
Pagi hari, jam 05.49 di kamar.
1 bulan sudah berlalu sejak hari pernikahanku.
Sfx : Ketukan pintu.
"Hi-chan!! Bangun, sudah pagi." Aku mendengar suara Rin dari balik pintu.
Meskipun sudah menikah, aku lebih suka tidur sendiri. Bukan karena tidak suka, tapi aku memiliki alasan sendiri. "Ya..." Aku menjawab dengan nada lesu.
Alasanku adalah, karena saat aku tidur dengan Rin, Emilia, Sia, maupun Ai. Aku tidak bisa tidur dengan nyenyak, itu karena aku gugup, meskipun sudah menikah, aku pikir tidak akan merasa gugup tapi ternyata tidak.
Perlahan, aku mulai bangun dari tempat tidur yang nyaman ini. Bersiap-siap dan segera keluar kamar.
"Haaaa..." Melihat ke luar jendela, ternyata matahari sudah mulai terbit. "Masih pagi ternyata." Gumamku, dan setelah itu aku bergegas menuju ke ruang makan, karena aku sudah cukup lapar.
-------- Beberapa menit kemudian -------
Menyantap makanan yang sudah disiapkan, dan diruangan ini semuanya berkumpul, baik Rune dan orang tuanya, dan pastinya para istriku.
Entah kenapa aku merasa kalau keadaan seperti ini, sudah lama terjadi, kalau tidak salah hal seperti ini terjadi tepat setelah aku menikah.
-- ( SKIP, karena tak ada yang spesial di adegan makan ) --
"Haaaa..." Menghela nafas, aku mengelus perutku yang sudah kenyang. "Terima kasih makanya."
------- Beberapa menit setelah itu -------
Yang lainnya sudah keluar, dan di dalam ruangan ini hanya ada aku... Seharusnya sih begitu, tapi...
Gubrakk
Pintu ruang makan terbuka dengan cukup keras. "A-Ada apa?!" Sedikit terkejut, aku melihat ke arah pintu.
Rin, Emilia, Sia, dan Ai, kembali ke ruangan ini. "Ehh? Ada apa?!" Aku kembali bertanya.
"Kapan?!!" Jawab mereka secara bersamaan.
Aku tidak tau apa yang mereka maksud, bukan tidak tau tapi bisa dibilang kalau aku lupa. "Eeeeh..." Aku sedikit berfikir, dan setelah beberapa saat aku ingat. "Aaaah, bisa beri aku waktu sebentar lagi."
"Waktu yang sudah kami berikan sudah cukup untukmu, apa masih kurang?" (Emilia)
Mendengar hal itu, aku sedikit terdiam. "Yo, apa aku mengganggu kalian." Mendengar suara dari belakangku, aku melihat ke asal suara itu.
"Dewa Sha..." Dewa Sha muncul, aku baru pertama kali melihatnya setelah hari hari pernikahanku. Tepat saat acara pernikahanku selesai, aku sama sekali tidak melihat dewa Sha. Dan ini sudah 1 bulan sejak hari itu. "Ada apa dewa?" Mengalihkan pembicaraan, aku berbicara dengan dewa Sha.
"Aku punya tugas untukmu."
Setelah 1 bulan tidak ada kabar, dia datang dan tiba-tiba saja memberitahu sebuah tugas padaku. "Eeeh, tugas apa?"
"Ritual pemanggilan. Tempatnya ada di benua manusia, tepatnya di kerajaan Anvil."
"Anvil. Dewa Sha, bukannya itu terlalu jauh." (Emilia)
"Huh? Jauh? Memangnya tempatnya jauh sekali?" Karena tak tau tentang peta yang ada di dunia ini, aku cukup kebingungan.
"Hiroaki, kau tidak tau apa-apa. Jarak yang harus ditempuh itu sekitar lebih dari 1 bulan jika menggunakan kereta kuda. Dan butuh waktu sekitar 6 bulan jika berjalan kaki."
"Ahhh, begitu." Jika memang benar seperti itu, berarti jaraknya memang sangat jauh. "Tapi, aku'kan bisa menunggangi Shura."
