
Pagi hari
"Sha, kau sudah bangun."
"Hoaamm. Aku ketiduran, ya." Ini sangat berbeda saat aku berada di tempatku biasa mengawasi dunia ini, biasanya aku tidak pernah merasakan ngantuk bahkan menguap sekalipun. Tapi, sepertinya jika aku berada disini aku bisa merasakan hal itu. "Bau apa ini?" Aku mencium mau yang cukup lezat.
"Aku membuat masakan dari bahan yang ada disini, tapi aku tak begitu mahir dalam memasak. Aku harap kau menyukainya."
"Terima kasih." Meskipun aku tidak bisa merasakan lapar, itu tidak berarti aku tidak bisa makan.
--------
"I-Ini."
"Bagaimana masakanku? Apa enak?"
"Ini enak sekali."
"Syukurlah kau menyukainya."
Aku tidak berbohong, mungkin karena ini pertama kalinya aku makan aku jadi merasakan sesuatu yang luar biasa. "Ai, ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu."
"Hm. Ada apa?"
"Apa yang akan kau lakukan setalah ini?" Seketika Ai terdiam. "Ai, ada apa?"
"Aku, ingin kembali kedunia asalku." Mendengarnya berkata seperti itu, entah kenapa membuatku sedikit merasakan sesuatu tapi aku tak tau apa itu.
"Maaf."
"Sha, kenapa kau meminta maaf?"
"Tidak ada, hanya saja aku rasa kau tidak bisa kembali kedunia asalmu."
"Begitu, ya." Berbeda dengan apa yang aku bayangkan, aku kira Ai akan sedih setelah aku berkata seperti itu, tapi ternyata tidak. "Mereka yang bahkan memanggilku tidak tau cara untuk mengembalikanku, jika aku menanyakan hal seperti itu padamu pasti kau juga tidak tau kan. Aku sudah menerimanya."
"Huh? Menerima?"
"Jika aku tidak bisa kembali, aku mungkin akan mencoba untuk bertahan hidup didunia ini."
"Dunia ini begitu keras, aku tak yakin kau bisa bertahan."
"Aku yakin aku bisa."
"Kenapa kau bisa seyakin itu."
"Itu karena kau."
"Huh? Aku?"
"Kau saja bisa bertahan hidup didunia ini, jika aku berusaha mungkin aku juga akan bisa."
Mendengar hal itu, entah kenapa membuatku ingin tertawa tapi aku berusaha untuk menahannya.
"Kau menertawakanku."
"Tidak, aku tidak menertawakanmu."
"Lalu, kenapa kau..."
"Aku hanya kagum padamu."
"Kagum padaku? Kenapa?"
"Padahal kemarin kau bilang ingin mati, tapi sekarang kau memilih untuk bertahan. Oleh karena itu sedikit kagum padamu." Tentu saja bukan hanya alasan itu yang membuatku tertawa, jika dia tau kalau aku adalah seorang dewa dia pasti tidak akan berfikiran seperti itu. Tapi, masih ada satu hal yang mengganjal dipikiranku. "Kau harus menjaganya." Ucapan dari dewa Nii masih melekat dipikiranku.
"Menjaganya, ya." Selain tugasku sebagai seorang dewa yang menjaga dunia ini, dan juga mengawasi 4 orang yang bisa mengubah dunia ini, aku juga harus menjaga gadis ini. "Sepertinya ini akan merepotkan, tapi..." Aku entah kenapa kembali ingin tertawa.
"Kau menertawakanku lagi."
"Tidak, aku sama sekali tidak menertawakanmu." 1 hal saja yang aku pikirkan saat ini. "Sudahlah, jalani saja. Mungkin ini akan jadi lebih menarik."
__ADS_1
---------------
Sebuah padang rumput di dekat gua.
Beberapa minggu sudah terlewat, dan Ai mulai terbiasa dengan dunia ini.
Dan saat ini, aku sedang membasmi beberapa monster yang mendekat. Meskipun bisa saja aku langsung melenyapkan monster itu, tapi Ai pasti akan merasa aneh kalau sama sekali tidak ada monster di area ini. Jadi aku terpaksa melakukan hal ini.
"Sha, apa aku juga bisa belajar menggunakan pedang."
"Kau, ingin belajar berpedang?"
"Iya, waktu itu kau bilang padaku kalau aku ini sama sekali tidak memiliki sihir. Oleh karena itu aku ingin belajar menggunakan pedang. Lagipula kau punya 2 pedang lagi yang sangat indah dikamarmu. Kau pasti sangat ahli dalam hal ini, jadi tolong ajari aku."
"Hm. Latihannya sangat berat, apa kau sanggup."
"Aku akan mencobanya."
"Baiklah, aku akan membuatkanmu sebuah pedang kayu sebagai latihan."
"Baik."
--- Beberapa hari berlalu ---
Pagi hari yang cerah, di padang rumput.
"Bagaimana, apa ini sudah benar?"
"Iya, benar seperti itu. Lalu lanjutkan seperti ini." Sebenarnya aku tak tau apa pengajaranku ini benar apa tidak, aku jadi sedikit meragukan kemampuan mengajarku.
- Beberapa menit kemudian -
"Ha. Ini sangat melelahkan."
"Ini, air untukmu." Aku memberinya air untuk menghilangkan sedikit rasa lelahnya.
"Terima kasih." Angin bertiup pelan dan itu sangat menenangkan. "Ha. Disini segar sekali, ya."
