Watashi No Hanayome

Watashi No Hanayome
21. Kisah Dimulai


__ADS_3

Pagi hari yang cukup cerah, jam 08.22


“Emilia, Sia, Rin, sarapannya sudah siap. Apa kalian masih akan terus melakukan hal itu?” Mereka sedang mengurus banyak sekali dokumen penting diruang kerja mereka.


“Tunggu, tinggal sedikit lagi kau duluan saja, setelah ini selesai kami akan segera menyusulmu.” (Sia)


“Kalian semua terlalu bekerja keras, setidaknya beristirahatlah sejenak.”


“Kau kira ini salah siapa! Hampir seluruh area di sekitar kerajaan hancur.” (Emilia)


“Emilia, sudahlah. Lagipula sudah menjadi tugas kita untuk membantunya.”


“Sia, terima kasih sudah membelaku.”


“Hmp. Sudahlah, aku tidak peduli.”


Mereka sedang mengerjakan tugas penting, aku tak tau apa yang sedang mereka kerjakan sebenarnya karena aku tak paham tentang apapun yang menyangkut dengan kerajaan. Tapi… “Kalian, terima kasih sudah memilihku.” Ya, jika bukan karena mereka, kerajaan ini mungkin tidak akan berkembang seperti saat ini.


“A-Ada apa tiba-tiba kau berkata seperti itu. Jika kau bilang seperti itu, apa boleh buat.” (Emilia)


Sikap tsunderenya keluar. “Aku suka sikapmu yang seperti itu.”


“A-Apa yang kau katakan!”


“Hi-chan, sudahlah jangan ganggu kami.”


“Ahh, baiklah. Kalau begitu, aku akan pergi duluan.”


----------------


Ruang makan.


“Papa, mama mana?”


“Iya, bukannya kau pergi untuk menjemput mereka?” (Ai)


“Haa. Mereka akan datang setelah pekerjaan mereka selesai.”


“Begitu…”


“Rune, bagaimana keadaan sekitar kerajaan?”


“Tidak ada masalah, para pekerja sedang berusaha untuk membangun kembali desa yang sudah hancur.”


“Begitu. Oh ya, ayah dan ibumu kemana?”


“Mereka sedang pergi, mereka bilang harus pergi ke kerajaan Ruin untuk mencari sesuatu?”


“Kerajaan Ruin?”


“Itu adalah kerajaan manusia yang ada di dekat perbatasan benua manusia dengan benua elf.” (Rune)


“Hmm. Begitu.”


“Sayang, ini makannya.” (Ai)


“Terima kasih… … … A-Apa yang kau katakan barusan?!” Aku sangat terkejut, ini pertama kalinya ada yang memanggilku seperti itu.


“Hm, ada apa? Bukannya itu wajar, lagipula kita sudah menikah.”


“I-Itu memang benar. Tapi...” Meskipun begitu, cara Emilia, Rin, Sia, memanggilku masih tidak berubah, mereka tetap memanggilku dengan nama panggilan mereka terhadapku. Dan saat ini, Ai malah tiba-tiba merubah cara panggilannya padaku.


“Ha… Enaknya memiliki orang yang peduli denganmu.” (Rune)


“Ehh. Rune, ada apa?”


“Tidak ada, aku hanya berfikir kapan aku juga akan memiliki seorang pasangan.”


Itu benar juga. Kalau diingat-ingat, Rune sangat  jarang keluar dari istana, dan meskipun keluar dia hanya melihat keadaan saja. Ia tak memiliki waktu untuk mencari pasangannya. Jika seperti ini terus, mungkin dia akan menjadi seperti seseorang yang aku kenal (hayo tebak siapa). Usia Rune juga hampir 17 tahun, itu sudah hampir masuk dimana seharusnya ia mendapatkan pasangan. “Kenapa kau tidak beristirahat saja sekali-kali, berkeliling kerajaan ini. Dan siapa tau kau menemukan pasanganmu.”


“Eh. Apa boleh?!”


“Tentu saja. Tapi, jika pasanganmu orang dari kerajaan ini tidak akan seru.”


“Seru?”


“Hmm. Bagaimana kalau kau pergi ke kerajaan lain untuk sementara waktu.”


“Pergi ke kerajaan lain?”


“Sepertinya itu ide yang bagus, siapa tau kau bisa mendapatkan sebuah pengalaman baru. Itu juga bisa berguna untuk kerajaan ini.” (Ai)


“Tapi…”


“Tenang saja, aku akan menyerahkan tugasmu pada orang lain. Kau tak usah khawatir.”


“Baiklah. Aku akan memikirkannya.”


