebingungan, ada yang bisa aku bantu?"
"Eh, kebetulan sekali. Mungkin saja dia tau dimana aku bisa mendapatkan penginapan di tempat ini." pikirku
"A-aku sedang mencari penginapan."
"Ohh, penginapan, ya. Kalau itu, kau tinggal jalan lurus saja ke depan, terus di sana ada sebuah rumah yang memiliki 3 lantai, dan disitulah tempatnya."
"Ahh, terima kasih."
"Sama-sama. (tersenyum setelah itu pergi)"
Gadis itu pergi dan aku mengikuti apa yang dikatakan oleh gadis itu.
------ Beberapa menit berjalan ------
Tepat seperti yang dikatakan gadis itu, di area ini terdapat rumah dengan 3 lantai dan menurutku penginapan ini cukup mewah.
Aku pun masuk ke dalam penginapan itu. "Selamat datang, tuan. Ada yang bisa saya bantu?"
Seorang pelayan dengan pakaian maid menyambutku. "Aku ingin memesan sebuah kamar untuk menginap semalam disini."
"Baik, tuan. Anda bisa mengikuti saya."
"Baik." Akupun mengikutinya.
Palayan ini membawaku ke tempat yang berada di paling ujung di lantai 1 penginapan ini. "Ini kamar anda, tuan. (menunjuk ke arah salah satu kamar yang berada di tempat paling ujung di penginapan ini)"
"Terima kasih. Berapa biaya menginapnya."
"Untuk itu, karena besok pangeran pertama akan menikah, jadi untuk menghormati hal itu kami memberikan kamar secara gratis, tuan."
"Sepertinya tidak salah lagi, ini adalah kerajaan Slavic." pikirku
"Ahh, kalau begitu terima kasih banyak."
"Sama-sama, tuan. Saya pergi dulu."
"Baik."
Pelayan itupun pergi.
Akupun masuk ke dalam kamar.
Malam hari, jam - -.- -
Aku sedang tidur-tiduran di kasur empuk yang ada di kamar penginapan ini. Jumlah kasurnya ada 2 dan juga penginapan ini hampir sama seperti yang aku tempati saat bersama Garden. Tapi, tempat ini kelihatan lebih mewah.
"Sebaiknya aku harus memikirkan rencanaku untuk besok."
"Tes, tes. Bocah dunia lain?" sebuah suara tiba-tiba muncul di dalam kepalaku dan itu adalah suara dewa Sha.
"Dewa Sha?!"
"Apa kau sedang memikirkan sebuah rencana?"
"Bagaimana kau bisa tau?"
"Aku ini dewa, tak ada yang tidak aku tau di dunia ini."
"Ha~.. (menghela nafas) Iya, Aku memang sedang mengatur sebuah rencana untuk menolong Rin."
"Ohh, baiklah kalau begitu, semoga berhasil dengan rencanamu. Dan jangan lupa, jika kau butuh bantuan, sebut saja namaku di dalam pikiranmu."
"Baik."
Setelah itu, telepati dengan dewa Sha selesai, aku tak tau kenapa ia menggunakan telepati kepadaku. Tapi, sepertinya ia khawatir padaku.
--------- Setelah berjam-jam memikirkan rencana ---------
"AAAGGGHHHH!!!... Siaaallll!!! Aku tak mendapatkan ide sama sekali."
Selama berjam-jam berfikir aku tak menenukan satu rencanapun untuk menyelamatkan Rin, dan hanya terpikir 1 rencana yang cukup extrim menurutku. Tapi, karena aku sudah tak punya ide untuk rencana lain, sepertinya aku harus menggunakan rencana itu. 'Membobol istana dan membawa Rin pergi' itulah rencananya.
"Haa, jika aku gagal pasti, nanti aku akan dianggap ******* dan mungkin bila aku tertangkap, aku mungkin akan di penjara atau bahkan lebih buruk lagi. Tapi, aku harus tetap menyelamatkan Rin apapun yang terjadi."
Aku membulatkan tekatku, dan besok adalah hari dimana rencanaku akan dimulai.
