
Beberapa hari setelah kejadian itu.
“Ehh… Kalian, bisa berhenti mengikutiku. Hari ini saja.” Rin, Emilia, Ai, dan Sia. Sejak kembali, hari selanjutnya mereka terus mengikutiku.
“Tidak, kami tak boleh membiarkanmu pergi sendirian.”
“Haa, aku sangat senang kalian peduli denganku, tapi bukannya kalian masih memiliki pekerjaan yang harus kalian lakukan.”
“Kami sudah menyelesaikannya.”
“Begitu. Sudahlah.” Entah apa yang dikatakan oleh Ai pada mereka hingga jadi seperti ini. Yang aku lakukan hanyalah menunggu, dewa Sha tak member kabar tapi itu bukan berarti aku tidak akan pergi lagi. “Ai pasti sedang mempersiapkannya.”
“Hiroaki, tubuhmu...”
“Hm…” Saat aku melihat ke arah tubuhku, perlahan tubuhku mulai lenyap. “Sepertinya sudah saatnya.”
“Tidak!! Aku tidak akan membiarkanmu pergi.” Ia memelukku dengan erat.
“Ai, ada apa? Ini bukan terlihat seperti dirimu yang biasa.” Sikapnya berbeda.
“Mana mungkin aku membiarkan orang yang aku sayang pergi menuju ke kematiannya sendiri. Aku tak menginginkan hal itu.”
“Kematianku? Ah, begitu, ya.” Itu mungkin karena ramalan yang beberapa hari lalu ia lihat. Aku tak tau kalau aku akan mendapatkan nasib seperti itu. “Kalian tenang saja, aku akan kembali dengan selamat. Lagipula, ada seorang dewa yang akan membantuku saat aku berada dalam kesulitan.
“Tidak!! Kau tidak boleh pergi.”
“(tersenyum) Melihat sikapmu yang jujur pada dirimu sendiri, ini membuatku sedikit senang. Kalian, tolong jaga tempat ini selama aku pergi. Mungkin akan sedikit lama, tapi… Aku pasti akan kembali.” Tubuhku lenyap.
-----------------------
“Kau sudah sampai.”
“Dewa Sha, ada yang ingin aku tanyakan padamu.”
“Mengenai ramalan dibuku itu.”
“Ya.”
“Kau bisa menganggapnya 80% benar, tapi jika kau tidak percaya dengan ramalannya makan nasibmu akan berubah, atau mungkin kau bisa merubah nasibmu sendiri sesuai keinginanmu.”
__ADS_1
“Merubah nasib?”
“Ya. Dewa Wan, dia sudah datang.”
“Jadi, dia orangnya.” Tiba-tiba saja kami berpindah tempat. “Bocah, aku akan menyerahkan tugas ini padamu. Selamat berjuang.” (dewa Wan)
____________________
Pagi hari.
“Ini, dimana?” Seketika aku berpindah tempat, tempat yang begitu modern.
“Woy minggir!! Kau menghalangi jalan!!” (???)
“M-Maaf.” Aku segera pegi dari tempat ini.
Beberapa menit kemudian.
Setelah mencerna seluruh apa yang aku lihat, aku yakin kalau saat ini aku tengah berada di dunia yang begitu maju dan sangat modern. Tapi, aku tak menyangka dewa Wan yang memiliki tampang seperti itu bisa membuat dunia seindah ini.
Perkembangan teknologi didunia dewa Wan ini sudah sangat berkembang, bahkan ada banyak hal yang belum pernah aku lihat sebelumnya ada disini. “Lalu, apa yang harus aku lakukan?” Seketika itu, aku kembali mengingat sesuatu. “Tugasku kedunia ini, apa?” Dewa Sha sama sekali tidak menjelaskan hal itu padaku.
“Dewa Sha.” Ini waktu yang tepat, dewa Sha menghubungiku. “Dewa Sha, tentang tugasku…”
“Sebelum itu, sebaiknya kau pergi ketempat yang sepi dulu. Kau menarik banyak perhatian dengan pakaian itu.”
