
Pagi hari, jam 07.33
"Dewa Sha... Dewa Sha..." Dewa Sha tak menjawab panggilanku. "Apa dia sedang sibuk?"
Entah kenapa pagi hari ini aku sangat tak bersemangat, aku merasa malas melakukan sesuatu. Jadi, hari ini aku ingin istirahat seharian penuh.
Tugas-tugas kerajaan aku serahkan kepada Rin, Emilia, dan juga yang lainnya. Lagipula mereka juga yang ingin melakukan hal itu, dan mereka juga yang menyuruhku untuk istirahat seharian. Entah apa yang sedang mereka rencanakan, tapi aku tak peduli dengan hal itu. Dan saat ini yang paling penting adalah.. "Haa... AKU BOSANNNN!!" Sendirian dikamar, dan tak melakukan apapun, biasanya aku sangat suka dengan hal ini tapi entah kenapa aku merasa sangat bosan bila tak melakukan kegiatan apapun sekarang. Dan di saat-saat seperti ini dewa Sha pun tidak bisa dihubungi.
Akupun segera keluar dari dalam selimutku. "Haaa... Apa yang sebaiknya aku lakukan." Aku sedang mencari cara untuk menghilangkan rasa bosan ini, dan aku juga segera mandi untuk bersiap-siap siapa tau saat mandi nanti aku mendapatkan sebuah ide yang bagus.
------------ Setelah mandi -----------
Aku merasa segar karena aku baru saja selesai mandi, dan aku masih tak tau apa yang ingin aku lakukan saat ini. "Sepertinya aku harus keluar mencari udara segar." Aku kemudian berjalan keluar dari kamar, dan saat aku berada tepat di pintu kamar. Aku merasa ada beberapa orang penjaga yang sedang berjaga di depan kamarku. "Penjaga? Kenapa ada penjaga di depan kamarku?"
Karena hal itu, aku tak mungkin keluar melewati pintu kamar, karena pintu itu sedang dijaga, dan mau tak mau aku harus melewati jendela. Tapi sebelum itu, aku mencoba untuk mengambil pedangku, dan ternyata kedua pedangku hilang. "Kemana pedangku? (bingung)" Aku tak tau kemana pedangku, tapi sepertinya ada orang yang mengambil pedang milikku itu.
Akupun melihat sekeliling kamar, dan aku melihat sebuah kertas ada di atas meja. Akupun menghampiri dan melihat isi kertas itu.
Hi-chan, aku pinjam semua pedangmu sebentar.
"Haaahh!!?" Ternyata itu adalah tulisan tangan Rin, dan ia meminjam semua pedangku tanpa sepengetahuanku, ia hanya meningalkan sebuah surat. Dan yang lebih buruk lagi, pintu kamarku sedang di jaga. "Apa yang sebenarnya mereka inginkan." Dan mau tak mau aku harus keluar tanpa membawa apapun dan hanya membawa 1 koin emas yang aku simpan, dan aku tak lupa meninggalkan sebuah pesan untuk orang yang datang kekamarku untuk tidak mencemaskanku.
------------- Beberapa jam kemudian ------------
Pagi hari, jam 10.50
Aku sampai di kota, dan seperti biasa tempat ini selalu ramai. Banyak sekali orang yang bertransaksi disini. "Nah, sekarang aku akan pergi kemana?"
--------- Setelah berfikir keras cukup lama ---------
Aku masih saja belum menemukan tempat tujuan yang ingin aku datangi untuk menghilangkan rasa bosan ini. Lalu, aku sedikit berjalan-jalan di tengah keramaian kota ini.
--------- Beberapa menit kemudian --------
Entah kenapa saat ini, aku sudah berada di depan Guild. "Apa yang aku lakukan hingga sampai disini?" Aku tak tau kenapa aku bisa ada disini, dan karena aku masih belum menemukan ide aku putuskan untuk masuk kedalam guild.
[ Di dalam Guild ]
Tak jauh beda dengan keadaan kota, tempat ini juga ramai seperti biasa. "Sepertinya sudah cukup lama aku tidak datang kemari." Aku berjalan-jalan dan berniat untuk mengelilingi guild ini, lagipula aku belum tau semua tempat yang ada di dalam guild ini.
----------- Setelah beberapa menit berkeliling ---------
Setelah berkeliling, aku tak melihat ada hal spesial di dalam guild ini.
Karena sebelumnya aku hanya sekilas melihat betapa luasnya guild ini, aku tak begitu memperhatikan jumlan lantai yang ada di dalam guild ini, da setelah dilihat, ternyata ada 4 lantai yang ada di dalam guild ini. Lantai pertama adalah tempat untuk mencari dan memberikan quest. Lantai kedua adalah tempat untuk petualang mencari grup atau party. Lantai ketiga adalah tempat untuk bersantai. Dan lantai keempat tidak ada yang khusus di lantai itu, hanya ada sebuah ruangan dan ruangan itu adalah sebuah gudang.
