
Ketua menimpa salah satu dari 17 boneka itu, dan secara tiba-tiba boneka dewa itu langsung lenyap. “Hestia!!” (Lucifer)
Ctangg
Sfx : Adu pedang
“A-Apa-apaan ini?” 1 benturan pedang terdengar begitu keras dan saat itu juga tempat ini tertutup oleh badai debu.
“Hiroaki, kau baik-baik saja?” (Ersen)
“Y-Ya, aku baik-baik saja.” Saat ini aku berada di dalam pelindung yang dibuat oleh Ersen beberapa saat lalu. “Kekuatan apa itu.” Kekuatannya bahkan lebih besar dari kekuatan yang aku gunakan saat ini.
“Aku tidak bisa melihat apapun.” (Selvi) Secara tiba-tiba atmosfer ditempat ini berubah. Badai debu ini membuat pandangan terbatas.
“Kekuatan yang sangat mengerikan..” (Shiren)
“Itu pasti ketua.” (Ersen)
“Ketua?”
“Iya, saat ini dia pasti sedang mengerahkan seluruh kekuatannya dalam pertarungan kali ini.”
“Kekuatannya, sangat besar.”
“Tapi, aku sangat penasaran siapa sebenarnya yang menjadi lawannya.”
“Huh? Memangnya ada apa?”
“Ini pertama kalinya aku melihat ketua sampai terdesak seperti itu, yang menjadi lawannya kali ini pasti orang yang sama atau lebih kuat dari ketua.”
“Lebih kuat dari ketua.”
“Untuk saat ini kita hanya bisa bertahan didalam pelindung ini sampai badai debu ini menghilang. Kita tidak boleh keluar dari pelindung ini.”
“Ya, baiklah.” Kami menunggu, dan menunggu sampai badai debu ini menghilang.
Beberapa lama kemudian.
“Baiklah, badai debunya mulai mengilang.” Meskipun begitu, aku masih belum bisa melihat apapun diluar pelindung ini.
“Tunggu sebentar lagi, sebaiknya tunggu sampai badai debu ini mereda.” (Ersen)
“Baiklah.”
Setelah cukup lama kemudian.
Badai debunya mereda. “Baiklah, semuanya. Ayo.”
“Baik.” Kami mulai keluar dari pelindung ini, tapi...
“Woy woy, yang benar saja!!” Tepat saat kami keluar dari pelindung ini, aku melihat sesuatu yang sangat menyeramkan.
“Padang pasir.” (Selvi)
“B-Bagaimana bisa, padahal tadi kita berada di tengah hutan yang sangat luas. Tapi sekarang, yang kita lihat hanyalah pasir.” (Shiren) Tepat seperti yang dikatakan Shiren, saat ini kami sedang berada di tengah padang pasir. Sejauh mata memandang, aku hanya bisa melihat pasir.
Duarrrrrr
Sfx : Ledakan
Suara ledakan yang begitu besar terdengar, dan asal suaranya juga sangat jauh. “Mungkin itu yang lainnya, ayo kita kesana.”
“Baiklah.”
Beberapa lama setelah itu.
“Miko.” (Shiren)
“Iras, Karen, kalian baik-baik saja.” (Selvi)
“Kami baik-baik saja.” (Iras)
“Rui, July, bagaimana keadaan kalian?” (Ersen)
__ADS_1
“Kami berdua juga tidak apa-apa.” (Rui)
“Tapi, bagaimana kita bisa berada disini. Padahal baru saja kami berada ditengah hutan dan sedang bertarung.” (July)
“Aku juga tidak tau, tapi sepertinya ini ada hubungannya dengan pertarungan ketua.”
Duarrrrrr
Sebuah ledakan besar kembali terdengar. “Suara ledakan lagi.” (Selvi)
“Mungkin itu ketua. Kalau begitu semuanya, ayo cepat kita hampiri asal suara itu.” (Ersen)
“Baik.” Kami putuskan untuk bergegas pergi menuju ke asal ledakan itu, tapi..
Beberapa saat kemudian.
“A-Ada apa ini?” (Miko) Langit yang tadinya cerah sekarang menjadi gelap gulita.
“Ersen, Rui.” (Iras)
“Baik.” (Ersen & Rui)
“Elemental Light, Crafting Sun.” (Ersen)
“Light Element, Sun mini model.” (Rui)
2 buah matahari buatan mulai bersinar terang. Jaraknya cukup tinggi, dan cahanya juga cukup terang. Meskipun begitu cahanya tidak cukup untuk menerangi seluruh tempat. “Apa yang sebenarnya terjadi?”
“Kemungkinan matahari didunia ini sudah hancur.” (Iras)
“Huh? Tapi, bagaimana bisa? Siapa yang menghancurkannya?”
“Siapa lagi kalau bukan ketua dan juga lawannya. Pertarungan mereka begitu sengit, dan hal seperti itu bisa saja terjadi.” (Ersen)
“Tapi, jika benar matahari sudah hancur. Bukannya saat ini tempat ini sudah sedingin es.”
“Itu karena sihir kami.” (Rui)
“Jika hanya aku sendirian, kemungkinan aku akan kesulitan. Tapi, jika berdua itu tidak masalah.” (Ersen)
“Tidak, beberapa hari lalu sebelum pertarungan. Ketua memberitahukan tentang hal ini pada kami seperti ini. ‘Ada baiknya kalian memahami penciptaan matahari dan mengubahnya menjadi sebuah sihir, itu mungkin bisa membantu suatu saat nanti.’ Seperti itu.”