“Ya, pikirkanlah baik-baik.” Sebenarnya aku sudah punya tujuan kemana Rune akan pergi. Ke kerajaan Slvy, kerajaan milik orang tua Emilia dan juga mertuaku. Disana perkembangan teknologinya cukup pesat, dan dengan berat hati aku bisa dibilang kalau teknologi di kerajaan ini masih berada di bawah kerajaan Slvy. Oleh karena itu, dengan mengirim Rune mungkin saja itu akan membuat kerajaan ini berkembang dan dengan kecerdasanku yang tak seberapa ini, aku yakin perkembangan yang akan terjadi pada kerajaan ini akan berdampak besar.


“Ha, akhirnya selesai.” (Emilia)


“Mama…”


“Rin, Emilia, Sia. Kalian sudah selesai?”


“Iya, maaf membuat kalian menunggu.” (Sia)

__ADS_1


“Tidak masalah.”


Dan kamipun makan bersama.


---------------------------


Taman istana.


“Hi-chan, apa yang sedang kau pikirkan?”


“Tidak ada, aku hanya berfikir, Kemana dewa Sha, sudah berbulan-bulan ia tidak datang kemari.”


“Mungkin saja dewa Sha sedang sibuk.”


“Benar juga.” Mungkin saat ini ia sedang mengawasi Ai yang ada di dunia itu. Ia berkata kalau sebentar lagi ingatan Shiraku Ai akan kembali, dan mungkin saja itu penyebabnya.


“Hi-chan, mau berkencan?”


“Kencan?”


“Iya, sudah lama kita tidak berkencan. Lagipula, kita sama sekali belum pernah berjalan-jalan di kerajaan ini berdua.”


“Begitu, ya. Baiklah.”


“Kalau begitu ayo.” Tanganku ditarik oleh Rin.


“Rin, tunggu. Keluar dengan seperti ini bukannya akan menarik perhatian banyak orang.”


“Pakaian seperti ini, bukannya ini pakaian yang biasa aku kenakan?”


“Justru itu, sebaiknya kita menyamar agar para penduduk tidak merasa terganggu.”


"Benar juga.”


--------------------------


Taman Kerajaan.


Kami sudah menyamar dan menikmati kencan sembunyi-sembunyi ini. “Wah, lihat ini Hi-chan. Bunganya sangat indah.”


“Begitu.” Kerajaan ini jauh lebih berkembang dari sebelumnya, ini semua berkat Rin dan juga yang lainnya. Sedangkan aku, aku tak melakukan apapun. Aku hanya seseorang yang memiliki gelar seorang raja, tapi aku tak melakukan kontribusi apapun pada kerajaan ini.


“Hi-chan.”


“Ada apa Rin?”


“Wajahmu berubah lagi.”


“Berubah?”


“Tidak ada apa-apa, aku baik-baik saja.”


“Benarkah?”


“Iya, oh ya. Ada suatu tempat yang ingin aku tunjukkan padamu.”


“Tempat?”


“Iya, aku rasa kau akan menyukainya.” Aku memengang tangan Rin lalu membawanya.


-------------------------------


Luar istana, hutan timur.


“Hi-chan, kenapa pergi kesini?”


“Tunggu sebentar, aku akan memanggil tumpangan kita. SHURA!!!”


Beberapa menit kemudian.


Groaaarrrr.


Sura datang dan perlahan mendarat di depan kami. “Ayo naik.”


“Hi-chan, sebenarnya kita akan pergi kemana?”


“Sudahlah, diam saja.” Aku berencana untuk membawanya ke sebuah tempat, dimana tempat itu sangat indah. “Shura, berangkat.”


Groaaarrr.


Kami terbang, dan tujuan kami adalah kea rah timur.


----------------------


Beberapa jam kemudian.


“Hi-chan, apa tempatnya masih jauh?”


“Sebentar lagi kita akan segera sampai.”


Setelah beberapa saat.


“Lihat dibawah.” Aku menyuruh Rin untuk melihat kebawah.


“Ini, sangat indah.” Kumpulan bunga Ein, tempat yang aku datangi adalah sarang naga dan itu merupakan rumah Ken.


“Shura..”

__ADS_1


Groaaarrrr.


Perlahan Shura mulai turun. Dan sesampainya di daratan, Rin langsung turun dan menghampiri kumpulan bunga itu. “Ini sangat indah.”


“Siapa yang berani menginjakkan kaki di tempat yang suci ini.” (???) Suara yang begitu berat dan juga terdengar begitu kejam.


“H-Hi-chan, suara apa itu?” Mendengar hal itu, Rin langsung berlari ke arahku dan tubuhnya juga gemetar.


Beberapa saat kemudian.


“N-Naga!! Hi-Hi-chan...” Melihat naga yang keluar dari dalam gua, Rin telihat ketakutan.


“Ken, sudahlah hentikan. Kau menakuti istriku.”


“Ha?!!” Mendengar hal itu, Ken langsung merubah wujudnya. “Tunggu sebentar, gadis ini. Istrimu?”


“Naganya, berubah.”