Akupun segera tidur.
........
.....
Pagi hari, jam - -.- -
Sebelum matahari terbit aku bangun, dan segera bersiap-siap. Aku mengambil senjataku yang seperti biasa selalu aku taruh di bawah kasur. "Semua pedangku sudah siap. Sekarang saatnya."
Sebelm berangkat aku mencuci muka dulu. Untuk saat ini aku tak merasakan kelaparan, aku tak tau penyebabnya. Tapi yang pasti, rencana pembobolan istana ini harus berhasil.
Aku segera berangkat.
------- Diluar penginapan -------
Ternyata di luar dugaan, aku kira di luar akan sepi ternyata malah ramai seperti ini, padahal matahari belum terbit dan juga hari masih gelap. "Apa ini karena acara pernikahan pangeran itu?" pikirku
Orang-orang sudah bersiap-siap sejak matahari belum terbit untuk menyiapkan pesta yang sangat mewah untuk merayakan pernikahan pangeran Slavic. "Sebaiknya aku harus segera bergegas."
Aku pun pergi, dan tujuanku adalah istana yang berada tepat di tengah-tengah kota Slavic ini.
--------- Setelah beberapaa menit berjalan ---------
Aku sampai di depan gerbang istana Slavic. Di depan gerbang itu, aku melihat banyak sekali prajurit yang menjaga gerbang, dan menurutku akan cukup sulit untuk melakukan rencana pembobolan istana, jika prajurit yang menjaga sebanyak ini.
Ting ting ting... (suara lonceng)
Aku mendengar suara lonceng, dan semua orang yang ada di luar istana berbondong-bondong memasuki istana. "Sepertinya ini kesempatanku." Aku ikut masuk ke dalam istana bersama ratusan atau bahkan ribuan orang yang ada di kerajaan Slavic ini.
-------- Saat sampai di dalam istana kerajaan Slavic ------
Saat aku masuk ke dalam istana, aku cukup terkejut karena istana ini mampu menampung seluruh orang yang ada di kerajaan Slavic ini dan juga terdapat 5 lantai yang ada di istana ini, dan saat ini aku sedang berada di lantai dasar. "Sebaiknya aku harus mulai bergerak."
Aku berjalan dengan santai agar tidak dicurigai oleh para prajurit yang sedang menjaga di istana.
__ADS_1
"MOHON TENANG PARA TAMU UNDANGAN SEKALIAN."
Saat aku berjalan, seseorang dengan pakaian yang sangat mewah mulai berteriak dari lantai 2 yang ada di istana ini untuk menenangkan para tamu yang sedang berada di dalam istana.
"Apa dia raja kerajaan ini?"
Aku cukup yakin kalau dia itu adalah seorang raja, karena ia memakai sebuah mahkota dan juga baju yang sangat mewah.
"Wahai para rakyaku yang aku cintai, hari ini aku raja kerajaan Slavic, Albert Ariobel Slavic akan mengadakan pesta pernikahan anakku pangeran pertama, Magnus Ariobel Slavic dengan calon pengantinnya Rin."
Setelah mengatakan hal itu, aku melihat sang pangeran yang berada di lantai dua dan ia juga memakai pakaian yang mewah, dan menujukkan dirinya di hadapan para tamu undang. Dan tak lama setelah pengeran it menampakkan dirinya, seorang gadis dengan pakaian pengantin yang sangat mewah ikut juga menampakkan dirinya.
"I-itu Rin." gumamku
Rin terlihat sangat cantik.
"Upacara pernikahan akan dilaksanakan sebentar lagi. Aku harap kalian bisa menunggu sebentar." (Albert)
Setelah itu, raja, pangeran dan juga Rin pergi meninggalkan tempat paraa tamu. "Sebaiknya aku harus cepat."
Aku pun mulai bergerak, aku melihat anak tangga yang menuju kelantai 2. "Sepertinya aku harus lewat sini."