"Tapi, pasti butuh waktu yang cukup lama." Jawab Emilia dengan wajah murung. "Jika seperti itu, kapan kau akan melakukannya.."
"Aaahh, jadi itu masalahnya."
"Tenang saja. Dia akan terbang kesana menggunakan Shura, sedangkan saat tugasnya sudah selesai aku akan menggunakan gerbang dimensi. Bagaimana?"
"I-Itu benar, kalian tidak usah cemas. Lagipula aku akan baik-baik saja."
"Dewa, apa anda tidak bisa melakukan hal itu sendiri." (Sia)
"Hmmm, bagaimana, ya."
"Jika anda bisa, tolong..." (Ai)
"Jika aku melakukan itu, mungkin kerajaan yang sedang melakukan ritual pemanggilan pasti sudah hancur olehku. Dan oleh karena itu, aku menyuruh Hiroaki untuk melakukannya. Lagipula dia sudah memiliki pedang terkuat di dunia ini, tidak akan ada masalah." Mendengar hal itu dari dewa Sha, mereka ber-4 terlihat murung.
"Tenang saja, jika aku kembali. Saat aku kembali nanti, aku akan melakukannya..." Mencoba membuat mereka senang? Aku tak tau apa yang aku katakan, tapi mendengar apa yang aku katakan ini mereka ber-4 terlihat cukup senang.
"Baiklah. Jadi dewa, kapan Hi-chan akan pergi?" (Rin)
"Besok, atau besok lusa. Waktunya tinggal 10 hari dari sekarang. Dan 1 hal lagi..."
"Ada apa dewa Sha?"
__ADS_1
"Perjalanan menuju ke kerajaan Anvil setidaknya butuh waktu 5-6 hari jika menggunakan Shura. Jadi, ada baiknya kau mempersiapkan dirimu. Perjalanan ini akan sangat panjang untukmu." Tepat setelah mengatakan itu, dewa Sha pergi.
"6 hari, ya." Jika menggunakan naga Shura sampai memakan waktu 6 hari, bisa dibilang kalau perjalanan ini memang sangat panjang.
Berdiri dari kursi, aku perlahan keluar dari ruangan ini. "Rin, Emilia, Ai, Sia. Bisa kalian membantu mempersiapkan barang-barang ku."
"Hiroaki..."
"Hmm... Emilia, ada apa?"
"Bisa kami ikut denganmu."
"Hmmm, sebaiknya jangan. Jika kalian juga ikut pergi, siapa yang akan menjaga kerajaan ini?" Sebenarnya aku tak ingin mereka ikut, karena selain perjalananya yang cukup lama dan mungkin saja akan ada kejadian tidak terduga di tengah perjalanan. Dan aku ingin menghindari hal itu. Lagipula dewa Sha juga sudah memperingatkanku dulu.
"Baiklah..." Meskipun terlihat murung, mereka menuruti ucapanku.
"Haaa. Jadi seperti ini, ya." Melihat mereka ber-4 murung, aku berasa tidak tega melihatnya. "Aku akan pergi dulu. Ada sesuatu yang ingin aku lakukan." Aku perlahan pergi meninggalkan mereka.
Aku berniat untuk mencari hadiah untuk mereka agar mereka tidak sedih. "Tapi, apa yang akan aku berikan?" Meskipun sudah menikah, tapi aku masih belum tau apa yang sangat disukai oleh mereka. "Haaa, betapa bodohnya diriku." Aku menyesali diriku yang tak tau apa-apa tentang mereka.
"Papa?"
Mendengar suara dari arah belakang, aku melihatnya. "Inori, ada apa?" Inori yang terlihat seperti gadis umur 17 tahun, menghampiriku. Dia tubuh sangat cepat, terutama dibagian...
"Papa..."
"A-Ada apa?"
"Aku mau bunga ini."
"Huh?" Inori menunjukkan sebuah buku yang didalamnya terdapat sebuah gambar bunga yang berwarna biru tua. "Bunga itu..." Aku pernah melihatnya. "Aaah, yang ada di kamar mama Ai, ya." Aku sudah lama melihatnya, bunga itu adalah bunga milik Ai. Aku tak tau dia dapat darimana, tapi bunga itu begitu spesial. Meskipun tidak disiram oleh air bunga itu tetap bisa tumbuh mekar dengan indah.