Karena aku masih belum menemukan apa yang ingin aku lakukan, aku putuskan untuk mampir kelantai 2, siapa tau aku menemukan hal menarik disana.
--------- Beberapa saat kemudian ----------
[ Di dalam guild, lantai 2 ]
"Wow... Banyak sekali petualang yang ada disini." Di lantai ini, terdapat banyak sekali petualang, dan ini bahkan lebihh banyak dari yang aku lihat di bawah tadi.
"Sepertinya mereka semua sedang mencoba untuk mencari anggota untuk melakukan sebuah quest." Itulah yang pertama kali aku pikirkan saat melihat mereka semua.
"Hey kau, apa kau mau bergabung dengan partyku?" (???) Seseorang laki-laki yang membawa 1 pedang yang ia taruh di belakang punggunnya tiba-tiba saja menghampiriku dan mengajakku untuk bergabung dengan partynya.
Sebenarnya aku ingin menolaknya, tapi... "Baiklah." Karena tak ada yang bisa aku lakukan disini, sepertinya tidak buruk juga kalau aku ikut dalam menyelesaikan quest.
"Kalau begitu, ayo ikut denganku."
"Baik." Akupun ikut dengannya.
------- Beberapa saat kemudian --------
[ Di dalam guild lantai 1 ]
Aku mengikutinya turun kembali ke lantai 1. "Hey Gin!! Apa kau sudah menemukan anggota baru!?" (???) Seseorang berteriak dan melambaikan tangannya.
"He.. Apa dia anggotamu."
"Iya."
Akupun ikut orang yang dipanggil Gin menghampiri orang yang memanggilnya. Dan setelah dilihat, di dalam party ini terdiri dari 2 pasangan dan 1 orang yaitu aku. "Baiklah, sekarang kita mulai dari perkenalan dulu. Namaku adalah Gin." (Gin)
"Namaku Risa, aku adalah pasangan Gin." (Risa)
"Aku Lux, senang bertemu denganmu." (Lux) Sepertinya Lux termasuk ke dalam orang yang periang, dan ia juga. Lux membawa sebuah tombak, dan aku rasa ia adalah pengguna tombak persis seperti Shin.
"A-aku, m-maksudku namaku.."
"Dia adalah Lyn, dia adalah pasanganku. Maaf sebelumnya, tapi Lyn adalah orang yang pemalu jika berhadapan dengan orang baru."
"B-begitu, ya. Haha.."
Dan sekarang adalah giliranku untuk memperkenalkan diri. "Namaku..." Aku baru ingat, jika aku menggunakan nama asliku pasti aku akan ketahuan. ".. Shu." Menyembunyikan identitas asliku adalah hal yang terpenting saat ini.
"Shu, ya. Lalu, dimana pasanganmu?" (Gin)
"Huh? Pasangan?" Seingatku, semua lambang pasangan yang ada ditubuhku sudah dihilangkan oleh dewa Sha, tapi kenapa Gin bisa tau kalau aku memiliki pasangan.
"Iya.. Lihat ini, bukannya itu tanda milikmu." Gin memberiku sebuah cermin.
__ADS_1
Aku melihat ke arah cermin itu. "I-Ini..." Aku terkejut, ada sebuah tanda di pipiku, lagi. Aku tak tau tapi sepertinya ini bukan tanda milik Rin, tapi ini terlihat seperti tanda baru. "Sejak kapan, a-apa mungkin.." Dan aku mengingat sesuatu, kalau ada 1 orang yang pernah menyentuh pipiku.
"Jadi, dimana dia?" (Lux)
"Ahh... Sepertinya pasanganku sedang sibuk, jadi dia tidak ikut denganku sekarang." Aku mencoba untuk membuat alasan.
"Begitu, ya. Ya sudah. Lalu, dimana senjatamu?" (Gin)
Aku lupa tentang hal itu. "S-senjataku dipinjam oleh pasanganku. Iya, dia bilang kalau dia membutuhkaannya, jadi aku memberikanya." Aku kembali membuat alasan, tapi sepertinya itu bukan alasan melainkan kenyataanya memang seperti itu.
"Kalau begitu sebelum berangkat, bagaimana kalau kita mampir ke pandai besi dulu. Kau bisa membeli senjata yang cocok untukmu disana. Apa kau mempunyai koin?"
"Tentu saja aku punya."
"Kalau begitu, ayo kita pergi." Kamipun berangkat dan sebelum menjalankan quest.