"Kau mau kemana?" (prajurit)
Saat aku berniat menaiki anak tangga menuju ke lantai 2. Aku dikejutkan oleh suara prajurit yang berada tepat di belakangku. "A-aku ingin." Aku tak tau harus bilang apa, tapi yang pasti, jika aku salah menjawab aku akan dalam masalah.
"Ingin?"
"Ahh, a-aku, aku ingin bertemu dengan pangeran, a-aku adalah penggemarnya."
"Cih, aku sudah tidak punya alasan yang lebih baik lagi dari ini." pikirku
"Oh, baiklah kalau begitu."
"Ehh, dia percaya?!!" pikirku.
"Te-terima kasih."
"Ya, sama-sama."
Tanpa menaruh rasa curiga sedikitpun padaku, prajurit itu pergi. Dan untuk menyingkat waktu, aku segera naik ke lantai 2.
Di lantai 2 ini, banyak sekali ruangan dan aku tak punya waktu untuk memeriksanya satu-persatu.
Seorang pelayan keluar dari salah satu ruangan, dan aku dengan cepat bersenbunyi untuk menghindari perhatiannya.
Saat aku bersembunyi aku mendengar palaayan itu sedang berbicara dengan seseorang yang sedang ada di ruangan yang baru saja ia ingin tinggalkan. "Jika Rin-sama memerlukan sesuatu, silahkan katakan saja. Baiklah, saya izin pergi dulu." setelah itu, pelayan itu pergi.
"Rin?!! Jangan-jangan Rin ada di ruangan itu, aku harus memastikannya." pikirku
Akupun medekat ke arah ruangan yang baru saja pelayan itu tinggalkan.
Kreekkk. (pintu terbuka)
Aku membuka pintu ruangan itu, dan melihat seorang gadis dengan pakaian pengantin sedang duduk sambil melihat ke arah cermin besar yang ada di ruangan itudan ia adalah Rin. "Rin." seruku.
Rin berbaik melihatku dan berlari memelukku. "Hiroaki. Apa yang kau lakukan di sini?"
"Sudah jelas, aku akan menyelamatkanmu, karena kau adalah pengantinku."
Entah kenapa, aku ingin mengucapkan kata-kata itu.
"Iya, ingatanku sudah kembali."
"Hi-chan. (menagis)"
Rin menangis dan aku berusaha untuk menenangkannya. "Tenang saja, aku akan menyelamatkanmu."
"Hm, baiklah."
Rin berhenti menangis. "Ahhhhh, penjaga ada penyusup!!" Seorang pelayan berteriak karena melihatku sedang berada di kamar yang di gunakan Rin.
"Wah, Gawat. Rin sebaiknya kita segera pergi!!"
"T-tapi-"
"Sudah, ayo kita segera keluar dari istana ini."
Aku memengang tangannya. Aku berniat untuk melompat keluar jendela, tapi setelah aku ingat kalau aku sedang berada di lantai dua dan kemungkinan terkecilnya ialah saat aku mendarat, aku hanya akan mengalami kesemutan di bagian kaki saja. Tapi, karena suara dari pelayan itu, banyak prajurit yang sudah berkumpul di depan ruangan ini dan juga sudah bersiap untuk menyerang jika aku melakukan perlawanan.
"Ahhhh!!! Sepertinya sudah tidak ada cara lain" pikirku
Saat ini, aku hanya punya pilihan untuk melompat dari jendela, karena para prajurit bersiap menyerangku dari arah pintu.
Aku melemparkan kursi yang ada di dalam ruangan ini tepat ke arah salah satu jendela, dan jendela itu pecah. "Ayo Rin." Aku menggendong Rin mirip seperti seorang pangeran yang menggendong seorang putri.
Aku kemudian melompat keluar dari ruangan itu.
Daaakkk
Aku mendarat di tanah, dan seperti dugaanku, kakiku cukup kesakitan. Aku pun menurunkan Rin. "Kau tak apa-apa Hi-chan? (panik)"
Dia mulai memanggilku dengan sebutan 'Hi-chan'. "A-aku tak apa-apa, sebaiknya kita harus segera pergi dari tempat ini."
