Watashi No Hanayome

Watashi No Hanayome
67


__ADS_3

“T-Tunggu sebentar, apa maksudmu?”


“Seperti yang aku katakan barusan, tolong bayar kerusakan yang telah kau perbuat pada apartemenku.”


“Apa...”


“Aku mempunyai barang buktinya.”


“Heh?”


“Ini dia.” Ia menyalakan televisi yang ada didalam ruangan ini.


“I-Itu...”


“Lihat, itu adalah dirimu.” Dia mendapatkan rekamanku, dan sepertinya itu berasal dari kamera cctv yang ada di apartemen itu. “Dan lihatlah apa yang terjadi selanjutnya.” Tepat saat aku pergi, ledakan besar terjadi dan apartemen itu runtuh. “Itu, ulahmu kan.”


Tapi, sepertinya kamera tidak bisa menangkap gambar dari pedang Ryuga, dan setidaknya itu adalah kabar baik. “Bagaimana bisa kau menyimpulkan hal itu?”


“Kau kabur sesaat sebelum ledakan itu terjadi, dan aku menduga kalau itu adalah perbuatanmu.”


“Cih, jangan bicara omong kosong.” Pembicaraan ini tidak ada gunanya.


“Hoo, kau berniat untuk pergi, kalau begitu. Bagaimana kalau aku minta tagihan ganti rugi ini pada keluarga Shirayuki, lagipula aku dengar keluarga Shirayuki memiliki kekayaan yang melimpah.”


“Jangan lakukan itu...”


“Hmm? Aku tidak bisa, jika kau tidak membayarnya maka aku akan melakukan hal itu. Itu aku lakukan demi mengembalikan apa yang seharusnya menjadi milikku.”


“Baiklah, aku akan membayarnya.” Setidaknya aku tidak ingin merepotkan keluarga Shirayuki lebih jauh lagi, lagipula ini adalah masalah yang aku buat dan aku juga yang harus menyelesaikannya.


“Hoo, apa kau yakin bisa membayarnya? Ini sangat mahal lo, meskipun kau bekerja seumur hidup kau tidak akan bisa melunasinya.”


“Berhenti mengoceh, dan cepat katakan seberapa banyak yang harus aku bayar.”


“***,***,***,** $ (rahasia ***). Apa kau mampu memayarnya?”


Mendengar nominal sebesar itu, memang sangat mustahil aku bisa membayarnya tapi.. “Aku akan mengirimkannya langsung padamu.”


“Huh? (bingung) Bagaimana caramu melakukannya?”


Aku berbalik berjalan keluar sembari menunjukkan kartu yang aku dapatkan dari dewa Sha. “Dengan ini.”


“K-Kartu itu, s-siapa sebenarnya dirimu?” Dari kalimatnya, aku bisa tau kalau dia terkejut.


“Hanya orang biasa, aku akan membayarnya pada resepsionismu. Jadi, jangan ganggu aku lagi. Jika kau masih menggangguku, aku tak yakin apa aku akan sedermawan ini saat itu terjadi.”


“M-Mustahil...”


Beberapa lama kemudian.


Malam hari, 20,21


Dalam perjalanan kembali.


“Haa, sangat menyebalkan.” Mereka menjemputku, tapi saat aku minta diantarkan pulang mereka menolak. “Mungkin hari ini aku tidak cukup beruntung.”


Meskipun begitu, aku cukup terkejut dengan ini kartu ini. “Seberapa banyak uang yang ada dikartu ini?” Dewa tidak memberitahuku, dan itu sepertinya sangat banyak. Jika dilihat dari reaksinya, mungkin isinya melebihi apa yang aku pikirkan. “Bisa membeli apapun yang aku inginkan, ya.” Teryata ucapan dari dewa Sha tidak bohong.


Setelah sangat lama kemudian.


Malam hari, 23,43


Setelah berjalan kaki selama berjam-jam, akhirnya aku sampai di kediaman Shirayuki. Tapi, tadi aneh sekali. Aku sama sekali tidak melihat adanya taksi atau angkutan umun yang berporasi malam ini. “Apa hari ini adalah hari libur kerja?”

__ADS_1


“Hiroaki, kau sudah kembali.”


“Amane, kau belum tidur?”


“Bagaimana aku bisa tidur saat kau dibawa oleh orang yang mencurigakan seperti mereka.”


“Begitu. Sudahlah, sekarang sudah larut malam. Sebaiknya kau segera tidur, bukannya besok masih ada tempat yang ingin kau kunjungi.”


“Baiklah. Oh ya, Hiroaki, apa aku boleh menyimpan pedang ini?”


“Huh? Shirame? Untuk apa?”


“Bagaimana kalau begini saja. Untuk hadiah perpisahan kita, aku ingi… Awww.” Aku menjitak dahinya.


“Tidak boleh.” Setidaknya aku sudah tau apa yang ingin dia katakan.