"Ya."
"Ya."
"...."
"Huh?" Saat aku melihat ke arah Ai, ternyata ia sudah tertidur. "Sepertinya dia kelelahan, sudahlah." Aku berencana pergi sebentar untuk mengawasi 4 orang itu, tapi...
"Sha, jangan pergi."
Saat aku berbalik melihat ke arah Ai. "Mengingau, ya." Tempat ini sudah aman, jadi jika aku hanya meninggalkannya sebentar dia akan baik-baik saja. "Baiklah."
-------
"Hm, bagaimana keadaan mereka ber-4 sekarang. Ini sudah lewat beberapa hari aku tidak melihat mereka. Apa yang mereka lakukan sekarang."
"Huh?" Dari sini, aku melihat mereka ber-4 menuju ke salah satu kerajaan yang ada di benua Elf. "Apa yang akan mereka lakukan?" Aku tak tau apa yang akan mereka lakukan, jadi aku sedikit mengawasi mereka lebih dekat. "Mengajak melakukan perdamaian. Itu adalah pemikiran yang bagus untuk menghindari jatuhnya korban yang lebih banyak, tapi jika di dunia ini."
-- Beberapa menit kemudian --
Mereka diusir dari kerajaan itu. "Haha. Di dunia ini permasalahan yang di selesaikan dengan cara damai tidak ada, salah satu cara hanya melalui medan perang." Aku kembali mengawasi mereka, tapi aku hampir saja melupakan 1 hal. "Ai." Saat mengingat hal itu, aku langsung kembali ke tempat Ai.
---- Beberapa saat kemudian ----
"Aku terlalu lama mengawasi mereka, sampai hampir melupakan Ai." Saat aku sudah sampai di tempat dimana Ai berada. "Tidak ada, dia tidak ada disini." Ai tidak ada di tempat ini. "Jangan bilang kalau dia keluar dari area ini." Jika dia melakukan hal itu, itu akan sangat berbahanya untuknya.
"AI!! DIMANA KAU!! AI!!" Dia tidak menjawab. "Ini sangat gawat. Sial, dia tidak bisa aku temukan. Dimana dia. AI!!" Menggunakan kemampuanku, aku masih tidak bisa menemukannya. "Sial..." Aku lupa kalau disini kekuatanku tidak bisa aku gunakan sepenuhnya. Ini adalah batasan kekuatan yang bisa aku gunakan sebagai seorang dewa.
"Sha... Sha!!!" Aku mendengar suaranya.
Gubrak.
Ai berlari dan langsung memelukku dengan erat. "Sha, aku kira kau akan meninggalkanku." Dia menangis.
__ADS_1
"Maaf membuatmu khawatir." Meskipun rasanya sebentar, tapi nyatanya aku pergi hampir 1 jam.
"Kau pergi kemana? Meninggalkanku sendirian."
"Aku, aku baru melihat sekeliling. Aku takut kalau ada monster lain yang akan datang ke tempat ini, makanya aku memeriksanya."
"Tapi, kenapa kau begitu lama."
"Banyak tempat yang harus aku periksa, tapi aku tak tau akan sampai memakan waktu yang cukup lama. Oh ya, ada tempat yang ingin aku tunjukkan padamu."
"Tempat, dimana itu?" Ai melepaskan pelukannya.
"Ayo ikut."
"Baik."
Aku kemudina berjalan, menuju ke sebuah tempat.
---------
"Suara aliran air?"
"Kau bisa mendengarnya."
"Iya... Apa tempat yang akan kita tuju itu sungai."
"Iya. Tapi, ini sangat berbeda dengan sungai yang pernah kau lihat sebelumnya."
"Berbeda?"
"Lihat saja nanti."
-- Beberapa menit kemudian --
"Wah. Ini sangat menakjubkan."
"Bagaimana, indah bukan."
"Iya.." Sebuah air terjun yang berbeda dengan yang lain.
Menambahkan sedikit sihir, aku membuat air terjun itu terjun dari ketinggian yang cukup tinggi dan sumber airnya aku menggunakan sihir air. "Air disini tidak akan pernah habis, meskipun musim berganti."
"Wah... Ini sangat segar." Tanpa aku sadari, Ai sudah mendekati aliran air yang mengalir itu.
"Apa kau ingin mandi?"
"Sha, kau mesum."
"Eh?"
"Menanyakan hal seperti itu pada seorang gadis, kau mesum. Apa kau berniat untuk mengintipku saat aku mandi nanti."
"Ah. T-Tidak mungkin, aku tidak akan melakukan hal seperti itu. Aku bahkan tidak berfikir seperti itu."
"Benarkah?"
"Aku serius."
"Hahaha..."
"Ada apa? Kenapa kau tertawa?"
"Aku hanya bercanda, lagipula aku tau kau tidak akan melakukan hal seperti itu."
"Ha. Aku kira ada apa? Tentu saja, mana mungkin aku akan melakukan hal seperti itu."
"Baiklah. Aku akan mandi sebentar. Sha, bisa kau jaga tempat ini."
"Ya, baiklah." Meskipun tempat ini sudah terbilang sangat aman, tapi tidak ada jaminan kalau disini tidak ada monster apapun. Oleh karena itu.
Aku memejamkan mataku, dan mulai melihat apa saja yang ada disini. "Ettt..." Aku langsung membuka mataku. "Aku, melihatnya."
__ADS_1
Bersambung...