Aku berbohong agar dia tidak semakin panik.
"B-baik."
Aku kemudian berdiri sambil menahan rasa sakit yang ada di kakiku.
--------- Beberapa saat kemudian -------
"Hi-chan, itu jalan keluarnya.(menunjuk ke sebuah gerbang yang cukup besar)"
Banyak sekali prajurit yang berjaga di gerbang itu, dan jika harus bertarung mungkin aku akan kalah jumlah, dan kakiku yang seperti ini sangat tak menguntungkanku.
Aku dengan segera bersembunyi di semak-semak yang ada di dekatku.
"Kakimu sudah aku sembuhkan, dan kau bisa melawan mereka sekarang,'kan?" tiba-tiba ada suara yang terdengar di kepalaku dan suara itu adalah dewa Sha.
"Dewa Sha??!" Aku lupa, jika aku butuh bantuan aku bisa menghubungi dewa Sha dan mungkin adalah saat yang tepat untuk meminta bantuannya.
"Hi-chan, kau bicara dengan siapa?" (Rin)
"Jangan beritahu kalau kau sedang bicara padaku."
"Tapi, bagaimana aku bisa bicara denganmu?"
"Bicara lewat pikiranmu saja."
"Baiklah?"
__ADS_1
"Hi-chan, kau bicara dengan siapa?"
Aku di beri tau oleh dewa untuk tidak mengatakan kalau aku sedang berbicara dengan dewa saat ini.
"Ahh, tidak, a-aku hanya mencoba mencari cara agar kita bisa keluar dari istana ini."
"Begitu."
"Dewa Sha, aku butuh batuanmu."
"Ahhh, bisa kau tunggu beberapa menit lagi, aku sedang maraton."
"HAAA?!! Maraton?"
"Ya, aku sedang maraton anime kesukaanku."
Aku lupa kalau dewa Sha adalah dewa yang suka dengan anime dan juga manga.
"Jadi, bagaimana dengan nasibku sekarang? (panik)"
"Tenang saja, setelah ini selesai, aku akan segera menuju ke sana. Jadi, bertahanlah selama beberapa menit ke depan."
"T-tapi-"
"Daa."
Dewa Sha, menghentikan pembicaraanku, dan memutus telepatinya dengan ku.
"Bagaimana ini. (panik)" pikirku
"Hi-chan, ada apa? Kau kelihatan sangat panik."
Aku tak bisa memberitau alasannya padaa Rin, tapi yang pasti, aku harus bisa bertahan sampai dewa Sha mendatangiku.
"T-tidak ada apa-apa."
Tiba-tiba. "ITU DIA, PENYUSUPNYA. (menunjuk ke arahku yang sedang bersembunyi di semak-semak)" Salah-satu pelayan melihatku dan memanggil prajurit kerajaan yang juga sedang mencariku.
"Gawat!!! Ayo Rin, kita harus segera pergi dari tempat ini segera."
Dengan cepat aku melompat keluar dari semak dan berlari, Rin juga mengikuti dibelakangku, dan sepertinya ia cukup kesulitan bergerak karena pakaian yang ia kenakan saat ini.
"Ayo Rin." Aku memengang tangan Rin. Dan di depan sebuah gerbang yang dijaga oleh cukup banyak prajurit penjaga.
"PENGANGGUUUU!!!!" Tanpa pikir panjang, aku mengambil pedang biru milikku dan melemparkannya ke arah gerbang itu.
Duuaarrrr. (ledakan)
Diluar dugaan, gerbang itu meledak akibat pedang yang aku lemparkan dan pedang yang aku lemparkan itu, tertancap di tanah yang ada di luar gerbang.
"Bagus, sekarang kita bisa keluar dari istana ini."
Aku dan Rin berlari keluar dari istana ini.
"Prajurit!! Jangan biarkan dia lolos!! Tangkap dia!!" (Magnus)
Suara Magnus sang pangeran yang berada jauh di belakangku.
