
Pagi hari, jam 03.13
-------- ( Ini mimpi lo. ) ---------
"T-tempat apa ini?" Saat ini aku sedang berada di sebuah tempat yang seluruhnya berwarna putih. "Hi-chan."
"Rin?" Aku medengar suara Rin yang memanggilku, tapi aku tak melihatnya. "Rin!! Dimana kau?"
"I-ini.." Dan seketika aku berpindah tempat dari ruangan yang sebelumnya berwarna putih ke depan istana. Rin, Emilia, Sia, dan Ai. Aku melihat mereka berempat berpakaian seperti seorang pengantin. "Sayang." (bersamaan)
Plaaakkk.
--------- (Dream End) -------------
Akupun membuka mata. "Sepertinya dia sudah bangun." (???)
Aku memengang pipiku. "A-aww.." Entak kenapa pipiku terasa sakit.
"Maaf karena aku sudah memukulmu." (Gin)
"G-Gin.." Ternyata Gin yang sudah mengganggu mimpi indahku itu.
"Sebaiknya kita harus segera bergegas, sepertinya ada banyak monster yang sedang menuju ke arah kita. Jika kita tidak bergegas pergi dari sini, mungkin kita akan di serang."
"B-baik." Sepertinya itu adalah hal yang gawat, akupun segera bangun. Dan yang lainnya ternyata sudah bangun duluan.
"Risa, bisa kau gunakan sihir cahaya sebagai penerangan?" (Gin)
"Baik. Cahaya penerang, Light." (Risa) Sebuah cahaya kecil yang cukup terang muncul di depan Risa. Dan kamipun berangkat menuju ke tempat tujuan.
"Lux, Lyn. Cepat!!" Lux dan Lyn yang tadinya sedang mengawasi monster yang mendekat dari belakang segera bergegas pergi mengikuti.
----------- Beberapa jam kemudian ----------
Pagi hari, jam 06.33
Mulai tadi, aku sama sekali tak merasakan kehadiran monster. "Gin, sebenarnya monster apa yang sedang mengejar kita?"
"Sebenarnya, yang mengejar kita bukanlah monster, tapi sekelompok bandit dengan jumlah yang besar. Dan para bandit itu lebih mirip monster."
"B-bandit!!" (Lux)
"Bandit? Tapi, kenapa mereka ingin menyerang kita yang merupakan seorang petualang?" Aku pikir itu aneh, karena seorang petualang sudah pasti bersenjata dan juga para petualang pasti sudah terlatih untuk hal seperti ini, dan jika para bandit itu menyerang pasti mereka akan menerima kekalahan. "Akankah lebih baik kalau para bandit itu menyerang pedangang atau semacamnya." Meskipun aku berkata seperti itu, aku tak berharap hal seperti itu terjadi.
"Aku tak tau, tapi menurut kabar yang aku terima dari para petualang lain. Saat ini, para bandit sedang mengincar para petualang wanita. Aku tak tau maksud dan tujuan para bandit itu, tapi menurutku sudah pasti mereka akan melakukan hal yang buruk."
"Petualang wanita? Tapi, kenapa hanya wanita? Lagipula, para petualang sudah memiliki pasangan. Bukannya itu aneh kalau mereka mengincar orang yang sudah memiliki pasangan."
"Itu memang benar. Oleh karena tu, mereka membunuh pasangan laki-laki agar ikatan pasangan itu menghilang."
"Menghilang? Bukannya ikatan pasangan itu abadi? Dan jika salah satu pasangan itu mati, berarti pasangan lainnya juga ikut mati."
"Kalau untuk itu, ada hal yang bisa dibilang khusus."
"Khusus?"
"Ia. Jika salah satu pasangan mati, maka ikatan pasangan akan menghilang."
Aku tak tau akan hal seperti itu sebelumnya, dan lagi-lagi dewa Sha tak menjelaskan hal penting seperti itu padaku. "Kakak, aku merasakan sesuatu yang aneh." (Lyn)
"Begitu, jadi mereka masih mengejar kita, ya. Kalau begitu, sebaiknya kita harus segera bergegas sekarang." (Gin) Kamipun segera bergegas karena para bandit itu mulai menyusul kami.
