Watashi No Hanayome

Watashi No Hanayome
33


__ADS_3

“Semuanya, ayo berangkat.” (Itsuki)


“Baik.”


Kami semua bergegas menuju ke tempat pertarungan terakhir.


Beberapa saat kemudian.


Wuushhh


“A-Apa itu?” (July) Sebuah cahaya yang begitu terang terlihat.


“Semuanya, menghindar!!” (Itsuki) Mendengar hal itu, kami secara reflek menghindar.


Brusshhh


Secara tiba-tiba, tanah tempat kami berdiri terbelah dua. “Semuanya, menjauh sejauh mungkin!!” (Itsuki)


Kami langsung melakukan apa yang ketua katakan. “A-Apa itu!!” (Miko)


“Cepat, jangan diam saja. Lari!!”


“B-Baik.” Kami berlari sejauh secepat mungkin.


Beberapa saat kemudian.


Aku, Ersen, dan Miko. Kami terpisan dengan ketua dan yang lainnya. “Apa-apaan itu.” (Ersen) Dari dalam tanah yang terbelah itu, sesuatu yang sangat besar perlahan mulai muncul.


“Woy woy, yang benar saja.” Bukan hanya 1, tapi ada 24 golem raksasa yang perlahan mulai keluar dari tanah yang terbelah itu.


“I-Itu.” (Miko)


“Miko, apa kau mengetahui sesuatu.” (Ersen)


“Iya, mereka adalah Okeanoe, Hiperion, Koios, Kronos, Krios, Iapetos, Mnemosine, Tethis, Theia, Foibe, Rhea, Themis, Eos, Hellios, Selene, Leto, Asteria, Atlas, Prometheus, Epimetheus, Menoitios, Astrios, Pallas, dan juga Perses.” (Miko)


“Miko, kau tau tentang hal itu?” Ia mengetahui tentang 24 raksasa itu. 24 titan dari mitologi yunani, dan aku pernah sedikit membacanya makanya aku sedikit mengetahuinya.


“Iya, aku berasal dari dunia dimana para titan itu hidup. Jadi aku mengetahuinya, tapi… Bagaimana bisa mereka muncul disini.”


“Kemungkinan ada orang yang memanggil mereka.” (Ersen)


“Memanggil mereka, diduniaku mereka adalah dewa yang menjaga kehidupan didunia. Bagaimana mungkin dewa bisa dipanggil semudah itu.”


“Kemungkinan ada orang yang berasal dari dunia yang hampir sama sepertimu juga ada didunia ini, jadi hal seperti itu sudah biasa. Lagipula, jika diduniamu mereka adalah dewa, mungkin didunia lain mereka hanyalah sebuah boneka.” Jawaban Ersen sangat masuk akal, dan itu mungkin yang terjadi saat ini.


“Dan lagi, aku juga berhadapan dengan Gaia tadi. Kemungkinan dia yang memanggil 24 titan itu.”


“G-Gaia. Maksudmu dewi bumi.”


“Y-Ya, seperti itulah.”


“Jadi, bocah itu pemyebabnya, ya. Jika memang dia, itu berarti dia masih bisa hidup setelah menerima serangan terkuat milikku. Ini sangat menyebalkan.” (Ersen) Ersen terlihat sangat kesal. Ya, wajar saja. Orang itu masih hidup dari serangan mematikan miliknya, dan itu berarti meskipun menggunakan cara yang sama dia masih belum bisa dikalahkan.


“Ersen, apa kau punya rencana?”


“Tidak, sebaiknya kita segera berkumpul dengan yang lain. Berpisah seperti ini adalah pilihan yang buruk.”


“Benar juga.” Kami bergegas datang ke tempat pertarungan terakhir, karena kami yakin kalau ketua dan yang lainnya pasti berasa disana karena ditempat itulah pertarungan akan dilakukan.


Beberapa menit setelah itu.


“Cih, ini menyebalkan!!”


“Berhenti mengoceh, dan percepat langkahmu.” (Ersen)


“Ahhh, sial!” Para titan itu bergerak dan menyerang kami. “Masih belum mempan, ya.” Aku sudah mencoba untuk menghancurkannya, tapi regenerasinya terlalu cepat.


“Berhenti buang-buang tenaga, kita harus segera berkumpul dengan yang lain.”


“Meskipun kau bilang begitu.”

__ADS_1


“Awas!!” (Miko)


Brusshh


Tanah yang ada didepan kami tiba-tiba saja terbelah. “Woy woy, jangan bilang kalau akan ada yang keluar lagi dari dalam tanah yang terbelah ini.”


“Hiroaki, ayo cepat pergi.” Kami melompatinya sebelum retakannya semakin membesar.


Beberapa lama setelah itu.


“Ahh, kalian sudah sampai. Apa yang terjadi dengan kalian?” (Iras) Di tempat pertarungan terakhir, ternyata seperti dugaan yang lainnya sudah berada di tempat ini.


“Kalian baik-baik saja?” (Karen)


“Kami baik-baik saja. Kami hanya sedang di kejar sesuatu yang gawat tadi.” (Ersen)


“S-Sesuatu yang gawat?”


“Ersen, apa yang sudah terjadi?” (Itsuki)


“Ketua, apa kau tidak melihatnya. Para titan raksasa itu.”


“Ahhh. Maksudmu 24 titan dari mitologi yunani itu. Aku melihatnya, kok. Ya, karena ukurannya sangat besar siapapun pasti bisa melihatnya.”


“Bagaimana kalian bisa sampai dengan mudah kemari?”