“Tapi, aku tak menyangka kalau sihir ini akan langsung kami gunakan.” (Rui)
“Lalu, apa yang akan kita lakukan setelah ini?”
“Pertarungan ketua mungkin masih berjalnjut, dan kemungkinan saat ini ketua sedang berada disuatu tempat melanjutkan pertempurannya.” (Iras)
“Begitu.” Itu berarti yang bisa kita lakukan saat ini hanyalah menunggu, menunggu sampai ketua menang.
Beberapa menit setelah itu.
“Ada apa ini?” Tiba-tiba saja tanah mulai bergetar.
“Semuanya, berhati-hatilah. Aku merasakan sesuatu yang buruk akan terjadi.” (Ersen)
Dan secara tiba-tiba, tanah terbelah menjadi 2 bagian. “Iras, July. Sekarang.”
“Baik.” (Iras & July)
Secara tiba-tiba pelindung besar terbentuk dan menutup sebagian kecil retakan itu. Tapi.. “Kami tidak bisa, retakannya semakin membesar.” (July)
“Wah, ini cukup gawat. Rui, bisa kau ambil alih.”
“Eh, aku? Itu sangat sulit. Jika aku sendirian aku tidak akan bisa.” (Rui)
“Tenanglah, hanya sebentar. Aku ingin membuat pelindung di sekitar sini.”
“Jika hanya sebentar, akan aku usahakan.”
“Baiklah, tolong.”
1 matahari buatan menghilang, dan saat itupula aku mulai merasakannya. “Dingin.” Hawa dingin mulai terasa, meskipun begitu. Karena masih ada 1 matahari buatan itu hawa dingin ini tidak terlalu dingin.
__ADS_1
“Setidaknya suhu selain ditempat ini sudah mencapai lebih dari -500 derajat celcius. Dan itu masih terus menurun.” (Iras)
“A-Apa.” Kurang dari -500 derajat celcius, itu sudah lebih rendah dari suhu yang ada di planet neptunus.
Beberapa saat kemudian.
“Baiklah, sudah selesai.” (Ersen) Ersen kembali membuat 1 matahari buatan lagi, dan suhu yang tadinya dingin kembali normal. “Dengan begini, setidaknya kita akan aman.”
“Aman, dari apa?” (Karen)
“Lihatlah.”
Letusan lava panas mulai menyembur keluar dari retakan itu, dan dalam beberapa saat saja lava itu membeku.
“Lava yang sangat panas, membeku hanya dalam hitungan detik.”
“Suhu diluar tempat ini berarti sudah lebih rendah dari -1000 derajat Celsius.” (Iras)
“Pertarungan ketua, kapan akan berakhir. Tempat ini menjadi sangat menakutkan.” (Selvi)
“Rui, kau masih bisa bertahan?” (Ersen)
“Ya, sejauh ini aku masih bisa.” (Rui)
“Kalau begitu, tambahkan kekuatan pada matahari buatanmu, aku juga akan melakukan hal yang sama.”
“Baik.” Kemungkinan suhunya sudah sangat rendah, oleh karena itu Ersen menyuruh Rui untuk meningkatkan kekuatannya.
“Karen, gunakan pemulihanmu pada kami.”
“Baik.” (Karen) Dengan begini, Ersen dan Rui berdua bisa bertahan lebih lama dalam menjaga matahari buatan mereka.
Beberapa lama setelah itu.
“Huh? D-Dimana ini?” (Ersen)
Kami semua tiba-tiba saja berpindah, dan tempat ini tidak asing bagiku. “Ini…”
“Yo, selamat untuk kalian para pejuang yang bertahan sampai akhir.” (???) Sebuah suara yang tak asing menggema di tempat ini. “Kalian bisa memilih salah satu pintu yang ada di depan kalian.. dan untuk pemain yang bernama Hiroaki. Diam disini dulu.”
“Eh? Hanya aku?”
“Ya, yang lainnya bisa pergi.”
“Kalau begitu, Hiroaki. Kami duluan.” (Iras)
“Y-Ya.” Mereka semua pergi. “Apa ini semua sudah berakhir.”
Beberapa saat kemudian.
“Hiroaki.”
“Dewa Sha.” Dewa Sha muncul di depanku. “Ada apa?”
“Ada seseorang yang ingin bertemu denganmu.”
“Huh? Denganku?”
“Iya, kau bisa ikut denganku.”
“Baiklah.”
Beberapa saat kemudian, di sebuah ruangan.
“Ketua.” Di dalam ruangan ini, terdapat ketua yang sedang duduk dengan santai dan itu berarti ketua yang berhasil memenangkan permainan ini.
“Hiroaki, kau selamat.” (Itsuki)
“Itsuki, maksudku Arthur. Aku sudah membawanya sesuai apa yang kau katakan.”
“Terimakasih Sha.”
“Eh?” Ketua memanggilnya dewa Sha secara langsung. “Ketua, apa kau kenal dengan dewa Sha?”
__ADS_1
“Ahh. Kau tidak tau, ya. Itsuki, maksudku Arthur dulu itu adalah seorang dewa.”
“Eh? Ehhhh!!!”