----------- Berjam-jam kemudian ----------
Siang hari, jam 12.36
Kami sampai di sebuah desa. "Apa kita sudah sampai?" Gin bilang kalau paling tidak kita akan sampai sore nanti, jadi aku tak tau apa ini desa yang sedang kami tuju.
"Sepertinya begitu. Lyn, apa kau masih merasakan keberadaan mereka?" (Gin)
"Tidak kak, aku sudah tak bisa merasakan keberadaan mereka."
"Apa mungkin mereka tertinggal?"
"Sepertinya tidak kak. Beberapa menit yang lalu, aku merasa kalau ada seseorang sedang menghadang para bandit itu, tapi saat itu pula keberadaan bandit itu menghilang."
"Seseorang? Apa kau tau siapa dia?"
"Aku minta maaf kak, aku hanya bisa merasakan hawa keberadaan seseorang ataupun monster yang mendekat ke arahku. Meski begitu, aku tak bisa mengetahui dengan tepat hal apa itu."
"Begitu, ya. Kalau begitu, biarkan saja."
"Baik."
Kamipun berjalan memasuki desa. "Gin, apa benar ini desanya?" Aku masih tak percaya kalau ini adalah desa yang sedang kami tuju.
"Iya benar, ini adalah desanya. Lagipula waktu kecil aku sudah pernah berkunjung ke sini, jadi aku tau kalau ini adalah tempat yang kita tuju."
"B-begitu.." Karena dia bilang seperti itu, aku rasa ini memang benar desanya.
----------- Beberapa saat kemudian ---------
[Masuk ke dalam desa]
Aku tak melihat seorangpun yang beraktifitas di desa ini, dan desa ini sudah terlihat seperti desa mati. "Kita berpencar, jika kalian menemukan sesuatu segera panggil yang lain." (Gin)
"Baik." (Semua) Karena Gin adalah ketuanya, aku harus mengikuti apa yang ia katakan, dan sepertinya ia sudah memikirkan hal ini sebelumnya.
Kamipun berpencar, Gin pergi bersama Risa, dan Lux pergi bersama Lyn sedangkan aku sendiri. "Sungguh menyedihkan." Tapi, karena aku sudah sedirian aku sudah merasa cukup. Lagipula, jika aku mengkuti mereka aku pasti akan mengganggu mereka.
------ Beberapa menit kemudian -------
Aku berjalan mencari sesuatu yang ada di desa ini, dan sampai saat ini aku belum menemukan seseorangpun di desa ini. "Kemana orang-orang di desa ini pergi?"
Grrrrr.
Suara gerangan terdengar di belakangku. Akupun segera berbalik untuk melihat apa itu. "He-hewan apa itu?" Aku baru pertama kali melihat hewan yang seperti itu. Dia terlihat seperti monster iblis, tapi ia memiliki 2 kepala dan juga tubuhnya lebih besar daripada hewan iblis.
Monster itu berlari dan menyerangku, dan karena serangannya cukup lambat aku bisa dengan mudah menghindarinya. "A-apa ini?" Tepat saat aku menghindari serangannya, aku mendapatkan sebuah gambaran dipikiranku kalau monster itu melompat dan kembali menyerangku. "Apa yang tadi itu?"
__ADS_1
Monster itu kembali menyerangku, dan akupun kembali menghindari serangannya, dan tepat saat aku menghindar monster itu melompat dan menyerangku kembali tepat seperti gambaran yang aku lihat barusan. Karena aku sudah melihat gambaran itu, aku bisa menghindari serangnnya. "Jangan-jangan ini, sihir khusus milik Ai, melihat masa depan." Itulah yang pertama kali aku pikirkan, saat mengetahui kebenaran ini.
Monster itu kembali menyerangku, dan karena bosan di terus yang menyerangku akupun membalasnya. Tepat setelah monster itu menyerang, aku menghindar kesamping tubuh monster itu dan menyerang perutnya secara horizontal.
Sraaasshh.