“Hmmm, menggunakan telepotrasi.” (Rui)


“Teleportasi? Bukannya itu curang.”


“Ersen, kau kan juga seorang penyihir. Kau pasti juga bisa menggunakannya, kan?” (Itsuki)


“Eh? i-itu...” (Ersen)


“Kenapa?”


“Karena sihir itu menghabiskan seluruh tenagaku jika digunakan, aku tidak menggunakannya.”


“Ketua, dimana musuh kita?” (Miko)


“Didepan sana.”


“Huh? Dimana?” Di depan hanya terlihat kabut tebal dan aku juga tak merasakan apapun selain kami disini.


“Haa, baiklah, aku ingin kalian mengeluarkan seluruh kekuatan kalian. Berjuanglah sampai titik darah penghabisan.”


“Ketua, dimana musuhnya?”


Kedua pedang ketua muncul, dan setelah itu ia mengibaskan salah satu pedangnya ke arah kabut tebal itu. “Itu mereka.” Perlahan kabut itu mulai menghilang karena apa yang ketua lakukan barusan.


“Cih, ternyata dia memang masih hidup.” (Ersen)


“Huh? Ersen, kau bisa melihatnya?” Aku masih belum bisa melihatnya, kemungkinan karena kabutnya belum sepenuhnya menghilang.


“Jika kau tidak bisa melihatnya, maka rasakan kekuatan mereka.” (Itsuki)


“Rasakan, bagaimana caranya?”


“Cukup mudah, ini hampir sama seperti yang kau lakukan selama ini. Membuat pembatas, tapi karena dikondisi seperti ini itu akan sangat merepotkan. Jadi, aku memiliki 1 cara lain.”


“Apa itu?”


“Coba pejamkan matamu.”


“Baik.”


“Setelah itu fokus, dan rasakan sesuatu yang berbeda dari apa yang seharusnya kau rasakan.”


“Sesuatu yang berbeda, bagaima... A-Apa ini!” Aku merasakannya, sesuatu yang berbeda. Sangat kuat.


“Itulah musuh kita kali ini. Mereka lebih kuat dari lawan kita yang sebelumnya, jadi aku harap kalian bertarung dengan serius dipertarungan kali ini. Jangan menahan sedikitpun kekuatan kalian atau kekalahan yang akan kalian terima.”

__ADS_1


“Baik.”


“Semuanya menghindar!!” (Selvi)


Sebuah bola listrik raksasa dengan cepat mengerah ke arah kami.


Bola listrik itu menembus tanah yang ada dibelakang kami dan itu membentuk sebuah lubang besar dan dalam dibelakang kami. “Wah wah, sepertinya mereka berhasil lolos.” (???)


“Jadi, pilihannya kita memang harus melawan mereka secara langsung, ya.” (???)


“Lucifer, kau bilang kau pernah bertarung dengan salah satu dari mereka sebelumnya.” (???)


“Eh. Iya, itu benar.” (Lucifer)


“Bagaimana dengan kekuatannya?”


“Setidaknya kekuatannya yang sekarang jauh lebih kuat dibandingkan dengan saat pertama kali aku bertarung dengannya.”


“Begitu. Erael, bisa kau gunakan mahlukmu untuk mengalahkan mereka?”


“Itu tidak mungkin.” (Erael)


“Ada apa?”


“Aku sudah melakukannya barusan, tapi mahluk panggilanku semuanya dikalahkan dengan sangat mudah.”


“Jika memang benar seperti itu, Lucifer dan Erael. Kalian berdua bekerjasamalah dan buat mereka kesusahan, dan disaat yang bersamaan aku ingin kalian semua menyerang.”


“Baik.”


“Tapi, bagaimana dengan pimpinan?”


“Dia sedang tidak ingin bertarung, dia sudah sangat lelah dengan pertarungan yang panjang ini.”


“Begitu, sudah lebih dari 500 tahun, ya.”


“Semuanya, bersiap. Mereka akan menyerang.”


“Baik.”


“Hiroaki, Selvi, Shiren, Ersen. Kalian urus 3 dari mereka.” (Itsuki)


“Baik.”


“Karen, Iras, Rui, Jully dan juga Miko. Kalian tahan 4 dari mereka.”


“Baik.”


“Ketua, bagaimana denganmu?”


“Aku akan mengatasi 2 sisanya, dan setelah selesai aku akan mencari ketua mereka.”


“Baik.” Dengan kekuatan yang selama ini ketua tunjukkan, aku tidak bisa melakukan apapun dan hanya mengikuti apa yang ia perintahkan.


Beberapa saat kemudian.


“Yo, kita bertemu lagi.” Dan lagi-lagi, aku berhadapan dengan bocah pengguna golem itu bersama 2 rekannya yang masih sama.


“Haha. Kali ini aku pasti akan menghabisimu.” (Ersen)


“Silahkan saja jika kau memang bisa. Gaia!!” Golem itu muncul dan perlahan 24 titan yang menyerangku tadi mendekat kemari.


“Cih, ternyata benar itu ulahmu, ya.”


“Hahahaha. ini adalah karya terhebatku. Meskipun kalian berusaha sekuat tenaga kalian tidak akan bisa mengalahkannya.”


“Benarkah seperti itu?” Aku menyelah pembicaraan mereka. “Kali ini aku tidak akan menahan diri lagi, benarkan Ersen.”


“Ya. Kali ini aku, tidak, tapi kami akan serius dan pasti akan mengalahkan kalian.”


“Hahaha.” (Lucifer)

__ADS_1


“Penggunaan kekuatan, 100%.”


__ADS_2