Saat aku melihat sekitar, memang benar kalau aku menarik perhatian. “Baiklah.” Aku kemudian pergi ke tempat yang dirasa sepi.
“Gang sempit ini sepertinya tempat yang bagus.” Aku masuh diantara gang itu.
“Dewa Sha, untuk tugasku kali ini…”
“Sebelum itu.” Tiba-tiba saja bajuku berganti, bajuku menyesuaikan dengan pakaian di dunia ini. “Baiklah, dengankan baik-baik.”
“Baik.”
“Kau harus menghancurkan sebuah perusahan besar yang ada disana.”
“Perusahaan besar, untuk apa. Bukannya tugasku hanya men-…”
__ADS_1
“Justru itu, perusahaan itu adalah ketidakstabilan itu sendiri. Jika dibiarkan, beberapa tahun kedepan bisa dipastikan bahwa dunia itu akan menuju kehancuran akibat dari ulah perusahan itu. Oleh Karena itu, kau harus mencegahnya.”
“Itu bisa saja, tapi… Bagaimana caraku melakukannya?”
“Untuk itu, kau bisa pikirkan saja sendiri. Mau kau kau hancurkan secara langsung, atau secara bertahap, atau kau musnahkan saja semuanya. Aku tak peduli, dan sepertinya dewa Wan juga tak keberatan dengan hal itu. Hmm... Begitukah, kalau begitu baiklah.”
“Dewa Sha, ada apa?” Dewa Sha terdengar seperti berbicara dengan seseorang.
“Dewa Wan bilang, kau boleh melakukan cara apapun untuk mencegah ketidakstabilan itu. Terserah padamu, oh ya.. Dewa Wan juga memberimu berkat.”
“Berkat, berkat apa itu.”
“Kau akan mengetahuinya segera, dan waktu didunia itu sedikit lebih lambat dengan duniaku 1 hari sama dengan 12 jam diduniaku. Jadi, kau bisa sambil menikmati dunia itu dan mungkin saja kau bisa mendapatkan pengetahuan baru dari dunia itu dan bisa kau terapkan dikerajaanmu saat kau kembali.”
“Terimakasih informasinya dewa Sha.”
“Ya.” Dewa Sha menutup telepatinya.
“Begitu, ya.” 1 hari didunia ini sama dengan 12 jam didunia dewa Sha. Setidaknya beberapa informasi penting sudah aku dapatkan, dan sisanya aku harus mencaritaunya sendiri.
Aku ingin mencoba sesuatu. “Shirame, Ryuga.” Kedua pedangku muncul. “Setidaknya didunia ini aku masih bisa memanggil kedua pedangku ini.” Aku cukup curiga, kalau didunia ini tidak ada yang namanya sihir. Dunia modern yang tidak mengenal sihir. Itu adalah dunia yang ideal untuk bisa hidup dengan damai. Setidaknya itulah yang aku pikirkan.
“Ha... Baiklah, waktunya mencari informasi.”
_____________________
“Dewa Sha, apa kau yakin tidak memberitahu semuanya.” (Dewa Wan)
“Itu tidak perlu, lagipula aku yakin dia akan langsung menyadarinya.”
“(Tersenyum) Kalau begitu, aku akan menyerahkan tugas ini padanya. Dan aku berharap banyak darinya.”
“Begitu juga denganku, karena dia adalah kandidat yang aku rasa cocok sebagai seorang calon dewa baru.”
“Jika dia memang pantas mendapatkan hal itu, saat waktunya tiba aku pasti akan mendukungnya. Bukan sebagai seorang yang pernah dibantu olehnya, tapi sebagai seorang dewa agung.”
“Terimakasih.”
“Tidak masalah, selama ia pantas aku pasti akan mendukungnya. Aku pergi dulu untuk melakukan tugas lain. Sampai jumpa lagi dewa Sha.” Dewa Wan pergi.
__ADS_1
“Perlajananmu kali ini, mungkin akan sedikit lebih menyenangkan dari sebelumnya. Hiroaki…”