Karena pedang yang aku pakai saat ini cukup tajam, seranganku barusan berhasil melukainya. "A-apa!!" Luka yang aku buat di tubuhnya berangsur-angsur menghilang. "Regenerasi, sungguh lawan yang merepotkan." Dan yang lebih merepotkan lagi, karena aku tak membawa kedua pedangku dan aku hanya menggunakan pedang biasa ini.
Dan tiba-tiba saja, monster itu dengan cepat menyerang dengan cakarnya yang tajam tepat ke arah kepalaku. Akupun berhasil menghindarinya, tapi karena serangannya yang tiba-tiba menjadi cepat, pipiku tergores dan mengeluarkan darah. "Sebaiknya aku harus lebih berhati-hati."
Aku membalas monster itu dengan memotong salah satu kaki bagian depannya.
Groaaarrr.
Seranganku berhasil, tapi yang menyusahkan adalah monster ini bisa meregenerasi tubuhnya hanya dalam hitungan detik. "Aku mendapat lawan yang menyusahkan lagi." Aku sudah bertemu dengan 2 pengguna skill regenerasi, tapi untuk situasi saat ini aku tak tau apa yang harus aku lakukan.
Akupun mencoba terus menyerangnya.
------------ Beberapa menit kemudian ------------
"Siall, apa monster ini tidak memiliki semacam kelemahan yang ada di tubunnya." Mulai tadi, aku sudah mencoba beberapa cara mulai dari membelah tubuhnya menjadi 2 bagian, memotong tubuhnya menjadi ukuran yang kecil dan bahkan aku sudah mencari apa dia memiliki inti yang ada di dalam tubuhnya, tapi itu semua sia-sia. Semua yang aku lakukan itu tidak menuai hasil apapun.
"Shu!! Apa kau baik-baik saja?" (Lux)
Gin, Lux, Risa, dan Lyn datang menghampiriku. "Monster itu.." (Risa)
"Iya.. Lyn, gunakan sihir api pada monster itu." (Gin)
"Baik. Raungan badai api, Fire strom." (Lyn) Seketika tubuh monster itu terbakar oleh api yang terbentuk sepeti sebuah badai angin, dan karena hal itu aku melompat sejauh mungkin kebelakang untuk menghindari sihir api milik Lyn.
---------- Beberapa saat kemudian ------------
Monster itu terbakar hingga menjadi abu. "Apa monster itu sudah mati?" (Lux)
"Mungkin." (Gin) Dengan sihir kuat seperti itu, mustahil monster itu bisa selamat meskipun ia memiliki skill regenerasi.
"Haa.. Sepertinya sudah selesai." (Lyn) Lyn terlihat kelelahan setelah menggunakan sihir itu, dan sepertinya sihir itu menghabiskan hampir seluruh energinya.
"Kau tidak apa-apa Lyn." (Lux)
"A-aku tidak apa-apa."
"A-apa ini?" Tiba-tiba saja aku kembali mendapatkan penglihatan kalau monster itu kembali pulih setelah menjadi abu. "Kalian semua!! Menjauh dari sana, cepat!!"
Mereka dengan segera menjauh dari tempat itu. "Ada apa, Shu!!" (Lux)
"L-lihat, monsternya." (Risa)
Dan benar saja, mosnter itu perlahan-lahan mulai kembali pulih. "Yang benar saja." (Lux)
"Lyn, cepat berlindung ke tempat yang aman." (Gin)
"Baik."
"Lux, Risa, bentuk formasi sekarang juga."
"Baik." (Lux & Risa)
Monster itu pulih dan dengan segera melancarkan serangan ke arah Gin dan yang lainnya. Gin menangkis serangan monster itu menggunakan perisai miliknya yang belum pernah aku lihat sebelumnya, dan tepat setelah Gin menangkis serangan monster itu. Lux langsung menyerang monster itu menggunakan senjata tombak miliknya.
"Rasakan ini!!" (Lux)
Groaarr.
Mereka berhasil melukai monster itu, dan setelah Lux selesai menyerang. "Sambaran petir, Thunder Bold." Risa mulai menyerang menggunakan sihir miliknya.