"Papa, aku ingin ini..."
"Hmmm, baiklah." Mungkin saja bunga itu juga bisa jadi hadiah untuk mereka. "Jadi, dimana papa bisa mendapatkan bunga itu?"
"Sarang naga."
"Huh? Sarang naga?" Aku sedikit terkejut mendengar Inori berkata seperti itu.
"Iya. Menurut buku ini, bunga itu tumbuh subur di dekat sarang naga."
"Ahhh. Seperti itu, ya." Meskipun begitu, ada sesuatu yang aku pikirkan. "Sarang naga, ya." Meskipun aku bisa dibilang dekat dengan naga, tapi aku bisa bilang kalau Shura adalah naga yang berbeda. Tentu saja karena dia adalah peliharaan dewa Sha. Tapi... "Datang ke sarang naga, ya." Aku merasa kalau ini akan memakan cukup banyak waktu.
"Papa. Apa aku bisa mendapatkannya?" Mata Inori berkaca-kaca. "Tidak boleh..."
"Iya. Oh ya, ada yang lupa."
"Apa?"
"Papa. Selamat jalan." Inori mengatakan hal itu sambil tersenyum manis.
Melihat hal itu membuat semangatku meluap. "Baik. Papa berangkat." Aku perlahan pergi menuju ke kamar, mengambil pedangku dan setelah itu pergi.
——————————
10.23
{ Di atas punggung naga Shura }
"Nee, Shura... Apa kau tau dimana tempat sarang naga berada?"
Groooaarrrr
"Ahhh. Begitu, ya." Entah apa yang dikatakannya, aku tak mengerti. "Haaa, kemana aku harus mencarinya?" Karena terlalu bersemangat, aku jadi lupa untuk menanyakan dimana tempat sarang naga itu berada pada Inori.
"Yo, kau mau pergi kemana?"
"D-Dewa Sha!!" Aku terkejut karena tiba-tiba saja dewa Sha muncul di belakangku. "A-Ada apa dewa Sha?"
"Sepertinya kau sedang sibuk. Kau ingin pergi kemana?"
"Ke sarang naga."
"Hoo. Kau ingin mencari bunga Ein, ya."
"Bunga Ein?"
"Iya. Nama bunga yang kau cari itu adalah bunga Ein."
"Oh. Kenapa kau bisa tau kalau aku sedang mencarinya?"
"Hahahaha... Aku adalah dewa, tak ada yang tidak aku ketahui di dunia ini."
__ADS_1
"Haaa. Iya-iya. Kalau begitu, dewa Sha bisa beritahu aku dimana tempat sarang naga itu?"
"Kesempatan untuk mendapatkan bunga itu cukup kecil lo."
"Huh? Kenapa? Apa bunga itu dijaga oleh naga."
"Ya, seperti itulah. Lagipula bunga itu adalah lambang keabadian, jadi tidak semua orang bisa mendapatkannya."
"Tapi, aku harus mendapatkannya bagaimanapun caranya."
"Hooo. Demi Inori?"
"B-Begitulah."
"Dan juga demi pasanganmu yang lain. Apa aku benar."
"Haaa, iya." Aku tak bisa mengelak karena yang dikatakan oleh dewa Sha itu benar. "Karena aku akan meninggalkan mereka untuk waktu yang cukup lama, aku ingin memberikan sesuatu untuk mereka agar mereka tidak sedih."
"Kau sudah banyak berubah, ya. Kalau begitu, Shura..."
Groooaarrrr
Arah terbang Shura berubah, yang semula ke arah timur sekarang menuju ke arah utara. "Berubah?" Tapi, kata-kata dewa Sha barusan membuat ku penasaran.
"Iya. Sebelum kau datang ke dunia ini, kau adalah seorang anak yang tidak peduli dengan apapun. Tapi, saat kau bertemu dengan Rin. Kau jadi melihat ke sekelilingmu. Mempedulikan orang lain yang bahkan tidak kau kenal. Aku bisa bilang, kalau kau itu terlalu baik."