----------- Beberapa menit kemudian --------
Kami terlebih dahulu mempir ke pandai besi untuk membeli perlengkapan yang aku butuhkan.
------- Beberapa menit memilih ---------
Akupun selesai membeli senjata, sebenarnya aku berniat mencari pedang yang sama atau mirip dengan Shirame, tapi ternyata tidak ada pedang yang mirip seperti itu. Dan aku hanya mendapatkan sebuah pedang tipis yang menurutku ini juga cukup tajam, dan kata pandai besi itu, berat pedang ini hampir 10 kg. Tapi aku tak merasa berat saat menganggakat pedang ini. Sungguh aneh, atau mungkin kemampuan fisikku sudah meningkat dari yang sebelumnya.
--------- Di tengah perjalanan ----------
"Hey Gin, aku ingin bertanya sesuatu."
"Apa? Tanyakan saja."
"Sebenarnya, quest jenis apa yang sedang kita ambil ini?" Karena aku tak tau mereka mengambil quest apa, dan lagipula mereka tidak memberitahuku tentang detail quest yang sedang mereka kerjakan ini. Ya, menurutku wajar saja kalau aku menanyakannya, karena aku saat ini adalah anggota.
"Kami mengambil quest untuk membantu sebuah desa yang ada di perbatasan benua iblis."
"Desa?"
"Iya, manurut informasi dari quest itu. Desa itu sedang di serang oleh kawanan monster, dan kita harus segera membasminya. Lagipula imbalan yang didapat dari quest ini lumayan, sekitar 5 koin emas."
"Begitu, ya." Untuk aku yang dulu, 5 koin emas itu adalah jumlah yang sangat besar. Dan wajar kalau mereka mengerjakan quest ini, karena mereka melihat imbalan yang diberikan cukup besar.
-------- Berjam-jam kemudian ---------
Siang hari, jam 13.54
[ Di dalam hutan menuju ke perbatasan benua iblis ]
Sudah berjam-jam aku berjalan, tapi aku belum juga sampai ke tujuan. "Hey Gin, apa desa itu masih jauh?"
"A-apa!!"
"Paling tidak, setidaknya kita membutuhkan waktu 2 hari untuk sampai di desa tujuan kita itu."
"2 hari." Aku tak meyangka kalau perjalanan ini akan sangat panjang.
"Tapi, karena di hutan ini para bandit sudah berkurang. Setidaknya besok sore kita sudah sampai di tempat tujuan."
"B-begitu.." Aku tak begitu tau kalau di hutan ini juga terdapat bandit.
Sementara itu, di kerajaan Riel.
Sore hari, jam 16.15
[ Di ruangan Aula ]
"Awas, hati-hati saat ingin meletakkanya." (Emilia)
"B-baik." (???)
Saat ini, Rin, Emilia, Inori, Lia, Sia, dan Ai. Mereka sedang menyiapkan sebuah pesta. "Rin, bisa kau lihat Hiroaki sebentar." (Emilia)
"Kenapa?"
"Dia pasti sedang merencanakan sesuatu, seperti sebelumnya saat dia keluar dari istana tanpa memberitahu siapapun. Lebih baik kau segera melihatnya. Meskipun kita sudah menyuruh para penjaga untuk mengawasi kamarnya, para penjaga itu tidak akan berani untuk melihat kedalam kamarnya."
"Baiklah. Kalau begitu, aku akan memeriksanya."
"Sia, Ai."
"Iya."
"Bisa kalian awasi mereka, (pekerja) aku ada hal lain yang harus aku lakukan."
"Baiklah." (Ai)
"Sesuatu?"
"Iya. Lia, bisa kau temani Inori."
"Baik nona Emilia."
Setelah itu, Emilia bergegas pergi.
Dan sisi lain, Rin saat ini sedang menuju ke kamar Hiroaki. "Y-yang mulia ratu Rin." (prajurit)
__ADS_1
"Maaf, aku ingin memeriksa raja di dalam."
"Silahkan ratu Rin."
Rinpun segera masuk kedalam, dan para prajurit itu kembali menutup pintunya. "H-Hi-chan.. Apa kau ada?" Rin berkeliling kamar untuk mencari Hiroaki. Ia memeriksa seluruh tempat yang ada di kamar ini, tapi ia masih belum menemukannya.
"Apa mungkin, dia kabur... Kertas?" Dan tak sengaja Rin melihat sebuah kertas yang ada di deka kasur milik Hiroaki. "Kertas ini, bukannya kertas ini surat yang aku tulis kemarin malam untuk Hi-chan?" Rin melihat isi kertas itu.
Kalau ada yang melihat surat ini, berarti aku sudah pergi dan jangan cemaskan aku, aku akan baik-baik saja. Aku hanya akan pergi untuk jalan-jalan.