Sebuah awan gelap tiba-tiba muncul dan awan itu menembakkan petir tepat ke arah monster itu dan membuat tubuh monster itu hancur.
Meskipun rapalannya terlihat sederhana, tapi kekuatan yang dihasilkan oleh Risa sangat besar.
"H-hebat." Ini adalah pertama kali aku melihat kombinasi seperti itu, satu orang bertugas untuk menahan dan yang lainnya memberi serangan pada musuh, sungguh taktik yang hebat.
"L-lihat." (Risa) Tubuh monster itu kembali menyatu.
"Risa, apa kau masih bisa menggunakan sihir itu lagi?" (Gin)
"Meskipun sangat menguras tenaga, tapi aku bisa menggunakannya sekali lagi."
"Bagus. Lux, Risa, kita muali ulang formasi kita."
"Baik." (Lux & Risa)
Monster itu kembali pulih dan kembali menyerang mereka. "Serang!!"
"A-apa!!" (Gin & Lux) Monster itu melompati mereka berdua dan tepat mengarah ke arah Risa yang ada di belakang mereka.
"Risa awas!!!" (Gin)
Aku dengan segera berlari dan mencoba untuk menghalangi monster itu menyerang Risa.
Ctrakk.
Pedangku hancur saat aku mencoba untuk menagkis serangnnya yang ditujukan ke arah Risa, dan monster itu kembali menyerang.
Dakk. Sfx : terpental.
Aku terpental kebelakang bersama dengan Risa dan menabrak salah satu tembok rumah yang ada dibelakangku. Pedangku yang hancur membuatku tak bisa menangkis serangnnya, dan membuat perutku terluka karena cakaran monster itu. "Uhuk.. S-sial.. A-aku terluka." Rencanaku untuk bermain aman untuk menghindari cedera gagal.
"R-Risa, kau tidak apa-apa."
"A-aku tidak apa-apa." Sepertinya dia baik-baik saja. "Sebelumnya aku sempat menggunakan sihir pertahanan, jadi aku tidak mengalami cedera yang cukup parah. Bagaimana dengan keadaamu?"
Aku kembali berdiri. "Shu, apa kau ingin melawan monster itu, lagi?"
"Iya. Karena jika monster itu tidak dikalahkan, mungkin monsteri itu akan pergi ke desa yang lain dan akan menyebabkan kekacauan yang sama."
[ Di kerajaan Riel ]
Ctraangg.
__ADS_1
Ai yang sedang membawa beberapa piring tiba-tiba saja menjatuhkan piringnya dan memengang perutnya. "Ahh!!"
"Ai!! Ada apa?! A-apa yang terjadi denganmu?" Sia yang berada di dekat Ai terkejut melihat perut Ai terluka seperti akibat cakaran hewan, dan juga luka kecil di pipinya.
Karena suara Ai yang cukup keras, membuat Rin, Lia, Inori, dan juga Emilia menghampirinya. "Ai ada apa?" (Rin)
Mereka melihat perut Ai yang berdarah. "A-Ai, siapa yang melakukan hal itu padamu?" (Emilia)
"A-aku tidak tau."
"Apa jangan-jangan.." Emilia merasa curiga dengan sesuatu, dan dia memutuskan untuk memastikannya. Emilia memeriksa seluruh tubuh Ai. "I-ini.." Dia menemukan tanda bintang yang ada tepat di lengan kanannya.
"Itu, lambang milik Hi-chan."
"Hoo... Beraninya dia, bermain dengan gadis lain di saat kedua pasangannya sedang kasulitan."
"T-tidak bukan begitu.." Ai berusaha untuk membela Hiroaki.
"Ai, sebaiknya kau obati dulu lukamu itu." (Rin)
"Awas saja saat kau kembali Hiroaki." (Emilia)
"A-ada apa ini?" Entah kenapa tubuhku merasa merinding dan juga gemetar seperti sedang ketakutan.
"Hey Shu.. Jika kau masih bisa bertarung, bisa kau bantu kami." (Lux)
"B-baik." Meskipun begitu, karena saat ini senjata yang aku gunakan sudah hancur aku tak tau harus menggunakan sejata apa lagi.