“Ah, ini pertama kalinya kalian bertemu, ya. Biar aku kenalkan. Rin, dia adalah Shirayuki Ken panggil saja Ken, dia adalah jelmaan naga suci. Dan ken, dia adalah Rin.”


“Hm. Begitu, ya. Aku sudah tidak heran lagi. Lalu, ada apa kau datang kemari?”


“Aku hanya ingin berkujung.”


“Alasan yang tidak masuk akal, kau pasti memiliki sesuatu dibalik alasanmu itu.”


“Hahaha. Sudahlah, aku tidak memiliki alasan lain. Aku hanya ingin mengajaknya kesini saja, tidak lebih dari itu.”


“Begitu, ya sudah. Terserah kau saja.”


“Hey hey, ayolah. Apa kau tidak mau mengajak tamumu ini berkeliling tempat ini.”


“Haa, kau itu merepotkan. Baiklah, ayo ikut denganku.”


----------------------


“Wah, sungainya sangat jernih.”


“Air disungai ini sangat segar, itu karena air ini langsung mengalir dari sumbernya.”


“Wah, benarkah?” Rin kembali melanjutkan bermain air.


“Sudah kuduga, kau mengetahuinya. Dewa pasti sudah menceritakannya padamu.”


“Iya, tapi aku tak menyangkan. Kalau ini adalah tempat yang digunakan oleh dewa bersama dengannya.” Tempat yang digunakan oleh dewa dan juga Shiraku Ai untuk tinggal.


“Tempat ini adalah tempat suci, kau harus menjaganya. Itulah tugas yang aku dapatkan dari dewa. Saat aku datang kemari, aku tak merasakan apapun yang spesial yang ada di sini. Tapi, karena ada bunga itu. Aku merasa kalau ini adalah tempat yang sangat berharga bagi dewa. Dan setelah beberapa lama. Dewa Sha menceritakan tentang tempat ini, dan seberapa berharganya tempat ini baginya.”


“Begitu…” Aku melihat Rin, saat ini ia terlihat sangat bahagia.


“Haa. Lalu, apa tujuanmu yang sebenarnya datang kemari?”


“Hahaha. Ternyata aku tidak bisa menipumu, ya. Baiklah, akan aku katakan.” Sebenarnya aku memang memiliki tujuan datang kemari, bukan hanya sekedar mengajak Rin kesini. “Apa kau tau dimana dewa Sha berada saat ini?”


“Dewa Sha, bukannya dewa sering mengawasimu?”


“Ya. Tapi sejak beberapa bulan terakhir ini, aku sama sekali tidak pernah melihatnya. Apa mungkin…” Tentang sesuatu yang ia katakan waktu itu, tentang meninggalkan dunia ini.


“Mungkin dewa sedang melakukan sesuatu.”


“Mungkin saja.” Lagipula dewa Sha bilang, akan memanggilku jika waktunya tiba. Dan aku masih belum tau kapan itu.


“Hiroaki, tubuhmu.”


“Eh?” Perlahan, tubuhku mulai menghilang.


“Hi-chan!!" Rin yang melihat hal ini langsung menghampiriku. "Apa yang terjadi padamu?!”


“Begitu, ya. Ternyata sudah waktunya.” Ini adalah waktunya. “Ken, selama aku pergi. Aku minta tolong padamu untuk menjaga keluarga kecilku, apa kau bisa melakukannya?”


“Begitu, ya. Baiklah.”


“Hi-chan, apa yang kau katakan? Kemana kau akan pergi?”


“Rin, jangan menangis.Ada tugas yang harus aku kerjakan. Dan sekarang adalah waktunya, aku harus pergi.”


“Apa kau akan lama?”


“Entahlah, aku tidak tau. Tapi, aku akan kembali secepatnya.”


“Janji?”


“Ya, aku janji.” Perlahan tubuhku mulai lenyap. “Ken, tolong antarkan Rin kembali ke kerajaan. Dan Rin, kau bisa jelaskan pada yang lain kalau aku akan pergi sebentar.”


“Ya.”


“Rin, jangan menangis…”


“Ini, ini kencan pertama kita. Tapi, kau sudah akan pergi. Ini sangat tidak adil.”


“Begitu…” Memang benar, ini adalah kencan pertamaku dengan Rin. “Saat aku kembali, kita bisa berkencan lagi. Dan kita bisa bermesraan.” Aku dengan sengaja memancing Ken dengan kata-kataku barusan.


“Haa… Dasar, tukang pamer.”


“Hahaha. Rin, sudah jangan menangis.” Aku menghapus air matanya. “Aku akan segera kembali.” Dan tubuhku lenyap.


Dan dimulai dari sini, petualanganku dimulai. Seorang yang menjelajahi banyak dunia, dan banyak kisah yang akan berubah. Seorang World Travel, sang penjelah dunia.

__ADS_1


__ADS_2