“Ehh? K-Kenapa?”


“Shirame adalah patnerku.”


“Bukannya kau memiliki 1 pedang lagi.”


“Hmm, begini saja. Shirame dan Ryuga, adalah saudara. Mereka tidak bisa dipisahkan, jika mereka berpisah akan terjadi sesuatu yang sangat gawat.”


“Tapi, tadi mereka berpisah dan tidak terjadi apa-apa.”


“Tadi mereka hanya berpisah sebentar, makanya tidak terjadi apa-apa. Jika berpisah dalam waktu lama, akan terjadi hal yang sangat gawat.” Tentu saja aku hanya mengarang cerita, aku tak bisa membiarkan satupun pedangku diambil oleh orang lain. Masing-masing pedangku ini sudah diberi kekuatan yang luar biasa oleh dewa Sha, dan karena itu aku tak bisa membiarkan hal itu terjadi.


“Yah...” Amane menjadi murung.


“Jika kau mau, mungkin aku akan membuatkan replikanya.”


“Tidak, aku mau yang asli.”


“Tapi… Awww..” Aku kembali menjitak dahinya. “Kenapa?”


“Cepatlah tidur, aku akan membuatkanmu replika Shirame.”


“Aku tidak mau yang palsu, aku ingin yang asli.”


“Aku tidak bisa memberikannya.”


“Begitu.” Ia menjadi semakin murung.


“Setidaknya, aku tidak bisa mengabulkan permintaan itu. Jika salah satu senjataku hilang, kemampuan bertarungku juga akan berkurang.”


“Begitu, ya. Maafkan aku.”


“Baguslah kalau kau paham.”


“Kalau begitu, tolong buatkan aku replika kedua pedangmu itu.”


“Huh, maksudmu Shirame dan Ryuga?”


“Ya.”


“K-Kalau itu, apa itu yang kau inginkan sebagai hadia perpisahan?”


“Tidak, aku menginginkan itu sebagai hadiah ulang tahunku.”


“Ulang tahunmu?”


“Ya, besok adalah ulang tahunku. Makanya aku menginginkan pedangmu sebagai hadiah, tapi karena tidak bisa aku tidak bisa memaksa.”

__ADS_1


“Haa, begitu. Ya sudah.”


“Eh, serius?”


“Ya, sudahlah. Cepat tidur.”


“Baik.” Dari murung, ia kembali ceria. Aku tidak mengerti apa yang ada dipikirannya.


Dan saatnya, waktuku untuk beraksi.


Tengah malam, 01,21


Taman rumah.


“Hiroaki-kun, kau masih belum tidur?” Tanpa aku sadari, ternyata ibu Amane sedang melihatku yang mondar-mandir di taman. “Hiroaki-kun, ada apa? Apa ada masalah.”


“Tidak ada.”


“Apa kau memikirkan hadiah untuk Amane?”


“Y-Ya, begitulah.”


“Amane itu gadis yang polos, hadiah apapun yang diberikan padanya dia akan menerimanya. Aku saja sebagai ibunya begitu terkejut kalau ia meminta sesuatu padamu. Padahal, selama ini dia sama sekali tidak pernah meminta apapun. Sepertinya dia...”


“Huh?”


“Tidak ada apa-apa. Ini sudah larut, saat kau selesai segeralah tidur.”


“Baik.” Ibu Amane pergi, dan ini saatnya.


“Dewa Sha.”


“Haa, ada apa lagi?”


“Tolong, buatkan aku replika Shirame dan juga Ryuga.” Karena aku tidak mungkin bisa menyiapkan replika Shirame dan juga Ryuga, lagipula aku tidak memiliki pengalaman dalam hal pandai besi. Oleh karena itu aku meminta bantuan dewa Sha.


“Haa, kau sangat merepotkan, ya.”


“Maaf.”


“Tunggu sebentar.” Meskipun aku merasa enggan meminta hal itu, tapi hanya dewa Sha yang bisa aku mintai tolong.


Beberapa menit kemudian.


“Pejamkan matamu.”


“Huh, untuk apa?”


“Sudah, lakukan saja apa yang aku perintahkan.”


“Baiklah.” Aku menurutinya dan memejamkan mataku.


“Angkat kedua tanganmu.”


“Baik.” Aku mengangkat kedua tanganku. Dan beberapa saat kemudian, tanganku mulai terasa berat.


“Baiklah, sudah selesai. Kau bisa buka matamu.”Aku membuka mataku dan di tanganku, aku melihat 2 pedang yang sangat mirip dengan Shirame dan juga Ryuga, atau bisa dibilang tidak ada bedanya.


“Dewa Sha, terima kasih.”


“Tapi, ada sesuatu yang harus kau ingat mengenai pedang ini.”


“Apa itu?”

__ADS_1


“Pedang ini adalah pedang yang spesial.”


__ADS_2