Para prajurit yang ada di depanku menghadang jalanku. "MINGGIR KALIAAAANNN!!!!!"
Saasshh. (tebasan)
Aku menebas para prajurit yang ada di depanku, dan tak ada yang terluka akibat seranganku.
Aku berhasil keluar dari gerbang istana dan dengan segera mengambil pedang biru milikku yang tertancap di tanah dan kemudian berlari, meninggalkan kerajaan ini.
-------- Beberapa menit berlari dari kejaran para prajurit --------
Prajurit dari kerajaan Slavic memang sangat gigih, mereka masih saja mengejarku.
"Hi-chan, aku su-sudah tidak kuat berlari lagi."
Sepertinya Rin sudah mencapai batasnya. "Bagaimana ini? (panik) Jika aku tak berlari, para prajurit itu pasti akan menyusulku." pikirku
"Hi-chan, tinggalkan saja aku. (tersenyum)."
"Tidak! Aku tak akan meninggalkanmu, apapun yang terjadi."
"Aku harus melindungi Rin, meskipun nyawaku yang menjadi taruhannya. Dia sudah mengalami masa-masa yang berat saat aku kehilangan ingatanku. Aku harus melakukan sesuatu di situasiku saat ini." pikirku
Para prajurit kerajaan Slavic berhasil menyusulku, dan sebuah kereta kuda milik pangeran kerajaan Slavic berhenti tepat di depan para prajurit.
Pangeran Magnus keluar dari kereta kudanya. "Cepat serahkan calon istriku, atau aku akan menyuruh lima ribu prajurit milikku untuk menghabisimu."
"Waahhh!!!! (panik) Lima ribu prajurit, bisa modar aku." pikirku. Tapi, karena aku sudah bilang pada Rin tak akan meninggalkannya, aku tak akan mengingkari kata-kataku.
"TIDAAAKKK!! AKU TAK AKAN MEMBERIKANNYA PADAMU ATAU PADA SIAPAPUN DI DUNIA INI!!! KARENA RIN ADALAH MILIKKKUUUUU!!!!!"
"Hi-chan. (melihat ke arahku)"
"Ahhhh, aku sangat malu mengatakan hal itu." pikirku
"Jadi itu pilihanmu. Prajurit! Habisi laki-laki itu!!"
Para prajurit itu mendekat secara perlahan ke arahku. "Cih, gawat, tak ada cara lain lagi. Mau tak mau, aku harus bertarung. Tapi, aku tak pernah membunuh manusia (panik)." pikiranku mulai kacau. Diantara pilihan membunuh manusia atau menyelamatkan Rin, aku memilh membunuh para prajurit itu.
"HAAAAAA!!!!! ( aku berlari mendekat ke arah prajurit)"
DUUUAARRRRR. (ledakan)
Di tengah aku berlari untuk melawan para prajurit, sebuah ledakan yang cukup besar terjadi di tengah-tengah prajurit Slavic. "Ledakan apa itu? (kebingungan)" (Magnus)
"Apa yang terjadi?" aku bingungan dengan apa yang terjadi.
Tiba-tiba seseorang melompat sangat tinggi dari asal ledakan itu, dan ia melompat tepat menuju ke arahku. "Siapa dia?" Aku cukup terkejut melihatnya melompat sanga-sangat-sangat tinggi.
Dakkk.
Seorang gadis dengan rambut biru dan ia juga memakai baju zirah berdiri tepat di hadapanku dan gadis itu adalah gadis yang aku temui kemari saat sedang mencari penginapan. "S-Siapa sebenarnya kau?! (panik)"
"Aku datang untuk membantumu."
"Membantuku?"
"Siapa yang berani menghancurkan pasukanku dari dalam?! (marah)" (Magnus)
Pangeran Magnus melihat ke arahku atau lebih tepatnya ke arah gadis yang berada di depanku. "Siapa kau, berani-beraninya menghancurkan pasukanku dari dalam. Tak akan aku ampuni kau."
"Namaku adalah Felicia, Sang Ksatria Petarung."
Bersambung.
__ADS_1