Grooaaarrr.
Sebuah raungan terdengar dari atas. "I-itu, naga." (Lyn)
Dan naga itu tak asing bagiku. "Yo, para muridku." (???)
Dan suara yang tak asing itu adalah Shin, ia sedang menaiki naga Alfa. "Bisa kalian minggir!!"
"B-baik!!" (Lux & Gin) Entah kenapa mereka mengikuti perintah Shin.
"Baiklah."
Swuutt.
Shin melompat dari punggung naga Alfa yang berada cukup tinggi dari tanah. "Rasakan jurus andalanku." Ia memutarkan tombaknya dan menancapkannya tepat di punggung Monster itu. "Meledak." Dan tepat setelah Shin menancapkan tombaknya, ia melompat cukup jauh kebelakang, dan beberapa saat kemudian.
Duaarrr.
Tubuh monster itu meledak dan seketika hancur tanpa meninggalkan bekas, dan tombak yang menancap di tubuh monster itu ikut menghilang. "Guru, monster itu memiliki skill regenerasi." (Lux)
"Begitukah?" Shin berjalan dengan santai ke arah Lux dan Gin. "Tenang saja, senjata guru kalian ini memliki efek anti regenerasi, jadi tenang saja."
"Gu-ru? Apa mereka adalah muridmu?" Karena mereka berdua memanggil Shin dengan sebutan guru, dan itu berarti mereka adalah murid Shin.
"Tentu saja."
"Guru, apa anda mengenal Shu?" (Gin)
"Shu? (bingung)"
"Ah Sial. Shin tidak tau kalau aku sedang menyamar, kalau dia memberi taukan identitasku bisa gawat. Aku harus segera membuat alasan."
"Ahh.. Aku dan gurumu adalah sahabat dekat. Benarkan?"
"Hah?" (Shin)
"Benarkan... BE-NAR-KAN.."
"Ahh.. Itu benar, dia adalah sahabat dekatku, aku menyuruhnya untuk mengawasi kalian saat menjalankan misi."
"Ya, itu benar. Hahaha." (Shin dan aku tertawa untuk mengalihkan pertanyaan yang lain)
"Begitu. Kalau begitu. Kami sebagai murid dari guru Shin berterima kasih karena sudah mau mengawasi kami." (Gin) Mereka berdua memberi hormat kepadaku.
"Y-ya, sama-sama."
"Jadi, guru. Ada urusan apa anda datang kemari?"
"Oh ya, aku ingin memberitahukan pada kalian kalau akan di adakan pesta besar di kerajaan Riel besok malam. Dan semua orang pergi untuk datang ke sana."
"Semua orang?" (Lux)
"Iya."
"Apa orang-orang di desa ini juga?"
"Tentu saja, kalau tidak salah aku melihat orang-orang yang ada di desa ini berangkat kemarin siang, dan mungkin saat ini mereka sudah berada di kerajaan Riel."
"Jadi itu sebebnya tidak ada orang di desa ini." (Risa)
"Oh Risa, apa kau baik-baik saja."
"Aku baik-baik saja."
"Sebaiknya kalian segera kembali, dan jika saat ini kalian kembali kemungkinan besok siang kalian sudah sampai. Oh ya, tadi pagi aku bertemu dengan sekelompok orang. Apa kalian tau siapa mereka?"
"Mungkin itu para bandit yang mengejar kami." (Lux)
"Begitu. Jika seperti itu, kalian tak perlu khawatir, aku tak sengaja membunuh mereka semua. Soalnya, salah satu dari mereka berniat untuk menyerangku.
"Be-begitukah." (Risa)
"Kalau begitu, aku pergi dulu. Shu, ayo pergi." (Shin)
"Aku?" Shin mengajakku untuk pergi bersama dengannya.
"Aku datang kemari untuk menjemputmu." Dia berbisik padaku dan berkata seperti itu. "Nah, baiklah... Alfa!!.."
Groaarrr.
Dan karena dia berkata seperti itu, mau tak mau aku ikut pergi bersama, meninggalkan Gin dan kelompoknya.
__ADS_1
Bersambung.