"Bukannya itu wajar, membatu orang yang sedang kesusahan."
"Jika menurutmu itu wajar. Saat misi dariku selesai, aku akan mengajakmu ke suatu tempat yang tak pernah dikunjungi oleh manusia."
"Huh? Serius."
"Duarius." Setelah mengatakan itu, dewa Sha berdiri. "Aku ada pertemuan dengan dewa lainnya sekarang. Senang rasanya menikmati waktu bersama mu, dan semoga beruntung. Da..." Setelah mengatakan itu, dewa Sha menghilang.
------- Beberapa menit setelah itu -------
Grooaaarrrr
"Shura, ada apa?" Karena penasaran, aku melihat ke arah depanku. "Apa itu tempatnya." Di depanku, aku melihat pegunungan batu yang sangat besar. "Baiklah, jika itu memang benar tempatnya. Aku akan mengambil bunga itu dan kembali. Shura..."
Grooaaarrrr
Naga Shura perlahan turun, dan aku menyiapkan pedangku. "Baiklah, aku sudah siap."
Groooaarrrr
"Shura, kau pergi saja. Saat aku sudah selesai aku akan memanggilmu."
Grooaaarrrr
Naga Shura terbang meninggalkan tempat ini sedangkan aku perlahan berjalan mendekati pegunungan batu itu.
-------- Beberapa menit kemudian -------
"Wooaahh..." Pengunungan batu ini terlihat luar biasa, dari dekat terlihat sangat bagus. "Huh?" Dan tepat di bawahnya, aku melihat sebuah gua dan juga beberapa jenis bunga yang tumbuh di dekat gua itu.
"Itu dia..." Bunga yang aku cari ada di sana, terkumpul bersama dengan bunga yang lainnya. Akupun perlahan mendekatinya, tapi...
"Orang tak dikenal dilarang menginjakkan kaki di tanah ini." (???) Suara yang begitu berat terdengar dari dalam gua itu, dan karena itu pula aku bersiaga.
"Siapa kau?!"
"Aku adalah penjaga tempat ini, tidak ada orang yang boleh menginjakkan kaki di tempat ini. Ini adalah tempat suci, manusia sepertimu tidak boleh ada disini."
"Hooo, penjaga, ya." Jika dia bilang kalau dia adalah penjaga tempat ini, berarti dia adalah naga. "Aku akan mengambil bunga ini, jika kau tidak memberiku bunga ini dengan cara baik-baik. Aku akan memaksa dengan kekerasan."
"Menarik." Tanah mulai bergetar.
"Ada apa ini?" Sesuatu mulai keluar dari dalam gua itu.
"Mari kita lihat, apa kau bisa mengalahkanku." Perlahan, sosok seekor naga besar mulai keluar dari dalam gua itu.
"Besar..." Naga itu 2 kali lipat lebih besar dari naga Shura. "Sepertinya ini akan sedikit sulit."
"Setelah melihat wujudku, tubuhmu tidak bergetar. Ini menarik.."
"Jika orang biasa yang melihat sosokmu itu, mereka mungkin akan lari ketakutan. Tapi, yang akan kau hadapi saat ini adalah aku, seorang pendekar pedang." Aku perlahan mengeluarkan pedang Shirame. Aku berniat untuk mengukur seberapa keras tubuh naga ini dengan pedang Shirame. Lagipula pedang ini sudah di beri sihir penguat oleh Ai dan Sia, jadi pedangku ini tidak akan patah dengan mudah.
"Rasakan ini!!" Naga itu mulai menyerangku menggunakan bola api raksasa yang langsung mengarah ke arahku.
Mengangkat pedangku, aku mengayunkan pedangku secara vertikal dan menebas bola api raksasa itu.
Duaaarrr
__ADS_1
Bola api itu terbelah dan hutan yang ada di belakangku terbakar akibat ledakan bola api raksasa itu. "Kau lumayan hebat juga manusia. Tapi, pertempuran kita baru saja akan dimulai."
Bersambung...