Begitulah isi suratnya. Dan benar apa yang dikatakan oleh Emilia. "Hi-chan!!!"
Sore hari, jam 16.40
"Rin?" Langkah kakiku terhenti karena aku sepertinya mendengar suara Rin.
"Shu, apa yang kau lakukan. Jika kau berhenti kau bisa tertinggal." (Gin)
"Maaf.." Saat ini aku sedang bertugas untuk menjaga bagian belakang, karena mereka yang menyuruhku untuk menjaga bagian belakang tentunya.
"Lux, bagaimana kalau kita berkemah disini." (Gin)
"Sepertinya itu ide yang bagus." (Lux)
"Berkemah?"
"Iya, sebentar lagi matahari akan terbenam dan akan sangat sulit untuk berjalan di hutan yang gelap seperti ini, lagipula monster yang ada di hutan ini akan lebih aktif bila malam hari. Oleh karena itu sebaiknya kita berkemah saja disini."
"Begitu, ya." Dan karena Gin adalah pemimpin dari kelompok ini, akupun mengikuti apa yang ia katakan.
"Lagipula, mungkin besok sore kita sudah sampai di tujuan kita."
"Benarkah?"
"Tentu saja. Kalau begitu, sebaiknya kita harus menyiapkan keperluan untuk malam ini, aku yang akan membagi tugas."
Kamipun menyiapkan sesuatu untuk nanti. Para laki-laki mencari kayu bakar untuk menghangatkan tubuh dan para gadis yang bertugas untuk mencari makanan.
--------- Setelah pekerjaan mereka selesai ------------
Malam hari, jam 19.44
"Ahh, siall. Kenapa dia masih tidak bisa dihubungi." Mulai tadi aku mencoba untuk menghubungi dewa Sha, tapi dia sama sekali tak menjawab panggilanku. Dan aku mulai penasaran, sebenarnya apa yang sedang dilakukan oleh dewa Sha sekarang.
"Hey Shu, apa yang sedang kau lakukan?" (Lux) Lux datang menghampiriku yang berada sedikit jauh dari mereka berempat yang sedang berada di dekat perapian.
"T-tidak ada, aku hanya sedang memikirkan sesuatu."
"Begitukah.. Oh ya, aku ingin bertanya sesuatu padamu."
"Bertanya apa?"
"Menurutmu, saat kita sudah sampai di desa itu apa disana akan ada gadis cantik yang akan menyambut kita."
"Ahaha..." Sebenarnya aku tak tau harus menjawab apa, tapi... "M-mungkin."
"Begitu, ya. Aku harap di desa itu aku bisa melihat sesuatu yang luar biasa."
"Hey, apa yang sedang kalian berdua bicarakan?" (Gin) Gin juga datang menghampiri kami.
"Begini, Lux bil-..." Tiba-tiba saja Lux membungkam mulutku dengan tangannya.
"T-tidak ada apa-apa, kami hanya membicarakan tentang quest yang sedang kita ambil ini."
"Begitukah. Kalau begitu, sebaiknya jangan lama-lama. Setelah ini kalian harus segera tidur, karena kita akan melanjutkan perjalanan ini sebelum matahari terbit."
"B-baik.." Gin pun pergi kembali ke dekat perapian.
Setelah Gin pergi, Lux melepaskan tangannya dari mulutku. "Apa yang kau lakukan."
"Aku minta maaf, tapi jika kau mengatakan hal itu. Aku pasti akan dihajar olehnya."
"Dihajar, tapi kenapa?"
"Begini, Lyn itu adalah adik Gin, jadi jika aku katahuan membicarakan hal seperti tadi. Aku pasti akan dihajar olehnya."
"B-begitu, ya. Tapi, jika Gin menghajarmu bukannya Lyn juga akan merasa kesakitan."
"K-kalau itu.. Entah kenapa saat itu Gin pernah sekali menghajarku dan membuatku pingsan, tapi Lyn masih baik-baik saja."
"Begitu.." Aku tak tau, tapi sepertinya jika saudara tidak apa-apa memukul pasangan saudaranya. Tapi meskipun begitu, Lux masih saja nekat membicarakan hal seperti itu denganku padahal dia sudah tau konsekuensinya.
"Aku mau tidur, lagipula Gin bilang kalau kita akan berangkat sebelum matahari terbit. Bagaimana denganmu, Shu?"
"Aku akan tidur sebentar lagi."
"Kalau begitu, aku duluan."
"Y-ya." Lux pergi dan segera tidur.
Entah kenapa, meskipun saat ini aku sedang berpetualang aku masih merasa sangat bosan. "Apa yang sebenarnya membuatku merasa bosan?"
Bersambung
__ADS_1